
Tak berapa lama kemudian, kedua keluarga inipun telah membuat suatu kesepakatan bersama. Bahwa setelah pertukaran nyawa antara Fadil dan Alan telah selesai, mereka akan secepatnya membicarakan tentang hari pernikahan antara Fadil dan Tiara. Karena siang ini Alan sudah harus berada ditempat kejadian kecelakaan tersebut, Alan dan seluruh keluarganya segera pamit undur diri. Sintya yang masih tidak ingin jauh dari Tiara, dia mengajak Tiara untuk ikut bersama mereka ke Baturaja. Tiara yang ingin melihat lokasi dan proses pertukaran nyawa Fadil dan Alanpun, dia meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk ikut bersama mereka ke Baturaja. Dengan ditemani oleh Vita, Tiara akhirnya diijinkan untuk ikut bersama keluarga Alan kesana.
Tiara, Vita, Sintya dan juga Nadia ikut bersama mobil yang dikendarai oleh Alan. Sementara Andika dan Arya Wijaya, mereka berdua menaiki mobil Andika. Sedangkan Hartono membawa mobilnya sendirian. Sebelum mereka pergi ke lokasi yang dituju, karena sempat melewati rumah keluarga Zul, Alan dan yang lainnya juga menyempatkan diri untuk mampir disana. Dan untuk menemaninya kembali ke rumah orang tua Fadil sepulang dari Baturaja, Alanpun mengajak Zulkifli untuk ikut bersamanya.
Berhubung masih ada waktu, Alan dan yang lainnya menyempatkan diri untuk mampir di rumah makan masakan Padang, yang ada dilokasi pasar tradisional sebelum mereka melanjutkan perjalanannya menuju kota Baturaja. Ketika dalam perjalanan mereka menuju lokasi, adzan Dzuhur telah berkumandang. Merekapun berhenti disebuah masjid, untuk melaksanakan sholat Dzuhur disana. Baru setelah melaksanakan sholat Dzuhur itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi kejadian kecelakaan yang ada dijalan lintas Baturaja.
Waktu menunjukkan pukul 13.30 waktu setempat. Lima menit sebelum waktu terjadinya kecelakaan yang terjadi tahun lalu, Alan dan rombongan telah sampai disana. Dua puluh meter dari lokasi terjadinya kecelakaan itu, Alan memarkirkan mobilnya di bahu jalan, dibawah pepohonan yang rindang, diikuti oleh Andika dan Hartono. Disinilah. Di tikungan yang menghadap jalan lurus yang cukup panjang itu, tempat dimana tabrakan antara dia dan Fadil terjadi. Dari dalam mobil itu, Alan yang masih duduk diam dibelakang kemudi mobilnya, dia terus menatap ke arah sana.
Terbayang kembali dalam ingatannya, saat dimana dia mencoba menghindari dua ekor anjing yang ada didepannya. Dia juga teringat, bagaimana dia setelah bertabrakan dengan motor yang dibawa oleh Fadil, lalu mobil Fortuner yang dibawanya menabrak tonggak pembatas yang ada dibahu jalan, hingga sebagian tonggak pembatas itu hancur. Dari dalam mobil itu, Alan juga masih bisa melihat jejak-jejak mobilnya yang terbakar. Meskipun dia sendiri tidak tahu bagaimana saat mobilnya, dan juga motor Fadil itu meledak, karena pada saat itu dia sudah tidak sadarkan diri, namun bekas-bekas kebakaran yang ada pada tonggak pembatas itu masih terlihat cukup jelas.
Andika, Arya Wijaya, Hartono dan juga Zul. Mereka turun dari mobil dan duduk-duduk didekat mobil yang dibawa oleh Alan, dan menunggu apa yang akan terjadi ditempat tersebut. Zul yang tidak tahu dengan apa yang akan dan sedang mereka lakukan ditempat ini, dia kemudian bertanya kepada Hartono. Secara singkat, Hartonopun menceritakan kejadian yang menimpa Alan ditempat ini, dan menceritakan tujuan mereka berada ditempat ini. Zul sangat terkejut mendengar apa yang diceritakan oleh Hartono. Dia sangat tidak menyangka, bahwa ternyata ada hal yang begitu besar dan sulit untuk dipahami oleh akal, andai dia tidak mendengar sendiri penjelasan dari Hartono paman Alan tersebut.
