Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Romantika Cinta


__ADS_3

Tidak ada satupun diantara para penjaga keamanan itu yang bicara, dan merasa keberatan dengan apa yang diputuskan oleh Fadil. Bahkan, mereka juga merasa senang jika mereka dipimpin oleh Ulil.


Meskipun Ulil baru pertama kalinya dia ditugaskan sebagai penjaga keamanan, namun dengan kemampuan Ulil yang tadi mereka lihat, dan juga dia dipilih langsung oleh tuan muda mereka sendiri, sebagian besar mereka juga telah mengenal sifat dan watak Ulil.


Saat Ulil masih bekerja sebagai juru parkir hotel, mereka sudah cukup akrab dengan Ulil. Hanya saja mereka benar-benar tidak menyangka, jika ternyata Ulil begitu pandai beladiri dan juga merupakan teman dari tuan muda pemilik hotel tempat mereka bekerja.


'' Baiklah! kalau kalian semua tidak ada yang berkeberatan jika kalian dipimpin oleh teman saya ini, maka mulai hari ini, posisi yang tadinya dipegang oleh pak Nathan saya serahkan kepada teman saya Ulil.'' ujar Fadil.


'' Pak Nathan! tolong urus segala keperluan saudara Ulil.'' perintah Fadil kepada Nathan.


'' Baik tuan muda, saya akan laksanakan perintah tuan muda segera.'' jawab Nathan lalu membungkuk dihadapan Fadil.


'' Lil, aku titipkan masalah keamanan hotel ini sama ente. Aku percaya, ente bisa melakukannya dengan baik. Ente siapkan?'' tanya Fadil kepada Ulil.


'' Insyaallah mas Fadil, eh tuan muda!'' ujar Ulil meralat panggilannya kepada Fadil sambil senyum-senyum.


Mendengar Ulil memanggilnya dengan sebutan tuan muda, Fadil melambaikan tangannya kepada Ulil agar dia segera mendekat. Setelah Ulil berada didekatnya, dia lalu berkata:


'' Lil, ente gak usah memanggilku seperti itu!'' bisik Fadil kepada Ulil.


'' Kenapa mas? Eh tuan muda!" ujar Ulil.


'' Ente tuh, gak pantes banget ngomong kayak gitu Lil. Liat! kalau orang lain yang ngomong, mereka kelihatan serius. Tapi kalau ente, ngomongnya sambil cengar-cengir kayak gitu.''


'' Lagian, ente itu temanku Lil, bukan bawahanku. Jadi gak usah ikutan seperti mereka.'' lanjut Fadil berkata kepada Ulil.


'' Baiklah mas Fadil! siap, siap.'' jawab Ulil setuju.


Setelah berbicara kepada Ulil, Fadil kemudian memalingkan wajahnya kepada Alex. Dia lalu berkata kepadanya.


'' Oh iya pak Alex, hampir saya lupa. Mereka itu mabuk karena narkoba, jadi tolong segera panggil polisi dan pihak yang terkait untuk menangani masalah itu.''


'' Dan satu lagi, Suruh mereka memeriksa dia juga. Sepertinya, dia itu tidak jauh berbeda dari keponakannya.'' ujar Fadil sambil menunjuk kepada Rio.


Rio terkejut. Dengan dikeluarkannya dia dari pekerjaannya itu oleh Alex, dia sudah begitu sedih. Sekarang, Fadil malah mengatakan kalau dia juga terlibat masalah narkoba. Tentu saja, hal ini akan menjadi sebuah derita diatas derita. Dengan emosi, dia lalu berkata:


" Hey anak muda! jangan asal bicara kamu ya! seenaknya saja kamu menuduh orang mengkonsumsi narkoba.'' ujar Rio penuh amarah.


Rio yang sudah bukan lagi pegawai di hotel ini, dia sudah tidak perlu lagi bersikap hormat kepada Fadil. Namun, karena disana masih ada Alex orang yang ditakutinya, dia tidak berani berbuat yang macam-macam kepada Fadil.


'' Hey pak, benar tidaknya anda terlibat kasus narkoba, biar nanti para petugas yang akan memeriksa hasilnya. Kalau anda merasa tidak ada kaitannya dengan masalah ini, ngapain anda begitu takut untuk diperiksa.'' ujar Fadil kepada Rio.


Semua orang ditempat itu melihat kearah Rio. Seperti yang tadi Fadil bilang, memang seharusnya Rio tidak perlu merasa takut, jika memang dia tidak ada kaitannya dengan masalah narkoba. Namun, yang terjadi justru malah sebaliknya.


