Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Pergi Berdua


__ADS_3

Saat Fadil sampai dirumahnya, terdengar suara iqomah dari pengeras suara masjid yang ada disamping rumahnya tersebut. Dia segera memarkirkan mobil itu diteras rumahnya, dan segera beranjak ke masjid untuk ikut sholat berjamaah disana.


Usai menyempurnakan jumlah rokaat yang tadi sempat ketinggalan, Fadil kemudian ikut berdzikir dan berdoa bersama dengan para jamaah yang lain. Setelah selesai bersalam-salaman, diapun keluar diikuti oleh Alfin.


'' Fin, apa ibu masih didalam?'' tanya Fadil saat mereka telah berada di teras masjid.


'' Iya paman.'' jawab Alfin.


'' Coba Fin, kamu bilangin sama ibu, paman udah pulang dan menunggunya dirumah.'' pinta Fadil kepadanya.


Tadi pagi Alfin sudah mendengar, kalau hari ini Alan dan Fadil pamannya akan bertukar posisi. Jadi, dengan perasaan yang penuh dengan tanda tanya, dia ingin mengetahui kebenarannya dengan menanyakannya langsung kepada Fadil nanti dirumah. Untuk itu, Alfin dengan segera mengikuti permintaan Fadil, dan memberi tahu neneknya ibu Zaenab.


'' Fadil! akhirnya kamu benar-benar sudah kembali nak!'' seru ibu Zaenab saat telah berada didepan Fadil, yang sedang berdiri menunggu di teras rumahnya.


'' Iya Bu! maafkan Fadil karena sudah membuat ibu bersedih.'' Fadil langsung mencium tangan ibunya dan bersimpuh dihadapannya.


'' Bangunlah nak! mari kita masuk ke dalam.'' ucap ibu Zaenab sembari membelai rambut kepala anak bungsu kesayangannya tersebut.


Fadil segera berdiri dan berjalan bersama ibunya, dan juga Alfin yang mengikuti mereka untuk masuk kedalam rumah. Pertemuan kedua ibu dan anak ini begitu mengharukan. Didalam rumah tersebut, keduanya saling berpelukan melepaskan rasa rindu, setelah satu tahun lamanya tidak pernah lagi bertemu.


Meskipun Fadil saat ini berada didalam tubuh Alan, namun ibu Zaenab benar-benar merasakan kalau pemuda tampan yang kini berada didepannya itu adalah Fadil putranya sendiri. Alfinpun tak bisa menahan rasa haru dihatinya. Dia segera ikut memeluk paman kesayangannya tersebut, bersama ibu Zaenab neneknya.


Hingga beberapa saat lamanya, mereka bertiga baru melepaskan pelukannya.


'' Bu, maafkan Fadil ya bu!'' pinta Fadil tak bosan mengulangnya.


'' Sudah nak! ibu sudah memaafkanmu. Lagi pula semua ini mungkin sudah menjadi suratan takdir dari-Nya. Nak Alan, pemilik tubuh yang sekarang kamu gunakan ini, telah menceritakan semuanya pada ibu.''


Tak berapa lama kemudian, ketiganya telah duduk didepan meja makan untuk makan malam bersama. Setelah selesai makan dan adzan isya berkumandang, mereka lalu pergi ke masjid untuk sholat isya secara berjamaah. Hingga kemudian, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka setelah sepulang dari masjid.


...----------------...


Pagi itu begitu cerah. Semburat cahaya matahari pagi, muncul dari ufuk timur menembus disela-sela rimbunnya pepohonan. Pagi ini Fadil ingin menemui Tiara dan juga kedua orang tuanya. Setelah usai menyantap sarapan pagi bersama ibu dan Alfin keponakannya. Fadil kini memanaskan mesin mobilnya. Rencananya, hari ini dia ingin mengajak Tiara jalan-jalan, melanjutkan rencana tahun kemarin yang sempat tertunda. Sekaligus dia ingin mengajak Tiara mencari cincin kawin dan baju pengantin untuk mereka berdua.


Fadil yang kini menggunakan tubuh milik Alan yang berkulit putih itu, dia tampak semakin tampan dan elegan. Meski rupa keduanya hampir tidak ada perbedaan, namun status sosial Alan yang merupakan anak dari keluarga kaya raya dan terpandang dikota Jakarta, jelas sangat berbeda dengan tampilan Fadil yang hanya dari keluarga sederhana dikampungnya.


Namun begitu, meski sekarang Fadil sudah menjadi bagian dari keluarga konglomerat, bahkan akan menjadi penerus perusahaan Kusuma Wijaya group, yang merupakan salah satu dari nama perusahaan raksasa itu, dia masih tetap berpenampilan sederhana ( dalam tanda kutip tentunya ).

