Kisah Agatha & Family

Kisah Agatha & Family
Bab 73 (Khusus Anak Anak)


__ADS_3

Angga serta keempat saudara nya sedang fokus menulis materi didepan, tiba tiba datanglah seorang kepala sekolah yang tak lain dan tak bukan adalah opa mereka yaitu Dion Xavier Putra Bramastian.


"Maaf mengganggu waktu belajar kalian semua, disini saya akan membawa anak baru silahkan memperkenalkan diri kamu". Ujar Dion menatap seorang gadis dengan lembut.


"Perkenalkan nama saya Alina A. Putri W, kalian bisa memanggil saya Alina saya berasal dari Bogor, semoga kita bisa berteman baik". Ujarnya dengan ramah pada teman baru.


"Haii Alin, bolehkan gue manggil nya Alin?". Tanya seorang pria padanya.


"Boleh kok". Jawabnya sambil tersenyum tipis pada pria tersebut.


"Baiklah kamu duduk di depan Angga". Ujarnya pada Alina.


"Iya terimakasih pak". Ujar Alina pada Dion.


"Iyaa sama sama, kalau begitu saya pamit ya, belajar yang bener". Ujar Dion diangguki oleh mereka semua.


Alina berjalan mendekati tempat yang akan ia duduki, hendak melangkah namun ia melirik kebawah melihat adanya kaki yang menghalangi jalannya, dengan santai ia menginjak kaki pria tersebut membuat sang empunya berteriak kesakitan.


"Upss, maaff". Ujar Alina padanya.


"Sialan lo, anak baru". Gerutunya sambil menatap tajam Alina.


"Salah kamu, ngapain kaki kamu diluar". Ujarnya sambil duduk dikursinya.


"Nyebelin banget lo jadi cewek". Ujarnya dihiraukan oleh Alina.


"Kenapa gue ngerasa kalau kita pernah ketemu". Gumam Angga menatap punggung Alina.


"Iyaa kan emang pernah, bukannya kemarin ketemu kan". Ujar Indira yang mendengar gumaman abangnya.


"Ish kamu nyambung aja dek". Ujar Angga pada adiknya.


"Ya kan namanya juga kembaran bang". Ujar Indira pada abangnya.


"Heum iya deh gimana kamu aja dek". Ujar Angga pada adik kembarannya.


Pelajaran pun di mulai, betapa terkejutnya guru yang mengajar di kelas, saat melihat soal yang begitu susah dijawab dengan mudah oleh 6 orang siswa, selebihnya hanya benar beberapa soal.


"Kalian genius banget sih". Ujar guru tersebut pada mereka.


"Ibu ngomong ke siapa? ". Tanya Indira pada guru matematika didepannya.


"Tentu saja sama kalian berenam". Jawabnya membuat yang lainnya terkejut.


"Loh bukannya berlima kenapa jadi berenam bu??". tanya salah satu siswa padanya.


"Iyaa karena satu laginya adalah murid baru". Jawabnya membuat mereka semakin melongo.


"Wah daebak ,ternyata kamu genius juga ya". Ujar Indira pada Alina.


"Haha iyaa". Ujarnya sambil tertawa kecil.


"Btw kamu dulu sekolah dimana waktu SD?". Tanya Indira menatap Alina.


"Heum di--".

__ADS_1


"Udah jangan ngobrol". Ujar Angga memotong perkataan Alina membuat Indira kesal pada abangnya.


"Abang selalu aja memotong perkataan orang, nyebelin". Ujar Indira pada abangnya.


"Serah abanglah sayang". Ujar Angga dengan datar membuat Alina mengulum senyumnya.


Semua itu tak luput dari pandangan Marcello yang menatap Alina dengan tatapan sulit dimengerti, Satya yang melihat itupun menepuk pundak adiknya membuat Marcello menoleh pada abang kembarannya.


"Kenapa sih bang?". Tanya Marcello pada Satya.


"Ngapain sih natap dia kaya gitu banget?". Tanya Satya padanya.


"Ngga papa bang, lagi pula aku ngga natap dia". Jawabnya pada abangnya.


"Dih jangan bohong kamu". Ujar Satya pada Marcello.


"Ngapain aku bohong sih bang". Ujar Marcello pada abangnya.


"Yayaya terserah kamu". Ujar Satya pada adik kembarannya.


Beberapa jam kemudian terdengar bel istirahat berbunyi, Alina hendak berdiri namun dengan cepat ia duduk kembali saat merasakan sesuatu tembus dibelakangnya, membuatnya gelisah.


"Loh kenapa duduk lagi?". Tanya Indira menatap Alina.


