KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 67


__ADS_3

Jika Ara tidak terlalu memperhatikan kegiatan Tristan setiap harinya, kali ini Ara was-was. Ini pertama kalinya setelah pria itu mengutarakan isi hatinya. Dia lebih tidak tenang.


"Pagi Ara," sapa Tristan seraya menepuk pucuk kepala Ara saat hendak melesat ke kamar mandi. Meski terkesan diam, sebenarnya Ara berdebar-debar. Jika biasanya hanya terasa aneh saat Tristan melakukannya, kali ini Ara bagai tersengat listrik saat telapak tangan Tristan menyentuh permukaan rambutnya.


Beginikah rasanya punya kekasih? Menyenangkan dan mendebarkan. Ara gemas sendiri. Tubuhnya terasa penuh energi.


Harum semerbak dari kamar mandi yang terbuka membuat Ara tegang sendiri. Ia tahu itu aroma sabun pria ini. Makin lama Aroma itu makin dekat.


"Kita berangkat ke kantor bersama." Tristan tiba-tiba bicara. Ini membuat Ara berjingkat kaget. Untung saja gelas yang ia pegang tidak jatuh. "Maaf. Sepertinya aku membuatmu terkejut."


"Saya belum terbiasa jika Bapak bicara dengan tiba-tiba." Ara memberikan alasannya. Padahal media hanya sedang berpikir macam-macam.


"Jadi ... pengakuan cintaku di terima?"


"Kenapa harus tanya lagi? Bukankah tidak mungkin saya menolak Bapak. Terlalu sempurna untuk di tolak." Ara mengaku dengan wajah memerah.


**


Sepanjang waktu bekerja, Jarvis melihat pria di depannya selalu tersenyum. Bukan suatu hal buruk. Hanya saja, dia yang biasanya tidak pernah menampakkan senyum, kali ini terus saja tersenyum seperti itu ... terasa aneh.


"Ada apa Jarvis?" Tristan yang sejak tadi menunduk, sekarang mendongak melihat Jarvis.


"Ya?"


"Sejak tadi aku merasa di perhatikan olehmu. Ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" tanya Tristan membuat Jarvis menggeleng keras.

__ADS_1


"Tidak Tuan."


"Apa ada hal aneh yang kau lihat dariku?" Tristan masih mengejar dengan pertanyaan.


"Tidak."


"Katakan saja Jarvis."


"Soal itu ... Anda selalu tersenyum sejak tadi. Ini pertama kalinya." Jarvis mengaku.


"Oh itu ..." Tristan bersandar pada kursi kerja. Lalu tersenyum. "Aku tidak menyangka jika terlihat seperti itu. Namun aku tidak bisa menyangkal. Aku bahagia sekarang." Saat mengatakannya, Tristan memang tampak sangat bahagia. Jarvis tahu itu karena siapa.


"Itu hal baik, Pak."


"Ya. Itu memang hal baik. Kamu bisa mengajak beberapa orang untuk makan-makan bersama nanti malam."


"Ya. Aku traktir kalian karena aku ingin kalian bahagia juga."


Jarvis langsung tersenyum lebar mendengar Tristan bicara. Ia menunduk. "Terima kasih, Pak."


**


Ponsel Ara berdering. Ia hanya melirik. Ternyata itu Tristan. Ara berniat tidak menerimanya karena masih bekerja. Namun pria itu tetap memaksa Ara untuk menerima telepon. Itu membuat orang-orang di sekitar tempat duduk Ara menoleh. Mempertanyakan kenapa dering ponsel itu tidak di terima.


"Ara ... sepertinya itu pak bos deh. Kok maksa banget buat telepon." Rose berkomentar. Ara hanya tersenyum.

__ADS_1


"Terima aja, Ra. Kita enggak apa-apa kok." Amri maklum. Ara tidak nyaman. Dia tersenyum dan menarik ponselnya.


"Halo," sahut Ara pelan. Semua mendekatkan telinga ke arah kursi Ara. Ingin mendengarkan apa yang sedang di bicarakan Ara dan atasan mereka.


"Kenapa baru mengangkat ponselmu?"


"Saya sibuk, Pak," bisik Ara.


"Kenapa bisik-bisik?" tanya Tristan.


"Saya sedang di ruangan. Ini jam kerja, tidak baik kalau berbincang-bincang selain pekerjaan."


"Begitu? Baiklah. Kita tidak perlu bicara di telepon. Aku tutup," ujar Tristan pengertian. Ara menghela napas lega. Semua langsung membenarkan duduk mereka kembali. Mereka tidak ingin ketahuan sedang mendengarkan gadis ini.


Mereka menguping! Aku tidak menyangka hidupku bakal tidak tenang. Ara kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Sepuluh menit dari tadi, terdengar suara langkah orang di lorong. Bersamaan dengan suara yang tidak asing bagi orang-orang.


"Selamat pagi, Pak." Suara Amri terdengar sangat sopan. Awalnya Ara tidak peduli, tapi karena suara mereka gaduh, Ara mendongak. Bola matanya mendelik saat melihat Tristan muncul di sana.


.......


.......


.......

__ADS_1


......................


__ADS_2