
Sepertinya aku terlalu kasar, sehingga dia kesakitan, ini adalah pertama kali baginya dan aku malah melakukannya begitu lama," batin Mark.
Di saat Mark sedang mengoles obat, Careless yang mengigau langsung menendang suaminya.
Brugh...
"Senjata jahanam," ketus Careless yang sedang tidur.
"Gadis ini benar-benar...," ucap Mark yang mengelap hidungnya yang mengeluarkan darah akibat tendangan istrinya.
"Senjata jelek, seharusnya aku potong saja," ketus Careless.
"Sedang tidur saja kau masih membenci senjataku, kalau kamu memotongnya kamu akan menyesal," ucap Mark dengan senyum.
Mark membuka kedua kaki istrinya dan mengoles obat itu lagi.
"Gadis ini...benar-benar membuatku harus bertahan, kalau aku melakukan lagi, dia pasti tidak bisa berjalan," gumam Mark yang sedang melihat mahkota miliknya istirnya.
Keesokan harinya.
Careless yang baru sadar mengerang sakit pada bagian intinya.
"Sakit sekali, ke mana dia? bisanya dia tinggalkan aku sendirian di kamar," ocehan Careless yang bangkit dan berubah posisi duduk.
"Kenapa aku mengenakan baju tidur? apakah kakak tampan yang memakaikan?" gumam Careless.
Careless turun dari kasur dan berjalan menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
"Dasar senjata yang ganas, sakit sekali karena ulahnya," omelan Careless yang berjalan dengan melebarkan kakinya.
"Bibi bilang kalau menikah itu bahagia, tapi kenapa aku malah kesakitan setengah mati? sebenarnya menikah itu bahagia atau sakit? kakak tampan yang biasanya bersikap lembut semalam kenapa begitu kuat? dasar senjatanya kenapa begitu keras dan jelek," ocehan Careless yang menanggalkan pakaiannya hingga tanpa sehelai benang.
"Sangat perih, bagaimana aku bisa bertemu dengan orang luar kalau aku dalam kondisi seperti ini?" ocehan Careless yang menghidupkan air shower.
Mark yang bangun duluan ia membawakan sarapan untuk istrinya.
"Gadis itu pasti tidak bisa turun dari tempat tidur," ucap Mark yang membuka pintu kamar.
Klek...
"Ternyata sudah bangun," gumam Maro yang meletakkan makanan itu di atas meja. Mark mengambil selimut yang berserakan di lantai dan diletakan kembali ke tempat tidurnya.
"Apakah dia sedang mandi," gumam Mark.
"Sebentar! aku sedang mandi," sahut Careless.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mark yang ingin membuka pintu itu,.akan tetapi ditahan oleh Careless yang di dalam.
"Jangan buka!" teriak Careless.
"Kenapa?" tanya Mark.
"Aku sedang mandi, apa kamu tidak tahu aku sedang mandi? untuk apa kamu masuk?" tanya Careless.
"Apa kamu yakin, kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Mana mungkin aku ada apa-apa, aku tidak pakai baju. jangan masuk," jawab Careless sangking malunya mengingat kejadian semalam.
"Aku sudah melihat semuanya semalam, untuk apa kamu malu?" tanya Mark dengan mengusik istrinya.
"Diam!"
"Kenapa, kamu tidak percaya? aku bisa buktikan. dari atas hingga ke bawah semuanya aku masih ingat dengan begitu jelas. apa lagi buah Jeruk asammu," ucap Mark dengan seraya bercanda.
"A-apa? buah jeruk asam? hei! dasar ular jahat, sudah jelek ganas lagi. aku hampir tidak bisa bangkit dan kamu masih mengejekku," ketus Careless dengan kesal.
"Apa kamu masih sakit? aku akan mengoles obat untukmu."
"Kamu tidak sebaik itu, pasti ada niatnya," ujar Careless.
"Sudah! aku hanya bercanda! cepat mandi dan kita sarapan bersama!"
"Kamu sarapan dulu, aku belum siap," jawab Careless.
"Aku akan menunggumu makan bersama," kata Mark.
"Sangat memalukan sekali setiap ingat kejadian semalam, bagaimana aku harus menghadapi dia? malu sekali!" batin Careless.
"Bagaimana kalau dia masih ingin melakukannya? sedangkan aku masih perih," gumam Careless.
Setelah beberapa menit kemudian Careless keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan sambil menahan sakit. Mark yang melihat istrinya sedang berjalan dengan tertatih-tatih ia bangkit dan mengendong gadis itu.
"Ayo, kita sarapan!" kata Mark yang mengendong istrinya dan kemudian mendudukkan ke sofa.
__ADS_1