Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Mendatangi Lelaki Tua


__ADS_3

'' Huaahmm.., Mama.. papa pulang..!'' ucap seorang lelaki gendut memanggil istrinya setelah membuka pintu dan menguap begitu lebarnya.


'' Baru pulang pak?''


'' lya nih, soalnya..Eh siapa kamu?'' tanya lelaki itu terkejut, setelah menyadari bahwa ada orang lain yang berada didalam ruangan itu.


'' Waah.. anaknya, cantik juga ya?'' ucap pemuda itu sambil melihat foto lelaki itu bersama seorang perempuan.


'' Wong edan! itu istri saya tau, malah dibilang anak. Anak saya itu tu! yang ada disebelahnya. Satu-satunya anak saya, laki-laki.'' ujar lelaki itu kesal.


'' Oh.. istrinya? kok gak pantes banget ya! yang satu muda dan cantik. Tapi yang satunya, udah tua, gendut, botak, nguapnya juga seperti Kebo lagi. Hii.. Pokoknya jelek banget lah!'' ledek pemuda itu, masih memandangi foto dan membelakangi lelaki tersebut.


'' Kurang Asin! itu namanya penghinaan tau!'' sahut lelaki itu makin kesal.


'' Penghinaan bagaimana? coba saja bapak berkaca! Apa bapak ini masih muda? tidak kan! Apa bapak juga bertubuh atletis? tidak juga kan! Apa rambut bapak juga lebat dan style? enggak juga tuh! Terus, darimana saya menghina bapak?'' tanya pemuda itu, masih tetap membelakangi lelaki tersebut.


'' Ya tapikan, tidak usah di katakan seperti itu. Apalagi, pake bilang nguapnya kayak Kebo lagi!''


'' Lho.. Bapak ini gimana sih? bukannya bapak tadi nguapnya seperti itu?''


'' Namanya orang nguap, dimana-mana ya seperti itulah! terus gimana lagi?'' ujar lelaki itu membela diri.


'' Hemm.. Bapak ini! masih tua, tapi susah di nasehatin!'' ujar pemuda itu.


'' Hey.. sudah tua tau! bukan masih tua! Benar-benar kurang asin kamu ya!'' ujarnya makin kesal.


'' Hhh... Akhirnya, ngaku sendiri kan kalau sudah tua! tadi dibilang sudah tua, nggak mau! hhh..''


'' Iya iya, saya sudah tua! tapikan biarpun sudah tua, saya punya banyak uang dan punya istri yang muda dan syantik! Ini membuktikan kalau saya masih punya daya tarik tersendiri.'' ujar lelaki itu masih tak mau kalah.


'' Hhh.. Daya tarik, daya tarik dari Hongkong! Istri bapak yang masih muda itu, dia cuma mau uang bapak saja. Dan tidak ada perasaan apapun terhadap bapak.'' ucap pemuda itu, sambil terus menatap foto-foto yang ada didinding rumah mewah tersebut.


'' Dan lagian, walaupun bapak punya banyak uang, tapi sayangnya uang tersebut diperoleh dari cara yang haram. Jadi, wajar saja kalau istri bapak juga nggak bener, orang suaminya juga sama. Suami istri, sama-sama doyan selingkuh. Jaman wis akhir..jaman wis akhir. ckckck...'' ucap pemuda itu sambil geleng-geleng.


'' Hey.. Bocah semprul! jangan sembarangan bicara ya! apa tidak tahu, fitnah itu lebih kejam dari membunuh. Istri saya itu, orangnya sangat setia. Mana mungkin dia selingkuh.''


'' Oh... jadi, karena menganggap fitnah itu lebih kejam dari membunuh, terus bapak seenaknya saja menyuruh orang untuk membunuh ya! pantesan, berkali-kali bapak menyuruh orang untuk membunuh saya.'' ucap pemuda tersebut.


'' Apa maksudmu? terus, siapa sih sebenarnya kamu, sampai saya mau membunuhmu segala? Lagian, apa buktinya kalau istri saya itu juga selingkuh? ma..mamaa..'' ucap lelaki itu jadi penasaran, lalu kembali memanggil-manggil istrinya.


'' He.. Dasar orang masih tua! di..''


