
Jam 10,10 menit...
Lima menit setelah Fadil dan Ulil pergi dari lokasi wisata Taman jodoh, Tiara dan rombongan sampai di depan warung bakso favorit para anak muda. Mata Tiara masih terus mencari keberadaan Fadil ditempat itu. Baik di area luar maupun di area dalam. Namun sampai beberapa lama dia tetap tidak menemukan sosok Fadil yang dia cari.
Lima menit sebelumnya Fadil dan Ulil telah beranjak pergi dari tempat itu. Dengan tanpa tujuan mau kemana dan mau apa , Fadil dan Ulil akhirnya sampai di kota Baturaja.
...----------------...
Baru saja Ulil menghela napas lega. Setelah menyadari kalau Fadil, dengan cekatan mampu membaca situasi saat kondisi kritis tersebut, serta mengambil langkah yang tepat. Sehingga mereka dapat menghindar dari kecelakaan yang akan mengambil nyawa mereka.
Namun tiba-tiba, tepat dijalan yang menikung itu, dua ekor anjing yang sedang berkejar-kejaran berlari ketengah jalan. Sehingga menghalangi jalan dari kendaraan yang sedang dinaiki oleh Fadil, yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Spontan Fadil mengerem mendadak.
Sopir mobil truk yang ada dibelakangnya, juga ikut mengerem secara tiba-tiba. Kemudian membanting stir kearah kiri, menghindari motor Fadil yang ada didepannya. Suara decitan dari ban yang bergesekan dengan jalan aspal terdengar, dan meninggalkan jejak garis di badan jalan aspal yang begitu panjang.
Hampir saja motor yang dikendarai Fadil akan jatuh, dengan kecepatan seperti itu, akan sangat sulit untuk bisa mengimbanginya agar tidak terjatuh. Namun ternyata, Fadil masih bisa menguasai motornya sehingga meskipun dengan terseok seok, tapi motornya tetap berdiri dan berjalan diatas jalanan itu.
Pada saat yang bersamaan, dari arah yang berlawanan, sebuah mobil Fortuner juga melaju dengan kecepatan tinggi, lalu dengan tiba-tiba mengerem. Meninggalkan jejak ban, dan suara decitan yang cukup keras terdengar ditelinga. Meski sudah mencoba menghentikan mobilnya dengan sebisa mungkin, tetapi kenyataanya, mobil Fortuner itu masih tetap melaju. Pengemudinya kemudian membanting setir kearah kanan menghindari dua ekor anjing yang ada didepannya. Namun didepannya, ada sebuah motor yang sedang dikendarai oleh Fadil, yang juga tengah mencoba menstabilkan laju motornya, yang terseok-seok akibat mengerem secara tiba-tiba.
Pengemudi Fortuner mencoba membanting setir lagi kearah kiri, mencoba menghindari tabrakan dengan motor Fadil. Namun sayang, upayanya sudah terlambat. Tabrakan keras itu tak bisa dihindari. Tubuh Fadil langsung terpental, menabrak kaca depan mobil Fortuner itu dengan kerasnya.
Sementara Ulil yang masih mendekap tubuh Fadil, juga ikut terpental. Dia jatuh kearah sisi mobil Fortuner, terseret dan berguling-guling ditengah-tengah jalan. Mobil Fortuner itu baru berhenti, sesaat setelah menabrak tugu batu pembatas yang ada di bahu jalan, yang merupakan penahan gundukan tanah dari rel kereta api yang ada diatasnya.
'' Duk.''
Tubuh Fadil terlempar jatuh dari atas kap mobil Fortuner, lalu tubuhnya menghantam keras tugu batu pembatas itu, lalu terguling-guling di tanah beberapa kali. Sesaat setelah itu, Fadil dengan terhuyung-huyung bangkit berdiri memandangi sekelilingnya.
Dia melihat motornya yang berada dibawah mobil Fortuner, hanya terlihat ban belakangnya saja yang masih terus berputar. Kemudian matanya terus mencari dimana keberadaan Ulil sahabatnya. Akhirnya menemukan tubuh Ulil yang tergeletak ditengah-tengah jalan, 10 meter dari keberadaan dirinya.
