
Ara memilih kembali ke rumah sewa. Karena semuanya sudah clear, ia tidak harus kabur dari orang-orang tuan Haga. Bahkan kali ini Tristanlah yang menghilang darinya. Ia tidak harus bersembunyi.
Meski rindu, Ara tidak ingin menemui Tristan. Karena ia sudah berjanji pada pria itu. Ia akan menunggu Tristan hingga pria itu sendiri yang datang padanya.
Menunggu itu berat. Seberat merindukan seseorang. Namun ia harus kuat.
"Jadi banyak drama saat kamu pulang kampung?" tanya Jenny yang menemani. Saat di beritahu bahwa gadis ini kembali ke rumah sewa, Jenny muncul.
"Ya."
"Jadi Tristan benar-benar jatuh cinta padamu hingga melamar mu di depan ibu?" tanya Jenny dengan alis bergerak-gerak menggoda temannya.
"Benar, tapi sampai sekarang pria itu tidak muncul menemuiku." Raut wajah sedih Ara membuat Jenny mengurungkan senyumannya.
"Jadi semua drama komedi romantis saat di kampung hanya cerita saja? Lamaran itu juga hanya bagian dari sebuah cerita saja?" tanya Jenny yang langsung berubah mimik wajahnya saat mendengar Ara selesai bicara.
"Aku tidak tahu." Ara mengangkat bahu dan menghela napas berat.
"Sini aku peluk." Jenny melebarkan tangan dan mendekatkan tubuh pada Ara. Memeluk gadis ini dengan sayang.
"Aku menyedihkan ya? Aku menipu, sekarang sepertinya aku juga di tipu balik. Itu karma."
__ADS_1
"Hei! Jangan sok tahu soal karma!" tegur Jenny seraya menjauhkan tubuhnya dari Ara.
"Benar. Aku memang tidak tahu soal karma. Jadi anggap saja ini semua sebuah lelucon. Begitu bukan?"
"Akan aku hajar Tristan karena sudah mempermainkan perasaan sahabatku," kata Jenny menetapkan hati membenci Tristan.
"Jangan. Bagaimanapun dia tidak boleh terluka," bela Ara.
"Kamu benar-benar jatuh cinta pada pria itu rupanya," cibir Jenny.
***
Namun ternyata Jenny enggan mengambilkan nilai ujian yang sekarang sudah keluar. Perjanjian sudah berubah. Ia tidak menepati janjinya.
"Tidak. Aku tidak mau," kata Jenny saat Ara memintanya dengan santai.
"Kan dari awal kamu setuju untuk mengambilkan nilai magangku, Jenny," protes Ara.
"Ya, itu ... saat kamu bersedih karena harus pergi demi Tristan karena kakek Haga tidak setuju kamu dekat dengannya. Juga kamu ketahuan menjadi penipu."
"Lalu apa bedanya dengan sekarang? Bukankah keadaan waktu itu sama seperti sekarang?"
__ADS_1
"Aku rasa tidak."
"Tidak bagaimana?" tanya Ara kesal. Jenny menghela napas.
"Saat itu. Kalian berdua, Tristan dan kamu mingkin memang sebenarnya saling mencintai, tapi kamu di tolak keluarga Tristan tanpa sepengetahuan pria itu. Dan akhirnya kamu kabur dengan pulang kampung. Itu menyedihkan. Karena kakek memisahkan dua orang yang saling mencintai. Jadi aku berbaik hati mau menuruti permintaanmu."
"Lalu sekarang? Apa yang berubah?"
"Tentu saja ada yang berubah. Pria itu. Tristan. Dia sudah tahu kamu pulang kampung karena perkataan kakeknya. Dia bahkan melamarmu di depan orangtuamu, tapi apa sekarang? Pria itu tidak muncul sama sekali. Paling tidak memberi kabar, kalau memang ada masalah. Nyatanya dia membiarkanmu tanpa kepastian. Itu salah. Aku tidak suka keadaan yang menyebalkan begini, jadi aku tidak berniat bertemu dengan dia bagaimanapun keadaannya," tolak Jenny terang-terangan.
"Penjelasanmu terlalu panjang," cibir Ara.
"Terserah. Yang penting jangan menyuruhku menemui dia. Titik." Jenny sudah bertekad.
"Sialan. Bilang saja kamu menolak karena malas," kata Ara kesal.
"Aku tidak peduli. Datang saja ke perusahan pria itu sendiri."
"Ya. Aku akan kesana sendiri mengambil nilai. Aku tidak butuh bantuanmu,” kata Ara ketus.
"Bagus. Kamu memang harusnya tidak meminta bantuanku untuk hal yang seperti ini." Jenny memilih lepas tangan. Dia tidak ingin ikut-ikutan. Ini harus di selesaikan sendiri oleh Ara. Baik urusan nilai ... atau urusan hatinya pada Tristan. Dia harus menemui pria itu atau hanya menunggu tanpa kepastian.
__ADS_1
______