Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Tidak Bahagia


__ADS_3

Tiara dan Naila masih terkekeh, mereka lalu kembali memakai sepatu mereka yang tadi dilepas. Fadil dan Zul akhirnya merasa lega karena istri mereka tidak jadi melempar sepatu tersebut kepadanya.


'' Lil, kalau ente menikah nanti, sebisa mungkin cari yang udah jinak ya Lil. Kalau tidak, nasib ente kayak kita-kita ini.'' ujar Fadil sambil terkekeh melirik kearah Tiara dan Naila.


'' Bener tuh kang! saya yang sudah dua bulan menikah saja, masih belum bisa menjinakkan istri saya.'' sahut Zulkifli memberi dukungan kepada Fadil, dan ikut cengar-cengir.


Mendengar penuturan Fadil dan juga Zulkifli, Ulil ikut cengar-cengir. Dia sendiri belum pernah dekat dengan yang namanya cewek. Jadi, mana dia tahu kalau dibalik sifat lembut seorang wanita, terdapat pula sifat garang yang menakutkan bagi para suami.


'' Waah.. mbak Tiara. Ternyata, suami mbak ini sealiran dengan suami saya ya?'' ujar Naila.


'' Sealiran bagaimana maksud mbak?'' tanya Tiara kepada Naila.


'' Ya itu! Suka bercanda. Harusnya sih, suami yang seperti itu orangnya sangat romantis dan penuh perhatian. Hati-hati mbak! jangan sampai lepas! Nanti ada yang gaet lho!'' ujar Naila menasehati Tiara.


'' Oh.. kirain sealiran apaan?'' sahut Tiara mulai memahami maksud ucapan Naila.


Rupanya Naila bisa menyadari, kalau apa yang dikatakan oleh Fadil dan juga Zul suaminya, semuanya itu hanyalah candaan semata. Tiara-pun akhirnya paham dengan apa yang dimaksud oleh Naila. Meski dia sendiri tadi hanya main-main, tapi dia juga tidak menyangka kalau Naila hanya bercanda melakukan hal tersebut.


Tiara dan Naila lalu menghampiri Fadil dan Zulkifli. Keduanya juga dengan manja, bergelayutan pada lengan suaminya tersebut, sambil mengembangkan senyuman manis dari bibir mereka. Ulil yang hanya seorang diri menyaksikan kedua pasangan tersebut, dia jadi salah tingkah.


'' Mas Fadil, kang Zul! saya mau masuk dulu ya! mau Ashar-an dulu.'' ucapnya lalu pergi untuk mengambil air wudhu.


'' Tunggu kang! kita barengan aja sholatnya. Saya juga belum Ashar-an!'' sahut Zulkifli, lalu segera mengikuti Ulil bersama istrinya Naila.


Karena semua akan melaksanakan shalat, Fadil dan Tiara yang sudah melaksanakannya tadi, juga segera kembali ketempat ganti pakaian. Tak lama kemudian, mereka sudah kembali menemani para tamu di tenda. Beberapa tamu yang sedari tadi ingin melihat kedua pengantin, mereka segera mendekati Fadil dan Tiara untuk menyalami keduanya.


Beberapa teman-teman Fadil maupun Tiara, mereka tidak lupa meminta untuk berfoto bersamanya. Bahkan, beberapa tamu pejabat dan juga serombongan ibu-ibu, mereka tidak mau ketinggalan untuk ikut foto bersama kedua pengantin ini. Hingga menjelang magrib, kedua pasangan pengantin ini baru bisa kembali turun dari panggung, untuk melaksanakan shalat Maghrib dan santap malam.


Usai sholat dan santap malam, mereka kembali ke tenda. Hanya saja, kali ini mereka tidak lagi duduk diatas pelaminan. Melainkan duduk bersama para tamu disana. Saat malam hari, suasana disana semakin semarak. Berbagai macam lampu warna warni menghiasi tempat tersebut. Lampu-lampu besar dan terang, juga dipasang ditempat tersebut, sehingga suasananya jadi begitu penuh dengan cahaya.


Bukannya semakin surut, para tamu yang datang malah semakin banyak. Utamanya mereka para anak muda. Rupanya, mereka sengaja datang pada malam hari, untuk mencoba menikmati tempat wisata ini dalam nuansa malam yang memang belum pernah dilakukan. Langit yang cerah, bulan yang terang, dipadu dengan gemerlapnya lampu-lampu ditempat itu, semakin menambah suasananya jadi tambah romantis.