'' Prooont.., prooont.., prooont...''
Suara klakson mobil bus Lintas Sumatera, sedang melaju dari arah belakangnya. Fadil dengan secepat dan sekuat tenaganya, berlari menyambar tubuh Ulil. kemudian menggendong dan membawanya ketepi jalan.
'' wussh.''
Bus Lintas Sumatera itu langsung berlalu, meskipun sudah mengurangi kecepatannya, namun kenyataanya laju mobil bus tersebut juga tak bisa dikatakan lambat. Andai tubuh Ulil tidak segera dibawa oleh Fadil ketepi jalan, pastinya Ulil akan terlindas oleh mobil bus tersebut.
Setelah menyelamatkan dan membawa tubuh Ulil ke tepi jalan, tiba-tiba Fadil terbatuk. Darah segar menyembur dari mulutnya.
__ADS_1
'' Brukk.''
Tubuh Fadil lunglai, dia pingsan tak sadarkan diri. Ulil yang masih dalam kondisi trauma, tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Yang dia tahu, tiba-tiba dirinya sudah berada dalam gendongan Fadil, kemudian jatuh menimpa tubuh Fadil yang telah pingsan dibawahnya.
Tidak berapa lama kemudian, tempat itu telah ramai dengan orang-orang. Sopir mobil truk dan beberapa orang masyarakat sekitar, mencoba membantu mengeluarkan pengemudi mobil Fortuner yang masih pingsan didalam mobilnya. Setelah membawa pengemudi Fortuner itu ke tempat aman, tiba-tiba seseorang berteriak:
'' Awas.., lari..''
Sambil mengatakan itu, orang tersebut memberi isyarat kepada orang-orang yang masih ada disekitar mobil Fortuner itu. Seketika orang-orang segera menjauhi mobil tersebut. Lalu..
'' Boom.., boom..''
Mobil Fortuner itu meledak, dan apinya langsung membesar. Motor Fadil yang ada dibawah mobil itu, juga ikut terbakar dan meledak. Beberapa saat kemudian, dua mobil ambulan, polisi, dan mobil pemadam kebakaran datang. Polisi segera mengamankan lokasi tersebut.
Ulil dan Fadil yang masih pingsan, dibawa oleh satu mobil ambulan, sementara pengemudi mobil Fortuner, yang juga masih pingsan itu, telah dibawa terlebih dahulu oleh mobil ambulan yang satunya.
Didalam mobil ambulan, Ulil yang sudah mendapatkan pertolongan dan masih dalam keadaan sadar, dia duduk di sisi Fadil yang tergeletak dalam tandu,dengan ditemani oleh petugas medis. Ulil menatap sedih wajah Fadil yang tampak pucat. Wajahnya tertutup alat bantu pernapasan yang terhubung dengan tabung oksigen. Disudut mulut dan hidungnya masih mengalir darah segar.
Saat tabrakan itu terjadi, Ulil yang baru saja membuka kembali matanya, saat menyadari bahwa dirinya sudah terlepas dari pegangannya di tubuh Fadil dan akan terjatuh. Sebelum tubuhnya terbanting di jalan aspal itu, Ulil yang memang pandai ilmu bela diri, dia sempat melakukan gerakan salto dan roll up beberapa kali, untuk menghindari benturan langsung dengan permukaan aspal.
Namun, karena saking kerasnya dia jatuh dan terhempas, diapun masih sempat terseret dan bergulingan diatas permukaan aspal tersebut. Namun begitu, dia masih beruntung karena tidak mendapatkan cedera yang serius. Hanya saja karena gesekan dengan permukaan aspal itu, membuat sebagian tangan, kaki, dan wajahnya mengalami luka luar yang cukup memprihatinkan.
'' Lil.., ma..afkan a..ku, mem.. bu..atmu se.. perti ini!''
