Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Esoknya, Fadil, Tiara, dan seluruh keluarga Arya Wijaya, mereka berangkat bersama pergi ke Singapura. Fadil juga membawa Ulil sahabatnya, yang kini bekerja sebagai kepala keamanan di hotel milik keluarga Arya Wijaya. Tujuan Fadil membawa serta Ulil tersebut, karena dia merasa, nantinya dia akan memerlukan bantuan Ulil untuk menjaga Tiara dan juga yang lainnya.


Bagaimanapun juga, Ulil termasuk pandai dalam ilmu beladiri. Maka dari itu, Fadil sengaja membawa Ulil untuk membantunya, jika nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan diluar perkiraannya.


Setelah beberapa jam melakukan perjalanan dengan menaiki pesawat terbang, merekapun sampai di bandara Paya Lebar Singapura. Dari bandara tersebut, mereka dijemput oleh orang kepercayaan Arya Wijaya dan langsung membawa mereka ke hotel cabang miliknya yang ada didaerah Pasir Ris di negara ini.


Sesampainya mereka di hotel, mereka langsung disambut oleh manager dan para pegawai hotel tersebut. Meskipun kedatangan Arya Wijaya dan yang lainnya bisa dikatakan mendadak, namun saat orang kepercayaan Arya Wijaya menjemput mereka di bandara, dia telah menyuruh manager hotel agar mempersiapkan segalanya.


'' Tuan besar, tuan muda, semuanya, mari silahkan!'' sapa manager hotel dan yang lainnya mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam hotel.


Sebuah ruangan besar dengan beberapa kamar eklusif, telah disiapkan untuk mereka. Ruangan ini memang dibuat khusus untuk Arya Wijaya dan juga keluarganya. Ruangan dengan desain mewah, dengan pemandangan menghadap langsung ke pantai tersebut, begitu memanjakan mata. Dari ruangan ini juga, bisa melihat kapal-kapal yang sedang berlayar dan juga bisa menyaksikan sunset pada sore harinya.


'' Fadil, Sintya, dan kalian semua! kita istirahat dulu disini. Besok pagi, baru saya akan mengajak kalian untuk menemui keluarga kakek di daerah China town di negara ini.'' ujar Arya Wijaya saat mereka semua berada diruang lobi ruangan khusus tersebut.


'' Iya kek! memang seharusnya kita rileks dulu disini, sambil mempersiapkan diri jika ada kemungkinan yang tidak kita inginkan.'' jawab Fadil sambil menikmati minuman hangat yang baru saja disediakan oleh pelayan hotel.


'' Pa! kenapa papa tidak pernah cerita, kalau ternyata papa punya keluarga disini?'' tanya Sintya.


'' Sintya! papa bukanya tidak ingin mengatakannya, kalau papa sebenarnya punya keluarga disini. Tapi, mereka sudah tidak mengakui kalau papa ini bagian dari keluarga mereka. Jadi, untuk apa papa memberitahukan semua itu kepada kalian.'' jawab Arya Wijaya setelah menarik napas panjang.


'' Kakek! kenapa mereka begitu membenci kakek? Bahkan, kami yang tidak tahu apa-apa, juga ikut dibenci oleh mereka. Apa kakek sudah membuat kesalahan yang begitu besar?'' tanya Nadia.


Arya Wijaya tidak langsung menjawab pertanyaan dari Nadia. Dia malah kembali menarik napas dalam-dalam. Sepertinya, dia benar-benar tidak ingin kembali mengingat masa lalunya itu.


'' Nadia! ada hal yang mungkin tidak harus diceritakan. Mungkin, apa yang tadi kamu tanyakan, kakek juga tidak ingin mengingat hal itu. Jadi, jangan terlalu ingin tahu tentang masalah tersebut.'' ucap Andika, setelah melihat reaksi Arya Wijaya atas pertanyaan dari Nadia.


'' Suatu saat nanti, kalian pasti akan tahu tentang masa lalu kakek. Tapi, untuk sekarang ini, kakek minta maaf karena tidak bisa menceritakannya.'' sahut Arya Wijaya.


Sebenarnya, semua orang yang ada ditempat itu ingin sekali mendengarkan kisah masa lalu Arya Wijaya dan keluarga besarnya. Namun, berhubung Arya Wijaya sepertinya tidak ataupun belum ingin menceritakannya, merekapun tidak berani untuk kembali meminta agar Arya Wijaya mau bercerita.


...----------------...