Dengan ditemani oleh Ulil, Zul, Naila dan juga Vita, Fadil dan Tiara jadi semakin semangat. Rasa lelahnya akibat duduk seharian diatas pelaminan seakan hilang. Bahkan, Nadia yang cukup akrab dengan Vita, dia tidak ingin pulang saat Sintya dan yang lainnya mengajak pulang ke Baturaja sebelum Maghrib tadi.


Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, penjagaan disana juga diperketat. Selain orang-orang yang dibawa oleh Hartono, puluhan keamanan setempat juga juga ikut diturunkan untuk menjaga lokasi tersebut. Untuk mencegah adanya bahaya dari hewan dan binatang liar, di sekeliling tempat itu juga telah dinetralisir. Sehingga bisa meminimalisir kemungkinan yang tidak diinginkan.


Setelah waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, barulah acara ditempat tersebut berakhir. Kedua pengantin dan rombongan keluarganya segera kembali ke rumah mereka. Fadil dan Tiara, mereka lalu memasuki kamar pengantin yang telah disediakan, saat mereka sudah sampai dikediaman pengantin wanita.


'' Alhamdulillah... Akhirnya.'' ujar Fadil sambil merebahkan diri ditepi peraduan.


'' Iya A, Alhamdulillah.. Akhirnya kita bisa istirahat.'' sahut Tiara, juga ikut rebahan disebelah Fadil sambil menarik napas panjang.


'' Tiara, bagaimana sekarang?''


'' Bagaimana apanya A?''


'' Perasaanmu, setelah akhirnya kita bisa menikah seperti sekarang ini?'' tanya Fadil sambil menatap langit-langit kamar yang telah dihias tersebut.


'' Ya bahagialah A, terus gimana lagi?'' jawab Tiara, juga menatap langit-langit kamar tersebut.


'' Kalau A Fadil, bagaimana?'' tanya Tiara sambil menoleh kearah Fadil.


'' Aku, tidak..!'' ucap Fadil belum selesai tiba-tiba dia tersedak.


'' Tidak! Tidak bagaimana maksudmu A?'' ucap Tiara kebingungan.


Hatinya jadi merasa tidak enak mendengar jawaban Fadil tersebut. Dia bangkit lalu duduk disisi pembaringan itu. Ditatapnya wajah Fadil dalam-dalam. Melihat ekspresi datar di wajah Fadil, Tiara merasakan sesuatu yang menyesakkan didalam dadanya.

__ADS_1


'' A, benarkah A Fadil tidak bahagia menikah dengan Tiara, benarkah A?'' tanya Tiara dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Fadil lalu menoleh kearah Tiara. Dia terkejut melihat mata Tiara yang mulai tergenang air mata. Fadil langsung bangkit dan duduk berhadapan dengan Tiara, dia lalu meraih kedua tangan Tiara dan berkata:


'' Tiara, maksudku aku bukan tidak bahagia menikah denganmu. Tapi maksudnya, perasaanku tidak beda dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Kamu jangan salah paham sayang!'' ujar Fadil, lalu mengusap air mata Tiara yang mulai menetes di kedua pipinya.


'' Tapi tadi, A Fadil bilang tidak!'' sahut Tiara memalingkan wajahnya dan mulai merajuk.


'' Sayang..! Kan tadi aku belum selesai ngomongnya!'' jawab Fadil.


'' Bo-ong! tadi wajah A Fadil juga gitu!''


'' Gitu gimana?'' tanya Fadil, lalu meraih dagu Tiara dan menghadapkan wajah Tiara kepadanya.


'' Ya gitu! keliatan serius ngomong TIDAK-nya!'' ujar Tiara kembali ingin memalingkan wajahnya, namun tertahan oleh tangan Fadil.


'' Tiara sayang..! Manisku, cintaku, belahan jiwaku. Aku tadi mau bilang, tidak beda dengan yang kamu rasakan, tapi aku tadi tersedak. Masa gitu aja langsung diambil hati!'' rayu Fadil sembari membelai wajah Tiara, lalu mencubit hidung Tiara.


'' Gak percaya, A Fadil pasti bo-ong!'' sahut Tiara sambil melepaskan tangan Fadil yang mencubit hidungnya tersebut.


'' Kalau kamu gak percaya, lihat saja mataku!'' ujar Fadil lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara, sambil tersenyum dan mengkedip-kedipkan matanya.


