Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Aneh


__ADS_3

'' Alan..! Hari ini waktunya pemeriksaan matamu, kita akan mengunjungi dokter Yusril. Kamu makanlah terlebih dahulu, biar nanti bisa mendapatkan suntikan obat dari dokter.'' ujar Sintya ibunya Alan.


'' Iya ma..! Alan juga udah bosen gini terus, Alan pengen cepet-cepet dapat ngeliat lagi, rasanya bete banget kagak bisa ngapa ngapain.''


'' Yang sabar dong Lan.., semua butuh proses,makanya lain kali hati-hati kalo bawa mobil, jangan ngebut-ngebut!'' Sintya menasihati.


'' Ini semua gara-gara anjing sialan itu ma!, seenaknya aja nyebrang jalan gak liat liat.'' Alan dengan nada kesal.


'' Ei.., kamu tuh ya kalo dibilangin, malah nyalain yang lain.''


'' Iya ma iya.., udah tau anak ndiri kayak gini, bukannya dibelain malah dimarahin. Mama slalu gitu deh!'' kayak gak sayang sama Alan.'' Alan terus menggerutu.


'' Alaan.''


'' Iya ma.., cerewet banget.'' Alan bergumam pelan.


'' Ma.., papa mana ma? kok gak kedengeran suaranya?''


'' Oh.., Papa udah pergi pagi-pagi, hari ini ada meeting. Sebenarnya mama juga, tapi karena urusan tentang kamu, mama pending dulu meetingnya, biar kamu gak lagi bilang kalo mama gak sayang sama kamu.''


'' Ma..''


'' Iya sayang, kenapa ?''


'' Makasih ya ma!, udah perhatian sama Alan.''


Sintya tidak menjawab ucapan Alan, melainkan menghampirinya kemudian mengecup keningnya sembari mengacak acak rambut Alan.


'' Mama.., rusak nih rambut Alan!'' Alan sembari merapikan rambutnya dengan tangannya.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, Sintya membawa Alan menuju rumah sakit dimana dokter Yusril bertugas. Sesampainya mereka disana, Sintya dan Alan langsung disambut oleh dokter Yusril.


'' Assalamualaikum..'' selamat pagi bu Sintya, selamat pagi nak Alan.'' sapa dokter Yusril kepada mereka berdua.


'' Wa'alaikumsalam..'' pagi juga dokter, Alan dan Sintya bersamaan.


'' Nak Alan.., hari ini, waktunya kita akan coba melihat, sejauh mana perkembangan dari hasil operasi matamu ya!, mudah-mudahan ada sedikit kemajuan.'' Dokter Yusril sambil membuka gulungan perban yang menutupi mata Alan, ketika mereka telah berada di ruang praktik dokter Yusril.


Perlahan, seluruh perban yang menutupi mata Alan terbuka semuanya.

__ADS_1


'' Coba nak Alan..., buka mata dengan perlahan-lahan ya?'' perintah dokter Yusril kepada Alan. Seperti yang diperintahkan dokter Yusril, Alan kemudian dengan perlahan, membuka sedikit demi sedikit kedua matanya. Ketika Alan mencoba membuka kedua matanya, dia merasakan kedua matanya sangat pedih, refleks dia ingin menggosok dengan tangannya. Namun dokter Yusril segera mencegahnya.


'' Nak Alan.., Jangan digosok matanya, kalau masih sakit jangan paksakan.'' Dokter Yusril menasehati.


Alan kembali memejamkan matanya, lalu mencoba lagi membukanya dengan perlahan, memejamkannya dan kembali membukanya. Saat yang ketiga kalinya, Alan merasa kedua matanya sudah tidak lagi terlalu pedih.


Secara bertahap, penglihatan matanya mulai berfungsi, awalnya hanya terlihat warna kuning, kemudian samar-samar mulai nampak bayangan benda disekelilingnya. Alan sambil terus mengedip ngedipkan matanya, secara perlahan penglihatannya mulai jelas, tambah jelas dan semakin jelas. Alan menatap sekeliling, melihat dokter Yusril yang sedang melambai lambaikan tangan didepan wajahnya. Kemudian melihat kearah samping, dan menemukan seorang wanita cantik yang sedang tersenyum menatapnya. Alan kemudian menoleh kesana kemari seolah sedang mencari sesuatu.


'' Ah.., Terima kasih Tuhan. Mataku.., mataku akhirnya dapat melihat lagi. Ma... Mama.. Alan dapat melihat lagi ma.., sekarang Alan bisa melihat lagi ''. Alan sambil berkata penuh semangat, masih terus menoleh mencari sesuatu.