Setelah mendengar perkataan Fadil tersebut, kini Rio malah terlihat semakin pucat. Keringat mulai bercucuran dari wajah dan tubuhnya. Dia kemudian mundur beberapa langkah, lalu mencoba untuk melarikan diri dari tempat itu.


Namun, Alex yang sudah melihat gelagat Rio tersebut, langsung memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan dan menangkap Rio. Dia langsung diikat dan dikumpulkan bersama keponakan dan anak buahnya.


'' Baiklah pak Alex! karena saya masih ada urusan lain, jadi saya serahkan kepada pak Alex untuk mengurusi permasalahan disini.'' ujar Fadil, lalu mengajak Tiara pergi menuju mobilnya.


'' Oh iya Lil, aku pergi dulu ya! Baik-baik ente disini, insyaallah kapan-kapan aku akan datang kesini lagi.'' ujar Fadil lalu beranjak dari tempat itu.


'' Iya mas Fadil, hati-hati dijalan.'' jawab Ulil lalu tersenyum kepada Fadil dan Tiara.


Tidak berapa lama kemudian, polisi dan petugas BNN datang dan memeriksa Rio, keponakannya, serta teman-teman dan anak buah keponakan Rio. Melalui tes urine dan darah mereka, petugas menemukan hasil positif beberapa diantara mereka menggunakan narkoba. Termasuk juga dengan Rio dan keponakannya.


Bahkan, polisi juga menemukan narkoba didalam mobil Rio. Mereka lalu digelandang oleh petugas untuk dilakukan tes dan pemeriksaan lebih lanjut. Apa yang tadi dikatakan oleh Fadil, ternyata memang benar-benar terbukti. Hal ini membuat Alex dan yang lainnya merasa heran, bagaimana Fadil bisa mengetahui kalau Rio dan orang-orang tersebut mengkonsumsi narkoba.


...----------------...


'' Tiara, sekarang kita kemana? apa kita pulang dulu dan bersiap pergi ke pesantren, apa mau jalan-jalan dulu?'' tanya Fadil kepada Tiara saat dia sudah meninggalkan hotel Puri Kusuma dan membawa mobilnya dengan perlahan.


'' Terserah A Fadil aja deh! pokoknya Tiara ikut apa maunya A Fadil.'' jawab Tiara.

__ADS_1


'' Benarkah?'' ucap Fadil sambil menatap Tiara.


Tiara mengangguk. Dia masih sedikit trauma dengan kejadian tadi di hotel. Andai saja pistol yang dipegang oleh Rio itu masih ada pelurunya, dia tidak bisa membayangkan, jika dia harus kehilangan Fadil untuk yang kedua kalinya. Untuk itulah, Tiara sekarang tidak ingin jauh-jauh dari Fadil.


'' Kalau sekarang aku mengajakmu pergi ke KUA, emang kamu mau?'' seloroh Fadil.


'' Ke KUA? mau ngapain?'' tanya Tiara.


'' Ya menikahlah, masa angon kambing!'' canda Fadil, berusaha menghilangkan rasa trauma Tiara.


'' Maksudnya, ngapain kita buru-buru menikah sekarang? Bukannya enggak lama lagi kita juga akan segera menikah.'' ujar Tiara.


'' Jadi kamu enggak pengen? Bukannya tadi kamu bilang mau ngikut apa mauku?'' ujar Fadil.


'' Bukannya Tiara gak pengen A, tapi masa sampai begitu buru-burunya?'' jawab Tiara agak heran, kenapa Fadil ingin cepat-cepat mengajaknya menikah.


'' Oh.. jadi ternyata, pengen juga! pantesan!'' Fadil senyum-senyum melirik Tiara.


'' Pantesan apaan? kok ngeliatnya gitu amat sih A?'' Tiara merasa curiga dengan senyum dan lirikan Fadil.


Melihat Tiara yang seperti itu, Fadil tidak menjawab. Dia hanya senyum-senyum, yang justru membuat Tiara semakin curiga dan penasaran, apa maksud Fadil berkata seperti itu.


'' Pantesan apa sih A?'' tanya Tiara lagi.


'' Enggaak! enggak apa-apa kok!'' jawab Fadil sambil senyum-senyum, yang membuat Tiara semakin penasaran.


'' A Fadil! cepet bilang! pantesan apa?'' teriak Tiara dengan gemas dan manja.


