
"Kau adalah bos mereka, dan beraninya datang ke wilayahku," bentak Mark dengan menodong senjata ke arah musuhnya yang sudah terluka dan bergeletak di hadapannya.
"Kau siapa sebenarnya?" tanya pria itu yang sedang menahan sakit.
"Kau beraninya datang ke sini, tapi kau tidak tahu siapa aku sebenarnya," ketus Mark dengan tatapan aura membunuh.
"Kalau kau tidak tahu maka aku akan memberitahumu, wilayah ini adalah milikku, Mark Davidson," kata Mark.
"A-apa? Mark Davidson?" tanya salah satu lawannya yang ketakutan.
"Kau bisa datang ke sini dengan berniat ingin merebut wilayah kami, tapi kau malah tidak tahu wilayah ini milik siapa," ketus Daniel sambil menendang perut pria itu.
Bruk...bruk..
"Aarrghh...," jeritan pria itu yang kesakitan.
"Aku hanya tahu jika di sini ada yang melakukan transaksi narkoba, tapi aku tidak tahu tempat ini adalah milik Mark Davidson," jelasnya dengan tidak berdaya.
"Tahu atau tidak, kau sudah melakukan kesalahan besar, aku tidak akan membalas jika tidak ada yang mengangguku" ucap Mark.
"Maafkan kami! kami tidak tahu jika tempat ini milik Anda,"pinta dua pria itu yang ketakutan.
"Maaf? apa mungkin bisa ada maaf setelah kau menyerang wilayahku," gertak Mark.
"Semua anggotaku sudah tewas di tanganmu, dan hanya sisa kami berdua."
"Bukan hanya nyawa mereka semua, tapi nyawa kalian juga yang ku inginkan," ujar Mark.
"Tuan Davidson, ampuni kami! kami bisa menjadi anggotamu, kami akan melakukan apa saja untukmu," pinta pria itu yang takut mati.
"Aku tidak butuh kalian berdua, kelompokku sudah memiliki banyak anggota, jadi aku tidak butuh orang lemah seperti kalian," ucap Mark yang melepaskan tembakan ke arah mereka.
Dor...
Dor...
Dor...
__ADS_1
Lawannya yang sekarat akhirnya tewas di tangan Mark.
Setelah selesai mereka meninggalkan pelabuhan itu.
Di saat mobil yang dikendarai oleh Daniel keluar dari pelabuhan, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seorang gadis dari arah lain.
"Aarrrghh....," teriak gadis itu yang tidak lain adalah Careless yang sedang mengayuh sepedanya dengan laju. gadis itu tidak sempat menghentikan sepedanya sehingga menabrak mobil Mark.
Brak..
"Aarrghh...," jeritan Careless yang tubuhnya terlempar menghantam atap mobil.
Brugh...
"Auhkk...," rintihan Careless yang kesakitan.
"Bos, sepertinya ada orang di atap mobil kita," ujar Daniel.
"Keluar dan periksa!" perintah Mark.
"Hah...nona Careless?" ucap Daniel yang heran.
"Bos, nona Careless yang di atap, sepertinya dia pingsan," kata Daniel.
"Kenapa dia bisa muncul di sini," ucap Mark yang keluar dari mobilnya.
"Uhuk...uhuk...uhuk..," suara batuk Careless yang baru sadar.
"Sakit sekali dadaku, aku di mana," ucap Careless yang melihat sekitar dan kemudian melihat pria yang tidak asing baginya.
"Aarrrgghh...malaikat maut...," teriakan Careless yang terkejut melihat Mark dan langsung terjatuh ke aspal.
Bruk...
"Aaugghh...," rintihan Careless yang kesakitan.
"Dasar malaikat maut, kenapa kau muncul di sini, aku masih muda dan belum mau mati jangan datang menjemputku, pergi!" ketus Careless yang lupa sesaat siapa pria itu.
__ADS_1
Daniel terdiam dan melihat raut wajahnya bosnya yang sedang kesal.
"Gadis ini memang gila, bos begitu tampan malah dipanggil malaikat maut," batin Daniel.
"Sakit sekali!" gerutu Careless yang berdiri sambil memijat pundaknya.
"Nona Careless, apa kamu baik-baik saja?" tanya Daniel.
"Aku baik-baik saja, hah...kenapa kalian juga ada di sini?" tanya Careless.
"Kami ada urusan sebentar, dan kenapa sudah begitu malam nona masih di sini?" tanya Daniel.
"Aku salah jalan,"jawab Careless .
"Salah jalan? Nona, tempat tinggalmu dengan pelabuhan beda arah, bagaimana kamu bisa menyasar ke sini?" tanya Daniel dengan heran.
"Ini semua karena pamanku, dia menghubungiku meminta aku membelikan makanan untuknya, dan aku pergi sesuai alamat yang dia kirim," jawab Careless
"Lalu?" tanya Daniel yang penasaran.
"Setelah aku tiba ternyata tempat yang jual makanan adalah kuburan, mana ada yang jualan makanan di kuburan," jawab Careless.
"Ku-kuburan?" tanya Daniel yang menahan tawa.
"Iya, saat aku memberitahu pamanku alamat yang dia kirim mungkin salah, tapi dia menyuruhku masuk ke dalam lagi dan cari blok B dan nomor 77," lanjut Careless.
"Blok B dan nomor 77? kuburan mana ada bloknya," kata Daniel.
"Aku ikuti saja petunjuknya," ujar Careless.
"Lalu?" tanya Daniel yang sangat penasaran.
"Lalu aku hitung satu-persatu jumlah kuburan di sana, setelah dapat yang kuburan ke 77 tidak ada yang jualan di sana. sudah ku katakan pada paman tidak ada blok dan juga tidak ada orang," jelas Careless dengan kesal.
"Lalu, apakah nona ada bilang dengan pamanmu bahwa nona berada di kuburan?"
"Tidak ada! aku hanya mengatakan gelap dan tidak ada siapapun di sana," jawab Careless.
__ADS_1