Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Akhirnya Dia Kembali


__ADS_3

Meski sudah menambahkan voltase pada alat pemacu detak jantung tersebut, namun tetap saja hasilnya tidak ada, hingga akhirnya...


'' Suster, sudah cukup!, kita telah cukup berusaha, tapi sepertinya upaya kita hanya bisa sebatas ini saja.''


Dokter akhirnya menyerah, upayanya untuk menyelamatkan nyawa Tiara sudah tak berhasil. Dia menyeka keringat yang membasahi wajahnya dengan sapu tangan, kemudian merapikan peralatan medisnya. Sekali lagi dia memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan dan leher Tiara, mencoba meyakinkan bahwa Tiara benar-benar sudah meninggal.


Setelah merasa yakin dengan apa yang di saksikanya, dokter kemudian memerintahkan kepada asistennya, untuk melepaskan alat-alat medis yang masih melekat pada tubuh Tiara. Sebelum peralatan yang menempel pada tubuh Tiara dilepaskan satu persatu, dokter itu keluar untuk memberitahukan kondisi Tiara kepada pak Syahroni dan bu Lilis. Pintu kamar itu segera terbuka, bu Lilis dan yang lainnya, dengan wajah cemas langsung bertanya kepada dokter saat baru saja dokter itu keluar dari balik pintu.


'' Dokter.., Bagaimana kondisi anak kami dok? Apakah dia baik-baik saja? Bu Lilis dengan penuh rasa cemas.


'' Bapak, Ibu.., mohon tenang.'' dokter itu menghela napas panjang kemudian melanjutkan.


'' Kami sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan anak ibu, tapi bagaimanapun yang menentukan semuanya adalah DIA yang maha segala galanya, mohon maaf pak, bu.., anak ibu sudah tak tertolong lagi.''


'' Apa? Maksud pak dokter? bu Lilis dan yang lainnya merasa terkejut.


'' Iya, nyawa anak ibu sudah tidak ada, dia sudah meninggal.'' jawab dokter dengan rasa prihatin.


'' Tiara, Tiara meninggal? Innalilahi wa innailaihi roji'un..'' serentak semua orang yang ada disana berkata.


Bu Lilis langsung terkulai lemas, pak Syahroni segera menyongsong tubuh istrinya, kemudian membawanya duduk di kursi yang ada di ruang tunggu. Yunita dan Vita yang baru saja datang, untuk menggantikan giliran menjaga Tiara juga terduduk lemas, kemudian terisak disana. Beberapa orang kerabatnya mencoba untuk menenangkan mereka berdua.


Asisten dokter yang masih didalam ruang rawat dimana Tiara berada, sedang mengemasi beberapa alat medis, mulai melepaskan alat bantu pernapasan dari tubuh Tiara. Pada saat dia akan melepaskan jarum infus dari tangan Tiara, tiba-tiba tubuh Tiara tersentak, seakan akan Tiara baru terjatuh dari ketinggian.


Tit tit, tit tit, tit tit.., suara dari alat pendeteksi jantung yang masih terhubung dengan tubuh Tiara, kembali aktif. Diagram yang tadinya menunjukkan garis lurus, tiba-tiba kembali bergelombang. Menunjukan kalau jantung Tiara kembali betdetak bahkan sangat cepat.


Asisten itu segera berlari menuju pintu, dokter yang merawat Tiara, baru beberapa langkah meninggalkan keluarga Tiara, dan akan kembali menuju ruangannya, dia segera berhenti dan berbalik saat asistennya memanggilnya.


'' Dokter.., dokter.., itu pasien.'' Suster itu dengan tergagap.


'' Iya.., ada apa sus? Dokter itu merasa keheranan.


'' Itu.., pasien, detak jantungnya kembali!'' lanjut suster itu berkata.

__ADS_1


Dokter itu terkejut, termasuk semua orang yang ada disana. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh asistennya , dokter itupun segera bergegas masuk dan memeriksa kondisi Tiara. Dokter itu melihat dalam diagram alat pendeteksi jantung, memang benar-benar bergerak. Lalu dia segera memeriksa kembali detak jantung Tiara, kemudian bernafas lega. Jantung Tiara memang benar-benar betdetak, bahkan wajah pucat Tiara, berangsur angsur berubah dengan cepat, wajah Tiara mulai memerah.


