
"Jika begitu, aku memang harus berhenti. Lalu upahku? Apa aku harus mengembalikannya juga?" tanya Ara tidak rela. Masih berharap uang itu menetap di rekeningnya.
"Apa yang itu habis juga buat bayar tagihan? Enggak, kan?"
"Enggak sih ... Ada. Hanya saja, merasa tidak rela jika lepas begitu saja." Ara meringis. Jenny menipiskan bibir geregetan.
"Ih kamu ini. Jangan permasalahkan soal uang lagi, Ara. Bukankah upah dariku sudah cukup. Jadi jangan melakukan hal berbahaya lagi. Hentikan sebelum kakek itu menemukanmu," ingat Jenny dengan wajah serius.
"Okeee ..." sahut Ara tidak rela sambil menggeliat karena tubuhnya kaku.
"Atau kamu mulai menyukai peranmu jadi kekasih Tristan?" tebak Jenny yang langsung membuat Ara menatapnya lebar.
"Enggak. Bukan." Bahkan Ara membentuk huruf X dengan kedua tangannya. Matanya melebar.
"Enggak perlu berlebihan." Jenny meledek. Ara tersenyum kecut.
***
Kepala Ara pusing karena menyiapkan kata-kata yang tepat untuk berhenti dari kontrak.
"Masakan itu bisa gosong kalau di biarkan begitu saja." Tristan yang melintas di depan pantry menunjuk ke arah kompor.
__ADS_1
"Ya ampun!" Ara panik dan segera melakukan tindakan penyelamatan.
"Kamu melamun?" tegur Tristan
"T-tidak."
"Apa ada yang mengganggumu di kantor setelah semua orang tahu bahwa kita pasangan?" tebak Tristan.
"Pasangan palsu," ralat Ara lirih. Tristan melirik. "Tidak. Tidak ada, Pak. Justru saya aman-aman saja."
"Syukurlah. Aku sempat cemas belakangan ini. Bilang saja padaku jika ada yang menganggumu." Tangan Tristan yang besar menepuk puncak kepala pelan. Kemudian mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk sambil berlalu. Itu membuat kaosnya basah dan menampakkan tubuhnya yang indah.
**
Kepala Ara pusing karena harus mencari ide untuk keluar dari sandiwara ini. Kemungkinan pusing juga karena uang upah dari Tristan akan lenyap. Dan Ara makin puyeng saat Antoni menghubunginya.
Pria itu meminta Ara datang ke kediaman tuan Haga. Ini bukan hal baru. Karena Ara sudah pernah kesana sendirian. Namun itu mendebarkan saat Antoni bilang, tuan Haga ingin dia datang tanpa sepengetahuan Tristan.
Ara beralasan tidak enak badan pada Tristan. Hingga dia bisa berada di apartemen sendirian. Saat itu Antoni datang menjemput.
"Apa ada alasan beliau menyuruh aku datang tanpa Tristan tahu?" tanya Ara saat duduk di sebelah pria itu.
__ADS_1
"Anda bisa tanyakan sendiri pada beliau."
"Kamu pasti tahu, tapi tidak mau memberitahu."
"Saya bawahan tuan Haga. Jadi saya melakukan apa yang di perintahkan. Jika tidak ada perintah, saya tidak akan melakukan apa-apa." Mungkin Antony tidak enak karena tidak bisa menjawab pertanyaan Ara yang sudah pernah memberinya makan. waktu itu.
"Ya. Kamu tidak di bolehkan mengatakan banyak hal padaku. Aku paham itu." Ara menghela napas. Kemudian membetulkan punggungnya yang bersandar. Mendekap tasnya erat-erat.
Tidak terasa mobil sudah sampai di depan halaman tuan Haga. Menurutnya ini sangat cepat. Berbeda ketika dia datang di antar Tristan. Langkah Ara terasa berat. Ia seakan ingin kembali ke pintu gerbang dan berlari keluar. Perasaannya tidak tenang.
"Tuan Haga sudah menunggu." Antoni mempersilakan Ara untuk masuk ke ruang tengah. Entah kenapa Ara merasa hawa di sekitarnya terasa berat. Napasnya sesak.
Tenang ... Meski tanpa Tristan, ini bukan pertama kalinya. Jadi tenang saja, ucap Ara di dalam hati.
.......
.......
.......
......................
__ADS_1