KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 64


__ADS_3

"Jangan meminta maaf berulang-ulang. Aku tahu kamu tidak salah. Dan aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya mengatakan ada alasan kenapa aku tidak menyukai pesta ulang tahun. Hanya itu." Tristan berusaha menjelaskan.


Ara diam.


"HH ... tapi karena semua sudah terlanjur, aku tidak bisa marah dan membubarkan pesta ini." Tristan memperhatikan gadis di depannya yang menunduk. "Walaupun begitu, aku harus berterima kasih padamu."


"T-tidak, Pak. Saya tidak melakukan apa-apa. Justru saya sudah membuat Anda jadi bersedih. Anda tidak perlu mengucapkan terima kasih. Seharusnya saya melakukan hal yang berguna saja untuk membuat Anda tidak bersedih." Ara merasa ingin melakukan sesuatu yang bisa membuang rasa tidak nyaman akibat pesta ini.


Tristan terdiam.


"Seperti yang kamu katakan. Jadilah berguna untukku," ujar Tristan. Ara mengerjap dengan bingung. "Hibur saja aku."


"Saya tidak tahu harus menghibur bagaimana Pak. Bahkan karena kebingungan, saya malah tidak punya ide untuk membelikan Bapak kado. Apalagi tenyata Bapak juga tidak menyukai pesta ulang tahun. Saya makin membuat Bapak jadi sedih," ujar Ara dengan wajah bersalah lagi.


"Kamu tidak perlu membelikan aku kado Ara. Meskipun awalnya aku terkejut mendapat kejutan sebuah pesta ulang tahun dan ingin marah pada kakek, tapi melihatmu disini ... amarahku mereda," kata Tristan membuat Ara terdiam karena heran. Perlahan tubuh Tristan mendekat padanya. "Aku tahu itu terdengar aneh. Mungkin karena ada kamu."


Jantung Ara tiba-tiba berdetak lebih cepat dan keras. Apalagi saat Tristan menyentuh pipinya dan mengecup bibirnya. Tidak lama. Hanya sekejap. Namun mampu membuat otak Ara kosong. Nol.

__ADS_1


"Ara," tegur Tristan lirih.


"B-barusan i-itu apa, P-pak?" tanya Ara mendadak gagap. Ia tidak bisa bicara dengan benar.


"Aku mencium mu." Tanpa basa-basi Tristan mengaku.


"M-mencium?" tanya Ara makin tidak percaya. "Itu mustahil."


"Tidak percaya? Mau ku ulangi lagi agar kamu percaya?" Belum sempat Ara menolak dan menjauh, Tristan sudah lebih dulu menarik tubuhnya untuk lebih dekat. Mencium lagi untuk kedua kalinya. Setelah Ara berhasil mengumpulkan nyawanya yang terlepas, dia mendorong tubuh Tristan menjauh darinya.


"Hentikan. Apa yang sudah bapak lakukan?" tanya Ara sambil mengusap bibirnya sendiri.


"Bukan itu yang ingin saya dengar." Ara sampai menutup kedua telinganya karena takut Tristan terus saja berkata bahwa ia sedang menciumnya. "Kenapa Bapak mencium saya?" tanya Ara emosional. Meskipun pria ini tampan, tapi mendadak mencium, itu mengejutkan. Apalagi status mereka bukan sejoli.


"Sepertinya aku mulai menyukaimu," kata Tristan jujur. Dada Ara berdesir.


"Jangan bercanda, Pak. Saya tahu saya hanya seorang bawahan. Karyawan magang. Saya juga terikat kontrak dengan perjanjian yang sudah Anda buat sendiri. Jika Anda ingin bercanda, itu kelewatan."

__ADS_1


"Apa sekarang aku terlihat sedang bercanda Ara? Menciummu bukan suatu candaan. Itu keseriusan." Tristan tidak berbohong soal ini. Ini pertama kalinya.


"Mana mungkin Bapak yang tampan dan kaya serius dengan saya yang seperti ini?" Ara masih belum percaya. Tristan yang tadi berdiri agak jauh karena di dorong Ara, kini kembali mendekat.


"Lalu aku harus bagaimana supaya kamu percaya?"


"Saya tidak tahu," jawab Ara membingungkan. Tristan tergelak. Dia memeluk Ara dan mengusap kepala gadis ini perlahan. Di sini, Ara benar-benar diam. Tubuh dan pikirannya tidak mau bergerak. Ara malas bergerak menolak pelukan Tristan, juga malas berpikir kenapa pria ini memeluknya. Ara hanya diam, dan diam.


Jarvis yang saat itu tengah mencari Tristan karena di panggil tuan Haga, terkejut. Dia tidak sengaja melihat Tristan mencium gadis itu. Gadis yang sejak tadi berdebat dengannya. Karyawan magang itu. Ara!


Mereka berciuman? jerit Jarvis di dalam hati. Dia tidak bisa menduga sama sekali.


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2