
Dering ponsel terdengar. Ara tidak sadar itu dari ponselnya.
"Kamu tidak menerimanya?" tanya tuan Haga.
"Ah maaf, Kek." Ara mengintip ke layar ponselnya. Tristan! Jantungnya kian berdegup kencang. Tangannya ragu untuk menerima telepon itu atau tidak.
"Kamu bisa menerima telepon itu di luar jika mau," ujar tuan Haga yang sepertinya tahu kalau itu dari Tristan.
"B-baik Kek. Saya keluar sebentar," kata Ara. Tuan Haga memberi kode pada Antoni untuk membiarkan gadis ini keluar ruangan.
Setelah mengumpulkan tenaga untuk bisa bicara dengan tenang, Ara balik menelepon Tristan.
"Ara. Kemana saja?" Suara Tristan terdengar terburu-buru. Ara ingin bertemu dengannya.
Demi menjaga janji pada kakek, Ara berbohong soal dia berada di mana. Ia mengarang cerita untuk menenangkan hati Tristan. Ia tidak ingin pria itu muncul sekarang. Karena ia harus pergi.
"Iya ... Tunggu saja di rumah. Oh, tidak. Karena kamu lelah, kamu bisa tidur langsung setelah sampai."
"Baiklah. Baik-baik di sana."
"Oke." Setelah dia selesai bicara dengan Tristan, tanpa sadar air matanya meleleh. Ara menangis. Ia segera mencari toilet sebelum ai matanya tumpah ruah di lorong rumah makan ini. Dengan menahan suara tangis agar tidak terdengar terlalu kencang dari luar, Ara menangis dengan menutupi mulutnya.
**
"Kita mau kemana nona?" tanya Antoni.
"Jangan panggil aku Nona. Kamu tahu aku bukan nona bangsawan. Aku hanya mahasiswi miskin yang hidup dari bekerja keras." Ara tidak ingin Antoni tetap memperlakukan dia seperti kemarin.
__ADS_1
"Tuan Haga bisa bersikap lembut dan sopan dalam keadaan marah, kenapa saya yang hanya bawahan, tidak?" ujar Antoni membuat Ara mendengus mencibir dirinya sendiri.
Ada haru di dalam hatinya. Dia sudah berbuat salah, tapi beliau dan bawahannya sudah bersikap baik.
"Antar aku ke rumah sewa, Antoni."
"Tuan Haga tidak menyuruh Anda keluar dari sana malam ini, Nona."
"Aku yang tidak mau. Akan sulit pergi jika harus kembali ke sana dulu."
"Barang-barang Anda?"
"Tidak banyak. Semuanya Tristan yang menyediakan. Jadi aku tidak perlu membawanya pulang."
Mungkin foto ibu masih ada di sana. Dan ... pakaian dalam. Sudahlah. Aku bisa beli lagi yang murah.
"Baiklah. Saya akan mengantar Anda pulang ke rumah sewa."
**
"Saya juga berterima kasih. Maaf, jika semua informasi tentang Anda sampai pada tuan Haga. Semuanya hanya bawahan yang harus patuh dengan perintah," ujar Antoni.
Ara tahu pasti bukan Antoni sendiri yang mencari informasi tentangnya, tapi pria ini malah meminta maaf. Mungkin masakan waktu itu membuat dia jadi iba padanya.
"Tidak. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Orang yang berbohong pasti dapat balasan. Baru sekarang bisa bilang begini. Karena sudah dapat hukuman." Ara mendesah. "Terima kasih sudah mengantarkan."
Setelah berpamitan Antoni menghilang dengan mobilnya. Ara mulai berjalan melewati pasar yang mulai ramai karena sudah sore.
__ADS_1
Air matanya lagi-lagi menetes begitu saja. Dengan cepat Ara menghapus dengan ujung jarinya. Ingin rasanya cepat sampai pada pintu rumah sewa, tapi kakinya lemah. Tidak seluruh tubuhnya lemas tidak berdaya.
Ia mengeluarkan ponsel. Lalu menekan nomor Jenny.
"Ada apa? Aku lagi sibuk Ara." Suara Jenny terdengar.
"Oh, maaf kalau begitu. Terima kasih," ujar Ara lemah.
"Tunggu. Ada apa denganmu?"
"Tidak. Tidak ada," sahut Ara bohong.
"Suaramu enggak bisa bohong, Ra. Maaf aku enggak sadar tadi."
"Kamu lagi sibuk, kan?"
"Aku memang sibuk, tapi sepertinya aku harus menemui mu sekarang."
"Aku enggak apa-apa."
"Aduh, masih saja bohong. Dimana kamu?"
"Rumah sewa," ujar Ara hampir saja menangis di pasar.
.......
.......
__ADS_1
.......
......................