Sementara itu, di wilayah China town. Di sebuah rumah tua bergaya khas Tionghoa, dengan halaman yang cukup luas tak jauh dari Buddha tooth relic temple. Seseorang datang menemui Tony Chan.


Sebagai kepala keluarga besar Chan menggantikan posisi kedua orang tuanya yang telah meninggal, Tony Chan akan selalu mendapatkan laporan dari keluarganya yang lain. Baik soal perkembangan bisnis, keadaan keluarga, dan semua yang terkait dengan kehidupan keluarga besar tersebut.


Tony Chan adalah anak kedua dari tiga bersaudara dikeluarga Chan. Alex Chan adalah saudara tertuanya. Sementara adik bungsunya yang bernama Amy Chan, dia merupakan satu-satunya anak perempuan dari keluarga ini.


Sejak Alex Chan tak lagi diakui sebagai bagian dari keluarga ini, Tonylah yang menggantikan posisi Alex sebagai pewaris dan menjadi kepala keluarga, serta menggantikan Alex menikahi saudara sepupunya yaitu Mei Ling. Dari pernikahan ini, dia memiliki seorang putri bernama Olivia Chan, dan juga seorang cucu bernama Thian Chan.


Sementara saudara perempuan Alex dan Tony yang bernama Amy Chan, memiliki seorang putra bernama Lin Chan yang juga memiliki putra dan putri bernama Lian Chan dan Lili Chan. Baik Thian Chan dan juga Lian Chan, mereka hampir seumuran dengan Alan. Sementara Lili chan, dia juga seumuran dengan Nadia.


'' Tuan Chan tuan Chan! ada kabar penting tuan!'' seru seorang laki-laki sambil bergegas dengan cepat menghampiri Tony Chan.


'' Ada apa Bao? kenapa kamu begitu terburu buru?'' ujar Tony yang melihat An Bao yang datang dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


'' Begini tuan! saudara anda Alex beserta seluruh keluarganya datang ke negeri ini. Entah apa maksud dan tujuan mereka, tapi ini begitu jarang terjadi tuan!'' ujar lelaki itu menjelaskan.


'' Hemm.. jadi Alex dan seluruh keluarganya, sekarang ada disini. Bagus bagus! Ini bisa mempermudah kita untuk melenyapkan mereka.'' ucap Tony sambil manggut-manggut.


'' Bao! apa kamu tahu, apa tujuan mereka datang ke negeri ini?'' lanjut Tony.


'' Tidak tuan! saya belum dapat informasi soal itu. Saya hanya tahu, saat mereka baru saja dijemput dari bandara, dan langsung pergi ke hotel di daerah Pasir Ris miliknya tuan.''


'' Apa yang harus kita lakukan sekarang tuan?'' tanya Bao.


'' Untuk sekarang, kita jangan melakukan apapun dulu. Terus cari tahu apa tujuan mereka datang kesini, saya akan mengumpulkan semua keluarga untuk membicarakan hal ini.'' perintah Tony kepada Bao, sambil memikirkan sesuatu.


'' Baik tuan! secepatnya saya akan mencari tahu informasinya.'' ujar Bao lalu segera meninggalkan tempat tersebut.


Sepeninggal Bao dari tempat itu, Tony kemudian menghubungi saudara dan seluruh keluarganya. Dia meminta agar mereka secepatnya berkumpul disini. Baru saja dia menutup panggilan telepon tersebut, sebuah panggilan dari nomor asing masuk. Dia lalu mengangkat panggilan tersebut.


'' Halo! siapa ini?'' ujar Tony menanyakan kepada pemanggil yang ada diseberang sana.


'' Ini aku Tony! apa karena kamu sudah merasa berjaya, lalu sudah tidak mengenaliku lagi.'' ujar suara diseberang telepon.


'' Sebentar sebentar! apakah kamu Alex? hhh.. ternyata kamu masih berani juga menghubungi kami. Apa kamu sudah tak lagi sayang dengan seluruh keluargamu, sehingga mengajak mereka semua datang kemari? hhh..'' ucap Tony dengan begitu sombongnya.


'' Tony.. Tony! kita ini sudah berumur. Tapi tampaknya, kamu bukan cuma sudah berubah sejak menjadi kepala keluarga. Bahkan, kamu juga semakin tidak menyadari sesuatu yang akan membuatmu menyesal nantinya.'' ucap Arya Wijaya.


'' Hhh... Apakah sekarang kamu menyesal, karena sudah membuat keputusan yang salah?'' sahut Tony.