Fadil kini terkekeh, upayanya untuk menghilangkan rasa trauma Tiara, mulai berhasil. Namun, hal itu malah membuat Tiara merasa kesal. Seperti kebiasaannya, saat dia dibuat kesal oleh Fadil, maka dia akan mencubit lengan ataupun pinggang Fadil.


'' Auw auw! aduh aduh! ampun ampun Tiara, auw auw!'' teriak Fadil namun masih terkekeh.


'' Cepat! mau bilang gak? hayo, pantesan apa?'' ancam Tiara semakin gemas mencubit Fadil.


'' Makanya..!'' ucap Tiara lalu melepaskan cubitannya.


'' Makanya apa?'' tanya Fadil, sambil menggosok-gosok bekas cubitan Tiara.


'' Ya makanya, jangan suka bikin orang penasaran! kebiasaan banget sih.'' ujarnya dengan wajah puas setelah membuat Fadil menyerah atas cubitannya.


'' Soalnya, aku suka liat kamu penasaran kayak gitu. Kamu kelihatan cantik dan lucu.'' ujar Fadil sambil tersenyum.


'' Elleh, gombal.'' ucap Tiara sambil berpura-pura membuang muka. Namun sebenarnya, hatinya merasa senang atas pujian dari Fadil.


Disaat itu, mobil yang dibawa oleh Fadil, tepat berada didepan sebuah pusat perbelanjaan. Fadil lalu membawa mobilnya masuk dihalaman pusat perbelanjaan itu, dan memarkirkannya disana.


Meskipun berada ditengah-tengah kota, namun halaman tempat itu terbilang cukup luas. Beberapa pohon perdu yang cukup rindang, tertata rapi dan menjadi tempat parkir kendaraan orang yang datang berkunjung disana.


'' Tiara, kita masuk dulu yuk! kita cari sesuatu buat kado pernikahan kang Zul dan mbak Naila.'' ajak Fadil kepada Tiara.


Tiara mengangguk setuju. Dia lalu turun dari mobil, dan masuk ke pusat perbelanjaan tersebut bersama Fadil. Mereka lalu memilih barang untuk dijadikan kado buat Zul dan Naila. Tiara memilih busana Muslimah lengkap untuk Naila, sedangkan Fadil memilih jas, kemeja, dan juga celana serta sepatu untuk Zul. Mereka juga memilih barang-barang untuk mereka sendiri.


Setelah merasa cukup dengan barang yang mereka inginkan, mereka lalu menuju meja kasir untuk membayar barang-barang yang sudah mereka pilih. Fadil dan Tiara juga meminta kepada pelayan disana, agar sekalian membungkus barang yang dijadikan kado untuk Zul dan Naila.


Kehadiran Fadil dan Tiara disana, cukup menjadi perhatian bagi karyawan dan pengunjung ditempat tersebut. Selain karena tampilan keduanya yang terlihat begitu sangat serasi, barang yang mereka beli juga cukup banyak. Meskipun barang-barang yang mereka beli harganya tidak terlalu mahal, namun juga tidak bisa dibilang murah.


Bahkan, karena tidak setiap hari bisa mendapatkan pelanggan seperti mereka berdua ini, sang manajer tempat inipun ikut turun tangan melayani Fadil dan Tiara. Setelah membayar barang belanjaan mereka, Fadil dan Tiara kembali ke mobil, diikuti oleh beberapa pelayan yang membawakan barang belanjaan mereka.


'' Waah.. A Fadil, lihat! ini gak papa apa A?'' ucap Tiara sambil menunjuk kearah belanjaan mereka yang menumpuk dibagasi.


'' Gak papa Tiara! sekali-kali kita berbagi rejeki kepada para penjual yang ada didalam sana. Lagipula, mama juga tadi pagi yang nyuruh aku ngajak kamu shopping bukan?'' ujar Fadil.


Setelah mengambil beberapa kue dan buah untuk camilan, Fadil lalu menutup pintu bagasi dan masuk kedalam mobilnya diikuti oleh Tiara. Namun dia tidak segera menghidupkan mesin mobil tersebut, melainkan hanya duduk sambil menikmati buah yang tadi dibelinya.

__ADS_1


'' A, ayo katakan! tadi pantesan apa?'' tagih Tiara karena Fadil belum sempat menjelaskan maksud kata-katanya itu.


'' Pantesan? pantesan yang mana?'' Fadil balik bertanya.


'' Itu tadi lho A, yang A Fadil bilang tadi dijalan!'' ujar Tiara mengingatkan.


