Kisah Agatha & Family

Kisah Agatha & Family
Bab 78


__ADS_3

BRUKK


"Awws, lo kalau jalan emang ga pernah pake mata ya!!". Teriak Satya pada nya.


"Maaf ya BangSat setau aku jalan emang pake kaki bukan mata". Ujar Alena membuat Satya melotot.


"Nama gue Satya bukan Bangsat, gue udah ngasih tau itu dari lama Alina!!". Teriaknya tidak terima pada gadis dihadapannya.


"Iyaa emang bener kok, Bang Satya". Ujarnya sambil tersenyum tipis kemudian berlalu meninggalkan Alina yang terkekeh.


"Ngapain kamu senyum senyum sendiri kaya gitu?". Tanya Indira pada Alina.


"Ngga papa kok Ra, kita masuk kelas yuk". jawabnya sambil mengajak Indira.


"Yaudah yuk". Ujar Indira pada Alina.


Selama dalam perjalanan menuju kelas, Alina selalu senyum senyum sendiri membuat Indira merasa heran dengan sahabat satu satunya ini, Indira langsung menyikut lengan Alina yang membuatnya menoleh pada Indira.


"Kenapa sih Ra?". Tanya Alina padanya.


"Kamu yang kenapa? daritadi senyum senyum sendiri? gila kamu?". Tanya Indira menatap Alina.


"Enak aja, aku waras lah". Jawab Alina pada Indira .


"Ya terus kenapa senyum senyum sendiri?". Tanya Indira pada Alina.


"Ngga papa kok, emangnya ngga boleh aku senyum?". tanya Alina sambil menatap Indira.


"Ya gapapa sih ngga ada yang larang, tapi kalau senyum senyum sendiri kan takut". Jawabnya pada alina.


"Heum iya juga sih hahah". Ujarnya sambil tertawa pelan pada Indira.


"Udah ayok kita ke kelas aja". Ujar Indira mengajak Alina dengan cara menarik tangannya.


"Ish pelan pelan napa Ra, sakit tau tangan aku". Ujar Alina pada Indira.


"Upss, sorry Al aku ngga sengaja bikin tangan kamu sakit". Ujarnya dengan cemberut.


"Iyaa gapapa kok Ra". Ujar Alina pada Indira.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di kelasnya, terlihat Angga yang sudah stay membaca buku karena hari ini ada ulangan harian Matematika , bagi semua orang sangat menyusahkan tetapi berbeda dengan keenam siswa siswi tersebut.


"Alina coba kamu isi nomor dua sebelum kita mulai ulangannya". Ujar guru matematika padanya.


"Ah gampang banget ini soalnya bu, sebentar ya". Ujarnya sambil maju ke depan.


"Wahh hebat banget kamu Al, bisa mengerjakan soal sesusah ini dengan begitu mudah". Ujar guru tersebut pada Alina.

__ADS_1


"Tentu saja aku bisa dong bu, karena aku genius". Ujar Alina dengan senyuman jenakanya.


"Yasudah kembali ke tempat, kita mulai ulangan hariannya". Ujar guru tersebut pada Alina.


"Okee siap bu". Ujarnya sambil tersenyum tipis pada guru tersebut.


"Rora". Gumam Angga saat melihat senyuman Alina yang begitu menenangkan.


"Bang ngga ada Alena disini". Ujar Indira pada abangnya.


"Apa yang kamu maksud?". Tanya Angga pada adiknya.


"Tadi aku denger abang manggil nama Rora berarti Alena kan? ngga ada Alena disini bang, adanya Alina". Jawab Indira pada abangnya.


"ah kamu salah denger kali dek". Ujar Angga mengelak pada adiknya.


"Ih ngga mungkin aku salah denger abang, orang aku denger dan abang juga natap Alina tadi". Ujar Indira pada abangnya.


"Udah kalian jangan berdebat, mau ulangan nih". Ujar Athara pada mereka berdua.


"Okee siap bang". Ujar keduanya pada Athara.


Beberapa jam kemudian mereka selesai melaksanakan pembelajaran hari ini, Angga serta yang lainnya bersiap siap untuk pulang ke rumah mereka, Alina hendak berdiri namun tiba tiba ia melihat bercak darah dibawah membuatnya pusing.


"AL, KAMU KENAPA?". Teriak Indira saat melihat Alina pingsan.


"Ya ampun bagaimana bisa Alina pingsan begini? angkat ke UKS coba". Ujar guru pada mereka.


