
"Silakan di minum teh-nya." Ibu Ara mempersilakan tamunya untuk minum. Sejak tadi kakek tua di depan beliau mengabaikan suguhan di depannya. Tuan Haga terlalu sibuk menggerutu dan melihat ke luar. Beliau tidak tenang karena cucunya tidak muncul.
"Ayo, di minum teh mu," kata tuan Haga menyuruh Antoni mengikutinya yang mulai meminum teh itu. Saat itu muncul Tristan dan Ara dari belakang. "Ayo, kamu duduk," perintah kakek yang melihat mereka lebih dulu. Ibu langsung menoleh dan berdiri.
"Ibu jangan beranjak dari sini," cegah Tristan.
"Tidak. Ibu mau ambil kursi plastik di sana. Karena kursinya enggak cukup jika kita semua duduk di sini," kata ibu membuat Tristan mengerjapkan mata. Sedikit malu.
Ara menepuk lengan Tristan pelan. Ia tergelak pelan. Namun dia mendadak bungkam saat tuan Haga menatap dari kursinya. Ibu melangkah menjauh dari kursi tamu. Tristan menarik tangan Ara untuk ikut duduk meskipun tidak mau.
Tuan Haga merengut melihat tingkah mereka berdua. Antoni hanya melihat saja. Dia hanya kurir yang mengantarkan tuannya ke kampung ini. Ibu pun muncul dengan kursi plastik di tangan beliau.
Suasana ruang tamu kecil ini terasa tegang, bagaikan sedang rapat besar.
"Sebaiknya aku dan Antoni juga ibu pergi dari ruang tamu," kata Ara mengambil keputusan. Ibu menaikkan dagunya mendengarkan dengan baik apa yang akan di katakan putrinya. Tristan menggeleng tidak setuju.
"Tidak. Kamu harus di sini," pinta Tristan.
"Maaf, Pak. Saya merasa tidak sopan jika memaksa duduk di sini saat tuan Haga ingin bicara. Meski ini rumah saya, saya mau menghormati orang yang lebih tua. Silakan kalian bicara berdua." Ara beranjak pergi. Di ikuti Antoni dan ibu.
__ADS_1
Antoni menuju teras. Sementara Ibu dan Ara ke ruang tengah. Meskipun begitu, mereka masih bisa mendengar apa yang dikatakan Tristan dan kakeknya.
"Kakek minta kamu pulang sekarang, Tristan," ujar tuan Haga memulai.
"Tentu. Aku tentu pulang kakek, tapi tidak sekarang. Aku masih betah di sini bersama Ara dan ibu." Tristan justru membuat tuan Haga geram.
"Apa kau mau perusahaan tidak berjalan karena kau sedang bermain-main di sini?" tanya kakek marah.
"Aku tidak bermain-main. Aku sedang menjemput kekasihku," kata Tristan lugas. Ini membuat Ara yang mendengar itu memerah karena tersipu.
"Kekasih? Jadi kamu tetap pada pilihanmu ini?" tanya kakek geram.
Ara sudah mencoba mencegah ibu keluar dari tempat mereka bersembunyi, tapi ibu terlalu gigih untuk di lawan. Ara menggeram. Ia pun memilih keluar dan mengekori ibu.
"Itu tidak mungkin, Ibu." Tristan membela diri.
"Tidak mungkin bagaimana? Ibu mendengar sendiri kalau kakekmu ini menolak kamu dekat dengan Ara." Ibu menunjuk tuan Haga dengan pandangannya.
"Ibu ... Jangan ikut bicara. Biarkan mereka bicara sendiri." Ara menahan ibunya untuk bicara lebih panjang lagi.
__ADS_1
"Iya. Aku memang kurang setuju," kata kakek tegas.
"Kakek, tolong jangan banyak bicara." Tristan geram.
"Hei, bocah. Kenapa kamu bicara begitu pada kakekmu?" tanya Kakek tidak terima. Antoni pun ikut masuk karena mendengar perbincangan yang lebih mirip perseteruan ini.
"Pak. Lebih baik, Bapak pulang. Anda tidak harus membuat keributan di rumah saya. Lebih baik, Bapak pulang dan selesaikan di sana," pinta Ara yang langsung memberi ultimatum untuk pergi. Ini sebuah pengusiran yang begitu kentara.
"Ara. Aku bisa selesaikan di sini," kata Tristan masih gigih. Ara menggeleng.
"Tidak. Ini tidak akan selesai kalau Bapak, tidak pulang. Saya mohon," pinta Ara lagi.
"Benar. Ara itu pintar. Dia tahu harus melakukan apa. Ayo Antoni. Tristan akan pulang dengan kita." Tuan Haga senang. Tristan menggeram di dalam hati dan menoleh tajam pada kakeknya.
.......
... ....
.......
__ADS_1
...****************...