Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Balada di Pesantren


__ADS_3

Setelah apa yang disampaikan oleh Alan itu, baik Arya Wijaya ataupun yang lainnya, meskipun dengan berat hati, namun mereka juga tidak bisa menghalangi keinginan Alan untuk pergi ke pesantren.


Karena Alan juga merasa tidak lagi memiliki banyak waktu dan kesempatan, untuk melalui hari-harinya bersama mereka, Alanpun berjanji, akan sesering mungkin datang mengunjungi mereka, saat Alan sudah ke pesantren nanti.


'' Ma.., pa.., kakek.., dan juga kamu Nadia. Kalian tidak usah khawatir. Meskipun waktu yang Alan miliki untuk bersama kalian tidaklah banyak, tapi raga Alan ini, masih akan terus bisa bersama kalian. Sebab, hanya jiwa Alan saja yang nanti akan pergi, dan digantikan oleh pemilik mata dan organ dalam yang ada pada tubuh Alan.''


'' Kalian juga tidak perlu mengkhawatirkan seperti apa dia nanti. Karena Alan yakin, Fadil ini bukan orang biasa. Untuk itu, Alan minta kepada kalian. Apapun yang terjadi, tetaplah menyayangi diri Alan seperti kalian menyayangi Alan saat ini.''


'' Dan satu hal lagi kakek!. Alan yakin, segala keinginan dan cita-cita kakek, akan terwujud pada saatnya nanti.''


Hingga larut malam, Alan menghabiskan waktu bersama mereka. Bahkan Arya Wijaya juga menginap disana. Dua hari kemudian, Alan berpamitan untuk pergi belajar di pesantren Tahfidzul Qur'an, yang ada di daerah Kuningan Jawa Barat. Yang informasinya dia dapat dari internet.


Awalnya Sintya ingin ikut mengantarkan Alan ke pesantren itu. Namun Alan menolak. Dengan alasan, dia tidak ingin menimbulkan kesan anak mama yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya, seperti saat dulu dia sekolah. Hanya saja, Arya Wijaya meminta agar sopirnya mengantarkan Alan. Menanggapi permintaan dari Arya Wijaya, Alan tidak bisa menolak. Namun, Alan meminta supaya nanti cukup diantar sampai di kota, dan tidak perlu sampai ke pesantren. Karena memang letak pesantren itu, tidak jauh dari pusat keramaian kota tersebut.


Hari itu, Alan berangkat ke pesantren dengan diantar oleh sopir Arya Wijaya. Karena perjalanan itu ditempuh melalui jalan tol, maka waktu yang dibutuhkan juga tidak begitu lama. Hanya sekitar 5 jam, mobil yang dikendarai Alan sudah mulai memasuki kota Kuningan.


Sampai ditempat pangkalan ojek, Alan kemudian turun dan meminta kepada sopir itu, untuk segera kembali ke Jakarta. Dia kemudian menaiki ojek, menuju pesantren yang memang tak terlalu jauh dari sana. Sekitar 5 menit kemudian, Alan sudah sampai didepan pintu gerbang pesantren tersebut. Setelah membayar ongkos ojek, Alan kemudian berjalan menuju pintu gerbang pesantren itu. Seorang satpam segera menghampirinya.


'' Assalamualaikum.., ada yang bisa saya bantu?'' satpam itu langsung menyapanya, setelah membukakan pintu gerbang pesantren.


'' Wa'alaikumsalam warahmatullah, bisa saya bertemu dengan Abah Ubaid?'' Alan langsung menyatakan maksud dan tujuannya.


'' Sebentar mas ya!, mohon menunggu disini dulu.'' jawab satpam itu, sambil mempersilahkan Alan duduk di bangku yang ada didepan pos jaga itu.


Seorang pemuda kebetulan keluar dari dalam masjid, yang tak jauh dari posisi pos jaga tersebut.


'' Kang Zul kang Zul, tunggu sebentar!''


Satpam itu segera menghampiri pemuda tersebut, kemudian berbicara kepadanya. Saat mereka berbicara itu, pemuda yang dipanggil Zul, kemudian menoleh kearah Alan yang sedang duduk menunggu.Tak lama kemudian, satpam itu kembali menghampirinya bersama pemuda yang dipanggil Zul tersebut.