'' Subhanallah.., ajaib sungguh ajaib. Suster.., sebenarnya apa yang sudah terjadi?'' tanya dokter.


'' Saya juga tidak tahu ada apa dengan pasien ini dok!. Hanya saja, saat saya akan melepaskan jarum infus tadi, tiba-tiba tubuh pasien bergerak kaget. Seakan-akan seperti orang yang baru terjatuh.'' asisten itu menjelaskan.


Dokter itu manggut-manggut, mendengar penjelasan dari asistennya. Dia juga segera memasang kembali alat bantu pernapasan pada Tiara. Detak jantung Tiara berangsur-angsur kembali normal, setelah tadi berdetak begitu cepat, dan sebelumnya berhenti selama hampir lima menit. Perlahan, jari-jari tangan Tiara mulai bergerak. setelah itu bulu matanya yang lentik juga ikut bergerak, Tiara perlahan membuka kedua matanya.


'' Bu.., Ibu.. Ayah..'' bibir Tiara bergetar pelan. Dokter dan asistennya melihat itu merasa sangat gembira, bukan hanya detak jantung Tiara yang kembali, bahkan Tiara juga sudah tersadar dari komanya.


'' Sus.., Tolong panggil kedua orang tua pasien kemari!''


'' Baik dok '' jawab asisten itu singkat.


Pintu ruang itupun terbuka, asisten dokter segera muncul dari balik pintu.


'' Mohon maaf, kedua orang tua pasien tolong segera masuk!''


Pak Syahroni dan bu Lilis yang masih tercengang dan belum mengetahui apa yang terjadi dengan Tiara, kemudian berdiri dan segera masuk kedalam ruangan dengan penuh tanda tanya. Saat mereka masuk dan melihat Tiara yang sudah membuka matanya, pak Syahroni dan bu Lilis merasa sangat gembira. Beberapa saat yang lalu, dokter baru saja mengatakan kalau Tiara sudah meninggal. Namun kini, mereka melihat sendiri kalau Tiara baik-baik saja, bahkan Tiara sudah sadar dari komanya.


'' Terima kasih dokter, terima kasih.'' ucap bu Lilis penuh rasa gembira..


'' Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah..'' pak Syahroni ikut menyahut.


'' Berterima kasihlah pada Dia yg diatas bu, Dia yang memberikan keajaiban ini, kami hanya mencoba membantu sesuai kemampuan kami saja.''


Setelah melihat kalau kondisi Tiara sudah cukup normal, dokter itupun berkata kepada pak Syahroni dan bu Lilis :


'' Baik pak, bu.., berhubung kondisi pasien sudah semakin membaik, dan semuanya juga tampak normal, saya akan keluar dulu. Silakan bapak ibu menemani, tapi jangan banyak diajak bicara dulu, biarkan dia istirahat untuk memulihkan kondisi fisiknya.'' Dokter lalu keluar ruangan bersama dengan asistennya.


Tiara ingin berbicara, namun kondisinya masih lemah. Ditambah lagi dengan pesan dari dokter agar tidak banyak berbicara dulu, Dia hanya diam memandang silih berganti kedua orang tuanya. Dalam hati Tiara berkata : '' Ayah, ibu.., maaf sudah membuat kalian cemas.'' Mata Tiara berkaca-kaca.


'' Tiara.., syukurlah kamu sudah sadar nak!, kami sangat menghawatirkanmu. Jangan bersedih lagi, lekaslah sembuh.'' Bu Lilis berbisik lembut, tangannya membelai dan mengusap kepala Tiara.

__ADS_1


Tiara hanya memejamkan matanya menjawab ucapan dari ibunya. Pak Syahroni menggenggam tangan Tiara, memandangnya dengan penuh kasih sayang. Dia sangat menyayangi Tiara. Namun, walaupun begitu dia tidak membeda-bedakan antara Tiara dengan kedua saudaranya. Tak lama kemudian, pak Syahroni keluar dari kamar itu, dan memberitahukan kepada Yunita dan yang lainnya, kalau Tiara sekarang sudah lebih baik kondisinya. Mereka semua merasa lega dengan adanya kabar tersebut.


