Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Dokter.. Tolong..


__ADS_3

Dua bulan semenjak terjadinya kecelakaan itu.


Disebuah villa mewah, di daerah dekat ibukota Jakarta. Seorang wanita cantik dengan memakai pakaian rok dibawah lutut dan kemeja biru muda yang nampak begitu elegan, wajahnya terlihat seperti wanita yang baru berusia 30-an, walaupun sebenarnya usianya sudah mencapai 46 tahun, menunjukkan bahwa dia sangat pandai menjaga fisik dan tubuhnya, sedang sibuk menyiapkan sesuatu.


'' Mbok..!, apa Alan udah siap? terus, apa sarapan buat Alan juga sudah disiapkan?'' teriak wanita cantik itu dari ruang tengah.


'' Sudah nyonya.., Den Alan sebentar lagi mau turun. Sarapannya juga sudah saya siapkan di meja makan nyah.'' Sahut mbok Inah, kemudian muncul dari kamar lantai atas, sambil memapah seorang pemuda tampan yang kedua matanya ditutupi dengan perban.


Dua bulan yang lalu, Alan pergi mengunjungi pamanya dikota kecil bernama Baturaja. Dia baru sehari disana. Pagi itu, Alan pergi menemui temannya di kota Martapura. Kemudian siang harinya, dia kembali ke kota Baturaja, setelah dia ditelpon oleh pamanya agar secepatnya kembali ke Baturaja. Alan dengan terburu-buru, membawa mobilnya untuk secepatnya kembali. Namun siapa sangka, dia malah mengalami kecelakaan di jalan lintas tersebut. Dialah sang pengemudi mobil Fortuner yang menabrak motor Fadil, hingga Fadil kehilangan nyawanya.


Di rumah sakit, dihari kecelakaan itu. Alan yang masih pingsan, dibawa dalam ruang perawatan. Saat dokter sedang memeriksa kondisinya, dia lalu tersadar kemudian mencoba untuk membuka matanya. Namun..


'' Aah.., ma, pa!, kenapa mataku sakit sekali? kenapa aku gak bisa melihat sama sekali? Ma.., tolong ma!. Tolong mata Alan kenapa ma?'' Alan berteriak-teriak sambil mencoba mengusap usap kedua matanya.


Karena melihat pasien itu terus meronta-ronta, akhirnya dokter Hafiz yang sedang bertugas disana, segera menyuruh perawat segera menyuntikkan obat penenang padanya. Setelah mendapatkan suntikan itu, Alan tak lama kemudian langsung diam dan tertidur.


Tepat disaat Alan mulai tertidur, sebuah mobil Hilux berhenti dihalaman parkir rumah sakit tersebut. Seorang lelaki setengah baya, buru-buru turun dan segera memasuki ruang rumah sakit itu dengan tergesa-gesa. Dia adalah Hartono paman Alan.


'' Suster..! Dimana ruangan pasien yang bernama Alan putra kusuma?'' Hartono bertanya kepada petugas jaga dengan penuh kecemasan.


'' Sebentar ya pak!, biar saya lihat dulu.'' Suster jaga itu lalu segera membuka daftar nama pasien, yang ada pada layar komputer.


'' Pasien yang bernama Alan putra kusuma baru saja datang, dia masih berada di ruang UGD pak!'' jawab suster jaga tersebut.


Tanpa membuang waktu, Hartono segera bergegas menuju ruang yang ditunjukkan oleh suster jaga itu. Saat dia sampai disana, dokter Hafiz yang tadi memeriksa kondisi Alan, membuka pintu dan segera keluar dari ruangan tersebut.


'' Dokter Hafiz, bagaimana kondisi keponakan saya dok?'' tanya Hartono yang segera mengenali dokter Hafiz.


'' Apa pasien yang bernama Alan itu adalah keponakan pak Hartono?'' Tanya dokter Hafiz.


'' Betul dok.''


'' Mari kita keruangan saya dulu pak Hartono, ada yang mau saya sampaikan mengenai kondisi keponakan anda.''


Setelah mereka masuk kedalam ruang kerja dokter Hafiz..


'' Begini pak Hartono. Secara keseluruhan, fisik keponakan anda, tidak ada luka yang serius, tapi..''


'' Tapi apa dok?'' Hartono dengan cemas menatap dokter Hafiz.

__ADS_1


'' Mohon maaf pak Hartono, mohon anda untuk tidak panik dulu!'' dokter Hafiz mencoba menenangkan Hartono, kemudian dia melanjutkan.