Selang beberapa saat kemudian. Entah suatu kebetulan atau bagaimana semuanya itu bisa terjadi, tiba-tiba suasana ditempat itu berubah menjadi lengang. Jalanan yang tadinya terlihat cukup ramai dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, kini benar-benar sepi. Tak ada satupun kendaraan yang berlalu ditempat tersebut. Alan yang menyadari bahwa waktunya telah tiba, dia kemudian turun dari mobilnya. Berjalan kearah tempat dimana dulu mobilnya meledak dan terbakar, dan meninggalkan Sintya, Tiara dan lainnya yang tetap berada didalam mobil tersebut.
Baru beberapa langkah kakinya berjalan, tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat terang menyinari tempat itu dan sekitarnya. Lalu memperlihatkan sebuah dimensi lain dari dunia yang berbeda. Secara tiba-tiba juga, muncul dua orang pemuda yang salah satunya berwajah mirip dengannya. Dialah Fadil bersama mahluk yang dulu pernah dijumpainya.
'' Assalamualaikum.'' ujar Alan menyapa keduanya.
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah.'' jawab mereka bersamaan.
'' Apakah kini sudah waktunya untukku kembali?'' ucap Alan setelah berhadapan dengan mereka.
'' Benar! waktu yang diberikan untukmu kini telah habis. Dan sepertinya kamu telah benar-benar mempergunakannya dengan baik.'' ucap mahluk tersebut sambil tersenyum menatap Alan.
'' Alhamdulillah, ini semua berkat bantuan dan pengorbanan mas Fadil yang sudah memberikan jatah umurnya padaku.'' ucap Alan berterima kasih kepada Fadil.
'' Terimakasih kang, engkau tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang aku lakukan untukmu.'' ujar Fadil kemudian mereka saling berpelukan.
'' Akulah yang seharusnya sangat berterima kasih padamu mas Fadil. Kalau bukan karena pengorbanan yang engkau berikan padaku, niscaya aku selamanya akan dalam kesengsaraan abadi.''
__ADS_1
'' Wahai mahluk Allah, bolehkah aku bertanya dan membuat satu permintaan terakhir?'' ucap Alan kepada pemuda tersebut.
'' Silahkan! jika Allah menghendaki, aku akan melakukannya untukmu.'' jawab mahluk tersebut.
'' Apakah mereka semua bisa melihat kita saat ini?'' tanya Alan sambil menunjuk kearah Sintya dan yang lainnya.
'' Iya, dengan ijin Allah. Mereka memang bisa melihat kita.'' jawab pemuda tersebut.
Dari tempat mereka berada, Sintya Tiara dan semua yang ada disana memang saat itu bisa melihat Alan dan kedua pemuda yang sedang berbicara bersamanya. Namun mereka semua seperti tidak bisa bergerak ataupun melakukan sesuatu. Mereka hanya bisa menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh Alan dan kedua pemuda itu.
'' Setelah nanti mas Fadil berada dalam jasadku, bisakah dia juga akan memiliki semua ingatanku?'' lanjut Alan meminta kepada mahluk tersebut.
'' Iya, dengan ijin Allah. Dia akan memiliki ingatanmu. Hanya saja, itu secara bertahap dan tidak secara spontan.'' ujar mahluk tersebut.
'' Lalu, bagaimana status dirinya kedepan? apakah dia akan menjadi diriku, ataukah menjadi dirinya sendiri?'' tanya Alan kembali.
'' Baiklah! sekarang sudah waktunya untuk kalian berdua. Fadil! sekarang waktunya untukmu kembali ke kehidupanmu, dan menjalaninya sampai batas yang telah Allah tentukan. Sedangkan untukmu Alan, sudah saatnya juga untuk kembali ketempat yang seharusnya kamu berada.''
Selepas berkata seperti itu, pemuda tersebut menyuruh Fadil untuk berjalan menuju tubuh Alan yang masih berada didalam mobil bersama Sintya dan yang lainnya. Rupanya, Alan yang tadi turun dari mobil tersebut, bukanlah Alan dengan tubuh utuhnya, melainkan hanya ruhnya saja. Setelah Fadil masuk kedalam tubuh Alan, tiba-tiba seluruh cahaya yang ada ditempat itu berkumpul menyelimuti ruh Alan dan pemuda tersebut, kemudian dengan cepat membawa mereka terbang dan menghilang diatas langit yang biru.
