
"Hei, hei, hei, apa kau bisa diam! siapa yang minta kamu cium?" bentak Detektif Khennet.
"Kakak tampan, apakah benar semalam kamu menciumku?"
"Tidak ada! cepat bangun!" jawab Mark yang menyangkal dan duduk kembali di sofa.
"Kalau bukan kamu siapa ya? hm...aku akan mencari pria itu sampai dapat," kata Careless
"Memang untuk apa kau cari pria itu...ha? memangnya penting?" tanya Detektif Khennet.
"Itu adalah ciuman pertamaku, dia ambil begitu saja. aku ingin dia tanggung jawab," jawab Careless.
"Memangnya bagaimana caranya kamu ingin mencarinya?" tanya Detektif Khennet.
"Mudah saja, aku akan mencium pria itu," jawab Careless dengan terus terang. ia tidak menyadari Mark sedang melirik tajam ke arahnya.
"Hei, apa kau sudah gila ya? memastikan dengan cara mencium, dari mana kau pelajari itu...Ha?" tanya Detektif Khennet dengan nada kesal.
"Tidak usah dibahas lagi! aku sudah lama tidak pulang, sudah saatnya aku pulang," jawab Careless yang bangkit dari tempat duduknya.
"Kita akan pulang bersama!" ajak Detektif Khennet yang ikut berdiri.
"Kenapa, aku bisa pulang sendiri," kata Careless.
"Kau tidak bisa pulang sendiri, nanti kau menyasar ke selatan lagi," jawab Detektif Khennet.
"Untuk apa aku ke arah sana, aku bukan ingin mencari beruang kutub selatan," ujar Careless.
"Yang benar adalah beruang kutub utara, dasar bodoh," ucap Detektif Khennet.
"Aku tidak bodoh, aku hanya tidak pintar," jawab Careless yang tidak mau kalah.
__ADS_1
"Kakak tampan, aku pulang dulu!" pamit Careless.
Mark tidak menjawab pamitan gadis itu dan hanya diam duduk dengan berlipat tangan.
Careless lalu menunduk dan melihat ketua mafia itu dengan jarak yang dekat.
"Kakak tampan, kamu kenapa diam saja?"
"Tidak ada!" jawab Mark dengan bersikap dingin.
"Apakah kamu demam?"
"Tidak ada urusan denganmu!"
"Aneh sekali! kenapa kamu tiba-tiba berubah."
"Sudah jangan menganggu tuan Davidson lagi! cepat pulang!" ajak Detektif Khennet yang menarik lengan gadis itu.
"Kakak tampan, kalau rindu padaku bisa menjumpai aku di toko bunga...," teriak Careless.
"Sudah diam! jangan bising!"
Mark bangkit dan berdiri menghampiri jendela. ia melihat gadis itu pergi meninggalkan kediamannya.
"Kenapa aku bisa tertarik padanya? dan sejak kapan? Zanilla Folan, niatku ingin membunuhmu selama ini. tapi kini niatku telah hilang karena kita sudah kenal," batin Mark.
"Tuan," sapa Calvin yang berdiri di belakang atasannya.
"Ada apa?" tanya Mark.
"Apakah Anda berubah pikiran?"
__ADS_1
"Kalau iya, kenapa? kalau tidak, kenapa?"
"Kalau iya, maka Anda pasti bahagia. sedangkan kalau tidak, maka Anda akan menderita."
"Gadis itu membuat aku berubah pikiran," ujar Mark.
"Apakah nona tidak bertanya kenapa Anda meninggalkan dia di jalan?"
"Dia tidak ingat lagi, hari ini dia seperti tidak tahu apa-apa," jawab Mark.
"Lebih baik dia tidak ingat," ujar Calvin.
Di sisi lain Detektif Khennet sedang mengendarai mobilnya menuju ke toko bunga Elizabert. sementara Careless hanya diam di sepanjang jalan. gadis itu memandang keluar jendela dan tidak tahu apa yang dia pikirkan.
"Kenapa kakak tampan ingin membuangku dan kemudian juga mencariku lagi? apa tujuannya yang sebenarnya? dan kenapa dia juga menciumku?" batin Careless.
Careless mengingat perkataan Mark yang di saat itu.
"Aku tidak akan membuangmu lagi, percaya padaku aku tidak akan melakukan itu!"
"Careless, ingat dengan kataku! mulai hari ini apapun yang terjadi aku akan melindungimu, lupakan masa lalu dan mulai hidup baru,"
"Apa yang ingin dia lakukan sebenarnya? kenapa tiba-tiba saja dia menciumku dan apa maksudnya dengan semua ucapannya? untuk apa dia berjanji padaku padahal aku bukan siapa-siapa bagi dia," batin Careless.
"Kenapa kamu diam saja? apa ada masalah?" tanya Detektif Khennet.
"Tidak ada! aku hanya sedikit mengantuk!" jawab Careless.
"Careless, aku tidak tahu sejauh apa hubunganmu dengan Mark Davidson, kalau bisa jangan terlalu dekat dengan dia!"
"Paman, kenapa? apakah dia adalah tersangka yang akan kalian tangkap?" tanya Careless.
__ADS_1