
"Rora". Panggil Angga padanya.
"Iyaa kenapa Angga?". Tanya Alena yang memang dipanggil secara berbeda oleh Angga.
"Jika keluarga kandung mu masih hidup, apakah kamu mau kembali jika mereka menjemputmu?". Tanya Angga padanya.
"Aku pengen sih tapi aku terlanjur kecewa sama mereka, kalau memang mereka tidak mau mengurusku kenapa aku harus lahir kedunia". Jawabnya dengan sedih pada Angga.
"Walau bagaimanapun juga mereka tetap keluarga kamu Rora". Ujar Angga menatap Rora atau Alena.
Alena terdiam karena ia belum tau muka kedua orangtuanya bagaimana, bohong jika Alena tidak merindukan keluarga kandungnya tapi sudah empat tahun Alena menunggu kedatangan mereka tetapi hanya sia sia saja menurut Alena.
"Kalau misalkan aku pergi ikut mereka gapapa kan?". Tanya Alena pada Angga.
"Iyaa gapapa dong ngapain aku larang kamu kembali kepada keluarga kandung kamu Rora". Jawab Angga setelah lama terdiam.
"Huft tapi aku ngga yakin bisa ketemu sama kalian jika benar mereka menjemputku suatu saat nanti". Ujar Alena sambil menatap lurus ke depan.
"Kenapa ngga yakin bisa? ngga mungkin mereka larang kamu buat ketemu kan?". Tanya Angga pada Alena.
"Ntahlah aku juga gatau". Jawabnya sambil menoleh pada Angga.
"Yaudah kalau gitu, kita masuk ke dalam rumah, bukannya kamu ada tugas sekolah kan". Ajak Angga pada Alena.
"Ah benar juga, ayok". Ujarnya sambil berdiri dari duduknya.
Mereka berdua masuk kedalam rumah membuat yang lainnya menoleh ke arah Angga dan Alena, Indira langsung memanggil mereka berdua untuk datang ke ruang tengah yang dimana semuanya sedang berkumpul.
"Abang saMa Alena habis ngapain sih?". Tanya Indira pada abangnya.
"Habis liat ikan di kolam". Jawab Angga pada adik kembarannya.
"Ohh kirain ngapain toh". Ujar Indira pada abangnya.
"Iyaa adek abang yang paling cantik". Ujar Angga dengan gemas mencubit pipi Indira.
"Iyaa lah orang Adek jadi ratu nya, abangg sakit ihh". Ujar Indira pada abangnya.
"Hahaa maaf ya dek". Ujar Angga pada adiknya.
"Huft Iyaa gapapa abangku sayang". Ujarnya sambil tersenyum tipis pada abangnya.
Agatha yang melihatnya interaksi mereka langsung tersenyum senang , karena jarang sekali putranya mau gabung dengan Indira jika tidak ada Alena yang membuatnya mau bergabung.
Semoga saja kelak jika kalian sudah besar, jika memang jodoh pasti akan bersatu kan. Batin Agatha menatap Alena dan Angga.
"Kamu mikirin apa sayang?". Tanya Vino pada istrinya.
__ADS_1
"Engga mikirin apa apa saayang". Jawab Agatha sambil menoleh pada suaminya.
"Beneran sayang?". Tanya Vino pada istrinya.
"Iyaa beneran suamiku syaang". Jawabnya pada Vino.
"Heum yaudah kalau gitu sayang mas percaya". ujarnya pada istrinya.
"Iyaa harus percayalah mas". Ujar Agatha pada suaminya.
"Hahah iyaa deh sayang". Ujar Vino sambil tertawa pelan pada istrinya.
"Bunda, ayah". Panggil Marcello pada mereka berdua.
"Iya kenapa sayang?". Tanya mereka berdua pada anaknya.
"Ayah bagaimana rasanya kerja?". Tanya Marcello pada ayahnya.
"Tentu saja melelahkan tetapi saat ayah melihat anak anak ayah, lelah ayah langsung hilang begitu saja". Jawabnya sambil tersenyum pada anaknya.
"Kalau bunda, bagaimana rasanya jadi seorang ibu? apalagi anak bunda banyak?". Tanya Marcello menatap bundanya.
"Ya bunda merasa bersyukur aja memiliki kalian, bunda juga engga keberatan kok kalau ngurus kalian sendiri". Jawabnya sambil mengelus rambut anaknya.
"Baiklah, jadi aku mudah mengerjakan tugas dari guru". Ujar Marcello sambil berlalu pergi dari hadapan mereka berdua.