Fadil dengan terbata-bata, kemudian dia terbatuk. Saat terbatuk, darah ikut menyembur dari mulutnya.
'' Sudah mas Fadil, jangan banyak bicara dulu, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, dokter akan menyembuhkanmu mas Fadil.''
Ulil melihat Fadil merasa tidak tega, matanya meneteskan air mata.
'' Lil.., sam.. pai.. kan..ma.. afku, pa.. da.. ibuku.., bu... ma.. afkan... Fa.. dil.. bu..!''
Fadil masih terus berkata, lalu kembali terbatuk. Ulil menyeka darah darah dari mulut dan hidung Fadil dengan tisu.
'' Mas Fadil, sudah, jangan bicara lagi.''
Fadil kemudian mengalihkan pandangannya dari Ulil, menatap langit-langit mobil itu dengan tatapan kosong.
__ADS_1
'' Ti.. a..ra..!''
'' La... ilahaillAllah, Muhammadurrosulullah.''
Fadil mengucapkan dua kalimat syahadat itu dengan fasih dan lancar. Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, mata Fadil terpejam lalu diam tak bergerak sama sekali.Tangannya yang tadi menggenggam tangan Ulil, kini terkulai lemas dan perlahan mulai dingin.
'' Mas Fadil, mas Fadil.."
Ulil merasakan perubahan dari tubuh Fadil, dia terus memanggil-manggil Fadil, sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. Namun Fadil tetap saja diam, diam, dan diam.
Petugas medis yang ada di samping Fadil segera memeriksanya, mengetahui kalau Fadil tak lagi bernafas, dia memasang kembali alat bantu pernapasan itu, kemudian menekan nekan beberapa kali dada Fadil, berupaya agar jantung Fadil kembali berdetak. Namun, meskipun sudah berusaha berulang kali melakukannya, tubuh Fadil tetap tidak ada perubahan. Hanya setiap kali dadanya ditekan, darah keluar dari mulut Fadil.
Setelah memeriksa denyut nadi dan juga jantung Fadil, petugas medis itu lalu melepaskan alat bantu pernapasan dari tubuh Fadil. Kemudian memandang Ulil yang masih termangu, kemudian berkata lirih :
'' Dia sudah pergi.''
Ulil terkejut tak percaya memandang petugas medis itu, lalu bertanya:
'' Ma.. Maksudnya?"
'' Dia sudah meninggal!, yang sabar mas ya!''
Petugas medis itu sambil menepuk nepuk bahu Ulil.
'' Apa? Meninggal? tidak tidak,tolong pak!, selamatkan dia, selamatkan temanku ini pak!''
Ulil masih belum dapat menerima, jika Fadil sahabatnya itu telah meninggal.
'' Mas Fadil, bangun mas..,tolong bangun!''
Ulil terus mengguncang tubuh Fadil sambil terus memanggil-manggil namanya. Sambil terisak dia tak henti-hentinya mencoba membangunkan Fadil.
'' Mas Fadil.., bangun mas, jangan pergi mas Fadil, kalau mas Fadil pergi!, bagaimana nanti dengan Tiara mas Fadil? Tiara pasti akan sangat sedih, apa mas Fadil tega, membiarkan Tiara sedih tanpa mas Fadil?''
Ulil tahu kalau Fadil sangat mencintai Tiara, maka itu Ulil sengaja menyebut nama Tiara agar Fadil dapat kembali bangun.
'' Mas, sudahlah!, dia benar-benar sudah pergi, ikhlaskan saja kepergianya, biarkan dia pergi dengan tenang!"
__ADS_1
Petugas medis itu membujuk Ulil, yang masih berusaha membangunkan Fadil, yang sudah tak dapat lagi bergerak. Ruhnya sudah pergi meninggalkan jasadnya, dan tak mungkin akan kembali lagi. Sudah merupakan suratan takdir dari-Nya, bahwa hari ini, adalah hari terakhir kontrak hidupnya di dunia ini. Ulil terdiam, lalu memeluk erat jasad Fadil dengan penuh rasa sedih yang mendalam.
...****************...