
Semua keluarga Chan yang ada dalam ruangan tersebut langsung terdiam. Sebelum Tony Chan berteriak tersebut, mereka sebagian setuju dengan pendapat Amy Chan. Namun sebagian lagi, mereka lebih setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mei Ling. Sementara Andika, Sintya dan yang lainnya, mereka cuma diam menyaksikan keluarga Chan yang sedang pro kontra tersebut.
'' Alex, jika kami tidak lagi mengganggumu, keuntungan apa yang akan kamu berikan kepada kami?'' ucap Tony seakan tidak rela jika Arya Wijaya hidup dengan tenang.
'' Hhh... Tony.., Tony. Rupanya sekarang kamu semakin serakah seperti istrimu itu!''
'' Apa kamu tidak sadar, dengan terus mengusik ketenangan kami, bukankah kamu harus banyak mengeluarkan energi dan juga biaya!''
'' Itu berarti, ketika keluarga Chanmu tidak lagi mengusik kami, kalian bisa lebih fokus pada urusan bisnis keluargamu. Apa menurutmu itu bukan sebuah keuntungan?''
'' Atau memang, sebenarnya kamu tidak punya kemampuan untuk mengembangkan bisnis, sehingga yang kamu lakukan hanyalah menjadi benalu bagi orang lain?'' ujar Arya Wijaya menyindir Tony.
'' Jaga bicaramu Alex! kalau bukan karena kemampuanku menjaga dan mengembangkan bisnis, mungkin keluarga besar Chan ini sudah tidak ada.'' sahut Tony dengan marah.
'' Hhh... benar tuan tony! saya rasa juga begitu. Tidak lama lagi, keluarga besar Chanmu juga akan hilang. Bahkan, tidak sampai seminggu lagi.'' sahut Fadil tiba tiba angkat bicara.
'' Hey bocah kecil! apa maksudmu berkata seperti itu? Apakah kamu yang ingin mencoba melenyapkan keluarga kami?'' ujar Tony Chan dengan tidak senang.
Disaat Fadil berkata seperti itu, semua orang mengarahkan tatapan matanya kepada Fadil. Baik dari keluarga Chan sendiri, ataupun keluarga Arya Wijaya. Mereka jadi ingin tahu apa maksud Fadil berkata seperti itu.
'' Hhh.. tuan Tony..tuan Tony. Untuk apa saya repot-repot melenyapkan keluarga besar kalian. Kami sekeluarga, hanya cukup jadi penonton saja. Karena nanti, akan ada orang yang akan menghancurkan keluarga besar kalian tersebut.
'' Kalau saya ibaratkan, keluarga kalian itu, sudah seperti telor yang berada diujung tanduk. Hanya saja, anda tidak menyadarinya.'' lanjut Fadil berkata.
Disaat mereka sedang bingung dengan apa yang sedang dikatakan oleh Fadil, Thian Chan yang merupakan cucu dari Tony Chan, tiba-tiba berbisik kepada Tony Chan. Tony Chan manggut-manggut tanda mengerti.
'' Baiklah! Atau begini saja. Saya dengar, cucu kesayanganmu itu suka sekali balapan liar. Dan kebetulan, cucuku Thian ini, juga seorang pembalap. Bagaimana kalau mereka melakukan perlombaan?''
'' Jika cucumu yang menang, saya tidak akan lagi mengganggu kehidupan kalian. Tapi kalau cucuku yang menang, maka hotelmu ini, juga bisnismu yang ada di negeri ini, semuanya harus kamu serahkan kepada kami. Dan kamu, serta semua keluargamu, tidak boleh lagi menginjakkan kaki di negeri ini.''
'' Jika sekali saja saya lihat, ada diantara kalian yang berani menginjakkan kaki di negeri ini, saya tidak akan segan-segan melenyapkan kalian semua. Bagaimana?'' ujar Tony memberikan tawaran yang jelas-jelas tidak seimbang.
Arya Wijaya diam dan berfikir. Dia tahu, kalau Thian adalah seorang pembalap. Meskipun bukan pembalap nomor satu, tapi dia sering mengikuti banyak event. Setidaknya, Thian sering juga menjadi juara saat mewakili teamnya.
Sementara itu, dia juga masih kurang tahu, jika Fadil pernah mengikuti lomba balap mobil. Walaupun Fadil memiliki tubuh dan memori Alan, tapi Alan juga tidak pernah mengikuti balapan, kecuali balapan liar yang pernah dia dengar.