'' Allahu Akbar! Astaghfirullahal 'adzim.'' teriak Fadil, yang kini telah berada didalam tubuh milik Alan terkejut.
Sintya yang duduk disampingnya juga ikut terkejut. Begitu juga Tiara, Vita dan juga Nadia yang duduk dikursi belakang. Mereka benar-benar kaget dengan teriakan Fadil yang tiba-tiba itu.
'' Alan! kamu kenapa nak?'' tanya Sintya yang belum menyadari kalau kini dalam tubuh tersebut bukan lagi Alan, melainkan Fadil.
Fadil yang masih belum sadar betul dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia kemudian menoleh kearah Sintya. Saat melihat Sintya dan juga dirinya yang sedang berada didalam mobil, dia semakin bingung.
'' I ibu siapa ya? ke kenapa saya ada dimobil? apa yang sebenarnya terjadi pada saya?'' ujar Fadil masih kebingungan.
__ADS_1
'' Ah iya Ulil, dimana Ulil? Maaf bu! apa ibu melihat teman saya Ulil?'' Fadil kini teringat bahwa terakhir kalinya dia sedang bersama Ulil sahabatnya.
Melihat tingkah Alan yang seperti itu, Sintya akhirnya tersadar bahwa kini yang ada disampingnya bukan lagi Alan, melainkan Fadil yang telah kembali dari tempat peristirahatan sementaranya. Tiara yang masih tercengang melihat apa yang terjadi didepan matanya, Dia kemudian berkata:
'' A Fadil?'' panggil Tiara masih agak ragu.
Fadil yang mengenali suara tersebut lantas menoleh ke belakang. Dilihatnya Tiara, Vita dan seorang gadis lain yang sedang duduk memperhatikan dirinya.
'' Tiara? kamu juga ada disini? kamu juga Vit? oh iya! apakah kalian melihat dimana Ulil?'' tanya Fadil masih merasa bingung.
Dia kemudian turun dari mobil tersebut, sambil terus menoleh kesana-kemari mencari dimana keberadaan Ulil yang dalam ingatannya, dia baru saja menggendong Ulil dari tengah jalan untuk menyelamatkannya dari mobil bus yang akan melindasnya. Fadil dengan masih terhuyung-huyung, dia lalu mencari tempat untuk duduk dibawah pohon disebelah mobil itu.
Andika, Arya Wijaya, Hartono dan juga Zul yang melihat Alan bertingkah aneh seperti itu, mereka segera menghampiri Alan. Sintya dan yang lainnya juga ikut turun dan ikut mendekat bersama mereka.
'' Ma, apa yang terjadi? kenapa dengan Alan?'' tanya Andika.
'' Pa, Alan telah pergi!'' ucap Sintya lalu menangis dalam pelukan suaminya.
Nadia juga tidak kuasa menahan air matanya, diapun lalu ikut memeluk Sintya sambil menangis bersama. Arya Wijaya segera menghampiri mereka dan mencoba menenangkan Sintya dan Nadia. Nadia lalu beralih memeluk kakeknya.
'' Kek, Dia sudah bukan lagi kak Alan. Kak Alan sudah pulang untuk selamanya, hiks hiks.'' ujar Nadia dalam tangisnya.
Melihat orang-orang itu berkumpul mengelilinginya, dan bahkan beberapa diantaranya malah menangis didepannya, Fadil semakin bingung. Hartono yang melihat itu, dia menghampiri Fadil dan memberikan sebotol air mineral kepadanya.
'' Mas, ini minumlah dulu!. Biar mas bisa tenang dan dapat mengingat apa sebenarnya yang terjadi.'' ujar Hartono yang sudah menyadari, kalau kini orang yang ada didepannya adalah Fadil bukannya Alan.
Setelah beberapa saat kemudian, Fadil mulai merasa tenang. Sedikit demi sedikit ingatan milik Alanpun mulai hadir dalam memory pikirannya. Fadil juga mulai teringat, kalau dirinya demi menyelamatkan Alan, sudah mengorbankan hidupnya selama satu tahun, dan juga menyebabkan dirinya harus kehilangan tubuhnya. Dan dihari ini, baru saja mereka melakukan pertukaran posisi. Karena dia tidak lagi bisa kembali kepada tubuhnya, maka sebagai gantinya dia akan menggunakan tubuh Alan untuk menjalani hari-harinya kedepan.
...****************...
__ADS_1