Sintya merasa sangat senang, dia segera menghambur dan memeluk Alan. Matanya berkaca-kaca, bibirnya tak bisa mengucapkan kata-kata. Alan yang dipeluk oleh Sintya, merasa canggung dan agak risih, dia ingin melepaskan diri dari pelukan Sintya. Sintya merasa terkejut dengan sikap Alan.


'' Alan, kenapa nak? kamu kok aneh gitu? Ini mama sayang.., apa kamu tidak mengenali mama lagi?''


Alan tersentak, dia sangat mengenal suara itu, namun matanya merasa agak asing dengan sosok wanita yang sedang memeluknya.


'' Mama.., apakah benar ini mama?''


Alan terkejut memandang Sintya, kemudian menatap dokter Yusril seakan ingin mencari jawaban darinya.


'' itu benar nak Alan.., itu memang mamamu.'' Dokter Yusril tersenyum.


'' SubhanAllah.., walhamdulillah.., wala ilahaillAllah.., Allahu akbar..., benar-benar sebuah keajaiban.'' Dokter Yusril benar-benar takjub menyaksikan yang terjadi dihadapannya. Dua kali ini, dia telah melihat keajaiban dari kasus yang ditanganinya. Pertama saat melakukan operasi pemindahan bola mata Alan dan Fadil, dan kini proses pemulihan mata Alan yang hanya memakan waktu selama dua bulan. Sedangkan, selama pengalamannya menangani kasus operasi mata, setidaknya butuh waktu paling tidak 5 sampai 8 bulan atau bahkan lebih, agar bisa kembali pulih. Dia benar-benar tidak menyangka, ternyata rekor terbaiknya dalam menangani kasus operasi mata ini, bisa mencapai hanya dalam 2 bulan.


'' Bu Sintya.., nak Alan!, bersyukurlah pada Tuhan, kalau bukan karena kebesaran Nya, ini sungguh tidak bisa terjadi. Mata Alan sudah benar-benar pulih seperti normalnya, seluruh syaraf dan bekas bekas operasinya sudah benar-benar menyatu secara sempurna''.


'' Alhamdulillah.. Terima kasih dokter, karena anda sudah membantu melakukan operasi mata anak saya, sehingga dapat kembali melihat seperti sekarang ini.'' ucap Sintya penuh rasa syukur.


'' Saya hanya berupaya sesuai kemampuan saya saja bu, soal hasilnya, semua atas kehendak Tuhan. Dan menurut saya, anda juga harus berterima kasih juga kepada orang yang telah mendonorkan kedua bola matanya untuk nak Alan,''


'' Iya, iya dokter, saya juga tentu harus berterima kasih pada orang itu, saya rasanya ingin segera menemui orang yang dermawan itu, lantaran dia juga penglihatan anak saya bisa kembali.'' ujar Sintya dengan sungguh-sungguh.


'' Hemm..., sayangnya orang itu sudah meninggal bu.''


'' Apa, sudah meninggal?'' Alan dan Sintya terkejut.


'' Iya, dia adalah korban kecelakaan pada waktu itu juga. Oh iya, ngomong-ngomong, apakah nak Alan ini mempunyai saudara kembar atau saudara laki-laki bu ya?


'' Tidak dok..., Alan adalah anak tunggal kami satu-satunya, dia tidak memiliki saudara laki-laki, bahkan adik sepupunya juga hanya seorang perempuan, kenapa ya dok?''


'' Emm.., begitu bu ya, soalnya sang pemilik mata itu, baik wajah ataupun lainnya, benar-benar mirip dengan nak Alan. Makanya saya sempat mengira kalau keduanya itu saudara kembar.'' Dokter Yusril terbayang kembali pada wajah Fadil.

__ADS_1


Setelah semua dirasa cukup, Sintya dan Alan pamit pulang. Hati mereka begitu sangat bahagia. Sintya segera menyampaikan kabar gembira itu kepada suami dan ayahnya serta kepada Hartono adik iparnya yang ada di Baturaja. Dokter Yusril tak lupa memberikan beberapa obat dan vitamin kepada Alan, serta berpesan agar Alan tetap memeriksakan matanya seminggu sekali dalam beberapa bulan kedepan.


Ayah dan kakek Alan begitu sangat gembira, saat mendengar kabar tentang pulihnya penglihatan Alan, hingga keduanya memutuskan untuk mengambil waktu kerja mereka hanya setengah hari saja.


