KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 70


__ADS_3

Tristan terbangun mendapati dirinya sendirian. Gadis itu pergi entah kemana. Dengan gerak cepat, Tristan keluar ruangan mencari Jarvis.


"Jarvis! Kemana Ara?!" Jarvis yang sedang duduk di ruangannya terkejut dengan suara keras Tristan.


"Ara bersama tuan Haga, Tuan."


"Kakek? Dia datang ke sini?" tanya Tristan heran.


"Ya. Beliau datang saat Anda ... mmm ... tidur dengan lelap tadi." Jarvis sempat kebingungan mengatakannya.


"Kenapa Ara tidak membangunkanku?"


"Mungkin tidak tega karena Anda sudah tertidur Tuan." Jarvis berusaha mencari jawaban yang pas. Ia tidak tahu apa yang di bicarakan mereka berdua tadi. Setelah tuan Haga menerobos masuk, Jarvis mundur karena Antoni ikut mendekat pada pintu.


Itu semacam kode buat Jarvis untuk menyingkir dulu. Karena di dalam ada Tristan_meskipun pria itu tertidur Jarvis yakin dia akan bangun segera.


Tristan menjauh dari pintu ruangan Jarvis dan kembali ke ruangannya. Ia mencoba menelepon Ara. Namun Ara tidak mengangkat ponselnya. Itupun setelah percobaan kesekian kali, Ara tetap tidak menerima teleponnya.


"Kemana saja dia?" Tristan menggeram. Lalu ia mencoba menelepon kakek. "Jangan sampai kakek menyuruhnya memanen kentang lagi. Aku pastikan akan marah nanti." Ponsel kakek juga tidak di angkat. "Kemana mereka berdua?" Tristan kesal. Ia kembali menelepon kakek.


Saat itu, ada telepon lain yang masuk. Tristan menjauhkan ponsel dari telinganya, ternyata itu Ara. Dia langsung batal menelepon kakek dan menerima telepon Ara.


"Ara. Kemana saja?" tanya Tristan terburu-buru.

__ADS_1


"Di sini. Di rumah kakek." Terdengar suara Ara yang ceria.


"Dia tidak menyuruhmu memanen kentang bukan?" selidik Tristan.


"Tidak. Aku hanya sedang membuat roti untuk kakek. Beliau membawaku pulang karena ingin makan roti."


"Roti? Aku akan menjemputmu sekarang. Bisa-bisanya kakek menyuruhmu membuat roti sekarang ..."


"Tidak, tidak. Jangan kesini. Tidak apa-apa Tristan. Setelah aku bersenang-senang dengan alat pembuat roti milik asisten rumah tangga di sini yang canggih, aku akan pulang." Mendengar Ara memanggilnya hanya dengan nama saja, Tristan yakin Ara sedang bersama kakeknya.


"Sungguh? Aku bisa langsung membawa mu pulang sekarang."


"Iya ... Tunggu saja di rumah. Oh, tidak. Karena kamu lelah, kamu bisa tidur langsung setelah sampai."


"Baiklah. Baik-baik di sana."


**


"Tristan mencintaimu? Sesuai perkiraan ku." Jenny muncul di rumah sewa milik Ara. "Lalu kenapa sekarang kamu menangis?" Jenny kesal melihat airmata yang meleleh di wajah Ara.


"Tentu saja aku menangis. Karena aku enggak bisa lihat dia lagi."


"Bukannya di awal aku sudah bilang hentikan Ara, hentikan. Kenapa kamu tidak menghentikannya?"

__ADS_1


"Aku sudah mencoba cari cara untuk menghentikan sandiwara itu Jenny, sudah."


"Terus? Kenapa bisa begini?"


"Sebelum aku selesai cari ide, dia sudah lebih dulu menyatakan sukanya padaku."


"Lalu kamu terima?"


"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bilang enggak. Dia tampan dan mapan. Perempuan mana yang menolak pria seperti dia." Ara bicara dengan sesenggukan.


"Setelah itu sekarang menyesal? Bukannya aku juga bilang, berbahaya jika tuan Haga tahu soal siapa dirimu sebenarnya."


"Aku mulai terbuai sama perhatian Tristan. Apalagi ciumannya." Ara mengusap air matanya.


"Apa?!! Jadi kalian sudah berciuman?!!" jerit Jenny histeris. "Kamu keterlaluan Ara! Keterlaluan!! Bisa-bisanya kamu berciuman lebih dulu dari aku ... Kamu tega."


"Sekarang yang sedang bersedih aku, Jenny!" teriak Ara protes.


"Tapi kamu tega. Kamu membiarkan aku sendiri yang belum merasakan ciuman pertama," sahut Jenny kesal. Ara meneteskan air matanya lagi. Jenny memeluk Ara. "Lalu ... apa yang di katakan kakek itu padamu?"


.......


.......

__ADS_1


.......


......................


__ADS_2