'' Sudah tua, bukan masih tua! kamu ini, lagi-lagi bilang masih tua!'' ujarnya kembali sewot, dan langsung memotong perkataan pemuda tersebut.


'' Oh iya, sudah tua! tapi dikasih tau masih aja ngeyel.''


'' Sekarang ini, istri bapak tidak ada dirumah, dia lagi bersama pacarnya. Dan saat ini, dia dan pacarnya kena razia di hotel. Kalau tidak percaya, lihat aja berita di tv atau ponsel.'' perintah pemuda tersebut, kepada lelaki itu.

__ADS_1


Setelah berkali-kali memanggil istrinya namun tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya karena penasaran, diapun menyalakan TV. Entah suatu kebetulan ataupun apa, dalam tayangan TV tersebut, sedang berlangsung siaran secara live berita razia di hotel-hotel, untuk merazia masalah narkoba dan praktek prostitusi.


Secara kebetulan juga, kamera dalam tayangan tv tersebut, sedang menyorot pada seorang wanita dan laki-laki yang telah tertangkap basah melakukan perbuatan mesum. Karena wanita tersebut tidak mau diam dan terus berontak saat ditangkap oleh petugas, maka sensor kamera yang menutupi wajah wanita tersebut jadi tidak fokus. Sehingga, dengan begitu jelas wajah wanita itu menghiasi layar kaca.


Meskipun sudah begitu jelas kalau istrinya itu yang sedang ada disana, namun lelaki itu masih belum percaya jika istrinya tersebut memang selingkuh. Dia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi nomor istrinya. Tampak di layar kaca itu, wanita tersebut sibuk mencari ponselnya. Setelah ketemu, diapun segera mengangkat panggilan telepon dari suaminya itu.


'' Halo ma, kamu ada dimana?'' tanya lelaki tua itu.


'' Anu pa, tolong mama pa! Mama lagi di hotel sama temen-temen. Tapi para petugas ini malah memfitnah mama berbuat mesum. Tolong pa, bebasin mama pa!'' jawab istrinya tersebut.


'' Mama ngapain sih jam segini ada di hotel? dan temen mama itu, cewek apa cowok?'' tanya lelaki itu, masih menyelidik.


'' Mama lagi reunian pa, dan temen-temen mama semuanya cewek. Masa sama cowok! papakan tau mama itu setia sama papa.'' jawab istrinya mangkir.


Setelah melihat dan mendengar sendiri apa yang sedang disaksikannya, dan mengetahui kalau istrinya itu ternyata sudah berbohong, lelaki itupun segera menutup panggilannya. Dia dengan lemas kemudian duduk disofa. Dia benar-benar tidak menyangka, ternyata istrinya tersebut, sudah pandai membohongi dirinya.


'' Betulkan apa yang tadi saya katakan! Sudah dibilangin, masih aja ngeyel. Lagian, ngapain pura-pura sedih segala. Bukannya tadi, bapak juga habis bersenang-senang dengan wanita lain?'' ujar pemuda tersebut.


'' Ss.. Siapa sebenarnya kamu? kenapa bisa tahu apa yang kami lakukan?'' tanya lelaki itu, menatap punggung pemuda yang masih terus membelakanginya.


'' Saya? Bapak masih belum tahu siapa saya? Hhh... Bapak ini aneh banget ya! sudah sejak tadi kita ngobrol, tapi masih belum tahu siapa saya? huh dasar!" ucap pemuda tersebut, namun masih belum juga berbalik untuk menampakkan wajahnya didepan orang tua tersebut.


'' Oh iya, hampir lupa. Soal bagaimana saya bisa tahu apa yang kamu dan istrimu lakukan, bahkan juga apa yang sedang terjadi dengan anak laki-lakimu saat ini. Itu sangat mudah. Saya cukup melihat foto-foto itu, dan semuanya bisa saya ketahui. Bapak ngerti kan?'' Ucap pemuda itu sambil membalikkan badannya.


'' Han han, hantuu..!! ujar lelaki tua itu, saat melihat wajah pemuda tersebut.


'' Jangan mendekat! jangan makan saya! Saya masih tua, darah saya pahit!'' ujar orang tua itu sambil meringkuk disofa.


