
Restoran itu didatangi oleh sejumlah polisi dan menangkap semua yang terlibat dalam penyerangan.
"Bawa semua barang mereka untuk dijadikan bukti!" perintah Detektif Khennet.
"Mark davidson, silakan ikut kami pergi! dan jelaskan apa yang sudah terjadi," ucap Detektif Khennet.
"Baiklah, akan tetapi aku berharap Detektif Khennet tidak salah menilai kejadian ini, karena mereka yang datang menyerang kita," ujar Mark.
"Aku akan menyelidiki dari awal kasus ini," jawab Detektif Khennet.
"Paman gundul, ini sudah jelas perkelahian antara manusia kenapa masih butuh penjelasan?" tanya Careless dengan polos.
"Siapa yang tidak tahu kalau ini adalah perkelahian antara manusia," jawab Detektif Khennet dengan kesal.
"Mari pergi! jangan lupa bawa semua barang mereka!" perintah Detektif Khennet pada anak buahnya.
"Apakah alat pemadam kebakaran ini harus dibawa juga sebagai barang bukti?" gumam Careless.
Salah satu gangster yang masih dalam keadaan sadar ia mengambil pedang dan langsung mengancam Careless dari belakang.
"Jangan bergerak!" kecam pria itu yang mendekatkan pedang pada leher gadis itu.
Mendengar teriakan pria itu para anggota polisi dan Mark menghentikan langkahnya.
"Mark Davidson, serahkan nyawamu sekarang juga!" kecam gangster.
"Woi, hati-hati pedangmu, dasar keparat!" ketus Careless.
"Diam!" bentak gangster sambil mengancam.
"Kau berani sekali mengancam orang di depanku!" ketus Detektif Khennet yang menodong pistolnya.
"Letakkan senjata kalian!" bentak gangster yang sambil menahan Careless.
"Kalau tidak ingin menurunkan senjata kalian, akan ku bunuh dia!" kecam gangster itu.
"Jangan sentuh dia! yang kau inginkan hanya aku. lepaskan dia dan berhadapan dengan ku," ucap Mark yang maju selangkah.
"Ambil pedang itu dan tikam bagian jantungmu!" bentak gangster.
"Kenapa tidak tikam jantungmu saja?" tanya Careless.
__ADS_1
"Mengunakan seorang gadis mengancamku, kau sangat lemah," ucap Mark.
"Jangan mendekat! kalau tidak, aku tidak akan ragu membunuhnya," kata gangster itu sambil memundurkan langkahnya.
Gangster itu semakin cemas saat melihat Mark yang semakin dekat dengannya, ketua mafia itu mencari kesempatan ingin menyelamatkan gadis itu.
"Jangan mendekat! pergi!"
"Bukankah kau ingin aku mati? lakukan saja, gunakan pedangmu dan tikam bagian jantungku," ujar Mark.
"Hei, kenapa kau gemetar? apakah kau takut pada kakak tampan ini? kalau kau adalah pria seharusnya berhadapan dengan secara adil, bukan dengan cara mengancamku, dasar bodoh," ketus Careless.
"Diam!" bentak gangster itu.
"Hei, jangan sembarangan! kami adalah polisi, lepaskan sandra!" kata Detektif Khennet
"Paman gundul, tidak usah buang waktu bicara dengan dia, dia adalah pria yang pengecut, lagi pula paman ada pistol kenapa tidak tembak saja," kata Careless yang tanpa takut.
"Ini adalah urusan kita berdua, jangan melibatkan orang yang tidak bersalah," ucap Mark yang menunggu kesempatan.
"Jangan membuang waktu! cepat bunuh diri!" bentak gangster sambil mengarahkan pedangnya ke arah Mark.
Mark langsung menahan pedang gangster itu dengan tangan kirinya, kemudian tangan kanannya menarik Careless menjauh dari pria itu.
Bruk...
"Aarrgghh...," teriakan pria itu yang kesakitan pada wajahnya dan terhempas ke lantai.
Mark melempar pedang itu ke lantai, telapak tangannya berdarah akibat pedang yang tajam itu.
Saat Mark ingin mendekati gangster yang tergeletak di lantai, ia langsung dihentikan oleh Detektif Khennet.
"Mark Davidson, jangan membunuhnya, serahkan pada kami!" ucap Detektif Khennet.
"Kakak tampan, tanganmu terluka, sebentar!" kata Careless melepaskan kemeja luarnya dan melilit telapak tangan Mark sehingga lilitannya ke lengan.
"Apakah kau tidak salah, yang terluka adalah telapak tangannya, kenapa kau melilit hingga ke lengannya?" tanya Detektif Khennet yang sambil menarik gangster itu menuju ke pintu utama.
"Kemeja ku kepanjangan, mau digunting sayang sekali," jawab Careless.
"Kakak tampan, kalau sudah bersihkan kemejaku, jangan lupa kembalikan aku ya!" ucap Careless sambil membawa APAR dan mengikuti langkah Detektif Khennet.
__ADS_1
"Sepertinya sangat berlebihan," ujar Mark yang sambil melepaskan lilitan kemeja gadis itu.
Tidak lama kemudian mereka meninggalkan restoran dan menuju ke kantor polisi.
Setelah satu jam kemudian.
Masing-masing polisi melakukan interogasi terhadap semua gangster dan ketua mafia termasuk Mark.
"Apakah kalian ada permusuhan sehingga ingin saling membunuh?" tanya Detektif Khennet pada Mark yang duduk di hadapannya.
"Dunia kami sudah biasa kalau terjadi pembantain," jawab Mark dengan tenang.
"Paman gundul seperti tidak tahu saja, namanya juga mafia pasti saling membunuh," ujar Careless yang duduk di samping meja Detektif Khennet sambil memeluk alat pemadam kebakaran.
"Siapa mereka dan dari mana kelompok mereka?" tanya Detektif Khennet pada Mark.
"Kelompok Faldez, dia adalah ketua mereka," jawab Mark.
"Paman gundul, cepat pergi tangkap mereka karena mereka sudah menyerang kita," ucap Careless.
"Kamu jangan bicara dulu! apakah kamu tidak melihat bahwa aku sedang bertanya pada Mark," kata Detektif Khennet.
"Iya, aku sudah melihat," jawab Careless.
"Hei, kenapa kau memeluk APAR dari tadi? bukankah alat ini adalah milik restoran itu?" tanya Detektif Khennet.
"Ah...iya, aku membawanya karena paman suruh mereka jangan lupa membawa semua barang sana untuk dijadikan bukti," jawab Careless.
"Yang aku perintah mereka bawa adalah senjata milik gangster bukan alat dari restoran itu, kenapa kau bisa begitu bodoh," kata Detektif Khennet dengan kesal.
"Aku tidak bodoh tapi paman yang bodoh," balas Careless yang tidak mau kalah.
"Ke-kenapa aku yang bodoh?" tanya Detektif Khennet yang hilang fokus.
"Karena paman tidak bilang bawa senjata mereka? dan hanya bilang bawa semua barang mereka untuk jadikan bukti," jawab Careless.
"Kau ini...."
"Bawa kembali ke restoran sana!" ujar Detektif Khennet.
"Aku masih ingin memeluknya," jawab Careless sambil memeluk alat itu.
__ADS_1
"Kenapa di dunia ini bisa ada seorang gadis yang isi kepalanya kurang sebagian," gumam Detektif Khennet sambil mengaruk kepalanya.