
Dalam perjalanan menuju rumah Zulkifli, Fadil melihat Yanto dan Iwan sedang berboncengan naik motor dan akan berpapasan dengannya. Tiba-tiba, Fadil mengeluarkan tangannya keluar dari kaca mobil yang terbuka. Diantara jemari tangannya, terselip sebatang rokok yang tadi masih dihisapnya. Fadil kemudian menjentikkan jemarinya.
'' Tiuu...''
Saat Fadil menjentikkan jarinya tersebut, rokok yang ada di tangannya melesat bak peluru yang terlepas dari selongsongnya. Dari jarak 30 meter, rokok tersebut langsung menancap pada ban depan motor yang sedang dikendarai oleh Yanto dan Iwan.
'' Duarr''
Tiba-tiba ban depan motor Yanto meledak. Tak ayal lagi, Yanto yang sedang mengendarai motor tersebut terkejut dan tidak bisa menguasai laju kendaraannya. Meski tidak dalam kecepatan yang tinggi, namun motornya menjadi oleng akibat pecahnya ban depan tersebut. Yanto tidak bisa menguasai laju kendaraannya, sehingga motornya langsung nyungsep di semak-semak pinggir jalan.
'' Bruk''
Yanto dan Iwan jatuh tersungkur di semak-semak bersama motor yang mereka kendarai. Alhasil, meskipun mereka tidak cedera, namun pakaian dan penampilan mereka menjadi acak-acakan. Fadil dan Ulil yang melihat mereka seperti itu, langsung terkekeh. Setelah berada tepat didepan mereka, Fadil segera menghentikan mobilnya.
'' Bro! ngapain disitu? kalau mau tiduran, mendingan dirumah aja. Jangan di semak-semak, nanti pada gatel lho!'' celoteh Fadil sambil terkekeh.
Melihat ada orang yang menertawainya, Yanto serasa ingin marah. Namun, saat tahu bahwa yang menertawainya adalah Alan, orang yang mirip dengan Fadil, dia malah terbengong. Kata-kata umpatan yang akan dia ucapkan, kini jadi tertahan dan tak bisa dia ucapkan.
'' K kamu, masih..?'' ujar Yanto tidak meneruskan ucapannya.
'' Masih apa? masih hidup!'' jawab Fadil yang langsung mengerti apa yang akan dikatakan oleh Yanto.
'' Oh iya bro! itu, ente ditunggu sama Mbah Tiwon. Katanya ente kudu cepat kesana. Kalau tidak! siap-siap aja ente bakal di santetnya.'' ucap Fadil kemudian kembali membawa mobilnya, meninggalkan Yanto dan Iwan yang semakin terbengong mendengar perkataan Fadil.
'' Wan, kok dia bisa tahu tentang mbah Tiwon ya! terus, kenapa dia seperti tidak mengalami apapun? Bukannya mbah Tiwon bilang! kalau tadi malam dia akan melakukan sesuatu kepada dia?'' ujar Yanto terheran heran.
'' Iya ya! aku juga heran. Bukannya semua orang tahu, siapa dan bagaimana mbah Tiwon itu?'' jawab Iwan juga penuh keheranan.
'' Ya udah wan! sebaiknya kita ketempat mbah Tiwon secepatnya. Biar kita tanyakan sekalian, kenapa orang tadi masih baik-baik saja? Apa mungkin mbah Tiwon masih belum melakukan tugasnya, atau bagaimana? sebaiknya kita tanyakan sama dia!''
'' Oke bos! tapi.. bagaimana kita kesana? bukannya motor bos...?'' ucap Iwan sambil menunjuk kearah ban motor Yanto yang kempes tersebut.
'' Ya mau gimana lagi wan! kamu dorong tuh motor ke bengkel. Biar aku hubungi papaku, buat nganter kita ke tempat mbah Tiwon.'' jawab Yanto, meninggalkan Iwan yang dengan susah payah mencoba membawa motor Yanto naik ke jalan.
