KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 44


__ADS_3

Tidak berhenti dengan muncul di apartemen Tristan, kakek juga menginginkan Tristan datang ke rumah beliau dengan Ara. Sepertinya Ara benar-benar di uji untuk kelayakan seorang menantu. Karena ini pertama kalinya Tristan secara resmi membawa seorang wanita padanya.


"Sedang apa? Bukannya aku sudah bilang bahwa nanti siang kita akan ke rumah kakek?" tanya Tristan saat pulang dari kantor melihat gadis itu sibuk di pantry. Ini hari libur.


"Saya sedang membuat kue untuk kakek."


"Jangan membuat hal yang sia-sia. Kakek punya diabetes. Beliau tidak akan memakan kue mu karena anjuran dokter."


"Saya sudah tahu, Pak. Saya sudah bertanya pada Antoni." Ara tidak patah semangat. Ia mengatakannya dengan senyuman. "Saya sudah memakai gula


"Antoni? Jadi sekarang kamu sudah bisa menghubunginya tanpa sepengetahuanku?" Kerut Tristan berkerut. "Sudah berapa lama kamu melakukannya?"


"Oh, itu karena Antoni berterima kasih soal makan siang. Dia memberi nomor teleponnya saat hendak pulang jika sewaktu-waktu aku meminta tolong. Di luar waktu dia bekerja tentunya, Pak."


"Kamu punya janji dengan Antoni di luar pekerjaan?" tanya Tristan yang terus saja bertanya. Ara seperti sedang di interogasi.


"Bukan Pak. Antoni hanya bilang semuanya untuk berjaga-jaga kalau saya butuh pertolongan," ralat Ara yang merasa sedang tertangkap basah.


"Terserah. Siapkan dirimu dengan cepat jika aku bilang berangkat." Tristan langsung memotong kalimat Ara dan berjalan menuju ke balkon.


"Baik, Pak." Ara yang masih belepotan mengangguk.


**


Dengan kotak kue di dekapan, Ara sedikit berharap dia bisa percaya diri dan mengurangi rasa takut yang muncul tiba-tiba. Pelayan rumah menyambut kedatangan tuan muda dengan antusias.


"Selamat datang, Tuan. Sepertinya sudah sangat lama Anda tidak datang ke rumah ini." Sepertinya hubungan Tristan dengan orang-orang di rumah tuan Haga begitu akrab. Meskipun Tristan sangat kaku di kantor, sikapnya sangat hangat di rumah. Ara jadi merasa terharu.


"Kakek di mana?" tanya Tristan yang tidak melihat kakek tua itu muncul untuk menyambut.

__ADS_1


"Beliau ada di kebun, Tuan."


"Beritahukan pada kakek bahwa aku datang dengan Ara."


"Baik, Tuan."


"Sepertinya lebih baik kita yang datang ke sana." Ara memberi usulan. Tristan menatap Ara lurus-lurus.


"Di siang yang terik ini kamu akan pingsan jika kesana."


"Aku sudah terbiasa terkena terik matahari kok," sahut Ara. Sebagai gadis kampung, dia terbiasa terkena terik matahari saat di ladang.


"Pakaianmu tidak cocok untuk ke ladang," sanggah Tristan.


"Tidak masalah. Aku bisa mengatasinya." Tristan menggeram saat Ara terus saja membantah. Melihat tuan mudanya sedang berdebat dengan kekasihnya, pelayan tadi meminta ke belakang sebentar.


"Apa maksudmu terus saja membantahku, Ara?"


"Maaf, Tuan. Kakek meminta Anda untuk menunggu." Pelayan tadi muncul lagi.


"Saya akan ikut ke kebun, Pak ..." Ara langsung mengutarakan keinginannya. Bola mata pelayan itu terkejut. Lalu melirik ke arah Tristan dengan ragu. Pria ini menghela napas. Merasa kalah.


"Antar dia. Aku akan menyusul kesana," kata Tristan mengijinkan. Pelayan pria yang sudah tua itu membimbing Ara menuju pintu belakang. Bola mata Ara sempat melirik ke arah Tristan sebentar sebelum membuka pintu belakang. Ia tengah melihat ke arah ponselnya dengan mata terlihat bahagia.


**


Kakek sedang berjalan memantau kebun anggurnya. Ara takjub dengan kebun anggur yang tidak seberapa luas tapi tumbuh dengan buah anggur yang berlimpah.


"Selamat siang, Kakek." Ara membungkukkan tubuhnya sedikit untuk menyapa tuan Haga.

__ADS_1


"Ya siang. Bukannya aku sudah bilang tunggu aku?"


"Maaf. Ara hanya ingin melihat kebun Kakek. Kalau bisa Ara juga membantu." Ara yang sudah bertekad untuk bersikap baik segera melancarkan aksi. Meski tegang, dia berusaha dengan baik.


"Membantu? Kamu?" Lagi-lagi pandangan meremehkan. Ara tidak peduli. Bayaran yang ia terima lumayan banyak. Jadi dia harus berusaha dengan baik. "Huh." Kakek mendengus.


"Benar."


"Apa itu?" tanya kakek dengan sorot matanya ke arah bungkusan yang di bawa Ara.


"Oh, iya. Ara lupa. Ara bawa sesuatu untuk Kakek." Ara sampai lupa akan bawaannya. "Ini kue bolu untuk kakek."


"Aku tidak bisa makan yang manis-manis. Bawa saja kue itu pulang lagi," tolak beliau lalu membuang muka ke arah lain.


"Makanya Ara buat kue ini spesial."


"Aku bisa membelinya dengan harga mahal." Kenyataannya memang iya. Pria tua ini mampu membeli segalanya.


"Tapi jarang sekali ada yang membuat bolu khusus untuk diabetes Kakek."


"Kamu tahu aku punya diabetes?" tanya tuan Harga terkejut. Beliau sampai langsung menoleh ke Ara dengan cepat saking terkejutnya.


"Tristan cucu yang baik. Dia mengkhawatirkan keadaan Kakek. Tristan bilang Kakek sebenarnya menyukai makanan manis tapi seringkali di larang oleh dokter," kata Ara.


Tristan yang sudah muncul di sana, hendak mendekat saat itu, tapi ia berhenti saat Ara menyebut namanya.


.......


.......

__ADS_1


.......


......................


__ADS_2