"Sayang lebih baik kamu kasih ASI terlebih dahulu Baby Sagara nya". Ujar Vino pada istrinya.
"Yaudah sayang, awasi anak anak ya". Ujar Agatha pada suaminya.
"Kenapa harus di awasi sayang? bukannya ada mereka semua". ujarnya saat melihat keluarga besar istrinya.
"Iya juga sih, tapi mas diem aja disini lagian aku kasih ASI nya di kamar bawah kok". Ujar Agatha pada suami tercinta nya.
"Yaudah kalau gitu sayang, mas tunggu kamu kembali ya sayang". Ujar Vino pada istrinya.
"Iyaa suamiku". Ujar Agatha sambil berlalu pergi dari hadapan suaminya.
"Agatha mau kemana Vin?". tanya Reno pada adik iparnya.
"Mau ngasih ASI buat Baby Sagara bang". Jawabnya pada abang iparnya.
"Oh gitu toh". Ujarnya pada Vino.
"Iyaa bang". Ujar Vino acuh tak asuh pada abang iparnya.
Beberapa menit kemudian Agatha baru saja keluar dari kamar bawah, ia hendak ikut bergabung bersama yang lainnya, tetapi hanya sesaat karena ia teringat Baby Sagara yang sendirian di kamarnya.
__ADS_1
"Lohh kok Tata malah kembali masuk ke kamar?". Tanya Reno pasa adik iparnya.
"Mungkin Baby Sagara nangis lagi". Jawabnya tidak yakin.
"Ga mungkin ah, orang abang lihatnya kaya ketakutan gitu". Ujar Reno membuat Vino langsung beranjak dari duduknya.
"Loh ayah mau kemana?". Tanya Satya pada ayahnya.
"Ayah mau nyusul bunda sayang". Jawabnya pada anaknya.
"Yaudah abang ikut ya yah". Ujar Satya pada ayahnya.
"Iya Ayok syaang". Ujar Vino pada anaknya.
Agatha yang saat itu sedang menatap Baby Sagara langsung menoleh ke belakang mendengar pintu terbuka, terlihat Vino serta anak sulungnya berdiri disana membuat Agatha mau tak mau menghampiri keduanya.
"Ada apaa Mas? ". Tanya Agatha pada suaminya.
"Kamu kenapa syaang?". Tanya Vino pada istrinya.
"Kenapa apanya mas?". Tanya balik Agatha pada suaminya.
"Kamu kenapa masuk ke dalam lagi bukannya tadi udah diluar ya". Ujar Vino menatap istrinya serta anaknya.
"Aku hanya takut ada seseorang masuk ke dalam kamar lewat jendela mas, aku masih trauma dengan kejadian Indira yang tertimpuk batu mas". Ujarnya dengan sedih pada suaminya.
"Bunda jangan khawatir, bukannya ayah dan opa sudah menjaga keamanan dengan ketat disetiap tempatnya". Ujar Satya pada bundanya.
"Iyaa bunda tau sayang, tapi tetap saja bunda takut". Ujar Agatha sambil duduk kembali di ranjang.
"Gausah takut bunda, yang ada mereka akan semakin senang melihat bunda ketakutan seperti itu". Ujar Satya dengan serius.
"Benar apa yang dibilang oleh Satya sayang". Ujar Vino sambil mengelus pundak istrinya.
Agatha yang mendengar perkataan anaknya pun membenarkannya, karena jika musuh melihat Agatha yang ketakutan seperti ini akan membuat mereka senang melihatnya, Agatha menatap ke arah jendela menatap orang orang yang menjaga kediamannya.
"Mas ini ngga akan ada terjadinya pengkhianatan kan?". Tanya Agatha pada suaminya.
"Maksud kamu sayang?". Tanya Vino tidak mengerti.
"Maksud aku, diantara semua orang yang kamu suruh ngga ada orang yang berkhianat kan? seperti dulu saat Sasha melakukannya padaku?". Tanya Agatha pada suaminya.
"Tentu saja tidak akan ada yang berani berkhianat pada mas sayang". Jawab Vino meyakinkan istrinya.
"Heum baiklah mas". Ujar Agatha pada suaminya.
"Iyaa syaang, lebih baik sekarang kita keluar yuk, ngumpul sama yang lain". Ujar Vino pada istrinya.
__ADS_1
"Kalau bunda masih takut, kan ada CCTV mini yang abang Angga buatkan disetiap tempat bunda". Ujar Satya Padanya.