
Penyesalan memang selalu datang di akhir, Agatha melupakan mereka yang selalu Agatha doakan, tetapi setidaknya Agatha bisa tertawa bahagia bersama keluarga kecilnya, bahkan Indira saja bisa membuat Agatha tertawa seperti dulu.
"Bunda emang cantik kok, sama kaya Indira kan". Ujarnya pada Agatha.
"Hahah iya sayang, kamu cantik seperti bunda". Ujarnya pada Indira.
"Tuh kata bunda juga aku cantik 😝". Ujar Indira pada abangnya.
"Iyaa deh iyaa cantik". Ujar mereka pada adiknya.
Beberapa menit kemudian Reno serta keluarga kecilnya datang ke rumah kediaman Bhagaskara, Semuanya yang melihat mereka pun senang terutama Indira yang melihat abang kecilnya berlari ke arahnya.
"Hati hati sayangg". Ujar Agatha pada anaknya.
"Iyaa bun, ini Dira hatihati kok". Ujarnya pada Agatha.
"Kebiasaan kalau udah ketemu Arkana selalu aja begitu". Ujar Agatha sambil terkekeh.
"Wajar aja, biasanya dia punya abang besar ini ada abang kecil". Ujar Vino pada istrinya.
"Hahah iyaa mas". Ujar Agatha padanya.
"Bunda boleh engga Dira ajak main bang Arkan ketaman?". Tanya Indira padanya.
"Coba tanya abangnya mau ngga? masa nanya ke bunda". Ujarnya tertawa pelan.
"Ah baiklah, abang maukan ke taman?". Tanya Indira sambil tersenyum padanya.
"Ndak mau". Jawabnya pada Indira.
"Ish abang jahat bener, kalau gitu gimana kalau babang Venus aja, mau yaa". Ujarnya pada anak dari Bryan dan Elvira.
Venus atau Elvandra hanya menggelengkan kepalanya karena masih kecil, lagi pula Indira pasti tidak akan mengerti bahasa anak kecil usia 1tahun, bahkan untuk jalan saja selalu jatuh maka Venus tidak mau hingga akhirnya Andriani kakak dari Arkana lah yang menemani Indira.
"Emang mau apa sih dek ke taman? ada apa di taman?". Tanya Andriani pada anaknya.
"Mau ngobrol aja sama Riani". jawabnya pada Andriani.
"Yaudah biar aku temani ya". Ujar Andriani padanya.
"Yaudah hayo ke taman". Ajak Indira padanya.
"Indira kamu kan umurnya lebih tua setahun saka aku tapii kenapa kamu manggil adik aku abang?". Tanya Andriani padanya.
"Kata bunda , umur kita boleh tua tetapi bunda adiknya uncle Reno jadi kita yang menyebut abang atau kakak padamu dan juga bang Arkana ataupun bang Venus yang masih kecil". Jawab Indira padanya.
__ADS_1
"Ohh gitu yah dek". Ujarnya pada Indira.
"Iyaa kak". Ujarnya pada nya.
"Yaudah yuk kembali aja ke dalam rumah, takutnya ada penculik siang begini". Ujarnya pada Indira.
"Yaudah ayok masuk kak". Ujarnya pada Andriani.
Mereka berdua masuk kembali kedalam rumah, membuat Agatha menoleh pada mereka berdua, keduanya duduk di dekat Angga dan yang lainnya, Agatha tersenyum pada mereka membuat Indira langsung menghampirinya.
"Bunda syaang". panggilnya sambil tersenyum.
"Ada apaa dengan senyumanmu itu Syaang?". Tanya Agatha padanya.
"Dira pengen main bun". Jawabnya pada Agatha.
"Main? diruang bermain aja sayang, kalau mau main keluar bundanya masih sakit syang". Bukan Agatha yang menjawab melainkan Vino.
"Yah yasudah kalau gitu, Dira main diruang bermain aja bunda". Ujarnya pada Agatha.
"Iyaa sayang sana main". Ujarnya pada putrinya.
"Tapi ga seru main sendiri bunda". Ujarnya dengan lemas memeluk Agatha.
"Heum baiklah bunda". Ujarnya pada Agatha.
"Iyaa syaang ". Ujarnya pada Indira.
Beberapa menit kemudian tiba tiba Indira sudah tidur di dalam yang sedaritadi menjadikan paha Agatha sebagai bantal, Vino yang melihat itupun langsung memindahkan anaknya ke kamar mereka, setelah benar benar aman Vino kembali ke ruang tengah.
"Gimana mas?". Tanya Agatha padanya.
