
Tentu saja semua ini murni karangan Ara. Namun dia tahu karena pada dasarnya orang yang punya penyakit diabetes sangat menyukai makanan manis hingga berlebihan.
"Jadi Ara membuatkan ini dengan mengganti tepung putih dengan tepung gandum yang lebih tinggi serat. Kandungan serat yang tinggi sangat baik untuk pencernaan sekaligus tidak menyebabkan kenaikan kadar gula darah Kakek dengan cepat," terang Ara yakin. Dia sudah mempelajarinya.
"Benarkah?" Tuan Haga terpengaruh. "Lalu menteganya?" Rupanya beliau masih tidak percaya. Tentu saja tidak semudah itu kakek percaya. Tristan sudah ingin mengucapkan sesuatu untuk membela Ara di ujung bibirnya, tapi lagi-lagi dia mengurungkan niat karena Ara bisa memberi penjelasan.
"Ara mengganti mentega dengan minyak canola. Minyak canola mengandung lebih banyak lemak sehat sehingga lebih aman menjaga kesehatan sistem kardiovaskular penderita diabetes." Tristan masih bisa tenang karena gadis ini menjawab pertanyaan kakek. Meskipun dia sendiri tidak paham dengan apa yang dikatakan gadis itu. "Kakek bisa membacanya di buku pengetahuan jika ragu," lanjut Ara. Melihat keyakinan Ara, beliau mulai benar-benar terpengaruh.
"Kamu pikir aku tidak tahu?" Beliau berusaha tampak mengerti.
"Maaf, bukan maksud Ara begitu. Karena Kakek belum percaya jadi Ara menyarankannya, tapi sebenarnya Ara yakin akan pengetahuan Kakek yang luas. Kakek Tristan pastilah orang hebat dengan otak hebat karena Tristan juga hebat." Ara memuji untuk menenangkan. Dia meras tidak aman barusan.
"Ya. Dia hebat bukan karena usahanya saja, tapi karena aku yang mengajarinya. Lagaknya saja yang seakan hebat dengan sendirinya." Ara tersenyum. Ini pertama kalinya ia mendengar ada orang yang berani membicarakan Tristan dengan buruk.
"Kita bisa memakan kue ini di bawah pohon sana. Saya akan mengambilkan Kakek air dan kita makan bersama." Kakek tidak menjawab, tapi sepertinya beliau setuju. Kepala pelayan yang masih di sana tersenyum.
"Saya akan mengambilkan air untuk Tuan besar. Nona bisa mengantar beliau ke sana," kata kepala pelayan tadi. Nona? Itu terasa mewah di telinga Ara. Saat berjalan menuju ke bawah pohon itu Tristan ikut mendekat. Ara yang tidak menduga pria ini sudah muncul terperanjat kaget.
"Kenapa terkejut?" tanya Tristan. Ara menggeram di dalam hati. "Apa kalian sedang membicarakanku?"
"T-tidak," bantah Ara.
"Lalu kenapa kalau kita memang membicarakanmu? Bukannya wajar kalau dia yang jadi kekasihmu ini membicarakanmu?" tanya kakek seperti sedang membela Ara. Namun itu terasa panas di telinga Ara. Dia mendadak malu saat kakek menyebut dirinya kekasih Tristan dengan suara lembut. Apalagi Tristan melirik gadis ini. Ara jadi sedikit gugup.
__ADS_1
Sial. Kenapa malah gugup karena lirikan itu ...
**
Hari libur Ara habis karena berisi pekerjaan menjadi kekasih Tristan. Ia tidak bisa mengisi hari liburnya dengan apa yang disukainya sendiri. Ia lelah. Malam ini setelah pulang dari rumah tuan Haga, ingin rasanya langsung tidur. Namun herannya ia justru terus saja membuka mata. Sulit untuk tidur.
Ia menuju pantry ingin membuat jus. Tristan sedang membaca di depan tv menoleh. Dia pikir gadis ini sudah tidur karena sejak tadi tidak muncul di luar kamar. Ia memperhatikan Ara yang sedang mencari-cari sesuatu.
"Sedang mencari apa?" tegur Tristan membuat Ara yang tidak mengira ada pria ini di luar, terperanjat kaget.
"Bapak mengagetkan saja." Ara mengelus dadanya.
"Apa yang kamu cari?" Tristan mengulang pertanyaan yang sama karena belum mendapat jawaban.
"Tidak ada buah di kulkas. Beli saja kalau mau." Ara mengangguk. Ia malas keluar. Jadi memilih masuk kamar lagi untuk rebahan setelah mengambil air putih dingin. "Kembali." Ara membalikkan badannya. Berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Tristan sedang berjalan ke arahnya. "Pakai jaketmu. Aku akan mengantarkanmu mencari buah." Ara mengerjap. Kemudian mengangguk setuju tanpa bicara.
***
Ara membawa troly dari minimarket untuk membawa barang belanjaan nanti. Tristan berdiri di sebelahnya untuk menemani. Dan tentu saja untuk membayar semuanya nanti. Tidak mungkin Ara membiarkan dompetnya mengeluarkan uang.
"Aku tidak tahu kamu bisa masak dan membuat kue."
"Itu bakat ibu yang menurun pada saya, Pak."
__ADS_1
"Mmm ... jadi ibu kamu itu pintar memasak. Kenapa kamu baru unjuk kebolehan saat kakek datang?"
"Saya lumayan malas untuk memasak tiap harinya. Jadi saya bikin mie atau masak nasi dan goreng telur saja." Soal ini Ara tidak bohong. Ia melakukan banyak hal dengan simple.
"Aku bisa menyiapkan lagi semua bahan makanan jika kamu mau memasak tiap hari." Ara yang sedang melihat ke arah keranjang buah menoleh ke samping.
"Mmm ... " Ara ragu. Itu membutuhkan banyak tenaga. Ia terlalu lelah untuk melakukannya.
"Tentu aku juga menambahkan kompensasi untuk itu. Aku akan membayarmu," imbuh Tristan membenahi kalimatnya. Ara tersenyum.
"Baiklah. Saya setuju." Gadis ini girang. Ia akan mendapatkan tambahan lagi. Dengan begitu, ia juga bisa memberi keluarganya uang yang lebih dan mengisi tabungan.
"Apa di kepala kecil ini yang ada hanya uang?" tanya Tristan tiba-tiba memukul kepala Ara pelan. Gadis ini meringis. Sempat terkejut juga.
"Saya ini orang miskin yang ingin menjadi besar dengan usaha keras. Wajar kalau uang selalu ada dalam kepala saya," sahut Ara. Ia menoleh pada keranjang dan menemukan buah semangka. "Jadi ... kita akan belanja besar hari ini, Pak?"
"Ya. Belanjalah yang banyak. Aku akan mengirim uang ke dalam rekeningmu sekarang untuk bayaranmu" Mendengar itu Ara makin girang dan sangat bahagia. Rekeningnya akan penuh.
.......
.......
.......
__ADS_1
......................