'' Hhh.. Alex.. Alex! aku tidak paham dengan jalan pikiranmu. Sudah bagus bagus kamu akan menjadi kepala keluarga kita, menjadi pewaris seluruh perusahaan milik keluarga ini. Tapi, hanya karena wanita rendahan itu, kamu rela membuang segalanya.'' ungkit Tony membicarakan masa lalu Arya Wijaya.


'' Begini saja, aku tidak ingin berbasa basi lagi denganmu. Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu dan seluruh keluarga besar Chan, besok jam sembilan pagi, aku akan datang kesana untuk membicarakan sesuatu dengan kalian. Ingat ya, jam sembilan pagi!'' ucap Arya Wijaya dan langsung menutup panggilan tersebut.


'' Hey, tunggu tunggu! jangan dulu..'' ( Tut Tut Tut ) terdengar suara panggilan itu sudah diputuskan oleh lawan bicara diseberang telepon.


'' Huh! Dasar keras kepala!'' gerutu Tony yang merasa tidak puas karena Arya Wijaya telah memutuskan panggilan tersebut.


'' Ada apa sih opa? kok marah marah gitu! Memangnya siapa tadi yang telepon?'' tanya Mei Ling yang tiba-tiba muncul dari belakang.


'' Itu lho oma! Alex yang barusan telepon.'' ujar Tony.


'' Alex? Lelaki pengecut itu! Mau apa dia menghubungi kita? apa dia mau menyatakan penyesalannya sekarang?'' ujar Mei Ling.


Mendengar perkataan Mei Ling, wajah Tony sepertinya menunjukkan rasa ketidaksenangannya. Sepertinya dia agak merasa cemburu, karena sebenarnya dulu Mei Ling begitu menyukai Arya Wijaya.


'' Ngapain sih wajah kamu seperti itu? kamu cemburu?'' tanya Mei Ling merasa risih dengan wajah Tony yang seperti itu.


'' Hhh... cemburu? ngapain aku cemburu sama kalian! Lagipula, kamu juga sudah peot gitu. Mana mau Alex sama kamu! Bukanya dulu juga dia tidak menyukaimu?'' ledek Tony menutupi perasaan dalam hatinya.

__ADS_1


'' Itu karena dia terlalu b***h, cuma karena wanita itu saja, dia sampai berani meninggalkan semuanya.'' sahut Mei Ling agak sewot.


'' Sudah sudah! ngapain bahas masalah itu lagi. Bikin runyam saja.'' ujar Tony juga dengan tidak senang.


Begitu Tony berkata seperti itu, Mei Ling langsung terdiam. Meski dalam hatinya merasa kesal, namun dia juga tidak ingin ribut dengan suaminya tersebut. Tidak berapa lama kemudian, seluruh keluarga besar Chan segera datang dan berkumpul dirumah tersebut. Mereka lalu membahas tentang masalah Arya Wijaya dan keluarganya yang akan datang besok menemui mereka.


Berbagai usulan dari mereka yang hadir ditempat itupun segera keluar. Karena mereka tidak tahu apa tujuan Arya Wijaya datang menemui mereka, maka merekapun hanya bisa menduga-duga saja. Sehingga ada yang mengatakan, kalau kedatangan Arya Wijaya mungkin karena ingin membalas dendam atas perlakuan mereka terhadap Arya Wijaya dan keluarganya.


Ditambah lagi, mereka juga mendengar. Kalau upaya mereka membunuh Alan, kini telah diketahui oleh Arya Wijaya dan keluarganya. Dan diantara mereka ada juga yang mengusulkan, kalau nanti Arya Wijaya datang bersama keluarganya, mereka akan membunuhnya dengan cara meracuni mereka semua.


Namun, hal ini langsung ditolak oleh Amy Chan. Dari dulu, Amy Chan sebenarnya tidak setuju dengan usulan-usulan terutama usulan dari Mei Ling. Dengan mengeluarkan Arya Wijaya dari keluarga Chan, sebenarnya itu sudah cukup menurut Amy Chan. Jadi, tidak perlu melakukan hal-hal yang lainnya. Akan tetapi, karena Tony Chan sebagai kepala keluarga dan selalu termakan hasutan dari Mei Ling, maka sering kali penolakan dari Amy Chan selalu diabaikan oleh Tony Chan.


...----------------...


'' Kek! saya punya firasat. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap kita. Apa tidak sebaiknya saya saja yang datang kesana?'' usul Fadil kepada Arya Wijaya.


