KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 80


__ADS_3

Melihat pria paruh baya itu muncul di sana, Ara terkejut. Itu orangtuanya.


"Bapak."


Mendengar sebutan bapak meluncur dari bibir Ara, Tristan menoleh. Ada seorang pria dengan perawakan tinggi, tapi kurus. Sebuah kumis dan alis tebal menghiasi wajahnya. Pria itu hanya memakai celana kolor di atas mata kaki lusuh berwarna gelap. Tubuh atasnya di biarkan terkena sengatan sinar matahari yang terik tanpa pakaian.


"Kamu ngapain? Sudah selesai apa belum?" tanya beliau dengan medok yang kentara.


"Belum Pak."


"Kalau belum kok di tinggal? Mau bantuin apa Ndak?" tanya beliau tidak senang. Ara melirik ke arah Tristan dengan geram. Dia menyalahkan Tristan.


Ara berjalan menjauh dari gubuk untuk kembali memanen kentang. Membiarkan Tristan berdiri di tempatnya.


"Ini siapa?" tanya Bapak yang menyadari keberadaan Tristan. "Kamu mau jual barang ya?" tanya Bapak polos. Pertanyaan bapak membuat Ara melebarkan mata terkejut.


Tristan mengerjapkan mata. Jual barang? Sales?

__ADS_1


Ara urung memanen kentang, ia kembali ke tempat semula.


"Bapakkk ... Dia bukan sales keliling. Dia itu atasan Ara di kantor," ujar Ara dengan gemas. Dia melirik Tristan. Pria ini memang sedang memakai setelan jas lengkap. Sepertinya ia masih dalam waktu berkerja.


"Atasan? Boss kamu?" tanya Bapak terkejut. Ara mengangguk. Tristan membetulkan jas ditubuhnya. "Ya ampun Bapak salah. Maaf ya Pak ..." Bapaknya Ara membungkuk memberi hormat. Tristan terkejut dan ikut membungkuk.


"Tidak. Tidak apa-apa, Pak. Saya yang salah. Saya sudah mengganggu waktu Ara saat membantu Bapak. Maafkan saya juga." Tristan membungkukkan badan menerima uluran tangan beliau. Merendahkan dirinya demi membuat nyaman bapak Ara.


"Kenapa diam saja, Ara? Ayo, ajak boss kamu ini ke rumah. Berhenti memanen kentang. Terima tamunya di rumah saja." Bapak mempersilakan Ara berhenti memanen kentang.


Namun Ara enggan. Jika dia pulang, Bapaklah yang akan memanen kentang. Ara tidak tega. Dia memberi kode pada Tristan untuk tidak pulang. Ia harus tetap di sini demi menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


"Aduuhhh ... Masa tamu di suruh panen kentang. Itu tidak sopan. Ayo Ara, ajak Bapak ini ke rumah!" kata Bapak. Ara menipiskan bibir seraya masih melirik Tristan.


"Bapak saja yang pulang. Ara menyelesaikan ini dulu sebentar, lalu pulang." kata Ara.


"Benar saya tidak apa-apa kok, Pak. Saya sengaja datang ke ladang ini sekalian bantu- bantu. Saya terbiasa kok memanen kentang. Di rumah ada ladang kentang juga." Tristan tahu maksud Ara.

__ADS_1


"Dengan pakai jas begini?" tanya Bapak heran. Karena tidak mungkin orang ini memanen kentang memakai jas.


"Tidak. Saya akan membukanya. Jadi bapak tenang saja. Betul kata Ara tadi. Bapak pulang lebih dulu saja. Setelah itu kita menyusul setelah membereskan semuanya dengan cepat." Tristan berusaha meyakinkan dulu Bapak Ara untuk pulang. Jadi ia bisa bebas hanya berdua dengan Ara.


"Itu ... Ya sudah. Bapak pulang dulu. Saya pamit Pak Boss," ujar bapak Ara seraya melepas topi caping yang di pakainya. Lalu memberikan pada Tristan. "Pak Boss bisa pakai ini agar tidak kepanasan. Bapak bisa pingsan jika terkena sinar matahari terus menerus seperti ini."


"Oh, terima kasih Pak."


"Ya sudah Bapak pulang dulu. Ara! Selesaikan dengan cepat. Biar pak Boss tidak kepanasan. Setelah itu pulang," kata Bapak memberi nasehat.


"Ya, Pak," jawab Ara. Bapak pun berjalan pulang meninggalkan mereka berdua.


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2