Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Kado Pernikahan Buat Zul


__ADS_3

Tidak berapa lama kemudian, setelah Fadli dan rombongan pulang, kedua orang tua Zul datang. Secara kebetulan, kedua adiknya juga datang. Setelah pak Waluyo dan istrinya masuk dan duduk diruang tamu, Zul dan juga kedua adiknya ikut duduk disana.


'' Zul, bapak dan ibumu sudah berusaha. Tapi, rupanya Gusti Allah belum ngasih rejeki, untuk keperluan pernikahanmu dan juga untuk kebutuhan adik-adikmu.'' ucap pak Waluyo dengan nada pasrah.


Dia dan istrinya beberapa hari ini datang menemui kerabatnya, untuk meminjam uang dengan menggadaikan setengah dari kebun karet yang dimilikinya. Sebenarnya, kebun karet miliknya hanya seluas 2 hektar. Dengan harga getah karet yang tidak bisa dikatakan mahal sekarang ini, hasil dari kebun karetnya, hanya cukup untuk kebutuhan makan dan biaya sekolah kedua adiknya.


Namun, karena sudah terlanjur mengiyakan kalau sehabis lebaran ini, mereka akan menikahkan Zul dan putri dari Abah Ubaid, diapun mau tidak mau harus melakukan apa yang telah dijanjikannya. Meskipun Abah Ubaid telah wanti-wanti berpesan kepada Zul, agar jangan sampai memberatkan dalam persiapan pernikahan mereka tersebut, namun Zul dan keluarganya juga tidak ingin ada anggapan yang tidak baik dari orang disekitarnya, karena menikahi anak kiyainya hanya modal dengkul saja. Dan oleh karenanya, pak Waluyo mencoba menggadaikan satu hektar kebun karetnya tersebut, untuk keperluan pernikahan dan juga biaya kedua adiknya tersebut.


'' Piye Zul! apa tidak sebaiknya kamu ngomong sama Abah Ubaid, agar menunda terlebih dahulu pernikahan kalian, sampai bapak dapat uang untuk biaya kalian itu?'' lanjut pak Waluyo sembari menatap Zul.


'' Pak, bu! Sekarang, pae sama bue gak usah mikirin lagi masalah uang. Baik untuk biaya pernikahan saya, dan juga buat biaya masuk kuliahnya Fifi dan juga sekolahnya Ririn.'' ujar Zul dengan tenang.


'' Maksudmu piye to Zul? opo yo awakmu ketibanan duit seko langit? lha terus ndi duite?'' tanya Bu Wal yang bingung karena tiba-tiba Zul berkata seperti itu.


'' Bukan bue! iki memang rejeki ko Gusti Allah, tapi bukan jatuh dari langit.''


'' Lha terus! duit ko ngendi to Zul? opo yo enek! jaman saiki wong sugih sing loman, sing tau-tau nguwei duit jutaan ning awakmu?'' tanya Bu Wal tidak percaya.


'' Lagian, kita itu butuh banyak duit lho Zul! ora cukup sepuluh rong puluh juta. Opo yo duit sing awakmu omongke iku cukup?'' sambung pak Waluyo.


'' Bu, pak! Barusan kang Fadil datang kemari. Saat saya menceritakan masalah yang sedang kita hadapi, kang Fadil bersedia untuk membantu menyelesaikan masalah kita. Insyaallah, besok uangnya akan ditransfer ke rekening Zul.'' jawab Zul begitu yakin.


Meskipun Zul tidak mengatakan kepada Fadil, berapa banyak uang yang sedang dia butuhkan, namun dia percaya kalau Fadil juga akan memberikan uang yang cukup sesuai dengan yang dibutuhkannya.


'' Fadil sopo to Zul? emangnya kamu punya teman orang kaya yang bernama Fadil?'' tanya pak Waluyo penasaran.


'' Itu lho pak! teman dari pesantren yang tempo hari kemari nganter Zul.'' jawab Zul.


'' Lho! bukannya teman mas Zul itu namanya mas Alan? apa dia itu nama aslinya Fadilan? kenapa panggilannya enggak Dilan aja, kayak di film itu?'' ujar Ririn terus mencecar Zul dengan banyak pertanyaan.


Mendengar adiknya bertanya seperti itu, Zul tersenyum. Pak Waluyo, istrinya, juga Fifi ikut penasaran dan ingin segera mendengar jawaban dari Zul. Zul kemudian secara singkat, menceritakan tentang kejadian yang dilihat dan didengarnya, saat dia ikut bersama mereka ke Baturaja. Saat Zul bercerita, mereka dengan khusyuk dan takjub mendengarkan penjelasan dari Zul.