'' Berdasarkan analisis, kedua mata keponakan anda, mungkin tidak bisa tertolong. Retina kedua bola matanya, telah rusak akibat luka gores yang cukup dalam. Saya perkirakan, kedua bola mata keponakan anda akan menjadi buta.''


'' Apa? Buta..?'' Tidak tidak. Dokter Hafiz, tolong sebisa mungkin, anda harus mengupayakan agar penglihatan Alan dapat kembali pulih. Saya tidak mau tahu, bagaimana cara anda melakukannya? Kalau tidak, anda tahu sendiri konsekuensinya.''


'' Maaf pak Hartono.., tapi ini sepertinya akan sangat sulit !''


'' Pokoknya saya tidak mau tahu!'' Hartono yang panik, kini sedikit mengancam dokter Hafiz.


Di intimidasi seperti itu, apalagi oleh seorang seperti Hartono, dokter Hafiz kini mulai cemas. Keringat di wajahnya mulai bercucuran.


'' Dokter, anda tahu sendiri kan? Bagaimana kedua orang tua, terutama kakeknya. Bahkan, saya sendiri tidak tahu harus ngomong apa kepada mereka. Untuk itu, tolong dokter Hafiz, lakukan sebisa mungkin agar penglihatan anak ini dapat kembali, berapapun biayanya, anda tak usah khawatir.''


Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya dokter Hafiz berkata :


'' Baiklah pak Hartono, saya akan berusaha sebisa mungkin.Tapi, saya harus menghubungi teman saya dulu. Karena ini harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli dalam bidang ini.'' ucap dokter Hafiz.


'' Kalau begitu, tolong secepatnya anda menghubungi teman anda tersebut.'' ucap Hartono dengan tidak sabar.


'' Baik, baik pak Hartono, saya akan menghubunginya sekarang juga.''


Dokter Hafiz usai berbicara langsung mengeluarkan ponselnya, lalu mencari nomor kontak sahabatnya dan menghubunginya.


'' Halo..! Assalamualaikum..'' terdengar suara dari seberang telepon.


'' Wa'alaikum salam..'' dokter Yusril, maaf kalau mengganggu!''


'' Oh.., tidak apa-apa dokter Hafiz, panggil Yusril saja, tidak usah pakai dokter segala, seperti dengan siapa saja!''


'' Oh iya, kok tumben banget, ini ada apa ya? sampai pak Hafiz menghubungi saya?'' ucap dokter Yusril dari seberang telepon.


'' Emm.. Begini pak Yusril, maaf sebelumnya. Ini saya ada sedikit masalah yang perlu saya diskusikan dengan anda.''


'' Oh.. Silahkan, silahkan pak Hafiz, jika memang ada yang bisa saya lakukan, anda tidak perlu sungkan sungkan.''


'' Begini pak!, kami baru saja kedatangan pasien kecelakaan, sepertinya matanya bermasalah hingga harus dilakukan tindakan operasi, dan untuk urusan itu, tentu akan lebih tepat jika dilakukan oleh ahlinya. Untuk itu juga, saya ingin minta tolong kepada dokter Yusril, untuk menangani pasien kami itu!''


'' Emm.. Begitu ya pak Hafiz, tapi saya harus melihat kondisi pasiennya terlebih dahulu.''

__ADS_1


'' Itu tidak masalah pak Yusril, tapi ngomong-ngomong, saya juga ingin tahu dimana posisi pak Yusril sekarang?, apa sedang di Jakarta atau dimana? Biar saya bisa mengirim pasien itu kepada anda.''


Dokter Hafiz menanyakan itu karena dia tahu, kalau dokter Yusril seringkali diundang ke rumah sakit-rumah sakit besar. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri, untuk menangani pasien. Walaupun tugas dinasnya dirumah sakit ternama di Jakarta.


'' Sebenarnya saat ini saya sedang tidak di Jakarta pak Hafiz, tapi saya sedang ada dikota Baturaja. Karena kebetulan sedang ada sedikit keperluan disini, dan insyaallah sore nanti rencananya baru kembali ke Jakarta.''


'' Apa? Baturaja?, Ini sangat kebetulan sekali pak Yusril.''


'' Iya pak Hafiz. Eh.., kebetulan bagaimana maksudnya pak?''


'' Begini pak Yusril, saya dan juga pasien, saat ini juga ada di rumah sakit di Baturaja.'' ucap dokter Hafiz dengan gembira.


Dokter Hafiz dan dokter Yusril, dulu pernah bertugas di kota yang sama, yaitu di kota Bandung. Kemudian dokter Yusril berpindah tugas disebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Dokter Hafiz mengajukan diri untuk berpindah tugas di kota kecil, kota kelahirannya yaitu Baturaja. Dokter Yusril belum mengetahui jika dokter Hafiz sudah pindah, dan mengira dia masih di kota Bandung.