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Fadil sudah berada didalam mobil dan segera mengendarai mobil itu, menuju kediaman pak Syahroni. Tentunya, setelah dia berpamitan kepada ibunya terlebih dahulu. Selang beberapa menit, Fadil sudah memarkirkan mobilnya ditepi jalan didepan halaman rumah Tiara.


Melihat kedatangan Fadil yang baru turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya, pak Syahroni dan Bu Lilis segera bersiap menyambut Fadil diruang tamu. Tiara yang saat itu sedang berada didalam kamarnya, dia mengintip dari kaca jendela kamar tersebut. Ketika Tiara sedang asyik memperhatikan kedatangan Fadil, dari arah belakangnya muncul Vita dan Yunita yang mengejutkan Tiara.


'' Ehm ehm ehm!. Duuh.. yang hatinya lagi berbunga-bunga. Ngapain pake ngintip-ngintip segala? bentar lagi juga ketemu langsung.'' ujar Vita tiba-tiba.


'' Iih kamu tuh Vit ya! bikin kaget aja. Kalau masuk kamar orang tuh, salam kek! ketuk pintu kek! ini malah..'' ujar Tiara tidak melanjutkan kata-katanya.


Tiara lalu buru-buru menjauh dari jendela dan segera duduk diatas tempat tidurnya. Dia jadi salah tingkah karena dirinya kepergok oleh Vita dan Yunita, saat tadi sedang memperhatikan Fadil dari balik jendela kamar tersebut. Vita lalu mendekati jendela dan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Tiara.


'' Waah ternyata! mas Fadil kalau kulitnya putih seperti itu, kelihatan ganteng banget ya? ckckck.'' ujarnya sambil terus melihat Fadil dari sana.


'' Apaan sih kamu Vit?'' Tiara sambil menarik Vita.


'' Ih, kak Tiara ini pelit amat!. Orang cuma mau liat aja gak boleh! takut banget kalau mas Fadilnya aku ambil.'' celoteh Vita.


Mendengar Vita berkata seperti itu, Tiara lalu mencubit pinggang Vita. Entah karena cemburu atau apa, tapi dia memang tidak rela kalau ada wanita lain yang ingin mendekati Fadilnya.


'' Auw sakit, ampun kak ampun!'' teriak Vita yang merasa kesakitan akibat cubitan Tiara.


Yunita dan Vita lalu terkekeh, melihat Tiara yang terlihat begitu tidak rela jika kekasihnya tersebut diganggu. Namun, dalam hati keduanya juga ikut mengiyakan. Jika saja Fadil yang terlihat begitu tampan dan tajir tersebut bukanlah calon suami Tiara, mungkin mereka juga akan berusaha mendekatinya.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullaah.'' jawab pak Syahroni dan Bu Lilis berbarengan.


'' Mari masuk nak! ayo duduk duduk.'' ucap Bu Lilis dengan hangat menyambut kedatangan Fadil.


Semalam, Vita telah menceritakan semua kejadian yang dilihatnya mengenai Fadil dan keluarga Alan. Dia juga menceritakan bagaimana mereka telah mengganggap Fadil sebagai anak mereka sendiri. Serta bagaimana Sintya memperlakukan Tiara sebagai calon dari Fadil, hingga Sintya membelikan beberapa pakaian untuk mereka.


Bagi Bu Lilis dan pak Syahroni, mereka kini merasa bagai sedang ketiban bulan. Bagaimana tidak, selain Tiara anak mereka kini bisa kembali kepada kondisinya semula, mereka juga akan memiliki menantu yang bukan hanya baik dan tampan. Tetapi juga, calon menantunya tersebut telah menjadi orang yang sangat kaya.


Vitapun telah menceritakan kepada mereka, bahwa rumah dari pamannya yaitu Hartono, adalah rumah terbesar dan termewah yang ada di kota Baturaja. Sedangkan menurut yang dia dengar dari Nadia, kalau apa yang dimiliki oleh Hartono tersebut, itu hanya merupakan sebagian kecil dari kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya.


'' Bapak dan ibu, sebelumnya saya ucapkan selamat hari raya idul Fitri, minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.'' ucap Fadil kepada mereka.


'' Iya nak Fadil! Kami juga mengucapkan minal Aidin wal Faidzin. Mohon maaf kalau kami ada salah. Baik yang sengaja, ataupun yang tidak disengaja.'' ujar pak Syahroni.


'' Oh iya, bapak dan ibu!. Karena mama dan papa, serta kakek hari ini akan langsung balik ke Jakarta, mereka titip salam buat kalian. Mereka juga telah menyerahkan segala urusan tentang masalah pernikahan kepada saya. Untuk itulah, hari ini saya datang kemari.'' ujar Fadil menyampaikan tujuan kedatangannya.

__ADS_1


'' Iya nak! Tiara juga sudah mengatakan hal itu kepada kami tadi malam.'' jawab pak Syahroni, lalu diikuti oleh Bu lilis.