'' Assalamualaikum..'' sapa pemuda itu kepada Alan.


'' Wa'alaikumsalam warahmatullah.'' jawab Alan.


'' Dengan maas..?''


'' Alan kang.'' jawab Alan sambil menjabat tangan Zul, yang sudah mengulurkan tangannya terlebih dulu.


Meskipun masih agak canggung dengan sebutan '' kang'' ini, dia mengikuti seperti saat satpam tadi memanggil pemuda yang dipanggil Zul tersebut. Padahal dia melihat, kalau usia satpam itu lebih tua dari pemuda tersebut. Dalam hatinya dia merasa, mungkin panggilan itu sebagai bentuk sopan santun, yang diajarkan di pesantren ini.


'' Nama saya Zulkifli, panggil saja Zul.'' ucap pemuda itu saat keduanya masih berjabatan tangan.


'' Oh iya, ngomong-ngomong, kang Alan ini katanya mau ketemu Abah!, apa udah ada janji?'' tanya Zul kepada Alan, setelah dia duduk di kursi yang ada disebelah Alan.


'' Belum kang, saya cuma pengen minta ijin sama Abah, untuk ikut belajar di pesantren ini.'' ujar Alan.


'' Oh.. gitu, mohon maaf kang ya!. Kebetulan saat ini Abah sedang keluar, dan mungkin baru pulang nanti malam. Kalau boleh saya sarankan, lebih baik kang Alan besok pagi saja menemui Abah, biar nanti saya yang temenin.'' ucap Zul.


'' Betul kang, sekarang lebih baik kang Alan ikut dengan kang Zul ini saja. Kebetulan, kang Zul ini adalah kepala asrama putra di pesantren ini.'' ucap satpam itu ikut menimpali.


'' Kalau begitu, mari kang ikut saya!, biar saya tunjukkan kamar buat kang Alan.'' Zulkifli kemudian berdiri, lalu mengajak Alan untuk menunjukkan kamar yang akan dia tinggali, selama berada di pesantren tersebut.


'' Oh.., iya kang, baik baik!. Terima kasih dan maaf sebelumnya, karena sudah merepotkan kang Zul.''

__ADS_1


Alan berdiri sambil menggendong tas ransel yang dibawanya, kemudian berjalan dibelakang Zulkifli. Baru beberapa langkah mereka berjalan, saat satpam itu tengah menutup pintu gerbang. Sebuah mobil Innova dengan keras membunyikan klakson didepan pintu gerbang tersebut.


'' proont.. pront pront prooonntt ''


Satpam yang tidak menyadari kehadiran mobil itu sangat terkejut. Begitu juga dengan Zul dan Alan, yang baru saja akan beranjak dari tempat itu. Satpam yang melihat siapa yang ada didalam mobil itu, kemudian menoleh kearah Zulkifli.


'' Kang Zul..?''


Dengan tidak berdaya, akhirnya satpam itu meminta keputusan dari Zulkifli. Apakah dia harus membukakan pintu itu atau tidak?. Pada saat yang sama, penumpang di sebelah pengemudi itu membuka jendela mobil, lalu melemparkan sebungkus rokok kepada satpam itu.


'' Tinggal buka aja, ribet amat.Nih rokok!'' orang yang berada di mobil itu berkata dengan begitu arogan.


Zul yang melihat itu, hanya geleng-geleng kepala. Kemudian memberi isyarat kepada satpam tersebut untuk membukakan pintu. Setelah pintu itu terbuka, mobil itu segera masuk menuju asrama putra. Sejak kedatangan mobil itu, Alan terus memperhatikan. Namun, dia tidak berkata apapun. Zul kemudian berkata kepada Alan:


'' Kang.., kelak sebaiknya antum menjauhi orang seperti itu!''


'' Memangnya kenapa kang?'' tanya Alan.


'' Dia itu penyakit di pesantren ini kang!, tidak ada satupun yang menyukai dia kecuali genknya.Tapi tidak ada satu orangpun yang berani melawannya. Bahkan, Abah sendiri sepertinya tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapinya.'' Zul menarik nafas panjang mengingat masalah ini.