"Heum ngga papa". Jawabnya dengan pelan.


"Ah jangan bilang kamu datang bulan yaa". Ujarnya pada Alina.


"Ish jangan kenceng kenceng ngomongnya". Ujar Alina pada Indira.


"Kenapa ngga ke kantin lo boncel?". Tanya Satya menatap Alina.


"Serah aku mau ke kantin apa engga, apa urusannya sama kamu". Jawabnya pada Satya.


"Ihh nyebelin ya lo lama kelamaan". Gerutu Satya menatap tajam pada Alina.


"Bodo amatt". Ujarnya membuat Angga tersenyum setipis mungkin mendengarnya.


Beberapa menit kemudian Indira datang dengan membawa kantong kresek berisi pembalut, ia langsung menarik jaket abangnya membuat Angga melotot melihatnya, apa apaan maksud adiknya itu.


"Ayok berdiri, biar aku yang tutupin pakai jaket abang". Ujar Indira pada Alina.


"Heum takutnya kotor". ujarnya dengan pelan pada Indira.


"Udah gapapa ih pake". Ujar Indira memaksa Alina memakai jaket abangnya.


"Ish dek, yang ada izin dulu sama yang punya, main ambil aja". Ujar Marcello pada adiknya.


"Ih ini tuh genting banget tau, jadi kalian gaboleh banyak omong". Ujar Indira pada para abangnya.


"Iyaadehh gimna kamu aja dek". Ujar Athara yang sedaritadi diam saja.


"Abang makasih ya". ujar Indira pada abangnya yang hanya diam menatapnya.


"Ayok Al, kita ke kamar mandii". Ajak Indira diangguki oleh Alina.

__ADS_1


Melihat kepergian mereka membuat Athara menghela nafasnya, para saudaranya menoleh pada Athara dengan tatapan penuh tanya, Athara langsung menjelaskan pada mereka tentang Alina yang terasa familiar untuknya.


"Jangan bilang kamu mau melihatnya karena Alina miirip sama Alena". Ujar Marcello pada kembarannya.


"Aku engga ada bilang Alina mirip sama Alena kan?". Tanya Athara dengan kesal pada Marcello.


"Heum iya juga ya, Athara emang ngga ada bilang kalau Alina mirip sama Alena". Ujar Satya sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Nah benerkan kata aku". Ujar Athara pada abangnya.


"Udah jangan ribut lagi, mendingan kita baca buku aja, bentar lagi ujiannyaa bu Santika". Ujar Angga pada mereka bertiga.


"Okee siap". Ujar ketiganya pada Angga.


Baru saja Angga hendak membaca buku PPKN, ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk membuatnya mengurungkan niatnya, ia melihat nama adiknya tertera di ponselnya.


Ting!


...Dira Adikku 🤗❤...


...Online...


Abangg help mee 😭


^^^Kamu kenapa? dimana? bilamg saMa abang^^^


Dira dikunciin di toilet abangg, Alina pingsan lihat darahnya sendiri, abangg tolongin Dira 😭😭😭


^^^Astaga, Jangan bilang dia phobia darah^^^


Kayanya bangg


^^^Tunggu, abang kesana^^^


Angga berlari membuat seluruhnya menatap Angga termasuk para saudaranya, tetapi Athara langsung menyusulnya begitupun kedua saudaranya, sesampainya Angga di toilet perempuan ia langsung menatap dengan tajam saat tulisan toilet rusak.


Sialan, berani sekalii yang berbuat begini pada adikku. Batin Angga merasa kesal.


"Diraa ,kamu ada didalem kan!!". Teriak Angga dari luar.


"Iyaa abangg Dira di dalem hiks hiks bantuin Dira, ini Alina pingsan gimana ini abangg". Ujarnya dengan terisak.


"Kamu mundur sayang, abang akan dobrak pintunya". Ujar Angga pada adiknya.


"Okee bangg". Ujar Indira pada abangnya.


Athara yang melihat itupun ikut mendobrak, hinggaa terlihat Alina yang pingsan di tahan oleh Indira, kejadian di hadapannya membuat Marcello dejavu saat Andira kecil kepalanya berdarah dan saat itulah Alena pingsan.


"Gamungkin dia Alena kan". Gumam Athara saat melihatnya.


"Cepat bawa Alina ke UKS abangg". Ujar Indira dengan terisak.


"Oke abang bawa ke UKS". Ujar Angga sambil menggendong tubuh Alina.


"Kenapa gue jadi khawatir gini". Gumam Angga sambil menatap wajah Alina dengan khawatir.

__ADS_1


__ADS_2