Yanto yang bertujuan ingin mencari kabar bagaimana hasil dari kerja mbah Tiwon, kini dia merasa kecewa setelah melihat targetnya baik-baik saja. Dia kemudian menghubungi orang tuanya, dan melaporkan kondisi dan situasi yang dilihatnya. Tak berapa lama kemudian, pak Romli datang membawa mobilnya. Mereka kemudian pergi ke tempat mbah Tiwon, setelah menitipkan motor dibengkel terdekat.
Dalam perjalanan, Yanto kembali menceritakan bagaimana dia melihat Alan yang tampak baik-baik saja. Baik Yanto, Iwan, maupun pak Romli, mereka masih belum mengetahui kalau sekarang Alan adalah Fadil. Andai saja Iwan tahu, jika sekarang yang ada didalam tubuh Alan adalah Fadil, mungkin dia akan sedikit mengerti, kenapa Alan sampai detik ini masih terlihat baik-baik saja.
Dia sendiri pernah dekat dengan Fadil, dan sedikit mengetahui akan kemampuan yang dimiliki oleh Fadil. Maka dari itu, saat dulu Fadil belum meninggal karena kecelakaan, dia sama sekali tidak berani mengusik Fadil saat Fadil dekat dengan Tiara.
Ketika mereka telah sampai dikediaman mbah Tiwon, mereka langsung disambut oleh mbah Tiwon dengan tatapan kebencian. Sehingga, Yanto yang ingin bertanya atas ketidakpuasannya terhadap kinerja mbah Tiwon, kini dia merasa ketakutan dibuatnya.
__ADS_1
'' B*****t kalian! Kenapa kalian tidak bilang dari awal, tentang siapa orang yang ingin kalian singkirkan!'' ucap mbah Tiwon penuh kebencian.
'' Maaf mbah! apa maksud mbah berkata seperti itu? bukannya kemarin mbah bilang sanggup untuk melakukannya? dan juga, mbah sendiri sudah menerima bayaran dari kami!'' jawab Yanto dengan ketakutan melihat tatapan mbah Tiwon.
'' Iya memang! tadinya aku sanggup. Tapi, itu karena kalian tidak bilang seperti apa orangnya. Pokoknya, sekarang saya minta bayaran 3 kali lipat dari perjanjian semula.''
'' Kalau tidak! aku akan melepaskan dia untuk menghabisi kalian semua!'' ancam mbah Tiwon sambil menunjuk kearah Banaspati dan membuka tirai yang menutupinya.
Saat tirai yang menutupi Banaspati itu terbuka, Yanto, pak Romli, juga Iwan, langsung bergidik ketakutan. Bahkan mbah Tiwon sendiri, sebenarnya merasa khawatir. Kalau-kalau, cahaya biru yang mengurung dan mengikat tubuh Banaspati tersebut telah hilang. Karena mbah Tiwon sendiri, saat ini sudah tidak memiliki kemampuan apapun untuk menghadapi Banaspati. Namun, dia tidak ingin hal itu diketahui oleh orang lain. Karena jika hal itu sampai diketahui oleh Yanto dan yang lainnya, tentunya dia tidak akan bisa meminta ganti rugi atas kemampuan dirinya yang telah dihilangkan oleh Nur Alim dan Fadil tadi malam.
'' Bagaimana? apa kalian mau jadi santapan mahluk itu, atau kalian bayar seperti yang saya katakan!'' ancam mbah Tiwon lagi, lalu segera menutup tirai tersebut.
Melihat bagaimana wujud dari mahluk tadi, ditambah ancaman dari mbah Tiwon, Yanto dan juga lainnya tidak berani menolak permintaan mbah Tiwon. Meski dengan berat hati, pak Romli dengan terpaksa mengiyakan permintaan dari mbah Tiwon.
