KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 86


__ADS_3

"Ada apa, Pak?" Ara mengetik di ponselnya.


"Dingin."


"Kan memang hujan."


"Iya, tapi dingin." Ara menghela napas. Lalu keluar sembari membawa selimut miliknya. Ponsel juga ia bawa karena tidak ingin Tristan kembali mengirimi pesan. Memang masih ada selimut lagi, tapi selimutnya sudah pudar warnanya.


Melihat pintu kamar Ara di buka, Tristan menoleh. Kali ini ia berdiri karena melihat Ara membawa selimut. Kepalanya menggeleng. Menyatakan ia tidak ingin selimut. Dagu Ara bergerak naik. Mempertanyakan kenapa tadi bilang dingin. Mereka memakai kode tanpa suara karena takut mengganggu Bapak.


Tristan menunduk ke arah ponselnya. Menuliskan sesuatu yang langsung bisa di baca Ara.


"Aku butuh kamu." Ara menahan bibirnya tidak tersenyum. Ia mendongak dan melihat ke arah Tristan yang saat ini sedang memandangnya. Akhirnya Ara tersenyum juga. Bagaimana ia tidak tersenyum jika pesan Tristan begitu manis.


"Untuk sekarang tidak bisa. Aku harus tidur. Bapak juga." Ara mengirimkan pesan. Tristan membacanya.


"Aku tahu, tapi aku tetap butuh kamu." Ara tersenyum membaca pesan itu.


"Aku akan tetap membuka pintu kamar. Jadi Bapak bisa lihat aku dari tempat bapak tidur." Akhirnya Ara membuat gagasan. Ia masuk ke dalam kamar tanpa menutupnya rapat. Dari tempat tidur Tristan, ranjang Ara memang terlihat.


Ara melambaikan tangan. Tristan tersenyum. Merasa bisa dekat dengan Ara.


"Selamat tidur, Pak."

__ADS_1


"Selamat tidur juga Ara. Mimpiin aku."


***


Pagi cerah sekali secerah hati Tristan. Namun Ara tidak menyangka ibu akan menginterogasinya.


"Dia siapanya kamu, Ara?" tanya ibu saat mereka menyiapkan sarapan pagi.


"Tristan? Dia atasanku, Bu."


"Jangan berbohong. Ibu melihat kalian berpelukan tadi malam."


Apa?!


"Jadi siapa dia? Pacar kamu? Berarti kamu bohong ya ... " Ibu langsung menuduh.


"Lalu kenapa kalian bisa berpelukan seperti itu? Jika dia atasan kamu, masa dia begitu saja mau datang ke kampung hanya untuk menemuimu. Itu enggak bisa di percaya, Ara. Kamu ini ..."


"Saya memang sengaja datang untuk menemui Ara, Ibu." Tristan yang barusan dari kamar mandi mendengar percakapan barusan. Ia tidak bisa berdiam diri karena Ara di sebut pembohong. "Maaf kalau saya menyela pembicaraan Ibu dan Ara." Masih dengan handuk di tangannya, Tristan membungkukkan tubuhnya sedikit.


Ara mendelik. Ibu mengerjapkan mata. Ara langsung memberi kode untuk menutup mulut.


"Sengaja?" tanya ibu heran. Ara langsung memutus kodenya karena ibu melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf saya belum memperkenalkan diri saya dengan baik. Saya Tristan atasan Ara, juga ... kekasih Ara," ucap Tristan. Ara syok berat. Ia ingin pingsan dan tidak mendengar apa kalimat Tristan selanjutnya. Karena dengan begitu, ibu akan mengajukan pertanyaan juga.


"Kekasih?" Ibu melihat ke arah putrinya lagi.


"Ya."


"Duduklah dulu." Ibu mempersilakan Tristan duduk di kursi yang ada di dapur. Ara komat-kamit berharap tidak ada drama. "Jadi kalian ini memang sepasang kekasih?" Ibu mulai bertanya dengan sikap seorang ibu pada calon menantunya. Bukan lagi bersikap sebagai ibu dan atasan putrinya.


Ara meringis pasrah. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena Tristan sendiri yang mengakuinya.


"Benar, Bu." Tristan yang sudah duduk mengangguk. Ibu melihat ke Ara lagi. Gadis itu menunduk.


"Mungkin Ara tidak berani mengaku karena memang saya yang memaksa untuk datang ke sini. Saya yang ingin bertemu dengan dia setelah sekian lama," jelas Tristan.


"Hanya seminggu. Bukan lama," gumam Ara lirih.


"Lalu ... jika kalian memang sepasang kekasih, apa tidak ada hal lain yang ingin kamu lakukan? Kampung ini tidak dekat. Bukan keputusan asal jika kamu sengaja datang ke rumah ini." Tiba-tiba atmosfer ruangan menjadi berat. Ibu sedang menginterogasi.


"Maaf, jika terkesan tidak bersungguh-sungguh. Saya datang berniat untuk serius dengan Ara." Tristan menunduk menyatakan keseriusannya.


.......


... ....

__ADS_1


.......


......................


__ADS_2