KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 25 Pencarian


__ADS_3

Malam itu, di rumah Jenny.


"Tristan? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Jenny terkejut. Kepalanya langsung melihat ke arah Ara yang sudah melesat pergi dari rumah dengan motor bututnya.


"Dia temanmu?" tanya Tristan lagi. Jenny terdiam sambil menggigit bibir cemas. "Katakan. Apa pengganti kamu di kencan itu adalah dia?" desak Tristan.


"Kamu tidak boleh menyentuhnya. Jangan melakukan apapun padanya," kata Jenny yang tanpa sadar secara tidak langsung mengaku bahwa gadis yang tadi bersamanya adalah pengganti dirinya di kencan waktu itu.


"Kenapa? Dia sudah mempermainkan aku. Dia harus mendapat hukuman."


"Dia hanya menolongku, Tristan," kata Jenny membela temannya.


"Menolong untuk membohongi dan mempermainkan orang?" ujar Tristan dingin.


"Emm ... Aku hanya tidak ingin menikah denganmu." Jenny membela diri. "Dia tidak ingin melihat temannya tersiksa karena harus di jodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Jadi dia menyetujui untuk menggantikan ku. Hanya itu."


"Lalu?" tanya Tristan membuat Jenny kebingungan.


"Jadi ... dia tidak bersalah. Yang bersalah aku. Jangan hukum dia. Jangan sangkut pautkan kejadian kita dengan dirinya yang magang di perusahaan mu. Dia hanya gadis mandiri yang kuliah dengan biaya sendiri. Ara itu gadis yang baik. Dia ..."


"Jadi nama gadis itu Ara?" tutur Tristan menoleh ke gerbang keluar. Ini membuat Jenny terkejut bukan main. " ... Dan dia magang di perusahaan ku?" Kepala Tristan kembali menoleh Karena merasa terpojok, mulutnya justru membuka sendiri siapa sebenarnya Ara.


"Bukan. Aku salah sebut. Aku tidak kenal. Aku tidak kenal." Jenny jadi panik. Ia tidak menduga bahwa Tristan akan berada di rumahnya sekarang.


"Ara. Jadi dia benar gadis itu ..." Tristan tidak lagi mempedulikan kicauan Jenny yang meralat kalimatnya. Dia tidak lagi peduli. Tristan melangkah pergi. Senyum miringnya muncul karena mendapat informasi pasti ini dari bibir si Jenny sendiri.


"Aduh. Ara pasti akan dihukum Tristan. Atau mungkin dia akan di keluarkan dari perusahaan. Tidak boleh lagi magang di sana. Itu akan membuat nilainya buruk," keluh Jenny.

__ADS_1


***


Walaupun sangat dekat dengan Ara, Tristan tidak langsung menegurnya. Dia hanya berkeliling di ruang tim keuangan dan berbincang dengan Ghia. Setelah tugasnya usai, Ara menyerahkan pada Amri.


"Bagus." Amri menyahut dokumen yang sudah di fotocopy oleh Ara dan berjalan mendekat ke Ghia. Menunduk meminta waktu mereka dengan sopan.


"Oh, dokumen itu?" Kak Ghia mengambil dari tanah Amri. "Naik ke lantai atas dan letakkan ini di meja Sekretaris Jarvis," perintah Ghia pada Amri setelah membaca sekilas. Amri mengangguk.


"Dokumen apa?" tanya Tristan.


"Keuangan divisi makanan, Pak. Sekretaris Jarvis memintanya," jelas Ghia.


"Oh itu. Kamu bisa memberikan langsung padaku," kata Tristan.


"Benarkah tidak apa-apa?" tanya Ghia ragu.


"Oh, baiklah. Aku panggil dulu mereka. Amri! Apa kamu sudah berangkat ke lantai atas?" tanya Ghia yang melihat Amri duduk di tempatnya.


"Baru saja Ara berangkat," jawab Amri yang membuat daun telinga Tristan melebar. Dia langsung terpusat pada nama itu. Ara?


"Ara? Kenapa dia yang berangkat?" tanya Ghia heran. Dia menipiskan bibir mendengarnya. Amri menundukkan kepala.


"Tidak apa-apa, Ghia. Aku bisa memintanya pada Jarvis. Baiklah. Sudah waktunya aku kembali ke ruanganku." Tristan memotong. Jika itu Ara dia harus segera menyusul. Dengan begitu ia akan menemukan gadis itu.


"Oh, baik Pak."


................

__ADS_1


Ara hampir saja akan menghilang di belokan, tapi Tristan sudah berhasil mengikutinya. Tanpa membuat suara yang berlebihan, Tristan mengikuti Ara dari belakang.


"Ke lantai atas dengan cepat. Sebelum Tristan menyadari aku menghilang. Jadi saat dia masih bersama kak Ghia, aku ada di lantai atas. Lalu pulang lewat tangga karena dia pasti naik lift untuk ke lantai atas. Oke. Dengan begitu kita tidak akan bertemu. Sekarang lewat lift saja. Karena dia masih di sini." Merasa sudah bisa membuat rencana matang, Ara tersenyum puas di depan pintu lift. Tristan yang mendengar itu juga tersenyum jahat.


Pintu lift terbuka. Ara melangkah masuk, lalu terkejut dengan kemunculan Tristan yang masuk ke dalam lift setelahnya. Ia bermaksud akan keluar lagi, tapi tidak mungkin. Karena Tristan tetap berdiri di depan pintu dengan posisi menghadap padanya saat pintu lift tertutup perlahan.


Aku celaka!


Ara langsung menunduk. Tristan berjalan mendekati tempat Ara berdiri. Dengan cepat, gadis ini merapat pada dinding lift. Tristan yang mengetahui gerak cepat Ara melirik.


"Kita bertemu lagi," ujar Tristan. Ara diam. "Kamu pasti tidak akan lupa siapa aku bukan?"


"B-benar. Anda direktur perusahaan ini. S-selamat sore ..." Ara membungkuk memberi hormat.


"Direktur? Jangan berpura-pura," desak Tristan.


"S-saya tidak tahu maksud Anda, T-tuan." Ini membuat Ara gugup dan takut setengah mati. Dia merapatkan dokumen yang dipegangnya kuat-kuat.


"Tidak tahu? Kamu?" tanya Tristan menahan amarah. Kepala Ara mengangguk. Tristan berdecak kesal. Ara menelan salivanya sendiri. Kemudian merutuk dirinya sendiri. Kakinya menggeser untuk menjauh lagi. Berdiri di pojok kubus lift agar tidak terlalu dekat dengan Tristan.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Tristan. Ara tidak menjawab. Tentu saja ia harus membungkam mulutnya sendiri.


.......


.......


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


__ADS_2