'' Emangnya dia itu siapa kang Zul?'' Alan sedikit penasaran.


'' Dia itu baru dua tahun nyantri disini kang, tapi kelakuannya sudah seperti raja saja. Mentang-mentang anak pak lurah, sekaligus juragan tanah ditempat ini, hampir segala aturan di pesantren ini semuanya telah dilanggar olehnya. Seperti yang barusan antum lihat. Peraturan ditempat ini, tidak memperbolehkan membawa kendaraan masuk ke area pesantren, kecuali tamunya Abah. Itupun hanya untuk sekitaran halaman kediaman Abah, dan tidak sampai di area asrama.''


'' Tapi sudahlah kang, mikirin dia cuma bikin dada nyesek aja! Mendingan kang Alan sebisa mungkin menjauhi dia.'' ucap Zul panjang lebar menjelaskan.


'' Mudah-mudahan, secepatnya ada orang yang bisa mengusir dia dari tempat ini ya kang?'' ucap Alan secara spontan.


'' Aamiin...'' jawab Zul sambil menengadahkan kedua telapak tangannya, kemudian mengusapkannya di wajahnya.


''Assalamu'alaikum..'' Zul ketika masuk kedalam kamar itu, menyapa beberapa santri yang sedang beristirahat.


'' Wa'alaikumussalaam warahmatullah..'' serempak keempat santri yang ada didalam kamar itu menjawab.


'' Akhi sekalian, ini ada sohib baru yang akan tinggal bersama kita dikamar ini. Perkenalkan, namanya kang Alan dari Jakarta.'' Zul kemudian mempersilahkan Alan untuk berkenalan dengan teman-temannya.


'' Alan, Alan, Alan, Alan.'' ucapnya ketika bersalaman dengan para santri penghuni kamar itu.


Sudah menjadi hal yang umum, saat tinggal di sebuah asrama, satu kamar berbagi dengan beberapa orang. Maka, setelah memberi tahu Alan, lokasi penyimpanan pakaian dan juga posisi tempat tidurnya, Zul kemudian berkata:


'' Akhi sekalian, sekarang kita sudah kembali komplit seperti dulu lagi. yaitu, menjadi PANDAWA ENAM. Setelah sebelumnya, salah satu dari kita sudah di culik oleh Srikandinya.'' Zul dengan penuh semangat, seperti sedang berceramah di depan para jamaah.


'' Tunggu tunggu!, kontruksi kang Zul.'' ucap salah seorang santri yang duduk disudut sambil mengangkat tangannya.


'' Sebentar!, apa itu maksudnya?'' Zul menoleh kepada temannya yang sedang mengangkat tangan tersebut.


'' Itu lho kang, semacam orang kalo mau protes gitu!.'' jawabnya.


'' Intruksi dodool, bukan kontruksi!, haish, udah salah, keras lagi ngomongnya.'' sahut santri disampingnya, sambil menepuk kening temannya yang sedang mengangkat tangan tersebut.


'' Oh.., sudah gantikah sekarang namanya?'' jawabnya sambil mengelus-elus keningnya.


'' Dari dulu emang gituuu.!!, serempak para santri yang lain berkata, sambil melemparkan kopiah mereka kearah santri yang duduk disudut tersebut, diikuti gelak tawa mereka.

__ADS_1


'' Aiyya.., teman kita yang satu ini, emang super ngeyel. Payah.., payah.'' ujar santri yang lain, setelah tawa mereka mereda, akibat pola tingkah temannya itu.


Alan yang menyaksikan kekonyolan mereka, juga tak bisa menahan rasa geli dihatinya. Walaupun tidak sampai terbahak-bahak seperti yang lain.


'' Ya terserahlah!, mau intruksi, mau kontruksi, pokoknya ana mau frotes!'' jawabnya setelah meletakkan bantal, yang digunakannya untuk menutupi wajahnya akibat serangan kopiah tadi.


'' Oke oke!, silahkan antum mau protes apa? ucap Zul kepadanya.


