
Perjalanan.
Careless dipaksa ikut Mark pergi meninggalkan restoran itu.
Di sepanjang jalan mereka berdua sama sekali tidak bicara.
"Kenapa seperti ada hawa panas, bagaikan bom waktu yang akan meledak kapanpun," batin Daniel.
"Kenapa mengagalkan perjodohanku?" tanya Cereless dengan melirik tajam pada Mark.
"Apakah kamu begitu gila pada pria sehingga harus melakukan perjodohan bodoh ini?" tanya Mark dengan menahan emosi.
"Memangnya kamu siapa, kenapa aku harus mendengar katamu?"
"Dasar membosankan," ketus Mark.
"Dirimu yang membosankan, karena mengangguku, walau hari ini kamu berhasil mengagalkan perjodohanku. besok dan lusa aku tetap akan melakukannya," kata Careless.
"Kalau kau melakukannya lagi, percaya atau tidak aku akan mengurungmu," bentak Mark.
"Kenapa harus mengurungku?"
"Sudah ku pesan sebelumnya, jangan berkeluyuran di jalan, kenapa kau masih tidak mengerti?"
"Kau aneh sekali! kau hanya pesan jangan berkeluyuran di jalan, tapi bukan pesan jangan melakukan perjodohan. dua hal ini sangat berbeda," jawab Careless yang tidak mau mengalah.
"Kau sangat tidak waras," ketus Mark.
"Berhenti...," teriak Cereless pada Daniel yang sedang menyetir.
Daniel yang mendengar teriakan gadis itu langsung menghentikan mobilnya.
Careless yang kesal langsung keluar dari mobil.
"Masuk!" perintah Mark yang keluar dari mobil dan ikuti Careless dari belakang.
"Mark Davidson, jangan ikuti aku! kau dan aku tidak ada hubungan apapun, ke mana pun aku pergi tidak ada hubungan denganmu. untuk apa kamu ikut campur urusanku," bentak Careless dengan kesal.
__ADS_1
"Zanilla Fo--" ucap Mark yang terceplos.
"Namaku bukan Zanilla, apa kamu salah mengenal orang? pergi sana cari dia," bentak Careless yang kemudian melangkah pergi.
"Gadis ini, benar-benar...."
"Bos, apakah tidak bahaya kalau biarkan nona pergi sendiri?" tanya Daniel.
"Aku hampir saja menyebut nama aslinya, mudah-mudahan si ceroboh itu tidak mengerti," kata Mark.
"Bos karena khawatir dengan nona, oleh karena itu hampir memberitahu identitas aslinya," ujar Daniel.
"Kejadian kemarin telah tersebar, tidak tahu apakah ada yang akan mengenalnya atau tidak," ucap Mark.
"Sudah berlalu selama lima belas tahun, seharusnya tidak ada yang tahu. walau dia agak mirip...akan tetapi tidak ada bukti yang bisa membuktikan bahwa dia putri Zavier," ujar Daniel.
"Yang mengetahui hal ini hanya paman dan bibinya saja, asalkan tidak ada yang tahu identitas mereka. maka tidak akan terjadi apa-apa," kata Mark.
Malam hari
Toko bunga Elizabert.
"Bagaimana, apakah berhasil?" tanya Lizabert.
"Bibi, kenapa mencari seorang pria yang lebih jelek dari paman?"
"Apa yang kau katakan, dia memiliki harta jutaan dollar, apa kau tahu?"
"Untuk apa hartanya? yang menjadi suamiku adalah orangnya bukan uangnya," jawab Careless dengan kesal.
"Kita sebagai wanita harus mencari pria kaya agar hidup senang, jangan seperti bibimu ini yang harus banting tulang tapi tidak kaya-kaya," ujar Elizabert.
"Untung saja paman tidak kaya, kalau tidak, dia pasti sudah menikah kedua dan ketiga," ucap Careless yang ceplas ceplos.
"Huss...apa kau bisa jangan asal-asal bicara, bibi dan pamanmu sudah selidiki kehidupan Aston, dia sangat baik dan jujur. dia juga pekerja keras dan tidak bermain wanita. apa lagi yang kau pilih?"
"Tapi dia adalah pria penakut yang tidak mungkin akan melindungiku. belum apa-apa saja sudah ketakutan," jawab Careless.
__ADS_1
"Untuk apa kamu cari suami yang pemberani...Ha? kau sedang mencari suami yang akan hidup bersamamu, apa lagi dia sangat kaya. jadi, suatu saat uangnya juga menjadi milikmu," kata Elizabert.
"Kalau begitu bibi tolong carikan pria kaya yang sudah sekarat!"
"Untuk apa kau cari pria kaya sekarat?"
"Karena kalau yang sekarat hanya hidup sebentar, dan kemudian setelah dia meninggal. aku akan mendapatkan harta warisannya," jawab Careless.
"Kau sangat gila sekali," ketus Elizabert.
"Aku mau tidur," ucap Careless yang ingin melangkah menuju ke kamarnya.
"Buang sampah dulu, baru masuk ke kamar!"
"Bibi selalu saja tidak ingin menyuruh paman buang," gerutu Careless.
Careless lalu mengangkat sampah dan membawanya ke ujung jalan tempat pembuangan.
Saat sedang berjalan dengan santai, Careless mengingat semula ucapan Mark siang tadi.
"Zanilla Fo--"
"Siapa Zanilla Fo, apakah masih ada nama panjangnya atau hanya sependek ini namanya? kenapa Mark bisa menyebut nama Zanilla? tidak mungkin namaku? kalau namaku apakah dia tahu siapa aku?" gumam Careless.
Sesaat kemudian Careless menghentikan langkahnya karena mengingat kejadian sebelumnya.
"Mark Davidson walau adalah ketua mafia, tapi tidak mungkin dia membuangku tanpa alasan. Zanilla Fo yang dia sebut adalah dituju padaku. kalau saja dia mengenalku apakah dia mengenal siapa orang tuaku?" batin Careless.
"Zanilla...Zanilla...? di saat dia membalut lukaku dia pasti melihat ada tanda Z di punggungku. setelah itu dia sudah berubah. membuangku dan kemudian menyesal. bibi memberitahuku bahwa huruf Z ini adalah tanda lahir. mana mungkin tanda lahir ada hurufnya," ucap Careless.
"Ada lagi, setelah kejadian semalam, paman, bibi, paman gundul dan Mark selalu saja pesan padaku jangan ke mana-mana. ada apa dengan mereka? siapa yang mereka takut? sepertinya aku akan dalam bahaya karena wajahku masuk berita," gumam Careless.
Setelah beberapa saat kemudian gadis itu meletakan sampah pada tempatnya.
Dan saat ia ingin kembali ke toko bunga, ia lagi-lagi menghentikan langkahnya.
"Dasar parasit dari mana yang mengikutiku lagi, apakah ini karena wajahku yang sudah tersebar? apakah ini alasannya bibiku pesan setiap keluar harus mengenakan kaca mata dan masker?" batin Careless.
__ADS_1
Careless yang mengetahui ada orang asing yang mengikutinya dari belakang, ia pun bersikap santai sambil berjalan ke arah lain.
"Masih awal, aku beli cemilan dulu, dan ingin bermain dengan monyet," teriak Careless yang langsung berlari menuju ke jalan besar yang terdapat banyak pengunjung di sana.