'' Sudah tua, bukan masih tua.'' ujar pemuda itu membalas ucapan orang tersebut yang selalu protes saat dibilang masih tua.


'' I iya masih tua, eh sudah tua maksud saya.'' ucapnya sambil terus menutupi mukanya, namun dia juga mengintip dari sela-sela jemarinya.


'' Hhh.. dasar orang tua sompret! baru melihat topeng seperti ini saja, takutnya udah setengah mati. Benar-benar tidak sesuai dengan kelakuanmu yang lebih hantu dari segala hantu.'' ujar pemuda itu, lalu melepas topeng yang menutupi wajahnya.


'' Tu Tut tuan muda Alan!'' ucap lelaki tua itu terkejut saat melihat kalau pemuda yang memakai topeng tadi adalah Fadil.


'' Kamu masih hidup? kenapa bisa datang kemari? darimana kamu bisa masuk ke rumah ini? dan..''


'' Stop stop stop! dasar semprul. Kalau bertanya itu, satu satu! jangan nyerocos aja kayak bebek. lama-lama, saya jitak juga botakmu! huh.. dasar!.'' ujar Fadil merasa kesal mendengar cerocosan orang tua tersebut.


'' Hoo.. jadi ternyata benar. Kamulah orang yang selalu mencoba untuk membunuh saya ya! kamulah orang yang ada dibalik semua ini. Baiklah! saya akan membuat kamu membayar semua ini.'' ujar Fadil.


'' Hhh... Rupanya nasibmu bagus juga anak muda. Meski sudah berkali-kali, tapi kamu selalu bisa selamat dari kematian. Tapi.. tidak mungkin untuk kali ini. hhh..'' sembari berkata, lelaki tua itu mengeluarkan sebuah pistol yang dia sembunyikan dibalik sofa yang dia duduki, lalu menodongkannya kearah Fadil.


'' Maksudmu, bisa selamat dari ini?'' ujar Fadil yang dengan secepat kilat, merebut pistol itu dari tangan lelaki itu.


Lelaki tua itu terkejut bukan kepalang. Baru saja dia menodongkan pistolnya kepada Fadil. Namun, entah bagaimana caranya, tiba-tiba pistol tersebut sudah berada ditangan Fadil dan menodongkan pistol itu kepadanya.

__ADS_1


'' Hah.. Jangan jangan! Ampun tuan muda. Jangan bunuh saya! saya cuma diperintah tuan muda. Ampuni saya! saya masih ingin hidup.'' pinta orang tua itu, sambil bersujud didepan Fadil.


'' Hemm... dasaar dasar. Tadi waktu pegang pistol, gayanya minta ampun. Giliran ditodong pistol, merengek-rengek seperti anak kecil. Enaknya, orang seperti kamu ini harus dib...''


'' Jangan tuan muda! saya jangan dibunuh. Saya mohon tuan muda, please!! Biarkan saya hidup, saya mau insyaf, ya kali ini saya mau bertobat tuan muda. Saya juga tidak akan lagi-lagi berurusan dengan tuan muda, suer! saya janji saya janji.'' rengek orang tua gendut itu tak henti-henti, karena mengira Fadil akan berkata padanya kalau dia harus dibunuh.


'' Haish... Siapaa lagi yang mau bunuh kamu pak! saya tadi cuma mau bilang, kalau orang seperti anda ini, harus dibuat sadar agar tidak menyesal sebelum terlambat.'' ujar Fadil, lalu meletakkan pistol itu diatas meja.


Setelah berkata dan meletakkan pistol tersebut diatas meja, Fadil lalu berjalan dan kembali melihat-lihat foto yang ada di dinding rumah tersebut. Begitu melihat Fadil telah meninggal pistol itu di atas meja, lelaki tua itu segera mengambil pistol itu dan mencoba untuk menembak Fadil.


'' klik klik klik''


Berkali-kali lelaki tua itu mencoba menarik pelatuk pistol tersebut, namun pistol miliknya tersebut ternyata sudah kosong tanpa peluru.


'' Hhh.. pak.. pak! dikira saya tidak tahu apa otak licik anda. Saya memang sengaja meletakkan pistol itu disana, supaya saya benar-benar yakin kalau anda ini beneran mau insyaf atau bohongan. Dan kini terbukti sudah, kalau anda itu cuma pura-pura agar saya tidak membunuh anda kan! '' ujar Fadil tanpa melihat ke arah orang tua tersebut.


