
Daniel yang melihat Mark ingin membunuh Careless, ia pun berniat untuk menghentikan aksi bosnya.
"Bos, mungkin semua ini hanya kesalahpahaman!"
"Bukankah penerus Zavier Folan memiliki tanda Z? berarti si pembunuh itu memiliki seorang putri, akan tetapi dia menutupinya agar putrinya tidak menjadi incaran orang. dia adalah mafia...pasti sudah menyusun rencana dari awal," kata Mark.
"Tapi, lebih kita selidiki lagi," ujar Daniel.
Mark menurunkan senjatanya dan kemudian berkata," selidiki latar belakang pemilik toko bunga Elizabert! apakah benar gadis ini adalah putri Zavier Folan, kalau benar...berarti dia adalah orang yang ku incar selama ini!"
"Baik, Bos," jawab Daniel.
"Apa mungkin gadis ini adalah putri pembunuh yang telah membunuh orang tua bos? kalau saja memang iya, bukankah mereka akan bermusuhan suatu saat nanti. aku berharap gadis ini bukan darah daging pembunuh itu," batin Daniel.
Mark mengenggam kepalan tangannya dengan erat, karena menahan emosi. dirinya ingin sekali membunuh gadis itu akan tetapi hatinya merasa menolak untuk melakukannya.
Flash back one
15 tahun kemudian.
Terjadi tembakan besar di markas mafia yang diketuai oleh Zavier Folan.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan beruntun dilakukan oleh seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahun. pemuda itu dengan ganasnya membunuh semua anggota kelompok lawannya. dengan matanya yang memiliki dendam ia seakan seperti kerasukan setan sambil menembak semua lawannya hingga tewas satu-persatu.
Setelah anggota lawan tewas semua, sepasang suami istri keluar dari markas melepaskan tembakan. mereka yang tak lain adalah Zavier Folan dan istrinya, Janine.
__ADS_1
"Mark Davidson, kau terlalu berani menyerang markasku," bentak Zavier yang sambil melepaskan tembakan ke arah pemuda itu.
Dor...
Dor...
Dor...
Mark langsung menghindar setiap tembakan dari pasangan suami istri itu.
"Bunuh dia!" teriak Janine yang menembak ke arah Mark yang sedang berlari dan kemudian berlindung di belakang tembok sana.
"Mark Davidson, selama ini kau selalu saja membunuh anggotaku, kita tidak saling kenal. akan tetapi kau sering mencari masalah denganku. malam ini kau malah menyerang ke tempatku," bentak Zavier yang menembak tanpa berhenti.
Dor...
Dor...
Dor...
"Keluar...," teriak Janine yang menembak dengan ganas.
Mark yang tidak ingin menunggu lagi ia langsung keluar dan melepaskan tembakan ke arah pasangan itu.
Dor...
Dor...
Dor...
"Aarrggh...," jeritan Zavier dan Janine yang ditembus oleh peluru.
Dor...
__ADS_1
Dor...
Dor...
"Aarrggh...," jeritan Mark yang juga ditembus oleh beberapa butir peluru.
Saling tembak menembak terjadi di antara Mark dan pasangan itu sehingga mereka bertiga sama-sama terluka.
Mark berusaha bangkit dengan menahan sakit akibat beberapa butir peluru yang menancap tubuhnya. sementara Zavier dan Janine tergeletak tidak berdaya akibat peluru yang menancap dada Zavier dan leher istrinya.
"Bagaimana rasanya diserang? kelompokmu begitu lemah, sehingga begitu mudah dikalahkan olehku," ucap Mark yang tubuhnya berlumuran darah.
"Mark Davidson, kenapa kau...melakukan ini...?" tanya Zavier dengan nada terputus-putus.
"Apakah kalian masih ingat dengan Jhon Davidson dan Moule Haniez?" tanya Mark.
"Kau...kau...adalah putra...mereka?" tanya Zavier yang kesakitan.
"Benar, kedua orang tuaku tewas ditanganmu. kalian menyerang mereka di saat mereka tanpa perlindungan siapapun. malam ini tujuanku memang untuk membalas dendam," kata Mark yang menodong mereka berdua.
"Zavier Davidson, Janine, apakah kau tahu, orang yang kau bunuh bukan hanya dua nyawa, tapi tiga nyawa," kata Mark yang menetes air mata.
"Tidak mungkin, saat itu hanya... mereka berdua... tidak ada yang lain. lagi pula Jhon Davidson dan Moule Haniez adalah musuh kami. dia pantas mati," ujar Zavier yang muntah darah.
"Mamaku sedang hamil dua bulan, dan dia harus tewas akibat serangan kalian, musuh? benar...kita adalah musuh dan malam ini aku membalas dendam demi kedua orang tuaku dan juga adikku yang baru berusia dua bulan. hutang tiga nyawa maka aku juga akan menagih tiga nyawa dari kalian," kecam Mark.
"Apa yang kau katakan?" tanya Janine yang sekarat akibat peluru yang menancap bagian kiri lehernya.
"Penerus kalian akan ku cari sampai dapat dan kemudian aku akan membunuh dia. saat itu kalian akan bersatu kembali," ketus Mark.
"Jangan menyentuhnya!" pinta Zavier.
"Kau takut aku membunuhnya? di saat kalian membunuh kedua orang tuaku kalian juga tanpa belas kasihan. Zavier Folan, kau adalah mafia brengsek yang pengecut. kau mengunakan anggotamu menyiksa kedua orang tuaku sehingga terluka parah dan kemudian kau baru membunuhnya. apa mungkin aku harus melepaskan anakmu? dia harus mati di tanganku," ketus Mark.
__ADS_1