'' Begitulah pak, Bu! Sebenarnya, kedatangan kang Alan kesini itu, merupakan waktu untuk yang terakhir kalinya, dia datang untuk bertukar nyawa dengan kang Fadil. Semua itu, adalah atas kehendak dan kuasa dari Allah SWT. Tidak ada yang tidak mungkin, jika memang Gusti Allah sudah menghendaki.'' ujar Zul teringat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu.


Baru saja Zul berhenti berkata, tiba-tiba ponselnya berdering. Tampak di layar ponselnya, ada notifikasi pemberitahuan. Sebuah pesan masuk terlihat disana. Zul lalu membuka pesan singkat tersebut. Sebuah pesan dari Fadil, yang mengatakan bahwa uang yang rencananya besok akan ditransfer, sekarang malah sudah di transfer kedalam rekening miliknya. Fadil sendiri sudah menghubungi Sintya dan Andika, meminta ijin kepada mereka untuk membantu Zul yang sedang dalam kesulitan masalah keuangan untuk biaya pernikahannya.


Tentu saja, Sintya dan Andika yang mendengar, kalau Fadil ingin membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh Zul, mereka ikut mendukung apa yang akan dilakukan oleh Fadil. Apalagi, selain mereka telah mengenal Zul, mereka juga telah mengetahui kalau Zul sudah banyak membantu dalam proyek yang sedang dilakukan oleh Alan putranya. Jadi, menurut Sintya dan Andika, uang yang akan diberikan kepada Zul, itung-itung sebagai kado pernikahan untuknya.


'' Kang Zul! uang yang tadi saya katakan, sekarang sudah saya transfer ke rekening kang Zul. Silahkan kang Zul untuk mengeceknya, atau mengambil uang tersebut untuk keperluan kang Zul dan keluarga.'' tulis Fadil melalui pesan tersebut.


Melihat pesan itu, Zul merasa kaget. Dia ingin membalas pesan dari Fadil tersebut, namun tiba-tiba, sebuah pesan dari mobile banking masuk. Dalam pesan tersebut, sebuah pemberitahuan kalau didalam rekening miliknya, seseorang telah mentransfer sejumlah uang yang tidak sedikit jumlahnya.

__ADS_1


Zulkifli terpana melihat nominal yang kini berada didalam rekening miliknya. Melihat Zul yang seperti itu, kedua orang tuanya dan juga kedua adik Zul merasa penasaran.


'' Enek opo to Zul? kok nganti koyo ngono tenan awakmu?'' tanya pak Waluyo dengan heran.


'' Iyo mas Zul! emange pesen seko sopo to? kok koyo ndelok opo wae mase iki!'' ujar Ririn menyambung ucapan ayahnya.


'' Iki lho pak, bu! SMS ko kang Fadil Karo seko bank. Duit sing tak omongke mau, malah wis dikirim nang rekeningku.'' ucap Zul, lalu menyerahkan ponselnya kepada pak Waluyo.


'' MasyaAllah...! iki tenanan opo Zul?'' seru pak Waluyo seakan tidak percaya dengan isi SMS tersebut.


Pak Waluyo kemudian menyerahkan ponsel tersebut kepada istrinya. Saat ibunya Zul melihat jumlah nominal angka tersebut, diapun ikut terkejut.


'' Subhanallah..Satus juta? kok okeh tenan Zul? lha nko, kepiye le mbalekke?'' ujar ibunya Zul.


'' Iyo Zul! ndang tekokke, kepiye le mbalekke duit iku.'' sambung pak Waluyo.


Zulkiflipun segera membalas sms dari Fadil, setelah ponselnya diberikan kepadanya kembali.


'' Maaf kang Fadil, kok banyak banget ya! bagaimana nanti saya mengembalikan uang itu?'' tulis Zul.


'' Kang Zul! sampeyan tidak usah repot-repot mikirin untuk mengembalikan uang tersebut. Uang itu memang untuk kang Zul. Ini juga, atas persetujuan mama dan papa serta kakek. Anggap saja itu sebagai kado untuk pernikahan sampeyan dari kami sekeluarga.'' jawab Fadil dalam pesan tersebut.


Fadil hanya membalas pertanyaan Zul itu, dengan gambar emogi tersenyum. Zul dengan penuh rasa syukur, kembali membalas pesan dari Fadil.


'' Alhamdulillah..., terimakasih banyak kang! semoga ini dicatat oleh Allah sebagai tabungan amal, untuk keluarga kang Fadil semuanya.''


'' Amiiin...'' jawab Fadil.


Kedua orang tua Zul dan juga kedua adiknya, masih menunggu jawaban dari Zul. Mereka masih penasaran dan bingung, bagaimana caranya nanti mengembalikan uang itu kepada Fadil. Dengan tidak sabar, pak Waluyo segera bertanya kepada Zul.


'' Piye Zul? opo sing di omongke karo koncomu iku?''


