
"Paman gundul, lepaskan tanganmu, kalau tidak aku akan menuntutmu karena menindas warga lemah," teriak Careless dengan yang kesakitan pada telinganya.
"Apa kau tahu kau telah menimbulkan masalah besar," bentak Detektif Khennet.
"Memangnya kenapa?" tanya Careless.
"Kau merusakan restoran orang dan mobilku, dan tindakan gilamu juga hampir membunuh orang," jawab Detektif Khennet.
"Paman gundul, pidol mobil itu yang salah posisi, jangan salahkan aku!" ketus Careless yang tidak mau kalah.
"Pedal bukan pidol, bodoh. dari dulu pedal gas memang di kanan dan rem di kiri. kau jangan mencari alasan ingin mengelak dari kesalahan," bentak Detektif Khennet.
Para reporter langsung menghampiri Detektif Khennet dan Careless. mereka menjadi penasaran dengan gadis yang mereka lihat.
"Nona, apakah Anda bisa katakan, bagaimana caranya Anda membedakan bomnya?"
"Nona, apakah dulu Anda sekolah jurusan bagian kepolisian?"
"Nona, apakah Anda bisa memberitahu kami, di mana tempat tinggalmu dan siapa namamu?"
"Sudah! jangan bertanya lagi! dia hanya warga biasa, kalian biarkan dia pergi!" kata Detektif Khennet yang ingin menarik gadis itu berjalan pergi, akan tetapi dihalang oleh reporter yang sedang merekam.
"Sebentar! apakah nona tidak bisa memberitahu kami, kenapa bisa menyadari bom palsu?"
"Sebenarnya aku tidak bisa membedakan bom asli atau palsu," jawab Careless.
"Kalau tidak bisa, mana mungkin Anda bisa begitu yakin?"
"Aku yakin karena melihat pria itu sedang mengancam dan cemas, kalau saja dia mengunakan bom asli dia pasti sudah meledakan restoran ini dan mana mungkin mengancam saja," jawab Careless.
__ADS_1
"Nona, apakah kami bisa tahu, siapa namamu?"
"Dan dulu Anda tamat juruan apa, kenapa Anda bisa begitu pintar?"
"Bukan aku yang pintar, tapi kalian semua yang bodoh karena mudah dipermainkan. aku tidak tamat jurusan apapun. tidak seperti kalian yang mengambil jurusan A dan B agar bisa menjadi penjinak bom, detektif dan repoter. tapi masih bisa dibohongi," jawab Careless dengan kesal
Para detektif lainnya dan juga pasukan penjinak bom yang mendengar ucapan Careless hanya bisa diam dan malu sendiri.
"Sudah! jangan menghalang jalanku! aku ingin pergi makan!" ujar Careless yang melangkah pergi.
"Jangan pergi dulu! urusan kita belum selesai," bentak Detektif Khennet yang mengejar langkah gadis itu dan menarik telinganya lagi. para reporter sedang menyunting mereka berdua yang mulai berdebat.
"Ada apa lagi? aku sudah membantumu menangkap penjahat, kenapa masih menahanku?" tanya Careless dengan kesal.
"Yang ada adalah membantuku menimbulkan masalah, mobil dan restoran hancur karena ulahmu. kau masih ingin pergi begitu saja," bentak Detektif Khennet sambil menarik telinga gadis itu dan berjalan menuju ke mobil rekan lainnya.
"Jadi, untuk apa tuntutan untukku?" tanya Careless ikuti langkah Detektif Khennet.
"Aku tidak memiliki uang, jadi, kalau ingin aku ganti rugi. aku serahkan saja bibiku untukmu."
"Untuk apa kau serahkan bibimu?"
"Untuk jadikan istri keduamu, kalau paman sudah bosan baru kembalikan saja," jawab Careless.
"Kau memang tidak waras," bentak Detektif Khennet yang mendorong gadis itu ke dalam mobil.
Sementara Elizabert dan Robert yang berada di rumah mereka telah melihat kejadian itu lewat TV mereka.
"I-itu kan Careless, kenapa dia bisa ada di sana?" tanya Elizabert dengan heran.
__ADS_1
"Berarti dia tidak apa-apa dan ditemukan oleh Detektif Khennet," jawab Robert.
"Dia sangat keterlaluan, dia merusakkan restoran dan mobil, dan ingin serahkan aku kepada Detektif Khennet sebagai ganti rugi," bentak Elizabert dengan kesal.
"Ini bukan pertama kali dia buat kita marah, anggap saja anak kecil yang baru belajar bicara. sekarang yang aku khawatirkan adalah wajahnya sudah disiarkan di berita. apakah ini aman?" tanya Robert yang khawatir.
"Wajah anak ini sangat mirip dengan ayahnya, aku hanya takut kalau saja Zavier masih memiliki musuh dan anak ini akan dikenali," jawab Robert.
"Selama ini kita sembunyikan anak ini, sekarang berita ini sudah tersebar. kejadian ini sangat menghebohkan. mana mungkin tidak ada yang melihat wajahnya," ujar Elizabert dengan cemas.
"Mudah-mudahan saja tidak ada yang bisa mengenalnya," kata Robert.
"Elizabert, aku merasa sangat cemas kalau saja ada yang bisa mengenalinya. seharusnya dari awal kita suruh dia mengunakan masker dan kaca mata hitam," ucap Robert.
"Kaca mata hitam? sedangkan tanpa kaca mata hitam saja dia bisa menyasar ke tempat lain. apa lagi kalau mengenakan kaca mata hitam," ujar Elizabert.
Sebuah gedung bertingkat dua puluh.
Seorang pria yang adalah bos mafia dan didampingi oleh sejumlah anggotanya sedang melihat berita siaran langsung kejadian pengancaman bom palsu.
"Tidak punya nyali, mengancam semua orang dengan bom palsu, mereka cukup bodoh," ketus pria itu yang sedang menyalakan rokoknya.
"Dia hanya pekerja biasa, dan bukan mafia. oleh sebab itu dia hanya berani mengunakan bom palsu saja," kata salah satu pegawalnya.
Saat bos mafia itu melihat Careless yang muncul di TV ia membulatkan mata besarnya.
"Siapa gadis ini? kenapa bisa begitu mirip dengan dia?" batin pria itu.
"Peter, selidiki siapa gadis itu!" perintah bos mafia itu.
__ADS_1
"Baik, Bos," jawab Peter dengan patuh.