"Udah nyenyak kok tidurnya syaang". Jawabnya pada istrinya.
"Syukurlah kalau begitu". Ujar Agatha pada suaminya.
"Ohh ya syaang, mas pergi dulu ya ada urusan di kantor". Ujar Vino pada istrinya.
"Yaudah hatihati ya mas dijalannya". Ujar Agatha pada suaminya.
"Iyaa syang, mas berangkat ya". Ujarnya sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
"Kebiasaan deh kamu Vin". Ujar Mommy Elvina pada anaknya.
"Hehe biarin, istri Vino ini kok". Ujarnya sambil terkekeh pada Mommy nya.
__ADS_1
Setelah melihat kepergian Vino, Agatha memeluk Mommy Elvina untuk meredakan rasa rindunya pada bundanya, walau bagaimana pun dalam hilang ingatan Agatha masih merasakan kerinduan pada keluarganya tetapi kekecewaannya pada mereka membuatnya seperti ini.
"Sayang, kamu pasti merindukan bunda kamu kan?". Tanya Mommy Elvina.
"Ngga mom, aku tidak merindukannya". Jawab Agatha dengan pelan.
"Jangan membohongi hati kamu sayang, kamu merindukannya, Mommy merasakan pelukan kamu sangat berbeda dari biasanya, jujur sama mommy kamu merindukannya bukan?". Tanya Mommy Elvina pada menantunya.
"Aku tidak merindukannya mom, aku benar benar tidak merindukannya". Jawab Agatha padanya.
"Sayang, mulutmu boleh berbohong tapi hatimu tidak, pasti kamu sangat merindukannya, setelah sekian lamanya kamu tidak bertemu keluarga kamu". Ujar Mommy Elvina membuat Agatha menangis.
"Menangislah sayang, jika itu membuatmu lega, jangan pendam apa yang kamu rasakan, agar hati kamu tenang". Ujarnya sambil mengelus punggung Agatha yang bergetar.
Agatha menangis dengan keras dipelukan mertuanya, sungguh ia merindukan keluarga nya tetapi ia juga kecewa pada mereka, yang ia anggap sebagai orang yang bisa mendukungnya tetapi malah sebaliknya, seandainya ia tidak mengenal dengan Sasha mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini pikirnya.
Beberapa menit kemudian Agatha melepaskan pelukannya dari Mommy Elvina, setelah hatinya tenang ia juga mengusap air matanya lalu menghela nafansya sebelum kembali berbicara pada mertuanya yang memperlakukan nya seperti anak sendiri.
"Mom, apakah aku harus memaafkan mereka?". Tanya Agatha dengan pelan padanya.
"Tergantung hatimu sayang, mom tidak bisa memaksa jika hatimu masih terluka, tetapi mom hanya bisa memberi saran, maafkan mereka jika pun mereka melakukan kembali jangan berikan mereka kesempatan lagi, sudah cukup hatimu tersakiti oleh mereka". Jawab Mommy Elvina padanya.
"Baiklah mom, aku akan berusaha untuk memikirkan apa yang terbaik dan tidaknya". Ujarnya pada Mommy Elvira.
"Bunda, nangis ya?". Tanya Angga padanya.
"Engga syang bunda ngga nangis". Jawab Agatha padanya.
"Bunda bohong, kalau ngga nangis kenapa mata bunda bengkak?". Tanya Angga dengan berkaca kaca.
"Bunda hanya kelilipan sayang". Jawab Agatha padanya.
"Stop bunda, STOP bunda berbohong pada Angga, Angga tau mana mata yang kelilipan atau ngga bun, please bunda Angga ngga mau bunda kenapa napa". Ujar Angga memeluk bundanya.
"Maafin bunda sayang, tapi bunda beneran ngga papa kok". Ujarnya pada anaknya.
"Bunda, Angga tau ya bunda pasti nangis karena mereka lagi kan! walaupun bunda hilang ingatan sementara tapi tetap saja bunda menangis karena mereka kan , Angga benci mereka yang membuat bunda seperti ini!!". Teriak Angga pada Agatha.
"Hey sayang, dengerin bunda, jangan membenci mereka ya syaang, bagaimana pun juga mereka keluarga kandung bunda, bunda fine jadi jangan membenci mereka". Ujar Agatha menenangkan anaknya.
"Bunda jangan membohongiku, jika bunda baik baik saja seharusnya bunda memaafkan mereka kan, tetapi bunda selalu mengusir Mereka". Ujar Angga membuat Agatha terdiam.
"Karena--".
"Karena mereka harus diberi hukuman boy". Ujar Vino memotong ucapan istrinya Agatha.
__ADS_1