'' Baguslah kalau kalian mau mengikuti perkataanku, ingat! mulai saat ini dan kedepannya, kalian jangan pernah datang lagi kemari.'' ujar mbah Tiwon setelah menerima beberapa gepok uang dari pak Romli.
'' Tapi.. Bagaimana dengan...'' ucap Yanto yang masih belum puas kepada Mbah Tiwon.
'' Sudah! gak usah banyak tapi tapian segala. Atau kamu mau saya jadikan korban untuk mahluk itu!'' segera mbah Tiwon memotong perkataan Yanto.
'' Baik-baik mbah! maafkan ucapan anak saya mbah!'' jawab pak Romli segera, karena merasa khawatir mbah Tiwon benar-benar melakukan apa yang tadi dia ucapkan.
Tidak berapa lama kemudian, mereka segera pergi meninggalkan kediaman mbah Tiwon. Di dalam perjalanan, pak Romli sempat memarahi Yanto karena rasa kesalnya terhadap Mbah Tiwon yang tidak sempat tersalurkan.
Ditempat lain. Fadil usai meninggalkan tempat, dimana Yanto dan Iwan masih kebingungan atas perkataan Fadil yang mengetahui rahasia mereka, Dia langsung menuju kediaman Zul.
Begitu Zul melihat mobil yang dibawa oleh Fadil, Zul langsung keluar rumah menyambut kedatangan mereka. Dengan wajah sumringah dan senyum penuh rasa senang, Zul segera mengajak Fadil dan yang lainnya untuk segera masuk kedalam rumah.
'' Ayo kang, mbak! silahkan duduk!'' ucap Zul mempersilahkan tamunya saat berada diruang tamu.
'' Iya kang, makasih!'' jawab Fadil diikuti Ulil, Tiara dan Rina, segera duduk di kursi yang ada didalam ruangan tersebut.
'' Kok sepi kang Zul, bapak sama ibu lagi pada kemana?'' tanya Fadil yang tidak melihat keberadaan orang tua Zul dan adik-adiknya.
'' Oh.. anu kang. Bapak sama ibu, lagi silaturahim ketempat saudara. Kalau adik-adik saya, lagi jalan-jalan sama teman-temannya. Paling nanti sore, mereka baru pulang.'' jawab Zul yang kemudian pergi kebelakang untuk membuat minuman.
Tak lama kemudian, Zul muncul lagi sambil membawa teh hangat untuk mereka semua. Setelah menghidangkan minuman hangat tersebut, Zul lalu duduk bersama mereka.
'' Monggo diminum dan dicicipi kuenya! cuma ya maaf, adanya cuman kayak gini aja dan inipun sudah tinggal sisa.'' Zul sambil membuka tutup toples yang berisi kue-kue lebaran.
'' Iya kang Zul, maaf nih malah ngerepotin.'' ujar Fadil, lalu meminum teh hangat buatan Zul.
__ADS_1
'' Ngerepotin apa tho kang! wong cuma air minum saja kok!''
'' Oh iya, ini kang siapa ya?'' tanya Zul melihat Ulil.
'' Ulil kang, temannya mas Fadil.'' jawab Ulil sembari meletakkan gelas setelah meminum teh buatan Zul.
'' Kalau yang itu, namanya mbak Rina kang Zul.'' ucap Fadil sambil menunjuk kearah Rina.
Zulkifli manggut-manggut, sekilas dia melihat kearah Rina. Rina tersenyum dan menganggukkan kepalanya, saat Zul melihat kearahnya. Sambil menikmati kue-kue lebaran yang ada, mereka terus mengobrol banyak hal. Hingga tanpa terasa, sudah lebih dari satu jam mereka berbincang-bincang.
'' Oh iya kang Zul, ngomong-ngomong! kapan kang Zul kembali ke pesantren dan melaksanakan akad nikahnya?'' tanya Fadil.
