KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 99


__ADS_3

Sekarang di ruangan hanya ada Ara dan Tristan. Meskipun sedang menunduk, Ara tahu sedang di perhatikan oleh pria itu. Tangannya makin erat menggenggam jari-jarinya. Ia gugup.


 


Suara langkah kaki Tristan  makin membuat jantungnya berdegup kencang.


 


"Kamu datang mengambil daftar nilai magang mu?" tegur Tristan membuat Ara mendongak. Rupanya pria itu berdiri di dekat meja kerjanya. Mengambil sesuatu di sana.


 


"Ya, Pak."


 


"Tidak ada yang lain?" tanya Tristan masih mencari sesuatu di tumpukan meja kerjanya. Memunggungi Ara yang tetap duduk di sofa.


 


"S-saya rasa tidak," sahut Ara.


 


Tristan membalikkan badan. Menatap Ara lurus-lurus.


 


"Maaf jika mengganggu. S-saya sudah minta pada Kak Ghia, tapi ... senior bilang tidak memegang hasil nilai saya. Kak Ghia menyuruh saya menghadap ke ... Bapak, untuk memintanya langsung." Meski tersendat-sendat, Ara mampu menyelesaikan kalimatnya dengan baik.


 


Dia bangga pada dirinya sendiri. Karena dengan detak jantung tidak karuan, juga atmosfir yang menyesakkan ini ... ia rasa mengeluarkan kalimat itu saja sangat hebat.

__ADS_1


 


Namun saat Ara sudah menyelesaikan kalimatnya, Tristan justru diam. Bola matanya menatap Ara lama.


 


Oh, tidak. Harusnya aku segara berdiri dan mengambil nilainya. Kenapa aku masih tetap duduk di sini tanpa bergerak.


 


Ara tahu diri dan berdiri. Kemudian berjalan mendekat ke arah Tristan. Pria itu hanya melihat tanpa bergerak.


 


"Saya ingin mengambil daftar nilai saya, Pak," ujar Ara dengan setengah menunduk. Ia akan segera berpamitan keluar dan pergi. Karena dia tidak ingin berlama-lama di sini.


 


Tristan tidak menyinggung sama sekali soal kemunculannya di rumah Ara. Pria ini berisikap biasa saja. Bahkan datar. Jadi, hatinya sedikit terluka. Beberapa hari kejadian di kampungnya itu mungkin hanya mimpi.


 


 


Ha? Kenapa tidak jadi menyerahkan nilai itu? Ara kebingungan. Tangannya sempat menggantung beberapa detik. Lalu menariknya kembali karena merasa bodoh.


 


"Ada yang salah Ara," Tristan meletakkan kembali nilai magang yang sudah ia ambil di atas meja.


 


Ara mendongak.

__ADS_1


 


"Kurasa ada yang salah dengan suasana ini." Pria itu mendekat. Bola mata Ara mengerjap.


 


Suasana? Suasana tegang ini? Aku juga tahu soal itu. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku terlalu takut membahas soal dirimu yang ada di rumahku waktu itu, jadi aku tertekan sendiri.


 


"Seharusnya bukan suasana seperti ini yang muncul di antara kita, setelah aku pergi dari kampung halaman mu."


 


Ia masih ingat.


 


Ara mendongak. Bola matanya bergetar. Mata itu juga berbinar tanpa bisa di sembunyikan. Menatap Tristan yang sudah berdiri tegak di depannya. Kemudian Ara mengerjapkan matanya lagi. Berusaha menghindari tatapan pria ini.


 


Tiba-tiba pria itu menarik tubuh Ara untuk mendekat padanya. Ara tidak melakukan apa-apa. Semuanya terjadi begitu saja.


 


Pria itu menyentuh dagu Ara. Ini membuat napas Ara tertahan, dan dadanya berdebar kencang.


 


Dan wajah itu mendekat menyatukan bibir. Ara terkejut. Namun dia tidak menghindar. Bahkan gadis ini hanya bisa diam saat Tristan mellumat bibirnya.


 

__ADS_1


"Seharusnya suasana hangat dan bahagia, yang ada di antara kita sekarang. Seharusnya bukan menyerahkan nilai dan lain sebagainya yang pertama aku lakukan," kata Tristan setelah melepaskan bibir Ara dari pagutannya. " ... tapi aku harus memeluk dan menciummu karena sudah memendam rindu," kata Tristan seraya mengusap bibir Ara yang basah karena ciumannya.


_____


__ADS_2