
"Aku tidak ada hubungannya dengan kaburnya Ara." Jenny langsung memberi penjelasan sebelum di tanya.
"Kamu tahu dia menghilang, berarti kamu sempat bertemu dengannya sebelum gadis itu pergi," ujar Tristan membuat Jenny menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia suka keceplosan sepertinya. "Jarvis sudah membuat daftar nilai untuk Ara. Dia meminta nilai sempurna untuk magangnya yang belum selesai padaku. Kamu bisa ambil di kantorku."
"Ara ..." desis Jenny geram. "Lalu memanggilku soal apa? Sepertinya Ara meninggalkan pesan padamu."
"Apa dia menangis saat pulang ke rumah sewa? Apa dia terlihat baik-baik saja?" tanya Tristan berusaha tenang.
"Aku tidak tahu. Dia hanya meneleponku sebentar," bohong Jenny. Melihat wajah Tristan, ia tidak ingin pria ini tahu kesedihan Ara. "Jadi benar, kamu mencintainya?"
"Ya," jawab Tristan pasti. "Aku serius soal itu."
Jenny bisa membaca dari sorot mata Tristan. Sorot mata kehilangan.
"Walaupun begitu, Ara gadis kuat. Dia terbiasa dengan kekerasan saat mencari uang. Jadi aku yakin, soal kalian berdua ... tidak terlalu membebaninya. Mungkin." Mendadak Jenny ragu juga. Padahal ia ingin menguatkan Tristan.
__ADS_1
Pria ini tersenyum getir.
**
Rapat pemegang saham di adakan hari ini. Tristan sudah muncul di rumah kakek pagi hari.
"Kenapa kamu muncul di sini sepagi ini?" tanya tuan Haga terkejut.
"Aku ingin sarapan dengan kakek," kata Tristan.
"Sarapan?" Tuan Haga melihat ke sekitar. "Di luar tidak terjadi bencana atau apa, kan?" gurau kakek sembari menyindir. Antoni yang sedang berada di sana juga terheran-heran. Ini sangat tidak biasanya.
"Ya, sudah. Makan saja. Kita memang sudah lama tidak makan satu meja seperti ini." Mereka berdua dengan kesunyian yang membentang. Tuan Haga memperhatikan cucunya. "Kamu mirip ibumu."
"Untunglah aku tidak mirip Kakek." Tristan berkomentar dengan asal. Kakek menipiskan bibir.
__ADS_1
"Ibumu itu juga pekerja keras."
"Jadi Kakek memanfaatkan ibu untuk mengelola perusahaan? Menggunakan semua tenaganya demi perusahaan kesayangan Kakek?" tanya Tristan malah terdengar menuduh.
"Kamu ini ... Kenapa semua kalimat Kakek kamu mentahkan? Kamu ini mau ngobrol dengan kakek atau hanya ingin membuat kakek kesal?!" tanya tuan Haga naik darah. Antoni melihat keduanya bergantian. Lalu menghela napas.
"Sejujurnya aku ingin membuat kakek kesal, hanya saja aku masih tahu diri bahwa kakek itu sudah tua." Mendengar Tristan mengatakan itu, Tuan Haga bukan marah. Beliau justru diam. Tristan sedang merajuk.
"Pertemuan pemegang saham akan di mulai sebentar lagi. Jangan membuat suasana hati menjadi buruk. Ini kesempatanmu tetap menjadi nomor satu di atas semua. Kamu harus bersiap dengan baik," nasehat kakek.
Tristan menyuap makanan dengan tidak selera.
Antoni yang ada di sana, menjadi kasihan dengan pria itu. Pria yang seharusnya bahagia dengan semua kesempurnaannya. Harta, wajah tampan ... kini terlihat tidak menikmatinya.
"Jika memang semua memungkinkan, kamu harus mengikuti saran kakek." Tristan mendengus. Dia tahu saran kakek adalah menikah dengan putri pengusaha lain untuk menguatkan posisinya sekarang. "Makanlah yang banyak. Kamu akan menghadapi mereka semua yang ingin menjatuhkan mu. Kamu harus kuat."
__ADS_1
"Kakek juga makan yang banyak. Bukan hanya aku yang akan menghadapi mereka, kakek juga pasti akan menghadapi mereka. Aku rasa jika kita berdua bersatu, mereka akan kalah." Tristan yakin. Karena ia harus berada di atas untuk memenangkan hal lain.
"Kakek harap keyakinanmu terwujud."