KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 24 Tristan berkunjung


__ADS_3

Pelayan datang membawa makanan kecil dan minuman. Mama Jenny meminta nampan itu untuk di ganti dengan tas belanjaannya.


"Letakkan di ruang tengah dulu," bisik mama Jenny pada pelayannya. Perempuan tua itu mengangguk. Lalu menyerahkan nampan, lalu membawa tas belanjaan yang di letakkan di lantai.


"Tidak perlu repot-repot. Kami bukan tamu penting," kata Haga.


"Semua tamu itu penting." Anggara menjawab.


"Tidak repot. Hanya sedikit suguhan." Mama Jenny meletakkan nampan itu di atas meja. "Silakan di makan. Tristan juga." Beliau mempersilakan menikmati suguhan.


"Terima kasih," jawab Tristan. Sejak tadi dia diam. Di sini ia adalah tersangka gagalnya pernikahan dua keluarga besar ini.


"Aku tidak habis pikir dengan cucuku. Dia membatalkan pernikahan dengan cepat padahal pesta sudah di laksanakan." Tuan Haga memulai bicara.


"Jangan begitu Tuan Haga. Itu juga kesalahan putri kami. Dia juga menginginkan pernikahan ini batal. Jadi bukan murni kesalahan Tristan." Anggara mengerti bahwa putrinya juga melakukan hal yang sama. "Dimana Jenny?" tanya Anggara yang tidak melihat putrinya itu muncul bersama istrinya. Padahal mereka keluar bersama.


"Ada. Dia di kamarnya. Mungkin karena ada tamu, dia lewat pintu tengah," sahut mama Jenny sambil tersenyum pada keluarga mantan calon besannya.


"Aku tetap merasa tidak enak hati soal ini. Bahkan media memberitakan yang tidak-tidak soal batalnya pernikahan ini." Tuan Haga menghela napas. Kemudian menggeram seraya melirik ke cucunya. Tristan menaikkan alisnya sedikit. Dia tahu kakek sedang menggertakkan gigi karena marah padanya.


**


Dengan berpura-pura mendapat telepon dari Jarvis, Tristan berhasil keluar dari ruang tamu keluarga Andromeda. Dia sebenarnya lelah mendengar semua keluhan kakeknya. Hanya saja dia tidak bisa membantah. Dia pada posisi keliru.


"Aku sudah ada di luar rumah. Kamu bisa mematikan handphone mu," ujar Tristan pada sekretarisnya itu.


"Ya, Tuan." Jarvis di seberang setuju. HH ... kini Tristan tengah menghela napas karena berhasil keluar dari sana. Saat itu Ara yang ingin pulang, melenggang dengan tenang di halaman rumah. Dengan Jenny berada di sampingnya, mereka mengobrol dengan tenang tanpa menyangka bahwa Tristan tengah memperhatikannya.


"Apa aku salah lihat? Gadis itu seperti karyawan ku. Dia gadis yang waktu itu," ujar Tristan yang bergerak mendekat. Saat itu Ara sudah sampai di gerbang keluar.


"Semangat ya. Kamu bisa menghadapinya. Aku yakin," ujar Jenny memberi semangat pada temannya. Ara menipiskan bibir mendengar dukungan itu. Meskipun di beri penyemangat, tentu itu tidak membuatnya yakin bisa menghadapi Tristan di kantor.

__ADS_1


Brum! Motor Ara menyala hendak pergi.


"Dia teman kamu?" tanya Tristan membuat Jenny menoleh dengan cepat. Dia berhasil mendekat setelah gadis itu pergi.


"Kamu?!" tanya Jenny sangat terkejut.


***


Tidak seperti biasanya. Jika biasanya Tristan sangatlah jarang muncul di area lorong lantai selain lantai ruang kerjanya, pagi ini ia muncul di setiap lantai. Semua terkejut melihat kemunculan pria ini di sana.


"Halo," sapa pria ini membuat semua orang menegang mendengar suara orang penting ini bicara di dekat mereka.


"Maaf, Tuan. Aku tidak menemukan Anda di dalam ruangan. Dimana Anda sekarang?" tanya Jarvis yang kehilangan direkturnya.


"Aku berada di lantai lima."


"Oh Anda masih di dalam lift?" tanya Jarvis.


"Hah? Tidak Tuan," jawab Jarvis yakin.


"Tidak mungkin kamu bisa meneleponku, jika aku berada di dalam lift," desis Tristan membuat Jarvis terkejut. "Aku sedang ada di lantai lima mencari dia."


"Dia .... " Jarvis masih berpikir. "Karyawan magang itu, Tuan?" tebak Jarvis terkejut.


"Benar. Dia," sahut Tristan. "Cepat kemari!" Setelah mengatakan itu Tristan menutup teleponnya. Ia menyusuri lorong menuju kantor keuangan. Karyawan magang memang tidak terjun langsung ke bagian keuangan secara mendalam, tapi mereka bekerja hanya untuk keperluan luarnya saja. Karena kebetulan Ghia butuh orang di divisinya.


Kemunculan Tristan di lantai lima sangat mengejutkan semua pihak. Apalagi pria ini muncul tanpa Jarvis. Namun bagai menggunakan jet, Jarvis sudah bisa muncul di sebelah Tristan saat orang-orang makin melihat dengan pandangan takut dan penasaran.


Ara yang sedang menunggui mesin fotocopy melongok. Ingin tahu ada apa di luar sana.


"Di lorong kelihatannya ramai sekali, Kak," kata Ara memberitahu Rose.

__ADS_1


"Ramai? Masa sih?" Rose yang sedang mengerjakan sesuatu di ponselnya ikut melongok. Awalnya dia dengan santai melihat ke arah lorong,  tapi mendadak perempuan itu menyalakan komputer dengan tergesa-gesa. Lalu duduk dengan sempurna. Perubahan yang signifikan. Bahkan semua karyawan melakukan hal yang sama seperti Rose.


Manik mata Ara takjub karenanya. Semua karyawan yang tadinya berleha-leha, kini tampak serius mengerjakan sesuatu di komputer. Bahkan si gendut Amri datang padanya dan bertanya dengan elegan.


"Kamu sudah menyelesaikannya?"


"Belum, Kak. Tinggal beberapa lembar lagi," kata Ara.


"Selesaikan dengan cepat. Itu harus di kembalikan ke ruangan sekretaris tuan Tristan," kata Amri mendadak jadi sok penting. Padahal sejak tadi, saat Ara masih menjalankan mesin fotocopy di awal, dia tidak bersikap se-disiplin ini. "Cepatlah," bisik Amri lalu menjauh dari sana.


Ara mengerjapkan mata. Sedikit terkejut dengan tingkah seniornya. Amri tidak biasanya seperti itu.


"Kenapa dengan dia? Tumben sekali rajin," gumam Ara pelan.


"Amri, sudahkah ... Oh, pak Tristan." Kak Ghia yang muncul dari ruangannya membungkuk tatkala ia melihat direkturnya di ambang pintu. Ara yang mendengar itu langsung membeku.


Tristan? Tristan ada di sini?


Tristan mengangguk menerima sapaan Ghia. Kaki Tristan melangkah masuk ke ruangan tempat Ara magang. Gadis ini menunduk sambil terus melakukan tugasnya. Ujung mata Tristan melirik seraya memperhatikan Ara.


"Silakan bekerja saja dengan santai. Aku hanya ingin melihat sebentar." Ara makin menunduk saat Tristan berjalan di depannya.


Hei, kamu menghindari ku ya ... Aku tahu kamu, Ara!


.......


.......


.......


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


__ADS_2