
Setelah pingsan selama setengah jam, Tiara akhirnya tersadar dari pingsannya. Perlahan membuka matanya dan mendapati ibu dan kedua saudaranya yang sedang menatapnya dengan penuh rasa cemas. Sementara pak Syahroni sudah pergi bertakziah kerumah Fadil.
'' Bu, A Fadil belum meninggal kan? A Fadil masih hidup kan? Pengumuman tadi, dan juga Alfin, semua itu bohong kan bu..? Tiara langsung berkata, berharap bahwa apa yang di dengarnya, semua itu hanyalah ilusinya.
Semua yang ada ditempat itu terdiam kaku, entah mereka harus menjawab apa dengan pertanyaan-pertanyaan dari Tiara. Bahkan Yunita kembali menangis sesenggukan. Melihat Tiara yang seperti itu, rasa bersalah merasuki hatinya.
Tepat disaat yang begitu dramatis itu, samar-samar terdengar suara sirine mobil ambulan, yang semakin lama semakin jelas dan semakin dekat. Tiara langsung turun dari ranjang, bangkit berdiri lalu keluar dari kamarnya dan berdiri diteras rumahnya, dan tentunya segera diikuti oleh bu Lilis, Vita dan Yunita. Mereka semua berdiri memandangi mobil ambulan yang berlalu di depan rumah mereka. Di belakang mobil itu, Alfin mengikuti dengan motornya. Saat melewati rumah Tiara, Alfin menoleh dan memandang sekilas ke arah mereka.
Walaupun tadi Tiara sudah mendengar, bahwa Fadil kekasihnya telah meninggal, tapi Tiara masih belum dapat mempercayainya. Baru ketika mobil ambulan itu lewat, dan juga Alfin berada dibelakangnya mengiringi mobil itu, Tiara mau tidak mau harus mempercayainya. Ketika mobil ambulan itu telah berlalu dan semakin jauh, tiba-tiba Tiara berlari dengan sekuat tenaga, mencoba mengejar mobil ambulan tersebut.
Bagai orang yang kesurupan, Tiara terus berlari dan berlari. Sampai-sampai Tiara melupakan dirinya yang tidak memakai sandal dan jilbabnya.
'' Tiara..,tunggu Tiara!, kamu mau kemana?'' Bu Lilis berteriak memanggil Tiara.
'' Yun, cepat susul adikmu, hey tunggu-tunggu!. Vit, ambil kerudung dan sandal Tiara!'' perintah bu Lilis dengan panik.
Vita mengambil kerudung Tiara yang tadi dilepas saat Tiara pingsan, lalu memberikannya kepada Yunita yang segera berlari menyusul Tiara. Tiara sebenarnya tidak pernah melepas kerudungnya. Meskipun didalam rumah, dia selalu memakai jilbabnya. Namun kali ini, Tiara sudah benar-benar lupa dengan dirinya sendiri. Dalam pikirannya saat ini, yang ada hanyalah segera menyusul ambulan itu untuk melihat jenazah Fadil kekasihnya.
Tiara sampai didepan rumah Fadil, sementara jenazah Fadil baru saja diletakkan di dalam ruang tamu yang memang telah dipersiapkan sedari tadi. Pak Syahroni yang terkejut melihat kedatangan Tiara yang berlari itu, segera menyongsongnya. Mencoba untuk menenangkan Tiara. Tiara seperti tidak menghiraukanya sama sekali, juga tidak menghiraukan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
Tiara berhenti didepan pintu, matanya menatap jenazah Fadil. Disamping jenazah Fadil, duduk seorang wanita paruh baya yang sedang menangis. Alfin juga duduk disisi depannya, sambil membaca ayat-ayat Al-quran. Diatas sofa, disudut ruangan itu, Ulil dengan banyak perban di sekujur tubuhnya, sedang bersandar menatap jenazah Fadil, kemudian menoleh kearah Tiara yang masih berdiri kaku didepan pintu.
Dengan perlahan, selangkah demi selangkah, Tiara berjalan kedepan mendekati jenazah Fadil. Matanya terus menatap jenazah itu dengan tidak percaya. Yunita yang baru saja sampai, juga mengikuti dibelakang Tiara. Semua yang ada di ruangan itu menjadi terdiam, lalu memberikan ruang kepada Tiara sambil menatapnya dengan rasa iba.
Tiara kemudian duduk bersimpuh disisi ibunda Fadil, menghadap kearah tubuh yang terbaring disana. Air matanya terus mengalir, bibirnya bergetar tanpa sepatah katapun yang dapat terucapkan. Jenazah Fadil yang sudah di mandikan dan dikafani itu, ditutupi dengan kain, hanya menyisakan bagian wajahnya yang sengaja dibuka.