Melihat wajah Fadil dengan senyum khasnya, apalagi sambil mengedipkan matanya dengan genit seperti itu, Tiara tidak bisa menahan rasa geli dihatinya. Dia lalu terkekeh akibat ulah Fadil itu, lalu dengan gemas dia menggigit tangan Fadil hingga Fadil merasa kesakitan.


'' Aw aw aaw..'' teriak Fadil tertahan.


'' Rasain! salahnya suka usil!'' ucap Tiara setelah melepaskan gigitannya.


Meskipun wajah dan ucapan Tiara masih terlihat dan terdengar jutek, namun hatinya sudah kembali seperti semula. Dia akhirnya tahu, sebenarnya tadi Fadil tidak berniat berkata seperti itu. Hanya saja, dia terlalu baper mendengar ucapan Fadil tersebut.


Fadil yang merasa Tiara sudah tidak lagi merajuk, dia dengan gemas lalu menggelitiki pinggang Tiara. Tiara yang merasa geli, dia jadi tertawa kegelian dan terus berontak sambil mencoba menahan tangan Fadil. Karena Fadil tidak mau berhenti mencoba menggelitiki dirinya, Tiara langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Baik Fadil maupun Tiara, mulut mereka jadi terdiam. Dalam posisi yang tabu seperti ini, mereka tidak bisa berkata apa-apa. '' deg deg, deg deg, deg deg'' jantung keduanya jadi berdetak sangat kencang. Untuk pertama kalinya, baik Fadil maupun Tiara, mereka sedekat ini dengan lawan jenis. Tentu saja, hal ini jadi sesuatu yang sangat mendebarkan bagi keduanya.


Setelah beberapa saat tatapan mata keduanya saling bertemu, Tiara lalu menajamkan matanya dan pasrah dengan apapun yang akan terjadi padanya. Melihat Tiara sudah seperti itu, tanpa sadar Fadil juga ikut memejamkan matanya. Perlahan, wajahnya juga mulai mendekat pada wajah Tiara. Namun, sebelum bibir keduanya bertemu.


'' Tok tok tok.. Assalamualaikum. Kak Tiara, kak Fadil.'' terdengar suara Vita memanggil mereka.


Mendengar suara pintu diketuk dan suara Vita memanggil mereka. Fadil dan Tiara jadi terkejut. Mereka langsung bangkit dan segera membenahi posisi mereka. Hampir saja, kedua insan yang sedang dimabuk asmara ini terlena dan kelupaan, kalau pintu kamar mereka belum dikunci.


Beruntung, saat kepala Vita muncul dari balik pintu yang sedikit terbuka tersebut, mereka sudah dalam posisi yang aman. Kalau tidak, maka kejadian tempo hari saat Tiara terkejut dan melompat memeluk Fadil, akan terulang kembali. Bahkan, kali ini akan lebih parah lagi.


'' Wa'alaikumsalaam.. ada apa Vit? '' tanya Tiara sedikit gugup karena kejadian tadi.


'' Itu kak, ayah sama ibu nanya! Kadonya mau dibuka sekarang apa besok lagi?'' tanya Vita berdiri didepan pintu kamar mereka.


'' A, gimana? Mau buka kado sekarang apa nanti?'' tanya Tiara meminta persetujuan dari Fadil.


'' Emm.. Kalau aku sih, mending besok aja Tiara. Soalnya, sekarang aku capek banget. Terus, kasian juga sama kalian. Kado sebanyak itu, tidak mungkin selesai membukanya sampai pagi.'' jawab Fadil.


'' Tapi, kalau kalian maunya sekarang ya gak papa, cuma aku gak bisa bantu. Pengen istirahat!'' lanjutnya.


'' Emm Vit... Kamu bilang sama ayah dan ibu, kalau mau buka sekarang ya gak papa. Tapi kami tidak bisa bantu.'' ucap Tiara, mengulang apa yang barusan dikatakan oleh Fadil.


'' Ya udah. Nanti tak sampein sama ayah dan ibu seperti yang dikatakan oleh kakak.'' sahut Vita lalu pergi dan menutup pintu.


'' Huff... Hampir saja.'' ucap Fadil menarik napas lega.

__ADS_1


'' A Fadil sih.., pake gelitikin aku segala. Untung gak kebablasan.'' sahut Tiara.


'' Hee.. Untung apa nyesel...!'' goda Fadil.


'' Hey ditanya kok diam aja. Untung apa nyesel..!'' Ulang Fadil karena Tiara hanya diam tertunduk.


