Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Kembali merindukannya


__ADS_3

Sore itu, usai melaksanakan sholat Ashar, Alan dan Zul pergi ke rumah pak Syahroni. Alan segera menepikan mobilnya dipinggir jalan, didepan halaman rumah pak Syahroni. Dengan memakai kemeja biru muda dan celana standar warna hitam, Alan yang tadi sudah mandi dirumah Zul, kini tampak semakin ganteng dan cool. Ririn ( adik perempuan Zul ) yang tadi sempat bertemu dengan Alan, sampai hampir tidak mau mengedipkan matanya saat melihat wajah Alan. Bahkan dia sempat mengambil foto Alan secara sembunyi-sembunyi dengan kamera ponselnya. Sepertinya kini Ririn memiliki idola baru didalam hatinya. Memang sekarang, para gadis remaja banyak yang suka mengidolakan artis band k pop ataupun bintang sinetron baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun rupanya setelah melihat dan bertemu dengan Alan, Ririn kini bertambah koleksi idolanya.


Alan dan Zul segera turun dari mobil, lalu berjalan menuju rumah pak Syahroni. Dari dalam rumah, dari balik kaca jendela kamarnya yang menghadap jalan tersebut,Tiara melihat mobil Alan yang tadi berhenti dan juga melihat Alan dan Zul yang sedang berjalan menuju rumahnya. Tiara yang baru saja selesai melaksanakan sholat Ashar, dan baru saja akan meletakkan kain mukenanya didalam lemari, dia terpaku saat melihat wajah Alan. Postur tubuhnya, gaya berjalannya, senyumnya, benar-benar sama persis dengan Fadil. Dia melihat Alan seperti melihat Fadil dalam versi yang sedikit berbeda. Dan yang lebih membuatnya merasa heran lagi adalah, dia tidak merasa kalau Alan adalah orang lain, tapi Tiara lebih merasa kalau itu adalah Fadil kekasihnya. Terbayang kembali dalam memori ingatannya, saat Fadil datang untuk meminta izin kepada kedua orang tuanya, untuk mengajaknya jalan-jalan dihari lebaran tahun lalu.


Namun Tiara akhirnya tersadar, bahwa orang yang datang itu bukanlah Fadil kekasihnya. Karena kenyataannya, Fadil telah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan. Hati Tiara kini benar-benar dalam dilema. Dia semakin bingung dengan apa yang sedang dirasakannya. Di satu sisi saat dia melihat Alan, dia seakan melihat secercah harapan, bahwa dia seolah akan bertemu dengan Fadil kekasihnya. Namun disisi lain, diapun ingat bahwa Fadil kekasihnya telah tiada. Tanpa dia sadari, air matanya kini mulai menetes di kedua pipinya. Dia kemudian mengambil bingkai foto dirinya dan Fadil, dan memeluk erat bingkai foto tersebut.


'' Ya Allah, ada apa sebenarnya dengan diriku ini? kenapa saat melihatnya, aku seperti melihat A Fadil? kenapa juga hatiku semakin perih dan merindukan A Fadil?'' ucap Tiara dalam batin.


'' A fadil, aku kangen kamu A!. Bukankah A Fadil bilang!, jika aku pergi ke pesantren, rinduku akan terobati. Tapi kenapa hatiku masih seperti ini?. Aku memang bertemu seseorang yang mirip denganmu A. Dan aku berharap itu kamu. Namun kenyataannya, dia bukanlah kamu. Lalu dengan apakah aku bisa mengobati kerinduanku padamu? A Fadil.. please, berikan aku penjelasan dari kata-katamu itu.''


Sementara itu, Alan dan Zul kini sudah berada didepan pintu kediaman pak Syahroni. Karena pintunya sudah terbuka, mereka langsung mengucapkan salam. Pak Syahroni, Bu Lilis, dan kedua saudara Tiara yang sedang berada diruang tengah, mereka serempak menjawab salam tersebut. Pak Syahroni segera keluar dari ruangan itu untuk melihat siapa yang datang. Melihat yang datang itu adalah Alan dan Zul, pak Syahroni segera mempersilahkan mereka berdua untuk masuk dan duduk.