'' Bagaimana? apa kamu takut!'' ucap Tony tidak sabar menunggu jawaban Arya Wijaya.
'' Hhh.. sudah saya duga opa! mereka itu kumpulan keluarga pengecut yang tidak berani melakukan apa-apa!'' ujar Thian dengan sombongnya.
'' Siapa bilang kami takut! Kakek, terima saja tantangan itu kek! Meskipun taruhannya tidak seimbang, tapi ini ada baiknya juga kek.'' sahut Fadil memberikan masukan kepada Arya Wijaya.
'' Tapi Fadil!'' ucap Arya Wijaya, Andika dan juga Sintya bersamaan. Bahkan, Tiara dan Ulil lebih merasa khawatir lagi.
'' Kakek, mama, papa, percayalah! Insyaallah, Fadil bisa mengatasinya.'' jawab Fadil mencoba meyakinkan mereka.
Karena Fadil sendiri sudah menyatakan kesanggupannya. Maka, meskipun dengan berat hati, Arya Wijaya menyatakan kalau dia dan keluarganya menerima tantangan yang diberikan oleh Tony Chan.
__ADS_1
'' Oke! deal ya? besok malam, kita akan melakukan perlombaan itu. Dan jangan lupa! kita buat surat perjanjiannya terlebih dahulu.'' ujar Tony begitu bersemangat.
'' Baik! tapi ingat! kalian juga harus menepati perjanjian itu! Jika tidak, saya juga bisa melakukan apapun seperti yang kalian lakukan terhadap kami.'' jawab Arya Wijaya dengan tegas.
Meskipun perlombaan itu belum juga dimulai, namun wajah Tony dan keluarga Chan yang lainnya begitu ceria. Mereka seperti sudah melihat kemenangan tersebut. Hotel ini, juga seluruh bisnis keluarga Arya Wijaya yang ada di negeri ini, semuanya akan menjadi milik mereka. Aset yang bernilai jutaan dolar tersebut, tak lama lagi akan mereka dapatkan dengan begitu mudahnya.
Hanya keluarga Amy Chan saja, yang terlihat kurang bahagia dengan pertaruhan tersebut. Mereka sangat khawatir, kalau Fadil nanti tidak akan bisa mengalahkan Thian Chan. Bahkan, mereka juga tahu. Kalau nantinya, keluarga Chan mereka, akan melakukan apapun untuk bisa memenangkan perlombaan tersebut.
Usai menandatangani surat perjanjian tersebut, Tony Chan dan rombongan keluarga besarnya kembali ke kediaman mereka di China town. Selama dalam perjalanan tersebut, Mei Ling begitu membangga-banggakan Thian Chan yang memiliki ide tersebut. Setelah sampai di kediaman mereka, merekapun langsung berkumpul untuk membahas rencana agar tujuan mereka bisa terlaksana dengan lancar seutuhnya.
...----------------...
Di hotel tempat Arya Wijaya dan yang lainnya berada. Selain Fadil, semuanya merasa begitu cemas. Mereka sangat khawatir, jika nanti Fadil akan kalah dalam perlombaan balap mobil tersebut. Bahkan, diantara mereka semua, Tiara adalah orang yang paling cemas.
'' A Fadil! kenapa tadi A Fadil mau menerima tantangan itu? aku takut A! aku takut nanti A Fadil kenapa-napa!'' ujar Tiara begitu khawatir.
'' Betul Fadil! kakek tidak khawatir, kalau nanti kakek harus kehilangan hotel dan aset-aset lain yang kakek miliki di negeri ini. Tapi yang kakek khawatirkan adalah, keselamatan kamu saat dalam perlombaan itu nantinya.'' ujar Arya Wijaya ikut menimpali.
'' Iya benar sayang! mama dan papa juga seperti itu. Dulu, kamu dan Alan pernah mengalami kecelakaan. Kami takut, kalau itu kembali terjadi padamu.'' sahut Sintya.
'' Ma, pa, kakek, Tiara! Hidup mati kita, sudah ada yang mengaturnya. Kecelakaan yang dulu pernah terjadi antara saya dan Alan, semuanya terjadi karena sudah takdir dari-Nya.''