Tampak wajah yang pucat itu namun masih terlihat tampan, bahkan bisa dikatakan lebih tampan dari ketika dia masih hidup. Dari bibirnya, tersungging senyuman tipis, seakan terlihat seperti orang yang sedang tidur dan bermimpi indah. Hanya saja dengan wajah pucat dan tanpa napas tentunya.
'' A Fadil.., bangun A.'' panggil Tiara pelan.
'' A Fadil.., ini Tiara, bangun A, Tiara udah datang, tolong bangun!, hiks.. hiks..''
'' A bangun!, bicaralah sama Tiara. Tiara tahu Tiara udah salah, Tiara tidak tepati janji. Harusnya, Tiara tetap dirumah menunggu A Fadil.'' Tiara semakin terisak dan mulai tidak bisa mengontrol dirinya.
'' A Fadil, bangun dong A..!, jangan diam saja, bicaralah sama Tiara. A Fadil boleh marahi Tiara, boleh maki Tiara, bahkan, Tiara juga rela, kalau A Fadil mau pukul Tiara, tapi tolong A.. Bangun!, bicaralah sama Tiara, jangan seperti ini, huu..huu..''
Tangisan Tiara semakin pilu, tangannya tanpa sadar menyentuh tubuh Fadil dan mengguncangnya, berusaha untuk mencoba membangunkan Fadil yang masih tetap terdiam. Ibunda Fadil yaitu ibu Zaenab, sudah tak tahan lagi melihat Tiara yang sudah seperti itu, dengan lembut dia merengkuh tubuh Tiara dan membawanya kedalaman pelukanya.
'' Tiara.., sudahlah nak, Fadil sudah pergi dengan tenang. Ikhlaskan kepergianya, jangan bebani kepergianya dengan tangisan kepedihanmu..!''
__ADS_1
Ibu Zaenab mencoba menenangkan hati Tiara, dia tahu betapa Tiara mencintai Fadil, seperti juga Fadil mencintai Tiara. Ibu Zaenab juga sangat menyukai Tiara, selain cantik dan pintar, Tiara juga memiliki sifat yang baik dan taat pada agama. Oleh karenanya, sejak mengetahui kalau Fadil menjalin hubungan dengan Tiara, dia langsung merestuinya. Berharap Fadil dapat secepatnya untuk menikah dengan Tiara. Namun, harapannya telah sirna, karena sebelum harapan itu dapat terwujud, Fadil sudah pergi untuk selama-lamanya.
Ibu Zaenab juga bukannya tidak sedih dengan kepergian Fadil yang tiba-tiba. Air matanya juga masih menetes dipipinya yang mulai keriput. Bagaimanapun juga, Fadil adalah putra bungsu kesayanganya, dia yang telah melahirkan dan membesarkanya. Dia juga tahu arti dari sebuah rasa kehilangan. Namun, sebagai seorang wanita yang dewasa, yang sudah mengecap pahit dan manisnya kehidupan, dia juga mengerti batas-batas kesedihannya.
'' Tiara, sudah ya..! Jangan menangis lagi. Yang sabar, biarkan Fadil pergi!'' ibu Zaenab sambil menyeka air mata Tiara, setelah menyeka air matanya sendiri.
'' Tidak bu.., A Fadil belum meninggal, A Fadil tidak boleh pergi. Bagaimana nanti dengan Tiara kalau A Fadil pergi? Tiara gak sanggup, huu..huu..''
'' A Fadil.., jangan pergi tinggalkan Tiara. Tiara janji, kedepannya Tiara akan setia menunggu A Fadil.''
'' A.., bangun!, bukankah A Fadil ingin menikah dengan Tiara? bukankah kita sepakat untuk hidup bersama, hingga kita sama-sama menua? Bangunlah A.., Bangun!''
'' Apa A Fadil lupa? Kalau A Fadil pernah berkata, akan selalu setia menunggu Tiara hingga kak Yunita menikah? Oh.., tidak tidak!, secepatnya kita akan menikah. Secepatnya, Tiara akan meminta kepada ayah dan ibu, supaya memberi ijin untuk kita menikah lebih dulu, walaupun kak Yunita belum menikah.''
'' A Fadil.., jangan pergi.., jangan tinggalkan Tiara!, Tiara gak sanggup, Tiara gak sanggup!'' suara Tiara semakin pelan dan pelan, kemudian dia tak sadarkan diri.