Mereka kemudian membicarakan masalah waktu, dan segala hal yang berkaitan dengan pernikahan Fadil dan Tiara. Tiara, Yunita dan Vita yang tadi masih berada didalam kamarpun, telah keluar dan bergabung bersama mereka. Dengan hati yang masih terus berdebar-debar saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Fadil, Tiara benar-benar dibuat salah tingkah. Apalagi Vita sesekali dengan sengaja berbuat iseng kepada Tiara.


Setelah beberapa saat, akhirnya merekapun telah bersama-sama menyepakati mengenai hari, waktu dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah tersebut. Tentu saja, seperti yang dipesankan oleh Sintya, seluruh biaya untuk pernikahan Fadil dan Tiara, semuanya akan ditanggung oleh Sintya. Sehingga keluarga pak Syahroni, tidak perlu memikirkan masalah tersebut.


Setelah merasa pembahasan masalah pernikahan itu dirasa cukup, Fadil kemudian melanjutkan hal yang menjadi tujuan keduanya datang kesini, yaitu ingin mengajak Tiara jalan.


'' Emm bapak, ibu, maaf! Kalau diijinkan hari ini saya ingin ngajak Tiara jalan? Saya ingin mengajak Tiara mencari cincin kawin dan juga pakaian untuk pernikahan kami nanti.'' ujar Fadil.


Bu Lilis menatap suaminya dan juga Tiara. Meskipun memang mereka perlu memilih pakaian dan cincin kawin, tapi Bu Lilis juga paham. Sebenarnya, Fadil ingin mengajak Tiara jalan itu karena mereka ingin mencari waktu untuk mereka bicara berdua. Karena rencana mereka yang dulu itu, sempat tertunda akibat kesalahan yang dilakukan oleh Yunita.


Karena permintaannya kepada pak Syahroni dan Bu Lilis belum mendapat jawaban, Fadil kemudian kembali berkata.


'' Kalian semua juga boleh ikut. Sekalian nanti, kalian juga bisa mencari pakaian buat kalian.'' lanjutnya.


Tiara dan Fadil sebenarnya sangat berharap, kalau kali ini mereka bisa pergi berdua. Namun, dia juga tidak mungkin untuk tidak menawarkan kepada mereka semua untuk ikut bersamanya.


'' Nak Fadil, kalau kamu memang mau ngajak Tiara jalan, dan juga mau mencari keperluan untuk pernikahan kalian nanti, ya udah kalian jalan aja. Kami lain kali saja ikutnya. Kan masih ada waktu lain hari. Tapi kalau Yunita dan Vita mau ikut, ya tentu lebih baik, biar kalian ada temanya.'' ujar pak Syahroni.


'' Bagaimana Yun, Vit? apa kalian mau ikut?'' tanya pak Syahroni.


Vita dan Yunita saling berpandangan. Mereka sebenarnya ingin ikut, namun ada rasa kurang enak dalam hati mereka. Mereka khawatir kalau kehadiran mereka nanti, akan mengganggu Tiara dan Fadil yang memang terlihat sedang ingin berduaan tersebut.


'' Kami juga nanti aja yah ikutnya, biar bareng sama kalian aja. Soalnya, hari ini teman-teman saya juga akan datang kemari. Kan tidak enak juga, kalau mereka pada datang sementara saya malah pergi.'' ujar Yunita membuat Alasan.


'' Kalau kamu Vit? apa kamu juga mau ikut?'' tanya Bu Lilis.


Melihat kalau yang lain tidak ada yang ikutan, Vita juga terpaksa memilih untuk tidak ikut. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin kalau nanti dia cuma jadi obat nyamuk bagi Fadil dan Tiara.


'' Vita juga nanti aja Bu ikutnya. Kan kemarin Vita baru saja jalan-jalan.'' ucap Vita membuat alasan.


'' Ya sudah! kalian berdua jalan saja. Tapi ingat! meskipun kalian sebentar lagi mau nikah, kami tetap tidak ingin mendengar, kalau kalian macam-macam.'' ucap pak Syahroni.


Karena sudah mendapatkan ijin dari kedua orang tua Tiara, Fadil dan Tiara akhirnya pergi berdua dengan membawa mobil menuju kota Baturaja. Namun, kepergian mereka kali ini bukan untuk pergi ke rumah Hartono, melainkan pergi ke toko emas dan butik yang terkenal disana, untuk memesan cincin dan pakaian yang akan mereka gunakan dihari pernikahan mereka.


catatan:

__ADS_1


Mohon maaf, berhubung beberapa hari ini situasi dan kondisinya tidak mendukung untuk author menulis, maka author jadi tidak bisa up tiap hari. 🙏🙏🙏


...****************...


__ADS_2