Tak berapa lama, Bu Lilis juga keluar untuk melihat. Meskipun pak Syahroni telah mengatakan, bahwa orang yang akan datang itu wajahnya mirip dengan Fadil, Bu Lilis tetap tercengang manakala dia melihat wajah Alan. Baru beberapa langkah dia keluar dari ruang tengah, langkahnya langsung terhenti. Secara spontan dia langsung berkata:


'' Fadil!'' ujar Bu Lilis terkejut melihat Alan.


Vita dan Yunita yang mendengar ibunya menyebut nama Fadil, mereka lalu ikut keluar dan ingin melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi. Tapi, saat keduanya melihat dengan mata kepala sendiri orang yang sedang duduk diruang tamu itu, mereka juga tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Mereka berdua yang memang tidak diberi tahu tentang Alan, secara bersamaan mereka langsung berucap.


'' Mas Fadil!'' ucap keduanya tak kalah kaget dari Bu Lilis.


Alan yang melihat dan mendengar mereka menyebut nama Fadil, juga ikut kaget. Hatinya kini bertanya-tanya, seberapa miripkah dirinya dengan Fadil, sehingga semua orang dirumah itu menyangka dirinya adalah Fadil. Sementara Zul, hanya terdiam tidak mengerti menyaksikan keterkejutan semua orang yang melihat Alan tersebut.


'' Bu, mana minumnya? kok malah pada bengong!'' ujar pak Syahroni memecah keheningan di ruangan itu.

__ADS_1


Bu Lilis segera menyuruh Vita dan Yunita untuk mengambilkan minuman dan buah-buahan yang baru saja mereka persiapkan. Vita dan Yunita segera kembali keruang tengah untuk mengambil apa yang tadi diperintahkan oleh Bu lilis, sedangkan Bu Lilis beranjak duduk disebelah pak Syahroni suaminya.


'' Maaf mas, kami semua memang benar-benar tidak mengira, kalau mas ini begitu mirip dengan Fadil.'' ujar pak Syahroni kepada Alan.


'' Betul mas, mas ini memang sangat mirip dengan Fadil. Sampai-sampai kami tidak bisa membedakan kalian berdua.'' sambung Bu Lilis membenarkan ucapan suaminya.


'' Setahu saya, Fadil itu tidak punya saudara kembar. Tapi kok bisa ya? kalian begitu mirip.'' ujar pak Syahroni.


Setelah mereka mulai berbincang-bincang, Vita dan Yunita muncul dengan membawa beberapa gelas teh hangat, dan juga beberapa piring buah duku dan manggis, yang kemudian diambil oleh Bu Lilis untuk diletakkan diatas meja disana.


'' Ayo mas! silahkan dicicipi minuman dan buahnya. Tapi maaf, cuma ini adanya.'' ujar Bu Lilis kepada Alan dan Zul.


'' Iya Bu makasih, maaf nih malah merepotkan.'' ujar Alan.


'' Iya mas, kebetulan ada beberapa yang sudah mulai masak. Tapi rasanya sudah manis lho! soalnya ini asli duku Komering.'' ujar pak Syahroni yang juga ikut mengambil buah duku tersebut.


Vita dan Yunita, usai membawakan minuman dan buah-buahan untuk para tamu, mereka kemudian masuk kedalam kamar Tiara. Namun mereka terkejut, saat melihat Tiara yang sedang menutupi wajahnya dengan bantal dan seperti sedang terisak. Yunita segera menghampiri Tiara.


'' Tiara, kamu kenapa menangis?'' bisiknya pelan.


Vita hanya berdiri melihat kedua kakaknya. Dia kemudian keluar menghampiri ibunya dan berbisik sesuatu. Bu Lilis lalu bangkit dan masuk kedalam kamar Tiara. Pak Syahroni yang melihat itu, dia merasa ada sesuatu. Namun dia tetap duduk disana menemani Alan dan Zul.


'' Tiara, kamu kenapa nak? apa kamu teringat Fadil lagi?'' ujar Bu Lilis menduga-duga penyebab Tiara menangis.

__ADS_1


Tiara tidak menjawab. Dia masih sesenggukan menutupi wajahnya. Bu Lilis terus mencoba menghibur Tiara. Hingga Alan, Zul, dan pak Syahroni pergi kerumah Bu Zaenab, Bu Lilis dan yang lainnya masih berada dikamar Tiara. Sebelum pergi mengantarkan Alan dan Zul, pak Syahroni sempat menengok mereka. Namun karena tidak ada yang terjadi pada diri Tiara, diapun segera beranjak untuk ikut menemani Alan kerumah Bu Zaenab.