'' Tiara, Tiara!'' pak Syahroni, Yunita dan ibu Zaenab bersamaan.
Baik Yunita, pak Syahroni, serta semua orang yang ada ditempat itu, sedari tadi hanya diam terpaku, memandangi Tiara yang sedari tadi berbicara kepada jenazah Fadil. Dalam hati mereka merasa haru dan pilu, tanpa terasa air mata mereka ikut menetes.
Bahkan diantara mereka ada yang ikut terisak menyaksikan adegan dramatis yang ada dihadapan mereka. Tak terkecuali Ulil yang ada di sudut ruangan itu, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil terisak. Dada dan tenggorokanya terasa begitu sesak, menyaksikan Tiara yang sedang meratapi kepergian Fadil. Hatinya menjerit sakit melebihi rasa sakit dari luka-luka yang ada pada tubuhnya. Dia teringat kembali ucapan Fadil malam itu, saat dimana cinta Fadil dan Tiara pertama kali bersatu.
'' Insyaallah Lil, cinta ini akan kujaga dan kubawa hingga aku mati.''
Pak Syahroni dan Yunita segera bergegas, awalnya pak Syahroni akan membawa Tiara yang pingsan itu pulang kerumahnya, namun ibu Zaenab menyarankan agar membiarkan Tiara beristirahat dulu dikamar, lalu baru dibawa pulang setelah Tiara sadar nanti. Tiara segera dibaringkan di kamar utama yang merupakan kamar milik Fadil. Dikamar itu, Tiara ditemani Yunita yang duduk dikursi belajar yang ada didalam kamar tersebut.
Untuk ukuran rumah sederhana, kamar Fadil dapat dikatakan cukup luas, dikamar itu ditempatkan ranjang kayu yang lumayan besar, lemari pakaian, meja dan kursi belajar, serta lemari rak buku yang di satukan dengan meja belajar. Kamar Fadil terlihat sangat rapi dan bersih, beberapa buku dan hasil kerajinan tangan, tersusun rapi dan teratur, menandakan bahwa sang penghuni kamar, merupakan orang yang sagat mencintai kebersihan dan keindahan.
Salah satu kreasi tangan berupa tulisan kaligrafi yang menghiasi dinding kamar itu juga bertuliskan : ''annadzofatu minal iman'' yang artinya kebersihan merupakan bagian dari iman. Di salah satu dinding diatas tempat tidur, tergantung sebuah bingkai foto berbentuk dua hati yang bersatu, yang dihiasi dengan rangkaian ranting bunga kelapa kering, yang dirangkai dengan sedemikian rupa sehingga tampak begitu unik. Ditengahnya diletakkan dua buah foto yang disatukan.
Salah satu foto itu adalah foto Tiara, yang sedang memajukan bibirnya yang tampak begitu imut dan lucu. Dengan backgroundnya, sebuah pohon duku dengan buahnya yang begitu lebat bergelantungan. Tangan kiri Tiara sedang memegang ranting cabang pohon duku itu, dan tangan kanannya terulur dengan membawa seunting buah duku. Foto ini diambil oleh Fadil saat dia akan mencicipi buah duku yang diberikan oleh Tiara.
'' Tiara, coba dong!, manis gak dukunya?''
'' Ya pasti manis dong A.., siapa dulu yang punya?'' jawab Tiara memberikan buah duku itu kepada Fadil.
'' Emm.., manis sih..!, tapi tak semanis Tiaraku.'' ucap Fadil menggoda Tiara.
Pada saat itulah, Tiara memajukan bibirnya. Dan momen itu diabadikan oleh Fadil dengan kamera ponselnya. Disebelah foto itu, adalah foto Fadil yang sedang menunjuk kearah langit. Dengan backgroundnya adalah sebuah pemandangan langit senja, yang tampak begitu indah. Entah apa makna dari foto Fadil yang sedang menunjuk kearah langit itu. Apakah maksudnya: '' aku ingin pergi kesana '' atau mungkin '' kutunggu engkau disana '', entah.., hanya Fadil sendiri yang mengerti maksud dari foto tersebut.
__ADS_1
...****************...
Jenazah Fadil segera dibawa ketempat peristirahatanya yang terakhir. Setelah terlebih dahulu, jenazahnya disholatkan di masjid samping rumahnya, lalu kemudian dibawa ketempat pemakaman untuk dikuburkan. Setelah prosesi pemakaman jenazah Fadil usai, orang-orang kembali kerumahnya masing-masing. Namun, ada juga sebagian yang masih sibuk dirumah Fadil, untuk mempersiapkan acara doa bersama pada malam harinya yang akan dilaksanakan selama 7 malam.