'' Wah..!, memang sangat kebetulan sekali kalau begitu. Tolong kirimkan dimana lokasinya, biar saya bisa segera kesana, untuk melihat kondisi pasien.'' ujar dokter Yusril penuh semangat.


Setelah mengetahui posisi dan lokasinya, dokter Yusrilpun segera menuju lokasi yang dikirimkan oleh dokter Hafiz.


'' Bagaimana dokter Hafiz? Apakah dokter teman anda, bisa membantu menangani masalah keponakan saya?'' tanya Hartono.


'' Bisa pak Hartono, dan sangat kebetulan sekali, beliau juga sedang ada di kota ini. Saat ini beliau sedang dalam perjalanan menuju kesini. Juga berarti, bila memungkinkan operasinya akan dilakukan di rumah sakit ini. Hanya saja masih ada satu kendala yang harus segera diselesaikan. Namun begitu, kita juga bisa mendiskusikannya bersama dokter Yusril nanti.''


Beberapa menit kemudian, dokter Yusril yang ditunggupun akhirnya datang. Dia disambut langsung oleh dokter Hafiz dan Hartono didepan pintu rumah sakit. Sambil berbicara sedikit tentang kabar dan keadaan masing-masing, mereka berjalan menuju ruangan, dimana Alan yang masih tertidur karena obat penenang yang tadi disuntikan.


Setelah mereka masuk, dokter Yusril segera memeriksa kondisi Alan. Beberapa perawat juga ada disana, yang sedari tadi mengawasi kondisi Alan.


'' Bagaimana dokter? Apakah mata keponakan saya bisa dipulihkan? Tanya Hartono setelah melihat dokter Yusril dan dokter Hafiz keluar dari dalam ruangan tersebut.


'' Begini pak! Mohon maaf sebelumnya. Tidak ada jalan lain untuk memulihkan penglihatan kedua mata pasien, kecuali dengan mengganti kedua bola matanya.''


'' Untuk itu, kita harus secepatnya mendapatkan donor mata. Sebab, tidak ada stok untuk hal seperti itu. Dan..'' Dokter Yusril menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.


'' Ini yang paling sulit pak!. Ternyata setelah kami periksa, bahwa susunan syaraf mata pasien, ada sedikit kelainan dengan susunan syaraf mata orang pada umumnya. Jadi, harus secepatnya menemukan donor mata yang benar benar sama ukuran dan susunan syarafnya. Ini termasuk kasus yang cukup langka. Mungkin hanya ada satu dari ratusan ribu orang, yang memiliki kelainan seperti itu!" lanjut dokter Yusril.


Mereka semua terdiam. suasana cemas dan ambigu karena situasinya yang begitu rumit. Hartono ingin sekali mendesak agar keponakannya segera mendapatkan pertolongan, namun diapun merasa sangat bingung untuk memberikan solusi dari masalah tersebut. Hatinya benar-benar kalut, bagaimana dia nanti harus menyampaikan hal ini kepada kedua orang tua Alan keponakannya.


Disaat suasana seperti itu, seorang perawat datang membisikan sesuatu kepada dokter Hafiz, Dokter Hafiz hanya manggut-manggut kemudian berkata :


'' Dokter Yusril, pak Hartono, menurut informasi dari petugas medis kami, bahwa kecelakaan ini melibatkan tiga orang. Selain pasien ini, masih ada dua orang korban yang juga dalam penanganan rumah sakit ini. Dan salah satu dari dua korban lainnya itu telah meninggal dalam perjalanan saat sedang dibawa kemari. Menurut informasi juga, kalau ternyata korban yang meninggal itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan pasien keponakan pak Hartono ini. Bagaimana kalau kita lihat terlebih dahulu kondisi korban itu?, barang kali akan ada solusi untuk situasi yang sangat rumit ini?'' usul dokter Hafiz.

__ADS_1


Mengingat situasi dan kondisi yang seperti itu, akhirnya merekapun setuju dengan usulan dari dokter Hafiz. Mereka segera ke ruangan dimana jenazah Fadil berada. Saat mereka melihat dan memeriksa jenazah Fadil, mereka tercengang. Terlebih lagi dokter Yusril. Ternyata selain fisik antara tubuh Fadil dengan tubuh Alan yang benar-benar mirip, susunan syaraf dan ukuran bola mata milik Fadil juga sama persis dengan kedua mata Alan.


...****************...


__ADS_2