KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 49


__ADS_3

Tristan yang baru saja ada acara minum teh dengan tamu perusahaan, sengaja mampir ke kantor untuk mengambil dokumen. Tidak sengaja ia melihat gadis itu di sana. Di cafe depan gedung perusahaan. Mobilnya melaju begitu saja menuju cafe itu.


Tristan?


Tiba-tiba saja pria itu keluar dengan membawa payung untuknya.


"Jangan repot-repot, Pak." Ara tidak nyaman.


"Kamu sudah membuatku repot sejak pertama bertemu. Di tempat kencan dulu sebagai Jenny," sahut Tristan dengan wajah mengejeknya. "Jadi ikut saja sekarang. Ayo." Ara langsung diam dan patuh. Tristan membukakan pintu depan.


"Kenapa tidak meneleponku kalau memang ada di luar?" tanya Tristan setelah ia sudah masuk ke dalam mobil juga. Ia bertanya seraya membersihkan sisa air yang sempat membasahi tubuhnya.


"Ya," sahut Ara singkat dan tidak sinkron. Tidak mungkin ia menelepon pria ini hanya untuk menjemputnya. Itu tidak masuk akal.


"Sedang ada janji dengan siapa?" Kali ini Tristan menoleh ke arahnya.


"Tidak. Tidak ada. Saya hanya ingin kesana." Ara berbohong. Tristan mengangguk. "Apa memang tidak ada yang ingin bertemu denganmu? Selama kontrak berjalan, aku tidak pernah melihatmu ingin keluar selain mengenai pekerjaanmu sebagai kekasihku."


"Memang tidak ada," jawab Ara singkat.


"Benarkah?" tanya Tristan seraya menyalakan mesin mobil.


"Mungkin hanya Jenny yang mencari saya, Pak."


"Oh, Jenny ... Ternyata dia teman baikmu ya. Sampai kamu berani menipuku." Ara menyesal menyebut nama itu. Jadi itu membuat Tristan ingat lagi. Ara sedikit menunduk. "Jadi seorang pria tidak akan mencarimu ya?"

__ADS_1


"Ada."


"Ada? Kamu punya kekasih?" Tristan yang menyetir langsung menoleh.


"Bukan. Dia orangtuaku. Bapak. Mungkin jika saya menghilang, Bapak akan mencari," ujar Ara sambil tersenyum. Tristan tergelak pelan.


"Jadi kamu kesayangan orang tua ya?"


"Tentu saja." Ara bangga. Tristan melirik sebentar dan tersenyum lagi.


**


Sore ini Jarvis menemani Ara untuk ke rumah sewa lamanya. Karena sudah lama tidak kesana. Ia ingin sedikit bersih-bersih. Itu tempat tinggalnya. Meskipun sekarang ia berada di apartemen Tristan, itu hanya sementara. Dia tidak harus mengabaikan rumah sewanya. Dari sinilah ia bisa berada di tempat sekarang.


"Kamu tidak perlu membantuku. Biar aku saja."


"Ini rumahku. Tugasmu mematuhi Tristan saat di kantor. Jadi kamu tidak perlu mematuhinya saat berada di sini. Lagipula kenapa dia harus menyuruhmu membantuku." Ara geregetan karena Jarvis terus ingin membantunya. "Abaikan dia." Ara menarik tas kresek berisi sampah di tanah Jarvis.


"Kamu berani juga menyuruh Jarvis mengabaikanku Ara." Suara Tristan mengejutkan mereka berdua.


"Tuan ..." Jarvis membungkuk sebentar memberi hormat. "Kenapa Anda tidak memberi tahu saya kalau akan ke sini. Saya tidak bisa menjemput Anda." Sebagai bawahan, Jarvis merasa bersalah. Apalagi rumah ini tidak bisa langsung di kunjungi setelah turun dari mobil. Kita harus berjalan kaki melewati pasar tradisional yang makin sore bukan makin sepi, tapi justru tambah ramai.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya Ara khawatir. Ia tahu tidak mudah mengunjungi rumahnya. Apalagi bagi seorang pria kaya seperti Tristan. Gang-gang sempit. Pasar tradisional yang kadang di penuhi aroma amis ikan laut mentah.


"Ya," sahut Tristan datar.

__ADS_1


"Duduk dulu, Pak," kata Ara meletakkan sampah tadi begitu saja dan menuju ke sudut ruangan. Kemudian mengambil air kemasan yang di belinya saat menuju ke rumah ini. "Maaf, Pak. Tidak ada yang lain, hanya ini." Tristan menerima air kemasan itu dan mengamatinya lebih dulu. "Itu masih baru. Tadi mau kesini baru beli." Ara menjelaskan karena tahu maksud Tristan.


"Aku perlu memeriksa terlebih dahulu sebelum meminumnya kan?" Tristan membela diri. Ara menipiskan bibir.


"Benar. Anda berhak memeriksa sesuatu yang di berikan oleh orang asing." Ara menyindir. Setelah meneliti apa yang di berikan Ara, Tristan meminumnya. Sementara Jarvis terus saja membersihkan rumah sewa.


"Berhentilah. Aku bisa membersihkannya!" seru Ara yang langsung mendekat pada Jarvis. Bola mata Jarvis melebar memberi kode pada Ara untuk membiarkan dirinya membantu. Namun Ara tetap pada pendiriannya untuk menahan Jarvis membantunya. Tristan yang selesai meneguk minumannya melihat ke arah mereka berdua.


"Berhentilah kalian berdua. Kalian mirip sepasang kekasih yang baru saja bicara setelah lama perang dingin," kata Tristan menaikkan nada bicaranya sebentar. Ara dan Jarvis terdiam. Mereka melepas sapu yang memang hanya ada satu di rumah ini. Tristan berdiri dan mendekati mereka berdua. "Belikan makanan untuk kita bertiga."


"Bisa saya pesankan, Tuan." Jarvis mengeluarkan ponselnya hendak memesan.


"Aku bilang belikan aku makanan, Jarvis. Bukan pesan," desis Tristan. Jarvis yang menunduk langsung mendongak.


"Oh, baik Tuan." Jarvis langsung menganggukkan kepala. Itu berarti dia harus pergi dari sini. Jarvis merasa sedang di usir sekarang.


"Anda lapar? Kenapa tidak ikut dengan Jarvis?" tanya Ara heran.


"Jangan pedulikan itu. Lebih baik segera selesaikan bersih-bersih ini dan pulang."


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2