Alan yang tidak melihat kemunculan Tiara dirumah itu, hatinya merasa sedikit resah. Entah kenapa?, sejak bertemu dengan Tiara tadi pagi saat dirumah makan, dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Tiara. Apalagi dia juga tadi sempat mendengar, ada suara seseorang yang sedang menangis sesenggukan didalam kamar. Dia mulai merasa, sikap Tiara yang terbilang agak aneh itu, dan juga sikap keluarga Tiara saat melihat dirinya, ada kaitannya dengan Fadil. Alan juga mulai teringat, ketika dia menyelamatkan Tiara saat penculikan itu, Tiara beberapa kali menyebut nama Fadil. Mungkinkah, Tiara ini adalah kekasih Fadil? begitulah yang ada dalam benak Alan saat ini.


Sesampai dirumah Bu Zaenab, pak Syahroni langsung memimpin Alan dan Zul untuk bertamu disana. Dengan perlahan, pak Syahroni mengetuk pintu dan juga mengucapkan salam tentunya. Setelah beberapa kali pintu diketuk, terdengar jawaban salam dari dalam rumah tersebut. Seorang pemuda muncul dari balik pintu. Melihat pak Syahroni yang datang, dia segera mempersilahkan pak Syahroni untuk masuk. Namun, saat melihat orang yang ada dibelakang pak Syahroni, pemuda itu terdiam mematung. Bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun lidahnya seperti serasa kelu. Hanya matanya yang terus menatap Alan, seperti tak tak ingin memalingkan pandangan darinya. Dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Namun tak begitu lama, diapun segera menghapus air mata yang akan menetes dari kedua sudut matanya. Dia lalu bersalaman dan mempersilahkan mereka untuk duduk dikursi diruang tamu tersebut.


'' Bu Zaenabnya ada?'' tanya pak Syahroni, kepada Alfin.


'' Ada, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu pak, mas.'' ujar Alfin kemudian pergi kebelakang untuk mencari ibu Zaenab neneknya.''


Tidak berapa lama, Alfin dan ibu Zaenab muncul dari ruang belakang. Saat melihat Alan, ibu Zaenab tiba-tiba menangis. Dia lalu memeluk Alan dengan eratnya. Alan yang dipeluk oleh Ibu Zaenab, hanya diam tak bergerak sama sekali. Dan tanpa sadar diapun membalas pelukan ibu Zaenab. Untuk pertama kalinya, Alan bertemu dengan ibunya Fadil ini. Namun entah kenapa, matanya serasa tidak asing dengan wajah ini. Bahkan, dengan Alfin dan rumah ini juga. Dan saat berpelukan dengan ibu Zaenab itu, dia benar-benar merasa seakan dia sedang memeluk orang yang sudah lama dia rindukan. Zul, pak Syahroni dan juga Alfin, mereka melihat dengan rasa haru. Mereka seperti sedang melihat, pertemuan seorang ibu dan anak kesayangannya yang sudah lama berpisah.


Setelah ibu Zaenab melepaskan pelukannya, Alan lalu membimbing ibu Zaenab untuk duduk, lalu diapun duduk disebelahnya. Tampak dari sudut mata Alan, butir-butir air mata yang jatuh menetes di pipinya. Alan dengan penuh kelembutan, mengusap air mata ibu Zaenab dengan tangannya. Begitupun dengan ibu Zaenab, dia menghapus air mata Alan dengan penuh kasih sayang, seakan-akan orang yang ada disampingnya itu adalah Fadil anak bungsu kesayangannya.


'' Akhirnya kamu pulang nak!'' ucap ibu Zaenab sambil membelai wajah Alan.


'' Ibu tahu, kamu pasti akan kembali anakku, Ibu selalu berdoa untuk itu. Dan sekarang, akhirnya doa ibu terkabulkan.'' ucapnya sambil tersenyum memandang wajah Alan.


'' Iya bu, terimakasih atas doamu.'' jawab Alan.


Selain Alan dan ibu Zaenab, baik pak Syahroni, Zul dan juga Alfin, tidak ada yang mengerti apa maksud dari perkataan mereka berdua. Bahkan, Alan yang masih belum menceritakan rahasia dirinya kepada ibu Zaenab, merasa sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan olehnya. Namun Alan menduga, mungkin karena firasat seorang ibu itu lebih kuat, sehingga dia bisa merasakan sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain tentang anaknya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2