'' Andai bukan karena sudah menjadi takdir untuk kami, saya juga tidak mungkin bertemu dengan kalian. Bahkan, jika bukan karena takdir, tidak mungkin juga saya berada di dalam tubuh Alan saat ini.'' ujar Fadil menjelaskan.
'' Tapi Fadil! kitakan masih bisa mencari jalan lain, untuk menyelesaikan permasalahan keluarga ini! kenapa juga harus melakukan balapan segala?'' ucap Sintya tidak rela.
'' Ma, pa, kakek! ada hal baik yang nantinya akan kalian ketahui.''
'' Bahkan, saya juga tau! kalau kakek tidak rela, jika keluarga Chan kakek ini menjadi hancur. Maka dari itu, kakek lebih banyak mengalah kepada mereka, walaupun sebenarnya kakek bisa saja melawan mereka.''
'' Namun percayalah kek, ma, pa! tidak lama lagi, kesombongan dan keangkuhan mereka akan segera berakhir. Mereka sendirilah yang akan datang meminta bantuan kepada kita, demi keluarga Chan mereka tersebut.'' ucap Fadil, seperti sudah melihat sebuah gambaran tentang mereka.
'' Tiara, kamu jangan terlalu cemas begitu! Insyaallah, aku bisa menjaga diri kok. Lebih baik kamu berdoa, biar semuanya baik-baik saja.'' ujar Fadil menatap Tiara yang terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya.
'' Tapi A..!'' ucap Tiara masih terlihat cemas.
'' Udaah.. gak papa! Insyaallah semuanya akan segera berakhir. Kita akan secepatnya pulang dan mempersiapkan pernikahan kita. Oh iya, jangan lupa minum obatnya! biar sisa-sisa racun itu semuanya hilang.'' ucap Fadil tersenyum lalu mencubit hidung Tiara.
Tiara yang tadinya begitu cemas, kini wajahnya jadi memerah karena malu. Lagi-lagi, Fadil didepan banyak orang mencubit hidungnya. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Fadil tersebut, membuat dia dan Tiara menjadi perhatian semua orang yang ada disana. Disaat yang lain begitu mencemaskan dia, Fadil malah terlihat begitu santainya mencandai Tiara.
'' A, malu ih! kebiasaan, banyak orang juga!'' ujar Tiara setengah berbisik.
'' Habis, kamu kalau lagi cemas gitu! kelihatan jelek. Kalau beginikan, baru kelihatan cantik!'' jawab Fadil, pun setengah berbisik.
'' Iiih..'' Tiara jadi gemas, lalu mencubit pinggang Fadil seperti biasanya.
' Auw auw, auw.'' teriak Fadil lirih, menahan rasa sakit akibat cubitan Tiara.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Fadil dan Tiara, tentu dilihat oleh mereka yang ada disana. Mereka jadi senyum-senyum sendiri melihat tingkah kedua insan yang sedang dimabuk asmara tersebut.
'' Kakak..., udah deh! Jangan bikin orang ngiri aja. Udah tau kami lagi mencemaskan kakak. Kalian malah mesra-mesraan gitu!'' ujar Nadia sambil mendorong tubuh Fadil, lalu menghalangi tubuh Tiara dari Fadil.
Sontak, apa yang dilakukan oleh Nadia membuat Sintya dan yang lainnya jadi tersenyum geli. Baik Fadil maupun Tiara, kini mereka berdua jadi salah tingkah. Mereka jadi tersadar, kalau saat ini mereka sedang jadi perhatian semua orang.
'' Emm... jadi kamu juga udah kepengen nikah ya? sabar.. tahun depan kamu juga akan menikah!'' ujar Fadil sambil memperbaiki posisi duduknya.
'' Apaan sih kakak! Siapa juga yang udah pengen nikah? Nadia kan masih mau lanjutin sekolah.'' ujarnya.
'' Gak percaya! liat aja nanti. Ma! kalau tahun depan nanti Nadia minta nikah, jangan dikasih ma. Biarin aja, walaupun Nadia sampai merengek-rengek dan guling-guling di lantai.'' ucap Fadil meledek Nadia.
'' Elleh, siapa juga yang mau nikah sampai merengek-rengek kayak gitu! Lagian, cowok aja Nadia gak punya, apalagi mau nikah tahun depan. Kakak suka ngasal. Jadi kasian sama kak Tiara.'' ujar Nadia lalu duduk disebelah Tiara.
