KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 48


__ADS_3

Tristan sedang menelepon saat Jarvis membawa gadis ini ke ruangannya. Tristan meminta Jarvis keluar sejenak untuk meninggalkan mereka berdua. Obrolan Tristan di telepon mulai selesai.


"Ada apa?" tanya Tristan.


"Maaf, Pak. Sepertinya kita ketahuan. Aku ketahuan."


"Soal?"


"Kontrak saya."


"Kamu jadi kekasihku sementara?" Tristan meluruskan. Ara mengangguk. "Aku memang sempat mendapat sentilan soal itu."


"Lalu apa yang Anda lakukan?" tanya Ara antusias.


"Tidak ada," sahut Tristan santai.


"Tidak ada?" Ara justru terkejut dan tidak percaya. "Kenapa tidak ada?" Gadis ini keheranan.


"Biarkan saja semua tahu. Mereka tidak akan berbuat apa-apa meskipun tahu."


"Saya yang repot, Pak. Mereka terus saja bersikap hormat pada saya. Saya tidak nyaman. Apalagi setiap jalan, saya selalu di awasi oleh mata mereka. Saya seperti sesuatu yang langka." Ara begitu berapi-api saat mengatakannya.


"Kamu memang langka. Mungkin karena jarang sekali aku membawa seorang wanita. Bahkan tidak terdengar aku dekat dengan seseorang." Tristan bicara dengan tenang. Ara tidak sependapat. Namun ia tetap diam tidak bisa memaksa. "Mau makan siang denganku?" tawar Tristan membuat Ara kesal.


**


Entah sengaja atau tidak, Tristan justru mengajak Ara makan siang di kantin perusahaan. Tentu saja ini mengundang tatapan para karyawan.


"Kenapa Anda justru mengajak Saya makan di sini?" tanya Ara dengan setengah menggeram. Itu membuatnya harus menunduk terus menerus.


"Aku lapar," sahut Tristan singkat.


"Tapi seharusnya jangan di sini ..." bisik Ara geregetan.

__ADS_1


"Dimana?" Tristan menanggapi sambil menyiapkan makanan kedalam mulutnya dengan santai.


"Di luar. Di luar gedung. Di tempat yang tidak ada orang," bisik Ara berapi-api.


"Jadi ... kamu hanya ingin makan berdua denganku? Dinner?" tanya Tristan membuat Ara mendelik.


"Bukan seperti itu, Pak." Ara menggoyangkan tangannya. Makan siang ini tidak hanya mereka berdua di sana, Jarvis yang ikut makan hanya melirik tingkah mereka berdua. Menyuapkan makanan seraya menonton mereka bertikai kecil. Menurutnya saat ini Tristan tanpa sadar menanggapi semua yang di katakan Ara. Gadis itu membawa Tristan menjadi sosok yang lain. Sedikit kekanak-kanakan menurutnya.


"Makan saja sekarang. Jangan pedulikan tatapan semua orang," nasehat Tristan. Ara menghela napas. Dia mencoba bersikap santai menghadapi pandangan orang-orang. "Seharusnya kamu siap menghadapi hal semacam ini sejak menyetujui perjanjian itu." Ara kalah telak. Ia langsung terdiam dan mengumpat di dalam hati.


Bodoh!


"Kamu tidak bicara sama sekali Jarvis, tidak suka makanannya?" Jarvis yang sejak tadi memperhatikan tuannya dan Ara berdebat terkejut.


"S-suka Tuan." Jarvis langsung menunduk.


"Begitu ya ... Aku lebih suka masakan Ara daripada ini," kata Tristan membuat Jarvis terkejut. Ia tahu bahwa gadis itu tinggal di apartemen demi peran kekasih menjadi sempurna, tapi ia tidak tahu dengan benar apa yang terjadi di sana. Bola matanya langsung melirik ke arah gadis itu.


Apa saja yang mereka lakukan?


**


"Jadi kalian benar-benar menjadi pasangan?" tanya Jenny yang sepertinya bisa keluar dengan bebas. Rumor pernikahan gagal dia dan Tristan mereda.


"Ya. Sementara."


"Kamu melangkah terlalu jauh Ara. Ini bukan lagi bohongan."


"Apa bedanya dengan kencan buta yang kamu tawarkan padaku?"


"Emm itu ... Tentu beda."


"Sudahlah. Kamu datang kesini aku panggil untuk mendengar ceritaku. Bukan menasehati ku."

__ADS_1


"Teman yang baik perlu menasehati, kawan," bantah Jenny.


"Benar, teman baik juga perlu menasehati jika di butuhkan. Sekarang aku bukan butuh nasehat. Aku butuh cerita saja. Tidak. Dengarkan saja aku," potong Ara langsung menutup mulut Jenny dengan tangannya. Kepala Jenny mengangguk. Ara melepaskan tangannya. "Tristan membiarkan soal hubungan kita ini ke publik, ralat, karyawan perusahaan."


"Bukannya Tristan tidak suka itu?"


"Iya, tapi entah kenapa dia membiarkan berita itu muncul. Bahkan mengajak aku makan di kantin perusahaan."


"Wow, kamu jadi tontonan orang-orang dong."


"Tentu. Padahal Tristan awalnya tidak suka itu. Dia sendiri yang melarangku membocorkan ke publik. Dia yang memberi peraturan bahwa hanya di depan tuan Haga saja aku dan dia bersandiwara sebagai sepasang kekasih. Tidak di depan yang lainnya. Di perusahaan dia meminta aku bersikap biasa saja layaknya atasan dan bawahan, tapi kemarin ... " Ara mendesah lelah.


"Dia mulai menyukai hubungan palsu ini," kata Jenny membuat Ara mencebik. "Bagaimana jika seandainya dia memang berniat menjalin hubungan denganmu?" tanya Jenny iseng.


"Tidak. Dia hanya sedang bermain-main. Jangan ngaco. Bukankah di awal dia bilang perjanjian akan berakhir kalau dia menemukan wanita yang akan menjadi kekasih dia sebenarnya."


"Apa itu mungkin? Menunggu mendapat kekasih dengan menjadikan wanita lain kekasih sementara?"


"Kenapa tidak? Bukankah ini mirip ketika dia menjalin hubungan dengan seorang wanita, lalu dia putus dan menjalin hubungan lagi dengan yang baru. Bukankah seperti itu?"


"Begitu ya ..."


"Tentu saja. Dia tahu, aku ini wanita penipu yang suka uang. Jadi dia memanfaatkan itu demi dirinya yang tidak ingin di jodohkan lagi."


Ara berpisah dengan Jenny yang langsung melesat dengan mobilnya. Dia menolak tawaran gadis itu untuk di antar karena ia tidak ingin Tristan bertemu dengan Jenny. Namun sial ia terjebak hujan. Layanan ojek online juga di tolak.


"Kamu belum pulang, Ara?" tegur Tristan yang muncul dengan mobilnya.


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2