Sintya juga memilih untuk absen hari ini karena ingin menemani Alan dirumah. Rencananya, tadi dia cuma mau mengantarkan Alan untuk memeriksakan matanya, kemudian pergi ke kantor usai mengantarkanya kembali pulang. Namun kesembuhan mata Alan membuatnya terlalu gembira, sehingga dia ingin menikmati kebahagiaan itu bersama Alan putranya.


'' Alan, kenapa tadi kamu seperti tidak mengenal mamamu ini nak? Sintya kembali menanyakan sikap Alan sewaktu di rumah sakit.


'' Maaf ma, Alan juga tidak tahu. Sepertinya mata Alan merasa agak asing saat melihat mama, juga dengan rumah ini, tapi sudahlah ma.., yang penting sekarang Alan sudah bisa melihat lagi.''


'' Iya sayang.., mama juga tidak mempermasalahkanya, mama cuma sedikit merasa heran saja, mungkin memang karena mata itu.'' Sintya mencoba menerka atas sikap Alan.


Karena hari ini menjadi hari istimewa untuk keluarganya, Sintya meminta kepada mbok Inah untuk menyiapkan masakan khusus untuk makan siang, bahkan dia sendiri ikut memasak bersama mbok Inah di dapur. Sementara Alan beristirahat di dalam kamarnya, dia membuka iphone dan laptopnya yang sudah beberapa bulan ini tak pernah dia buka. Melihat file-file yang ada didalamnya, dia melihat foto-foto dirinya dan keluarganya dan juga beberapa foto dirinya bersama dengan teman-temannya.


Setelah merasa bosan, lalu dia membuka iphonenya. Membuka beberapa aplikasi didalamnya. Banyak sekali aplikasi aplikasi game online. namun, sepertinya dia tidak begitu tertarik, sehingga dia menghapus aplikasi aplikasi tersebut. Dia kemudian membuka aplikasi playstore, dan melihat aplikasi aplikasi yang ditawarkan. Tanpa sengaja dia melihat aplikasi Al Quran, karena merasa penasaran, akhirnya diapun mendownloadnya. Setelah terinstal, lalu diapun membukanya.


Tulisan huruf arab beserta translate dan juga artinya menghiasi layar iphonenya. Alan merasa aneh dengan tulisan itu, namun dia juga merasa tidak asing dengan tulisan huruf huruf tersebut. Alan yang sejak kecil hidup dengan dimanjakan dan tidak pernah belajar mengaji, dia tidak mengerti bagaimana cara membaca Al Quran, namun matanya seperti sudah terbiasa melihat tulisan huruf-huruf itu, akhirnya dengan terbata-bata dia mencoba membaca translate Al Quran itu dan juga membaca artinya.


Karena lidahnya yang belum terbiasa, akhirnya dia mencoba membuka murottal dari beberapa imam yang memang sudah ada dalam aplikasi tersebut. Sambil mendengarkan suara murottal itu melalui earphone, dia juga sambil melihat tulisan yang ada dilayar iphone nya, sambil sesekali mulutnya ikut mencoba membunyikannya dengan pelan.


Entah kenapa Alan merasakan, disaat mendengarkan murottal tersebut, hatinya terasa nyaman, fikiranya juga begitu tenang. Hingga akhirnya diapun tertidur dengan iPhone nya yang masih menyuarakan murottal tersebut. Sampai tiba waktunya jam makan siang, Alan masih tertidur. Dia terbangun saat pintu kamarnya ada yang mengetuk.


'' Siapa?''


'' Ini mama sayang.., boleh mama masuk?''


'' Sebentar ma.'' Alan mematikan iphone nya yang masih memutarkan suara murottal Al Quran, lalu berkata : '' Silakan masuk ma.''


Pintu segera terbuka, dan Sintya muncul dari balik pintu.


'' Alan.., waktunya makan siang nak, sana cuci muka, mama sudah menyiapkan masakan istimewa hari ini. Papamu juga sudah pulang, sebentar lagi kakek juga akan datang kemari.''


'' Wah, asyik dong ma.''


Alan kemudian berjalan menuju kamar mandi yang ada didalam kamar itu. Saat dia akan membuka pintu itu, dia berbalik dan berkata kepada Sintya yang sedang merapikan tempat tidur Alan.


'' Ma.''


'' Hemm, Iya sayang..''


'' Makasih.''

__ADS_1


Sintya hanya tersenyum memandang Alan yang segera beranjak memasuki kamar mandinya. Usai merapikan tempat tidur Alan, Sintya lalu turun dan menuju dapur, membantu mbok Inah yang sedang menyiapkan peralatan dan menu aneka masakan yang belum dibawa ke meja makan.


...****************...


__ADS_2