KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 79


__ADS_3

Ara menggandeng tangan Tristan menepi ke gubuk.


Hanya berdiri begitu saja, Tristan sudah berkeringat banyak. Ara khawatir. Tanpa berpikir panjang, Ara mengusap keringat yang menetes itu dengan ujung lengan pakaiannya yang panjang.


"Lihatlah. Wajah Bapak juga kemerahan karena berada di bawah matahari langsung," ujar Ara sambil terus mengusap keringat itu. "Kenapa panas begini datang ke tempat ini sih," gerutu Ara tidak tega.


Bisa ia bayangkan Tristan tidak akan pernah datang ke tempat seperti ini dalam hidupnya.


Bola mata Ara terusik. Dia menggeser bola matanya dan berpapasan dengan bola mata milik Tristan. Pria ini diam dan patuh seraya terus menatap dalam ke arahnya. Tangan Ara turun dan menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat seperti tadi.


"Kenapa berhenti?" tanya Tristan.


"Keringat bapak sudah tidak seperti tadi," sahut Ara cepat. Ia membenarkan pakaian berkebunnya, yang sangat jauh dari kata bagus.


"Jangan bersikap dingin Ara. Aku tersakiti." Ara menoleh cepat. Tristan menatapnya dengan mata menunjukkan rasa sakit hatinya. Ara menggigit bibirnya lembut.


"Bapak jangan seperti ini. Aku juga akan kebingungan," pinta Ara sedih.


"Kenapa harus bingung. Kamu mencintaiku bukan?" tanya Tristan.


Soal itu jangan di tanya. Aku tidak perlu menangis jika tidak mencintai pria ini.

__ADS_1


"Ti__ dak. Tidak." Entah setan mana yang membuat Ara menjawab tidak. Jika tidak, kenapa dia menikmati ciuman Tristan waktu itu? Apalagi terbayang bayang di mata. Bahkan sekarang ia bisa jelaskan soal ciuman itu.


"Jawab aku dengan menatap mataku, Ara," desis Tristan. Ara terkejut. Dia menahan kedua lengan Ara untuk tetap melihatnya. "Katakan bahwa kamu tidak mencintaiku dengan melihat mataku."


"Jangan begini, Pak. Percuma saja jika aku mengatakannya lagi. Anda sudah mendapatkan jawabannya tadi."


"Katakan dengan benar Ara! Aku tersiksa seminggu lebih ini hanya untuk menuntaskan semuanya dan menemuimu! Jangan menganggapnya main-main!" teriak Tristan gusar.


Tristan ...


Ara terdiam. Dia tidak bisa menjawab apa-apa. Tristan mendekatkan tubuhnya dan menunduk. Meletakkan kepalanya pada bahu Ara.


"Aku benar-benar tersiksa Ara. Jangan menyiksaku lagi. Aku tidak sanggup." Keterpurukan Tristan membuat Ara tidak bisa berbuat apa-apa. Dia diam dan memejamkan mata sejenak.


Ara mengusap punggung tinggi Tristan. Lalu memeluk tubuh itu.


"Meskipun aku mencintai Bapak, kita harus tetap seperti ini. Kita tidak boleh bersama." Tiba-tiba Tristan menegakkan tubuhnya dan menangkup kedua pipi Ara. Tentu saja ini membuat Ara terkejut.


"Aku yakin cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Kamu mencintaiku. Bukan membenciku. Sungguh mengesalkan jika kamu melakukan itu padaku," kata Tristan menemukan kalimat aku mencintai dari bibir Ara.


Ara terjebak.

__ADS_1


"Jika kakek yang kamu cemaskan, kita bisa pikirkan bersama. Kamu tidak harus lari dan membuatku gelisah," ujar Tristan seraya menatap Ara dengan lembut dan hangat.


Sorot mata sedih, lelah, dan gelisah sudah sirna. Kalimat Ara sepertinya manjur. Meskipun sebenarnya Ara ingin menyimpan rasa cintanya di hati saja, melihat Tristan terlihat bersemangat lagi, Ara merelakan juga.


Biarlah ... Entah bagaimana nantinya.


Tristan tersenyum seraya menyentuh bibir Ara dengan ujung jarinya. Bola mata itu bukan menatap ke manik matanya. Tristan tengah fokus dengan bibir Ara.


Aku ... akan di cium lagi.


Tristan mendekatkan wajahnya. Ia hendak mencium bibir gadis ini, ketika sebuah suara membuatnya terhenti.


"Ara!! Kentangnya selesai di panen belum?!" Sebuah teriakan membuat Tristan tidak jadi mencium. Apalagi Ara dengan kuat mendorong tubuh Tristan. Hingga pria itu menjauh darinya. "Ara ...!!" Suara itu terhenti setelah berhasil menemukan sosok Ara di gubuk.


"Bapak."


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2