"Kebiasaan phobia darah lo kumat Al". Gumam Athara sambil menggendong tubuh Alina.


"Bang, kenapa malah diam DISANA? ayo ikut ke UKS". Ujar Indira saat melihat Angga hanya diam.


"Ah iyaa dek". Ujar Angga pada adiknya.


Kenapa aku ngerasa pernah menghadapi kejadian ini ya, tapi kapan. Batin Angga sambil berjalan dibelakang adiknya.


"Mungkinkah Alina adalah Rora yang aku kenal? heum tapi ngga mungkin juga, sebagian orang pasti punya phobia darah bukan hanya Rora". Gimamnya sambil menepuk keningnya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di UKS sekolah, untung aja dokter masih ada di dalam belum pulang membuatnya langsung memeriksa keadaan Alina, hingga beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang UKS.


"Gimana dok keadaan Alina?". Tanya Indira drngan panik padanya.


"Sepertinya dia punya phobia, apakah sebelumnya ia melihat sesuatu?". Tanya Dokter tersebut pada Indira.


"Ada dok, dia melihat bercak darah di lantai saat akan pulang". Jawab Satya padanya.


"Ah sepertinya dia mempunyai phobia darah". Ujar Dokter tersebut pada mereka.

__ADS_1


"Udah engga aneh sih, waktu itu aja liat darah menstruasi Alina pingsan dok, agak ribet ya". Ujar Indira padanya.


"Heum iyaa juga sih , harus ada yang membuat dia bisa bertahan selama masa mentruasi karena kasihan juga jika terus pingsan seperti ini ketika melihat darah". Ujar Dokter tersebut pada mereka.


"Iya udah dok makasih ya". Ujar Indira mewakili yang lainnya.


"Iyaa sama sama, kalian juga pulang ya udah mau hujan soalnya". Ujar dokter tersebut pada mereka.


"Iyaa siap dokter cantik". Ujar mereka kecuali Angga yang selalu saja berwajah datar.


"Yaudah dokter duluan ya". Ujarnya diangguki oleh mereka semua.


Sementara itu di depan gerbang sekolah Bella begitu khawatir menunggu anaknya yang belum datang, hingga ia hendak membuka pintu terlihat anaknya yang dituntun oleh Andira dan Athara badannya begitu lemas membuat Bella yakin jika anaknya pingsan karena phobianya.


"Ra, udah aku bisa sendiri, lagian udah deket kok mobil yang ngejemputnya". Ujar Alina pada Indira.


"Beneran kuat?". Tanya Indira pada Alina.


"Beneran Dira, udah yaa ,makasih ya untuk semuanya". Ujarnya sambil tersenyum tipis pada Indira.


"Iyaa santai aja kali Al". Ujar Athara pada Alina.


"Yaudah aku pulang duluan, nanti kalian hati hati di jalannya ya, jangan lupa besok ada tugas dari pak Eka". Ujar Alina pada mereka.


"Masih sakit juga inget aja Tuh tugas". Ujar Marcello pada Alina.


"Ohh tentu harus dongg, yaaudah Yaaa byee semuanya ". Ujar Alina pada mereka.


Kelima anak kembar tersebut melambaikan tangannya saat mobil Alina pergi, kecuali Angga dan Satya mereka tampak terdiam melihat kepergian mobil jemputan Alina, hingga akhirnya mereka sadar saat para saudaranya meninggalkan keduanya digerbang sekolah.


"Kalian kenapa main ninggalin sih". Ujar Satya pada mereka bertiga.


"Habisnya abang lama". Ujar Indira pada abangnya.


"Heum maafin abang dekk, abang tadi melamun jadi ngga sadar". Ujar Satya pada adiknya.


"Ya memang ada melamun yang sadar bang, kan ngga ada gimana sih abang ini". Ujar Athara padanya.


"Benar juga". Gumam Satya terdengar oleh para saudaranya dan langsung tertawa dengan keras.


...****************...


Mohon maklum, kalau akhir akhir ini sering telat update ya guys:)


Maaf sekali lagi ya, aku sering ketiduran saat lagi nulis buat update guys, maafin banget ya :(


Jangan kabur please, aku butuh kalian sebagai penyemangat ku :)

__ADS_1


Terimakasih ya untuk semuanya:)


Jangan lupa juga Like, Comment and Votenya ya guys:)


__ADS_2