'' Baiklah! karena sudah terbukti kalau anda ini suka berdusta, maka saya akan membuat anda menyesali segala yang telah anda lakukan selama ini.''


'' Tadi, anda sudah membuktikan sendiri kalau ucapan saya itu benar bukan? sekarang, anda juga akan melihat kembali kata-kata saya yang seperti tadi.''


Saat lelaki tua itu mencoba menembak Fadil dengan pistol miliknya itu, dia benar-benar merasa heran. Kenapa pistol miliknya itu sudah tidak lagi berpeluru. Padahal, dia tidak melihat sama sekali kalau Fadil telah mengeluarkan peluru-peluru tersebut, saat pistol itu berada ditangan Fadil.


Dan ketika Fadil berkata tadi, diapun masih tidak memahami apa yang menjadi maksud dari ucapan Fadil. Sehingga dia dengan angkuhnya berkata:


'' Hhh.. memangnya, apa yang bisa kamu lakukan dengan bicara seperti itu. Memangnya, saya bisa mati karena ucapanmu itu.'' ujar lelaki tua itu, sambil diam-diam mengambil peluru yang ada di laci meja tersebut, lalu mengisi kembali pistolnya yang telah kosong.


'' Oke, dengar baik-baik. Sebelum anda selesai mengisi kembali pistol itu dengan peluru, Anda akan menerima telpon dari seseorang. Dia akan memberitahu anda kalau anak laki-laki kebanggaan anda itu, akan dihukum mati karena mengedarkan narkoba.'' ucap Fadil yang kini sedang memandang foto anak lelaki orang tua tersebut.


Lelaki tua itu terkejut. Sejak tadi, Fadil tidak menoleh kearahnya sama sekali. Tapi, entah bagaimana bisa, dia mengetahui kalau dirinya diam-diam sedang mengisi peluru pistolnya tersebut.


'' Omong kosong. Teruslah membual! saya tidak akan percaya kalau ucapanmu itu benar akan terbukti.'' sahut lelaki tua itu sambil terus mengisi pistolnya dengan peluru.


Disaat hanya tinggal satu peluru lagi, tiba-tiba tangannya bergetar. Sehingga peluru yang dipegangnya jadi terjatuh dan menggelinding dilantai. Dia lalu membungkuk untuk mengambil peluru tersebut. Namun, baru saja dia akan membungkuk, tiba-tiba ponselnya berdering.


'' Halo! siapa ini? ada apa malam-malam begini menghubungi saya? a apa, akan dihukum mati? kamu jangan bercanda ya! Kenapa dia bisa ada di Saudi, bukannya dia sedang di Amerika?''


Lelaki tua itu begitu terkejut. Apa yang baru saja dikatakan oleh Fadil, kini benar-benar menjadi kenyataan. Memang, belum lagi dia selesai mengisi pistolnya dengan peluru. Kini dia mendapatkan kabar, kalau putra kesayangannya akan dihukum mati karena membawa narkoba dan tertangkap di Arab Saudi.


'' Apa yang telah kamu lakukan? kenapa ucapanmu tadi bisa jadi kenyataan seperti ini? siapa kamu sebenarnya?'' teriak lelaki tua itu dengan penuh emosi.


'' Dor..dor..dor..dor..dor..''


Lima peluru yang baru saja dia isikan pada pistolnya, langsung dia tembakkan kearah Fadil. Namun, sebelum dia menarik pelatuk pistol tersebut, Fadil menjentikkan jarinya sehingga lampu yang menggunakan sensor suara diruangan tersebut langsung padam.


Karena gelap, lelaki tua tersebut tidak mengetahui dimana posisi Fadil berada. Dia hanya asal menembak kearah tadi Fadil berdiri. Hingga pistol tersebut telah kehabisan peluru, Fadil kembali menjentikkan jarinya, membuat ruangan itu kembali terang.


'' Phissyuu...'' suara dari mulut Fadil menirukan suara tembakan dengan peredam, sambil mengarahkan jarinya di pelipis orang tua tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2