'' Kakak ipar! Kakak nanti yang sabar ya! soalnya, kakak orangnya kayak gitu!'' lanjut Nadia berlagak menasehati Tiara.
Tiara tersenyum mendengar ucapan Nadia. Namun dia tidak berkata apapun, dan hanya melirik kearah Fadil. Sementara itu, Fadil yang mendengar celotehan Nadia tersebut, dia segera menyahuti perkataan Nadia.
'' Hhh.. Dasar bocah tengil! sok-sokan menasehati orang pula. Dikira kakak tidak tahu apa. Bukannya kamu tadi curi-curi pandang kepada Lian? ujar Fadil yang tadi sempat beberapa kali melihat Nadia seakan terpesona kepada Lian Chan.
'' Ih..kakak apaan sih? tuh kan ngasal lagi! Kakek..!'' kini Nadia terlihat kesal karena tidak bisa lagi mengelak dari perkataan Fadil.
'' Sudah.. sudah! Kalian ini, dari dulu sampai sekarang! selalu aja ribut. Kapan sih bisa akurnya?'' ujar Sintya melerai mereka.
Sebenarnya, baik Arya Wijaya, Sintya, maupun Andika. Mereka sedikit merasa heran. Ternyata, tidak cuma Alan yang tidak bisa akur dengan Nadia, bahkan Fadil juga sama seperti Alan. kalau sudah dekat dengan Nadia, pasti ada aja bahan keusilan terhadap Nadia ataupun sebaliknya. Sehingga, selalu saja ada cerita yang membuat Arya Wijaya dan juga yang lainnya merasa geli dengan tingkah mereka.
'' Kak ipar! nanti kalau sudah menikah, jangan kasih dia ampun. Pokoknya, kalau kak Fadil macam macam, kakak harus sikat habis dia. Biar kapok gitu!'' ujar Nadia kepada Tiara.
'' Tuuh! malah ngadu-ngadu! ma.. lihat Nadia ma..'' kini Fadil yang mengadu kepada Sintya.
'' Nadia.. Fadil., sudah!'' kini giliran Arya Wijaya yang melerai Fadil dan Nadia.
'' Iya kek...!'' jawab Fadil dan Nadia bersamaan.
Meskipun tingkah keduanya cukup menjengkelkan, namun rupanya tingkah mereka itu cukup membuat suasana yang tadi cukup tegang menjadi lebih rileks. Merekapun akhirnya kembali keruangan khusus, dimana mereka tinggal selama di hotel tersebut.
Sementara Sintya, Tiara, dan Nadia bersantai disana, Fadil, Ulil, Andika dan Arya Wijaya, membahas persiapan untuk perlombaan antara Fadil dan Thian Chan. Karena perlombaan ini begitu mendadak, maka Arya Wijaya merasa ini cukup merepotkan. Namun, Fadil dengan tenang mengatakan kepada Arya Wijaya, kalau untuk persiapan kendaraan dan yang lainnya, dia akan menghubungi teman-temannya yang ada di negara ini.
'' Kakek! nanti malam, saya akan keluar untuk bertemu dengan teman-teman. Saya akan meminta mereka untuk menyiapkan mobil, serta memeriksa lokasi yang akan dijadikan arena balapan.''
'' Saya merasa, Thian dan keluarganya juga akan membawa orang-orangnya dalam pertandingan besok malam. Maka dari itu, untuk berjaga-jaga, saya juga harus membawa serta mereka bersama kita.''
'' Tapi kamu harus hati-hati Fadil! kakek khawatir, mereka akan melakukan sesuatu padamu.'' ujar Arya Wijaya masih begitu mengkhawatirkan keselamatan Fadil.
'' Apa tidak sebaiknya, kamu meminta teman-temanmu saja yang datang kemari. Jadi, kami tidak akan terlalu khawatir tentang keselamatanmu!'' sahut Andika memberi masukan.
'' Tidak apa apa pa! Insyaallah, saya akan baik-baik saja. Lagi pula, saya juga harus mengecek sendiri lokasi tersebut. Agar saya bisa mempelajari medan yang akan dijadikan ajang balapan nanti.''
__ADS_1
'' Oh iya, saya juga akan mengajak serta Ulil nanti malam. Jadi, saya minta tolong sama kakek, papa dan juga yang lainnya, agar tidak keluar dari hotel ini. Demi keamanan kalian semua.'' ujar Fadil meminta kepada Arya Wijaya dan Andika.
...****************...