'' Oh.. yang itu!'' ucap Fadil, lalu kembali senyum-senyum.


'' Iya, cepat katakan!'' ucap Tiara tidak sabar.


Namun, Fadil masih terus senyum-senyum dan tidak segera mengatakan seperti yang diminta oleh Tiara.


'' Tuuh kan! mulai lagi. Minta dicubit lagi nih!'' ancam Tiara bersiap untuk mencubit lagi.


'' Eeh.. jangan jangan jangan! cukup cukup. Yang tadi aja masih terasa sakitnya.'' ujarnya memohon.


'' Ya udah.., cepat katakan!''


'' Iya iya..! galak amat.'' gerutu fadil.


'' Itu.., maksudnya. Pantesan aja ternyata kamu udah pengen, sampe meluk aku segitu eratnya. Malah minta gendong segala lagi.'' ujarnya lalu terkekeh.


Mendengar Fadil kembali mengungkit kejadian tersebut, wajah Tiara jadi memerah. Dia sendiri, benar-benar tidak sadar ataupun sengaja melakukan hal tersebut.


'' Iih.., apaan sih A Fadil. Akukan nggak sengaja ngelakuin itu! Enak aja bilangan aku udah pengen.'' ujarnya, lalu menutupi mukanya yang memerah karena malu mengingat hal tersebut.


'' Nggak sengaja apa pengen?'' goda Fadil sambil senyum-senyum melihat Tiara.


'' Nggak sengaja A, beneran! suer.'' Tiara sambil mengacungkan dua jarinya.


'' Ah yang bener?'' Fadil terus menggoda Tiara.


'' Beneran.'' jawab Tiara dengan serius.


'' Beneran apa beneran?''


'' Beneran A.., serius!''


'' Jadi, beneran kamu pengen?'' Fadil membolak-balik kata-katanya menjebak Tiara.


'' Iya! ups Eh, A Fadiil..!" Tiara menutup bibirnya karena terjebak oleh kata-kata Fadil, lalu berteriak sambil memukul-mukul bahu Fadil.


Fadil semakin terkekeh karena berhasil membuat Tiara terjebak dengan kata-katanya. Tiara dengan begitu gemas, terus memukul-mukulkan kedua tangannya di bahu Fadil, yang masih terus terkekeh tersebut. Setelah puas, dia lalu berkata:


'' A Fadil jahat ih, suka banget jebakin orang.'' ujarnya.


'' Jahat gimana? aku kan cuma nanya, kamu beneran pengen apa tidak? dan ternyata, kamu memang udah pengen. pantesan.. pantesan!'' Fadil sambil manggut-manggut lalu senyum-senyum.


Melihat Fadil seperti itu, Tiara menjadi salah tingkah. Dia lalu berkata:


'' Tapikan, maksud Tiara bukan begitu A. A Fadil aja yang pikirannya ngeres dan mengira Tiara udah pengen.'' sanggah Tiara atas sangkaan Fadil kepadanya.


'' Jadi kamu enggak pengen?'' tanya Fadil sambil menoleh kearah Tiara.


Tiara hanya diam, dan tidak menjawab pertanyaan dari Fadil. Dia takut, kalau Fadil akan menjebaknya lagi dengan pertanyaannya tersebut. Melihat Tiara hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya, Fadil lalu menatap ke depan dan berkata:


'' Ya udah, kalau kamu enggak pengen! Aku mau cari...''


Mendengar Fadil berkata seperti itu, tiba-tiba Tiara merasa cemburu. Dia teringat teman-teman Nadia yang begitu menyukai Fadil. Dia juga teringat perempuan-perempuan yang terus menatap Fadil, baik saat di hotel dan di pusat perbelanjaan tadi. Maka dari itu, Tiara langsung memotong perkataan Fadil, sebelum Fadil menyelesaikan kata-katanya.


'' Iya iya! Tiara tau, A Fadil ingin cari yang lain yang mau cepet-cepet nikah kan? Tiara juga tau, banyak cewek-cewek yang menyukai A Fadil.'' ucap Tiara merajuk.


Tak tahu kenapa, hati Tiara begitu terasa sakit. Api cemburu, dan rasa takut kalau Fadil akan mencari wanita lain selain dirinya, membuatnya merasa sangat sedih. Dia ingin marah, namun tidak bisa. Dia menyadari, kalau sekarang Fadil selain memiliki rupa yang lebih tampan, dia juga memiliki status sosial yang tinggi, dan tentunya akan selalu menjadi incaran gadis-gadis yang lain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2