
"Aku pikir aku sudah mengatakan padamu kalau pulang kerja, buatkan aku masakan." Tristan yang sedang melihat ke komputer kerjanya melihat lurus ke arahnya yang baru saja datang. Pria ini ternyata pulang lebih awal darinya.
"Maaf, Saya pulang terlambat." Ara membungkukkan badan merasa keliru.
"Segera ke dapur."
"Baik." Sebagai pekerja yang sudah di bayar di muka, Ara harus bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya meskipun ia agak lelah sepulang magang. Sementara itu Tristan melanjutkan mengerjakan sesuatu di komputernya. Ujung matanya sempat melirik ke arah dapur. Memperhatikan gadis itu berkutat lagi dengan bahan masakan. Kelihatan Ara lebih lelah daripada waktu itu.
Tristan menghela napas. Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri Ara.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Kenapa Anda di sini? Anda hanya perlu duduk dan menunggu saya menyelesaikan semuanya."
"Menunggu itu melelahkan," sahut Tristan enteng. Menurutnya, memasak di temani Tristan juga akan melelahkan. Ada beban mental juga nantinya. "Kakimu masih sakit?" Tiba-tiba saja Tristan mengganti topik.
"Ah, ya. Lukanya sudah menutup," sahut Ara. Tristan menundukkan pandangan melihat keadaan kaki Ara. Mendadak, Pria itu mendekat begitu saja tanpa permisi. Lalu mengambil pisau untuk memotong.
"Ini harus di potong atau bagaimana?" tanya Tristan.
"Jangan, Pak. Biarkan saya saja yang menyelesaikan tugas ini. Saya kan sudah di gaji."
"Jadi kamu melakukannya dengan terpaksa karena aku sudah membayar mu?" tanya Tristan. Pertanyaan aneh. Tentu saja ia harus melakukannya karena uang sudah masuk pada rekeningnya. "Lakukan dengan senang hati seperti kamu melakukannya untuk kakek."
__ADS_1
Sama saja. Aku melakukannya karena ... Tidak. Itu inisiatif ku sendiri. Tristan tidak pernah menyuruhku melakukannya. Itu murni ide dariku.
"Kamu harus memasak untukku dengan hatimu." Ini ibarat kata mutiara yang indah saat di bacakan. Ara terhanyut. Hingga kepalanya mengangguk-angguk setuju tanpa sadar. "Kamu kelihatan lebih lelah daripada saat memasak untuk kakek. Aku iri." Eh? Kenapa harus iri?
"Saya sekarang juga memasak dengan hati, kok Pak," sanggah Ara.
"Bagus. Lakukanlah." Ara melanjutkan tugasnya dengan bantuan Tristan yang memaksa. Namun karena Tristan baru pertama kali berada di dapur, ia terus saja melakukan kesalahan yang membuat Ara kadang menggeram.
"Bukan begituuu ... Bapak duduk saja deh," ujar Ara gemas. Tristan tergelak. Ara terkejut. Ini menyadarkan dirinya yang terlalu menghayati menjadi guru memasak. "Maaf, Pak. Saya jadi kebablasan." Jari-jari Tristan bergerak. Menyangkal bahwa ia sedang marah. Ara melepas pandangannya dari Tristan yang mengupas sayuran. Ia memilih menyelesaikan masakannya.
"Aku yang harus meminta maaf. Aku justru menyusahkanmu." Tristan masih terus tersenyum merasa lucu.
Memang. Seharusnya masakan sudah jadi, ini malah belum selesai karena campur tangannya.
"Kenapa?" tanya Tristan yang merasa sudah membuat salah oleh tatapan Ara.
"Emm ... Saya tidak bisa bergerak bebas jika bapak duduk sedekat ini dengan saya yang memasak." Ara berterus terang. Acara makan malam tidak akan selesai-selesai.
"Jadi kamu salah tingkah dan gugup aku perhatikan?" tanya Tristan yang membuat Ara mengerjapkan mata. Pria itu justru tersenyum. "Keberadaan ku mengusikmu ya ... " Tristan berdiri. "Sama." Tristan pun berlalu dan memilih duduk di meja kerjanya.
**
Pagi ini Ara mendapatkan perlakuan istimewa dari banyak orang di perusahaan. Dari awal dia muncul di lobi hingga ruang tempat ia magang. Semua tersenyum padanya seakan dia adalah pemilik perusahaan. Awalnya Ara menyambut senyuman mereka dengan senyum pula. Namun kemudian dia tidak tahan untuk bertanya pada orang-orang yang menyapanya.
__ADS_1
"Ada perlu dengan ku? Aku lihat sejak tadi Anda seperti ingin mengatakan sesuatu." Ara mendekati seorang wanita yang jarang sekali ia temui.
"Ah maaf jika saya membuat Anda tidak nyaman." Mengejutkan sekali perempuan itu membungkukkan badan seakan ketakutan. Ara mengerjap keheranan. Apalagi saat semua menyapanya dengan sikap hormat.
Ada apa ini? Mengapa mereka memperlakukan aku seperti itu?
Perlakuan itu tidak berhenti begitu saja. Ruangan tempat Ara magang justru lebih heboh. Pagi ini bahkan mereka membawakan makanan ringan. Bahkan Kak Rose sengaja membawakan satu kotak maccarone pelangi.
"Kamu pasti suka maccarone yang aku bawa. Ini lagi viral di cafe yang terkenal." Rose menyodorkan kotak maccarone yang cantik.
"Viral ya ..." Ara tersenyum.
"Jangan diam saja. Ambillah. Aku sengaja membawakan ini untukmu."
"Untukku?" tanya Ara terkejut.
"Jika kamu enggak mau, kamu bisa ambil brownies yang aku bawa. Juga ... maaf jika selama ini aku selalu menyuruhmu membuatkan kopi." Kejadian hari ini sungguh aneh. Ara belum paham ada apa.
.......
.......
.......
__ADS_1
......................