'' Baik, Afwan kang. Begini!. Setahu ana, dari semenjak ana belum lahir, sampai nanti ana punya istri empat, yang namanya Pandawa itu ya jumlahnya Lima kang Zul, bukan Enam. Jadi.., sejak kapan Pandawa itu berubah jadi enam?'' ujarnya dengan muka serius.


Belum lagi Zul menjawab pertanyaan itu, teman disebelahnya lebih dulu berkomentar.


'' Haish, cita-cita ente ketinggian dodool, muka pas-pasan, tukang ngeyel, mau punya istri empat? Emang!, ada wanita yang mau sama ente? Ane rasa, kambing aja bakalan nolak dilamar sama ente.'' hhhh..


Mendengar celotehan teman disebelahnya, santri yang berada disudut itu jadi cemberut. Melihat hal itu, Zul dan santri yang lain kembali terkekeh sambil memegangi perutnya.


'' Wah..!, kalian ini, pada gak suka dengan Sunnah Rasul ya? Hati-hati kalian, gak dapet Syafaat kanjeng nabi, baru nyesel..''


'' Aiyya.., makin payah aja nih orang. Pake ngancam segala lagi. Hei!, dengerin ya! kami ini bukan gak suka dengan Sunnah Rasul, tapi kami ini tahu diri, antara kemauan dan kemampuan itu, harus imbang.., iya gak kang Zul?''


Saat ditanya, Zul yang masih terpingkal hanya menganggukkan kepalanya, sambil mengacungkan jari jempolnya.


'' Terus lagi tak kasih tahu ya, Sunnah Rasul itu, bukan cuma soal punya istri lebih dari satu. Masih lebih banyak lagi Sunnah-Sunnah yang lain. Jadi, jangan berfikiran kalo cuma punya satu istri gak bisa dapet syafaat dari Kanjeng Nabi, paham gak ente?. Dan satu lagi nih.! Emang ente mampu apa kalo punya istri empat? Soalnya menurut pandangan ane, mungkin awalnya ente mamfu. Tap lama-lama ente bisa mamfus.'' hhhh...


'' Aduh.., kalian ini ya!, ana lagi serius juga. sungguh terlalu..'' ucapnya dengan nada kesal dan wajah cemberut.


'' Sudah sudah..! jangan dibully terus, kasian dia!'' ucap Zul sambil menahan tawanya.


'' Jadi antum belum tahu ya?1 sejak kapan jumlah personil Pandawa menjadi enam?'' Zul dengan muka serius.


'' Belumlah kang.., pasti kang Zul ini mengada-ada ya?'' jawabnya dengan rasa tidak percaya.


'' Beneran belum tahu..?''


'' Iya kang.''


'' Mau ana kasih tahu?''


'' Ihh.., kang Zul ini, kayaknya mulai ketularan mereka ya? kebanyakan muter muter, gak langsung to the point aja.''


Awalnya Zul mau langsung menjawab dan menjelaskan apa yang dia maksud dengan Pandawa enam, tapi ketika melihat bagaimana teman-temannya yang suka bercanda, akhirnya diapun terbawa suasana.


'' Begini. Dulu.., sebelum antum lahir memang jumlah personil Pandawa itu berjumlah lima. Tapi sekarang, jumlahnya sudah berubah menjadi enam. Itu terjadi sejak.., sejak..''


Melihat muka Zul yang begitu serius saat berbicara, seluruh orang yang ada didalam kamar itupun ikut mendengarkan dengan seksama. Termasuk juga dengan Alan. Diapun ikut merasa penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Zul.


'' Sejak Antum bilang?, pengen punya istri empat!'' hhhh...


Setelah mendengar kata-kata dari Zul yang ternyata bercanda itu, serentak mereka terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka, kalau ternyata Zul juga bisa berbuat seperti itu.Karena setahu mereka, Zul tidak pernah membully orang, walaupun dalam bercanda. Selang beberapa saat kemudian, Zul menghentikan tawanya, kemudian dengan serius dia berkata:


'' Sudah sudah.., cukup bercandanya. Saya serius sekarang, tolong dengarkan baik-baik.''


Zul kemudian berjalan kearah pintu, melihat sebentar suasana diluar asrama, kemudian menutup kembali rapat-rapat pintu itu, Lalu menghampiri mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2