'' Alhamdulillah pak e..! Jare kang Fadil, duit iku memang kanggo Zul, sebagai kado saking keluargane. Dadi awak e iki, ora perlu mbalekke duit iku pak e!'' ujar Zul dengan penuh rasa syukur.


'' Hah..!! beneran mas?'' ucap Fifi dan Ririn berbarengan.


Mereka merasa terkejut dan tidak percaya, jika Fadil dan keluarganya memberikan uang sebanyak itu, sebagai kado pernikahan untuk kakaknya. Pak Waluyo dan istrinya juga ikut terkejut. Namun mereka juga merasa sangat bersyukur, karena Zul memiliki teman sebaik Fadil.


'' Wah.., mas Zul memang beruntung ya! punya teman sekaya dan sebaik mas Dilan!'' ujar Ririn penuh antusias.


'' Lho, kok mas Dilan sih Rin?'' protes Fifi mendengar Ririn menyebut Fadil dengan nama Dilan.

__ADS_1


'' Ya iyalah mbak! kan kata mas Zul, temannya mas Zul itu! jiwanya mas Fadil, tapi raganya mas Alan. Jadinya ya mas Dilan.'' jawab Ririn seenaknya.


'' Eh mas Zul mas Zul! kok mas Dilan itu baik banget sama kita ya? apa jangan-jangan, dia itu naksir sama mbak Fifi, atau malah naksir sama saya ya?'' celoteh Ririn sambil tersenyum, mengingat wajah sang idola barunya tersebut.


'' Eeh..! bocah iki, sak karepe ae angger ngomong. Dasar bocah gemblung!'' ujar Bu Waluyo merasa greget dengan celotehan Ririn.


Zulkifli yang mendengar adiknya berkata seperti itu, dia tersenyum. Dia lalu menatap Ririn, dan kemudian berkata:


" Dek..! Mas Fadil itu sudah punya calon, sebentar lagi juga mau menikah. Dan calonnya itu, orangnya benar-benar cantik.''


'' Jadi, jangan menghayal yang aneh-aneh, nanti gak akan kesampaian. Lebih baik, kamu sekolah yang benar. Biar bisa sukses dan bisa ngebanggain orang tua.'' ujar Zul menasehati Ririn.


'' Tuuh..! dengerin apa kata masmu. sekarang mandi sana! badanmu itu, udah bau asem tau.'' ujar Bu Waluyo segera menyuruh Fifi dan Ririn untuk mandi.


Akhirnya, merekapun segera bergantian pergi ke kamar mandi. Bu Waluyo segera pergi ke dapur, mempersiapkan makanan untuk nanti malam. Sementara pak Waluyo dan Zul, masih melanjutkan obrolan mereka sambil menemani Rafi adik Zul yang masih kecil.


...----------------...


Di lain tempat. Fadil beserta Ulil, sepulangnya dari rumah Zul, dia mampir sebentar di rumah Tiara. Mereka juga mengobrol bersama pak Syahroni dan Bu Lilis.


'' Jadi, nak Ulil ini nanti mau balik lagi ke Jakarta?'' tanya pak Syahroni.


'' Iya pak! soalnya, mas Fadil nanti mau pergi juga dari sini. Kalau saya disini terus, dan mas Fadil tidak ada, saya rasanya enggak betah.'' jawab Ulil yang memang begitu akrab dengan Fadil.


Mendengar jawaban dari Ulil, pak Syahroni dan Bu Lilis senyum-senyum. Mereka memang sering melihat, kalau dua sahabat ini kemanapun hampir selalu bersama. Ibaratnya, mereka itu seperti sepasang sepatu. Rasanya tidak lengkap, jika tidak ada salah satunya.


'' Lah.. bukanya kalau kamu pergi ke Jakarta, kamu juga nggak bareng sama Fadil?'' ujar Bu Lilis.


'' Ya iya sih! tapikan, disana saya punya banyak kesibukan, tidak seperti kalau saya disini. Kecuali mas Fadilnya ada disini, baru saya juga mau disini.'' ujarnya.


'' Terus, kalau kalian sudah pada menikah, apa kalian masih pengen selalu bareng juga?'' kini pak Syahroni kembali bertanya.


'' Ya kalau sudah menikah, bagaimana nanti saja pak. Tapi seandainya bisa, saya pengen bisa selalu dekat dengan mas Fadil, biar persahabatan kita ini, tetap terus terjaga sampai anak cucu.''


'' Soalnya, kalau nggak ada mas Fadil, dunia rasanya sepi. Kalau tidak percaya! tanya aja sama mbak Tiara! iya gak mbak?'' ujar Ulil yang secara kebetulan, Tiara muncul dari kamarnya.


Saat Ulil berkata seperti itu, semua orang menatap kearah Tiara. Tiara tidak menjawab, dan hanya tersenyum malu-malu. Namun hatinya juga mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ulil.


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2