'' Tidak Fadil! harusnya cukup kakek saja yang pergi kesana. Kalian tetaplah disini! jika nanti terjadi apa-apa sama kakek, masih ada kalian yang akan meneruskan usaha milik keluarga kita.'' ujar Arya Wijaya.


'' Tidak kek! kakek tidak boleh pergi kesana sendirian. Pengaruh kakek masih sangat besar dalam perkembangan perusahaan milik keluarga kita. Kalau nanti terjadi sesuatu terhadap kakek, bukan hanya kami yang akan merasa kehilangan. Seluruh perusahaan keluarga kita, juga akan ikut terkena dampaknya.'' ujar Fadil tak ingin Arya Wijaya pergi sendirian.


'' Betul pa! tanpa papa, kami belum sanggup mengatasi semua permasalahan di dalam perusahaan. Para investor itu, mereka lebih memiliki kepercayaan terhadap papa daripada kami.'' sahut Sintya ikut menyatakan keberatannya.


'' Atau begini saja kek! Bagaimana kalau kita saja yang mengundang mereka kemari. Karena disini adalah tempat kita, tentunya keamanan kita akan lebih terjamin.'' usul Fadil.


Arya Wijaya terdiam. Apa yang dikatakan oleh Fadil tersebut memang sangat masuk akal. Disini, di hotel miliknya ini, adalah tempat orang-orang kepercayaannya sendiri. Jadi, sangat kecil kemungkinannya, jika terjadi sesuatu yang akan membahayakan dirinya dan juga keluarganya.


'' Itu usulan yang bagus Fadil. Tapi, yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah mereka akan mau menerima tawaran ini. Mereka itu sangat pandai membuat alasan. Mereka juga tidak akan segan-segan melakukan sesuatu, agar tujuan mereka tercapai.'' ujar Arya Wijaya.


Kini Fadil yang terdiam. Dia terus mencoba memutar memori ingatan milik Alan, yang saat ini berada dalam otaknya. Sementara yang lain, mereka juga ikut terdiam dan mencoba memikirkan suatu jalan keluar untuk masalah tersebut. Setelah beberapa saat, keheningan dalam ruangan itupun akhirnya terpecahkan oleh suara Fadil yang kembali berkata.


'' Emm.. begini kek! saya punya solusi agar mereka sendiri yang mau datang kemari. Saya akan menemui seseorang, yang bisa membuat mereka mau tidak mau harus datang kemari.'' ujar Fadil dengan begitu tenangnya.


Fadil lalu berbisik kepada Arya Wijaya. Arya Wijaya cukup terkejut, saat mendengar apa yang dibisikkan oleh Fadil kepadanya. Namun setelah itu, dia manggut-manggut dan mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Fadil. Andika, Sintya, dan juga yang lainnya merasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Fadil dan Arya Wijaya.


'' Baik baik, kakek setuju dengan usulmu itu Fadil! Sekarang, kita harus mencari orang itu dan membawanya kemari untuk di interogasi.'' ujar Arya Wijaya.


Tak lama kemudian, Fadil keluar dari ruangan tersebut. Dia lalu pergi ke ruangan wakil manajer hotel, untuk menemui seseorang. Saat Fadil datang, wakil manajer itu sangat terkejut. Melihat kedatangan Fadil yang secara tiba-tiba, wakil manajer itu langsung berdiri dan segera berpura-pura untuk menyapanya.


'' Tu tuan muda! apa ada yang bisa saya bantu?'' tanya wakil manajer itu dengan gugup.


'' Emm.. tuan Bao! Sebenarnya, siapa yang butuh bantuan? saya! apa anda sendiri?'' tanya Fadil, sambil berdiri didepan pintu ruangan itu dan menutupnya.


'' Apa, apa maksud tuan muda?'' tanya wakil manajer yang bernama Bao tersebut.


Baru saja An Bao mengakhiri pertanyaannya, tiba tiba Fadil sudah menyambar tubuh lelaki itu, lalu dengan entengnya, dia mengeluarkan tubuh lelaki tersebut melalui jendela. An Bao yang terkejut mendapati dirinya sudah tergantung diluar jendela lantai sembilan tersebut, dia lalu dengan ketakutan segera memegang erat-erat tangan Fadil.

__ADS_1


'' Tuan muda! apa yang sedang tuan muda lakukan. Tolong! tolong jangan lepaskan saya tuan muda!'' pinta An Bao begitu ketakutan.


...****************...


__ADS_2