
Ara benar-benar tidak menemukan Tristan. Pria itu tidak pernah muncul lagi di apartemen. Bahkan di kantor, Ara hanya bisa melihat Tristan dari kejauhan. Pria itu serasa menghilang.
Ini sudah seminggu. Saat dia menanyakan itu pada Jarvis, dia hanya berkata bahwa Tristan sibuk. Sepertinya Jarvis tahu, tapi ia tidak bisa memberitahunya. Gadis ini gelisah sendiri. Dia tidak tahu sekarang mau ngapain. Status hubungan palsunya kurang jelas. Dia masih di pergunakan atau tidak.
Suara pintu terbuka dari luar. Ara yang tidak bisa tidur segera bangun segera bangkit dan keluar kamar. Itu memang Tristan. Mata mereka bertemu.
"Kamu belum tidur?" tanya Tristan. Ara terdiam karena ini pertama kalinya ia mendengar Tristan bicara setelah seminggu tidak bertemu. "Ara?"
"Ah, iya Pak. Saya memang belum tidur," sahut Ara akhirnya.
"Tidurlah. Ini sudah sangat malam." Belum sempat Tristan sampai di kamarnya, tubuhnya terkulai lemas merapat ke dinding.
"Tristan!" Karena terkejut Ara lupa menambahkan sebutan Pak di depan nama Tristan. Ia segera berlari mendekat dan menahannya. "Anda tidak apa-apa Pak?" tanya Ara khawatir.
Tristan menggelengkan kepala mencoba membuat bola matanya terbuka lebar. Namun ia tetap tidak mampu. Rasa lelah membuat tubuhnya tidak mampu berdiri tegak.
__ADS_1
"Ayo, Pak. Kita ke kamar. Jangan pingsan di sini. Sebaiknya paksakan diri Anda untuk tetap berjalan meski lambat," kata Ara.
Tristan tidak bisa lagi bicara. Sekuat tenaga ia berusaha berjalan. Meski tubuh Ara lebih kecil darinya, ia merasakan tenaga perempuan ini lumayan membantu ia berjalan. Dengan wajah meringis dan dipaksa kuat, Ara membantu membopong Tristan yang berjalan dengan emas menuju ke kamarnya.
Bruk! Tubuh Tristan terpelanting di atas ranjang dengan lambat. Ara membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Mengatur napasnya yang tersengal-sengal kemudian menoleh pada pria yang sekarang memejamkan mata.
"Baru muncul langsung merepotkan," desis Ara pelan. Tristan tidak tidur. "Sebaiknya Bapak tidur." Ara akan keluar kamar saat tangan Tristan mencekal pergelangan tangannya.
"Tunggu. Aku kedinginan," rengek Tristan. Ara mengerjap. Memerah sebentar. Busyet, mikir apaan? Lalu ia menoleh ke samping. Ada selimut.
"Ya. Terima kasih." Dengan telaten, Ara menyelimuti tubuh Tristan. Ternyata pria ini demam. Karena wajahnya memerah dan seperti menahan sakit.
"Bapak demam, ya ... Tunggu. Saya akan ambilkan kompres." Ara berjalan keluar kamar dengan cepat. Walaupun dia tinggal disini tidak sebentar, mencari kompres lumayan sulit. Ia memilih mengambil handuk kecil yang biasa di pakainya cuci muka untuk mengompres. "Saya datang ..." Ara membawa air es dan handuk kecil. "Ini," ujar Ara menyerahkan handuk kecil tadi. Tristan menoleh.
"Kamu menyuruh orang sakit untuk mengompres dirinya sendiri?" tanya Tristan dengan suara lemah.
__ADS_1
"Ah, iya maaf." Ara menarik kembali handuk kecil itu.
"Kompres aku."
"S-saya?"
"Di sini hanya kamu yang bisa aku suruh. Lakukan saja." Tristan memejamkan mata. Ara bergerak mendekat untuk mengompres pria ini.
"Permisi ya, Pak." Sebelum menyentuh kening itu, Ara meminta ijin dulu. Dengan sedikit gemetar karena canggung, Ara berhasil menyentuh kening pria ini dengan handuknya. Napas Tristan terdengar teratur. Itu pertanda dia mulai bisa terlelap. Hingga Ara bisa tenang untuk melanjutkan tugasnya.
Ara mengerjap melihat wajah Tristan terlelap dengan damai. Menghela napas kemudian.
"Jika bukan karena sandiwara itu, aku tidak mungkin bertemu pria tampan ini. Dia seorang pria dengan tingkat level yang sangat jauh denganku. Sangat tidak mungkin aku bertemu dengannya melalui jalan yang biasa. Kencan itu membawa senang juga hal lain. Aku begitu bodoh membuang harga diri dengan menjadi mainannya. Kekasih sementara. Itu terdengar menggelikan. Namun uang juga penting. Karena itu akhirnya aku kalah juga. Jika cerita ini selesai ... Apa kita bisa bicara dengan lancar seperti ini ya ... " Ara membereskan perlengkapan kompres dan bergegas keluar. Meninggalkan Tristan yang tidur.
Tanpa Ara tahu, Tristan membuka mata setelah dia keluar.
__ADS_1