Dua hari kemudian, Tiara sudah benar-benar sehat. Berkat perawatan dari dokter dan pelayanan di klinik tersebut, Tiara sudah kembali pada kondisinya semula. Tubuhnya juga sudah tidak lagi terlihat kurus. Hari itu juga, setelah menyelesaikan administrasinya, pak Syahroni membawa pulang Tiara kembali ke rumah. Walaupun kondisi fisik Tiara sudah normal, tetapi Tiara tidak diperbolehkan melakukan banyak pekerjaan oleh kedua orang tuanya. Tiara hanya melakukan sedikit pekerjaan ringan. Tiara juga jarang sekali keluar rumah, dia juga sudah tidak lagi pergi ke masjid untuk mengaji. Dia hanya melakukan tadarus quran dirumahnya sendiri setiap malam.


Dalam pada masa itu, Tiara semakin jadi gadis yang pendiam. Hingga di suatu malam, seminggu setelah lebaran haji. Tiara usai melakukan tadarus Al Quran, dia keluar dari kamarnya. Mendapati kedua orang tua dan saudaranya sedang duduk di ruang keluarga.


'' Ayah, ibu.. Bolehkah Tiara ingin bicara?'' ucap Tiara.


'' Tiara, kamu pengen ngomong apa?bicaralah, ayah dan ibu siap untuk mendengarkan.'' ucap pak Syahroni menatap Tiara.


'' Begini yah, andai diperbolehkan, Tiara pengen pergi ke pesantren, itupun jika ayah dan ibu mengizinkan.''


Pak Syahroni dan bu Lilis saling memandang, kemudian menatap Tiara seakan ingin mengetahui maksud dan tujuan dari keinginan Tiara.


'' Tiara, apa kamu serius dengan keinginanmu itu?''


Tiara mengangguk.


'' Tiara, apapun yg menjadi keinginanmu, ayah dan ibu tidak akan menghalangi. Asalkan itu adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat. Tapi, kenapa kamu tiba-tiba punya keinginan seperti itu? '' Tanya pak Syahroni


'' Maaf ayah, ibu.., Tiara bukan bermaksud untuk membebani ayah dan juga ibu, ataupun Tiara bukannya tidak ingin membantu ayah dan ibu lagi di sini, tapi Tiara pengen menambah ilmu dan pengalaman. Serta, Tiara juga merasa disini dan saat ini, Tiara tidak bisa melakukan apa apa.''


Sebenarnya, alasan Tiara mengapa dia ingin pergi ke pesantren, karena dia merasa bosan menjalani kehidupannya seperti sekarang ini. Ditambah lagi, Tiara merasa, semakin hari semakin rindu kepada Fadil, namun rasa rindunya tak bisa dia curahkan. Semakin dia mengingat saat-saat indah bersama Fadil, hatinya juga semakin pedih. Lalu dia teringat kata-kata Fadil disaat dia dalam komanya : '' Tiara... Jika kamu merasa berat menjalani hidup ini, dan kamu begitu merindukanku, pergilah ke pesantren. Insyaallah.., rindumu akan segera terobati. Itulah yang menjadi alasan utama Tiara ingin pergi ke pesantren.


Walaupun dia sendiri tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Fadil saat mengatakan itu, namun Tiara yakin, dengan apa yang diucapkan Fadil kepadanya.


'' Tiara, ayah paham dengan apa yang menjadi keinginanmu, ayah dan ibu juga akan mendukungmu, lalu dimana kamu ingin mondok nak?''


'' Tiara manut yah.., dimanapun Tiara dipondokkan, Tiara akan terima dan jalani.''


'' Ya udah, Jika memang niat dan tekadmu seperti itu, biar kami fikirkan dimana kamu nanti akan di pondokkan.''


Seminggu kemudian, Tiara akhirnya pergi ke pesantren di daerah tempat kelahiran ibunya di Jawa. Dengan mencarter mobil travel, mereka sekeluarga pergi menghantarkan Tiara ke pesantren. Sebelum Tiara diantar masuk ke pesantren, mereka bersilaturrohim ke tempat saudara bu Lilis. Dan sangat kebetulan, bahwa anak perempuan dari saudara bu Lilis, juga sedang mondok di pesantren. Sehingga mereka lebih merasa tenang meninggalkan Tiara mondok di pesantren tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2