'' Ya maunya sih, sebelum pertengahan bulan Syawal ini kang. Soalnya Abah bilang! pengen acaranya dilaksanakan tanggal 15 bulan ini. Tapi...'' Zul merasa ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
'' Tapi apalagi sih kang? bukannya Abah sudah ngasih hari baik buat acara kalian!'' ucap Fadil memandang Zul penasaran.
'' Anu kang, maaf! Sebenarnya, keluarga saya masih terkendala sesuatu.'' jawab Zul terlihat agak kebingungan.
'' Apa kendalanya kang? coba kang Zul bilang! siapa tahu saya bisa sedikit membantu.'' ujar Fadil menawarkan bantuan.
'' Emm anu kang, maaf! Sebenarnya ini masalah internal keluarga kami. Saya juga sebenarnya ingin minta tolong sama sampeyan kang, tapi saya masih agak ragu dan kurang enak untuk menyampaikannya.'' ucap Zul masih ragu dan merasa tidak nyaman menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.
Melihat hal tersebut, Fadil sedikit memahami apa yang membuat Zul tidak nyaman untuk menyampaikan maksudnya. Dia kemudian mengajak Zul untuk keluar dari ruangan tersebut, dan melanjutkan obrolannya di ruang belakang. Zulkifli kemudian menceritakan apa yang menjadi beban pikiran dirinya serta kedua orang tuanya.
Fadil manggut-manggut mendengar penuturan dari Zulkifli. Dia tersenyum memandang Zul, lalu dengan penuh wibawa, diapun berkata:
" Kang Zul, lihatlah saya! Saya memang bukan Alan, tapi tubuh ini miliknya. Saya juga punya ingatan dia. Saya juga tahu, kalau kang Zul ini bakal jadi wakilnya Abah, yang akan bekerjasama dalam proyek yang sedang dirintis oleh Alan. Kang Zul juga tahu sendiri kan! bagaimana keluarga Alan memperlakukan saya?''
'' Untuk itu kang Zul. Meskipun saya bukan Alan, tapi tolong! jangan anggap saya orang lain. Saya akan tetap bersikap kepada kang Zul, sama seperti sikap Alan kepada kang Zul. Jadi, kang Zul tidak perlu sungkan-sungkan ngomong sama saya, jika memang membutuhkan sesuatu kedepannya.'' Ujar Fadil memberikan penjelasan kepada Zulkifli.
Mendengar penuturan dari Fadil, Zul pun merasa terharu. Rasa segan kepada Fadil yang tadinya menyelimuti hatinya, kini berubah menjadi rasa dekat seperti kedekatannya bersama Alan. Fadil sambil menepuk-nepuk pundak Zul, dia kemudian berkata lagi:
'' Jadi, berapa yang kang Zul butuhkan untuk biaya lamaran, sekaligus biaya untuk adik-adik kang Zul?'' tanya Fadil kepada Zul.
Meskipun Abah Ubaid dan Ummi Hafsah telah berpesan kepada Zul, agar tidak perlu memberikan apapun sebagai seserahan untuk pernikahannya dengan Naila, namun bagaimanapun juga, Zul juga perlu menjaga image dirinya dan juga Abah Ubaid didepan masyarakat dan para santri Abah Ubaid. Apalagi, Abah Ubaid merupakan pengasuh dari pesantren yang cukup terkenal didaerahnya.
'' Ya sebelumnya saya mohon maaf kang, karena saya harus merepotkan kang Fadil. Namun saya juga kurang paham, kira-kira berapa pantasnya untuk masalah seserahan itu.'' ujar Zul kepada Fadil.
'' Ya udah kang! insyaallah besok saya akan kirimkan uangnya melalui transfer bank.'' ucap Fadil setelah menyimpan nomor rekening milik Zulkifli.
Setelah mereka berdua merasa cukup berbicara, Fadil dan Zul kemudian kembali ke ruangan bersama Ulil dan yang lainnya. Setengah jam kemudian, Fadil dan rombongan pamit kepada Zul untuk pulang.
__ADS_1
...****************...