
Mark melihat punggung gadis itu mengeluarkan darah akibat bantingannya. lalu ia memapah Careless bangkit dan memeriksa lukanya itu.
"Kakak tampan, apa yang kamu lakukan?" tanya Careless yang didorong ke atas kasur dengan posisi terlungkup.
"Jangan bergerak! lukamu berdarah," ucap Mark yang menaikan baju gadis itu.
"Aarrghh...," teriak Careless.
"Kenapa kau berteriak? aku belum menyentuhnya? apa kau sakit?"
"Kenapa buka bajuku? aku kan wanita."
"Tapi kau mirip dengan pria, sama sekali tidak mirip dengan wanita," kata Mark yang membuka perban yang membalut luka Careless.
"Kakak tampan, aku akan melakukan sendiri, jangan lepaskan perbannya, karena aku tidak mengenakan bra," kata Careless yang tidak sadar dengan ucapan sendiri.
"Untuk apa kau malu? aku yang membalut perban ini."
"A-apa?" tanya Careless yang hampir tidak percaya.
"Sudah diam!" ujar Mark yang melepaskan lilitan perban itu dan melihat luka gadis itu mengeluarkan darah yang banyak.
"Ehem...Kakak tampan, ada yang ingin ku tanyakan!"
"Apakah kau tidak bisa kurangi bicaramu?"
"Hanya satu pertanyaan saja," jawab Careless.
"Ada apa?" tanya Mark yang meneteskan obat ke dalam luka gadis itu.
"Siapa yang melepaskan baju aku semalam?" tanya Careless yang canggung.
"Aku!"
"Siapa yang melepaskan bra aku semalam?"
"Aku!"
__ADS_1
"Apakah...kau...sudah melihat semuanya?" tanya Careless sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
"Iya!"
"Apa saja yang kau lihat?" tanya Careless yang semakin malu.
"Dua buah dada yang bulat yang berukuran sekitar 38."
Dalam seketika raut wajah Careless berubah menjadi gelap karena malunya tidak terbayangkan lagi.
"Kenapa kamu tidak menutup matamu saat melepaskan pakaianku?"
"Apa kamu pernah berjalan dengan memejamkan matamu?" balas Mark.
"Apa lagi yang kamu lihat?" tanya Careless sambil menahan emosi.
"Hanya dua buah dada sebesar jeruk asam saja, selain itu tidak ada lagi," jawab Mark.
Wajah Careless semakin kesal dan hanya diam menahan emosi.
"Aku bersumpah akan memotong lidahmu," gumam Careless.
"Kenapa tidak memanggil dokter saja?"
"Kalau menunggu dokter datang, kamu akan kehabisan darah."
"Lebih baik aku kehabisan darah, dari pada dilihat olehmu," gumam Careless.
"Jangan khawatir! aku tidak berminat dengan wanita yang berukuran jeruk asam," jawab Mark sambil sibuk dengan tangannya.
"Dasar serigala kutub utara," ketus Careless yang menahan kesal.
"Yang benar adalah beruang kutub utara," ucap Mark yang melilit kembali perban itu.
"Punyamu juga sama seperti sosis anak ayam," gerutu Cereless.
"Apa kamu ingin melihatnya?"
__ADS_1
"Tidak, dasar mesum," ketus Careless.
"Aku juga tidak akan berminat pada jeruk asam," jawab Mark.
"Jeruk asam kepalamu," bentak Careless dengan kesal.
"Ini adalah kenyataan, aku lebih suka semangka dari pada jeruk asam, jadi kau tidak rugi walau aku melihatnya."
"Dasar sosis ayam tidak berguna," ketus Careless dengan kesal.
Klek.
"Tuan, selamat pagi!" ucap Calvin yang melangkah masuk.
"Ada apa?" tanya Mark.
"Sarapan sudah siap," jawab Calvin
"Paman, apakah ada sarapanku?" tanya Careless.
"Ada, Nona!"
"Aku sudah lapar, sepertinya aku tidur semalaman," kata Careless.
"Setelah selesai makan aku akan mengantarmu pulang," ujar Mark yang bangkit dari kasur.
"Aku akan jalan kaki saja," ujar Careless yang bangkit dan melangkah keluar dari kamar.
"Calvin, apakah kamu tahu lokasi yang ku tanyakan semalam?" tanya Mark.
"Lokasinya sangat jauh."
"Beritahu aku di mana tempat itu!"
"Baik, Tuan," jawab Calvin.
"Tuan, apakah Anda akan melakukan ini?" tanya Calvin.
__ADS_1
"Iya," jawab Mark yang melangkah ke kamar mandi.