'' Ya... Dua-duanya kali.'' jawab Tiara malu malu, lalu mengambil bantal dan menutupi wajahnya dengan bantal tersebut.


Fadil terkekeh mendengar jawaban dari Tiara. Dari raut wajah Tiara, sepertinya Tiara agak sedikit kecewa karena adegan tadi terpotong oleh kehadiran Vita.


'' Hhh... Aku sudah menduga, kamu sepertinya agak kecewa ya!'' ujar Fadil.


'' Hee.. Emang A Fadil enggak?'' sahut Tiara sedikit mengintip dari bantal yang menutupi wajahnya.


'' Ngapain kecewa? kan masih banyak waktu! Tapi selain kamu, memang masih ada juga lho yang kecewa!'' ujar Fadil.


'' Ha.. Emangnya siapa A?'' tanya Tiara penasaran.


'' Kamu ingin tau, siapa lagi yang kecewa selain kamu!'' ucap Fadil semakin membuat penasaran Tiara.


Tiara mengangkat wajahnya, lalu mengangguk ingin mendengar jawaban dari Fadil. Fadil lalu menarik napas panjang, kemudian berkata:


'' Tuuh, yang lagi baca cerita ini. Mereka kan biasanya seneng banget tuh kalau sudah baca atau ngeliat yang begituan he..''


'' Hhh.. A Fadil sok tau ah! atau jangan-jangan, A Fadil emang udah pengalaman!'' ujar Tiara terkekeh.


'' Hhh... Enak aja! Aku tuh orangnya polos Tiara, juga masih tong tong!'' jawab Fadil mengelak prasangka Tiara.


'' Hhh.., tong tong! kayak burung aja tong tong. Mpreett..Hhh..'' Tiara semakin terkekeh sambil meledek Fadil.


'' Yah.. dibilangin gak percaya, ya udah!'' ujar Fadil pura-pura sewot.


'' Hhh.. iya iya A, Tiara percaya kok A Fadil orangnya polos. Tapi sayang, suka rese! Bikin orang panik aja!'' sahut Tiara lalu memasang muka jutek.


'' Itu namanya romantika kehidupan Tiara, biar hidup ada warnanya. Gak manyuun terus kayak cocor bebek.'' ujar Fadil sambil mencubit hidung Tiara dengan gemas.


'' Iih.. A Fadil kebiasaan ah! Suka banget sih nyubit hidungku! haeell..'' Tiara langsung menggigit ibu jari Fadil setelah melepaskan jari tersebut dari hidungnya.


'' Aw aw aw, sakit Tiara, lepasin! Liat! yang tadi aja masih terasa sakit. Malah kamu tambah lagi. Waah.. Bahaya nih! Selain suka nyubit, ternyata kamu punya kebiasaan baru!'' ucap Fadil sambil berpura-pura meringis menahan rasa sakit.


Tiara yang melihat Fadil meringis kesakitan, dia lalu meniup-niup dan mengecup ibu jari Fadil yang tadi dia gigit. Sebenarnya Tiara juga tahu, gigitannya kali ini tidak seperti yang tadi. Hanya saja dia juga ingin sedikit menunjukkan kasih sayangnya kepada orang yang sangat dia cintai tersebut.


'' Tiara! Yuk sekarang kita..'' bisik Fadil ditelinga Tiara.


'' Jangan sekarang A, nanti aja. Malu!'' sahut Tiara langsung memotong kata-kata Fadil.


'' Lho, kok malu sih! kenapa?''


'' A, mereka belum pada tidur. Masa kita gitu! Malu ah, nanti mereka dengar!'' jawab Tiara berbisik.


'' Ha.. Gitu apaan?'' tanya Fadil heran.


'' Ya..Gitu gitu..!'' jawab Tiara malu-malu.


Sebenarnya, saat Tiara memotong perkataannya tadi, Fadil sudah paham kemana arah perkataan Tiara. Namun, dia sengaja supaya Tiara lebih memperjelas lagi maksud perkataannya tersebut. Fadil jadi tersenyum memandang wajah Tiara. Dipandangi oleh Fadil seperti itu, wajah Tiara jadi memerah. Fadil lalu menarik tangan Tiara dengan lembut, lalu berkata:


'' Tiara sayang..! Maksudku, ayo sekarang kita ambil air wudhu, terus sholat isya. Kamu lupa ya, kita kan belum sempat menunaikan ibadah sholat isya! Bukannya aku mau ngajak kamu begituan sekarang!'' ucap Fadil menjelaskan, lalu terkekeh memandangi Tiara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2