Yunita dan pak Syahroni juga masih berada disana, menunggui Tiara yang masih pingsan. Tak lama kemudian Tiara pun akhirnya mulai sadar dari pingsanya. Saat membuka matanya, Tiara menatap sekeliling. Memandangi kamar yang tampak asing baginya, namun entah kenapa walaupun begitu, Tiara malah merasakan hatinya begitu damai saat berada dalam kamar itu.
Tatapanya kemudian berhenti, saat mendapati sebuah bingkai foto berbentuk dua hati yang menyatu tersebut. Tiara menatap lama pada foto yang ada didalam bingkai itu. Melihat foto dirinya yang sedang memajukan bibirnya. Walaupun hatinya merasa sangat sedih, namun Tiara juga tersenyum saat melihat foto dirinya yang seperti itu. Dia ingat kalau foto tersebut adalah foto dirinya yang paling disukai oleh Fadil. Dia juga teringat, bagaimana Fadil tertawa renyah saat menunjukkan hasil jepretanya dan melihat ekspresi Tiara yang seperti itu.
Tiara menatap foto Fadil yang sedang menunjuk kearah langit, kemudian mengambil bingkai foto itu dan membelai foto tersebut.
'' A Fadil.., aku mengerti A.., mungkin sebenarnya engkau ingin mengatakan: '' kutunggu engkau disana.''
'' Iya A Fadil, tunggulah Tiara disana. Tiara akan pergi untuk menyusulmu A, jika didunia ini kita memang tak bisa bersatu, Tiara yakin, kita akan menyatu disana.''
'' Tunggulah Tiara disana A, Tiara akan kesana, untuk menjemput setengah Jiwa Tiara yang telah A Fadil bawa.''
Karena Tiara sudah sadar, juga hari sudah semakin sore, Yunita ingin mengajak Tiara untuk pulang. Namun, sebelum Tiara dan Yunita beranjak dari tempat itu, dari arah pintu, ibu Zaenab datang memasuki kamar tersebut.
'' Tiara.., kamu sudah bangun nak?'' ibu Zaenab duduk disisi pembaringan di sebelah Tiara.
Tiara masih memeluk bingkai foto itu dengan eratnya, mengusap air matanya, kemudian dia berkata :
'' Bu.., maafkan Tiara, Tiara penyebab semua kejadian ini.'' Tiara sambil menunduk.
'' Tidak nak, Tidak ada yang salah dalam hal ini, apa yang terjadi adalah karena sudah takdir dari Allah. Tiara tidak perlu minta maaf.''
Ibu Zaenab meyakinkan Tiara. Dengan penuh kasih sayang, dia membelai rambut Tiara, membelai wajah dan mengusap sisa-sisa air mata yang ada dikedua pipi Tiara. Ibu Zaenab benar-benar memperlakukan Tiara seperti layaknya anak sendiri, dia juga membawakan air putih hangat untuk Tiara.
'' Nak.., apakah kamu benar-benar mencintai Fadil?'' Dengan lembut ibu Zaenab bertanya.
Tiara menganggukan kepalanya.
'' jika kamu benar-benar mencintai Fadil, ikhlaskan kepergianya, doakan dia supaya mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya. Tetap tegar, dan sabar dalam menjalani kehidupan ini. Kamu masih muda, jalan hidupmu masih panjang. Masih banyak hal-hal yang berguna, yang dapat kamu lakukan.''
Yunita yang melihat bagaimana ibu Zaenab memperlakukan Tiara, hatinya merasa haru sekaligus iri. Walaupun Tiara belum menjadi menantu, dan tak mungkin lagi berkesempatan menjadi menantu ibu Zaenab, namun kasih sayang dari ibunda Fadil ini begitu sangat besar. Bagaimanapun juga, adalah harapan dari setiap gadis, memiliki ibu mertua yang sangat baik terhadap menantu. Andai saja suatu hari nanti, dia dapat memiliki seorang suami yang mempunyai orang tua seperti ibu Zaenab ini, tentunya akan menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terhingga.
'' Bu.., bolehkah Tiara membawa pulang ini?'' Tiara sambil menunjukkan bingkai foto yang ada dalam pelukanya.
Ibu Zaenab tersenyum.
__ADS_1
'' Nak.., jika itu bisa membuatmu merasa bahagia, ibu tentu tak akan merasa keberatan. Tapi, jangan sampai karena itu, malah membuatmu merasa sedih.''
...****************...