
Pagi itu.. Sebelum Alan dan Zul pergi meninggalkan pesantren pada sore harinya, Tiara dan Neng geulis serta beberapa santri putri yang lain, datang menemui Abah dan Ummi untuk berpamitan. Walaupun tidak semua santri, baik yang putra maupun putri pulang untuk liburan, namun sebagian besar dari mereka memilih liburan dirumahnya daripada ikut kegiatan Ramadhan di pesantren. Terutama para santri yang datang dari luar kota ataupun luar daerah. Mereka yang masih tinggal di pesantren adalah, mereka yang tempat tinggalnya tak jauh dari pesantren tersebut, dan juga beberapa santri yang memang tidak sempat untuk pulang ke kampung halamannya karena terkendala sesuatu.
Pagi itu, Tiara dan Neng geulis pulang setelah mendapat kabar, bahwa pak Syahroni sudah datang untuk menjemput Tiara untuk pulang liburan ke Sumatera. Setelah menginap satu malam ditempat saudara istrinya, pak Syahroni dan Tiara kemudian pulang ke Sumatera pada siang harinya. Mereka pulang dengan menaiki bus, yang ternyata mereka menaiki bus yang dibawa oleh paman dari Roshan. Ketika bus yang mereka kendarai baru saja keluar dari dermaga, tiba-tiba velg ban depan bus tersebut pecah, sehingga mereka harus dipindahkan ke mobil bus yang lain. Namun, karena beberapa mobil bus yang berlalu di tempat itu banyak yang sudah penuh, akhirnya pak Syahroni dan Tiara harus bersabar, dan menunggu mobil bus yang masih menyisakan tempat untuk mereka sampai berjam-jam lamanya. Hingga akhirnya, mereka bertemu dengan Zul dan Alan yang kebetulan lewat dan berhenti di tempat itu.
Baru beberapa ratus meter mobil yang dikendarai oleh Alan berjalan dijalan tol tersebut, ponsel Alan berbunyi. Alan segera menyambungkan ponselnya, dengan earphone bluetooth dan membuka panggilan tersebut.
'' Assalamualaikum ma.'' Alan menjawab panggilan telepon dari Sintya.
'' Wa'alaikumsalaam.. Alan, kamu sudah sampai dimana?'' tanya Sintya.
'' Ini baru masuk tol Lampung ma.'' jawab Alan.
'' Mama kok jam segini belum tidur?'' tanya Alan heran.
'' Mama baru saja terbangun nak, dan mama kepikiran kamu, makanya mama langsung telepon!'' ujar Sintya.
'' Kamu baik-baik saja kan?'' sambung Sintya.
'' Alan baik-baik saja kok ma!, mama gak usah khawatir.''
'' Kamu tidak ngantuk kan?, kalau ngantuk istirahat dulu! jangan memaksakan diri mengemudi.'' nasehat Sintya.
'' Alan dalam kondisi baik kok ma, kalau tidak percaya, tanya aja kang Zul!'' ujar Alan untuk meyakinkan Sintya.
'' Iya, mana Zul? coba mama mau ngomong sama dia.''
Alan lalu memberikan earphone itu kepada Zul. Zul yang sedang mengobrol dengan pak Syahroni, segera menerima earphone itu lalu berbicara dengan Sintya.
'' Assalamualaikum tante, ada yang bisa saya bantu tante?'' ujar Zul.
'' Wa'alaikumsalaam.. Zul, kamu nggak lagi tidur kan?'' tanya Sintya.
'' Alhamdulillah tante, Zul tidak akan tidur, dan akan menemani kang Alan untuk mengemudi.'' jawab Zul.
'' Baguslah kalau begitu, ingat ya Zul! tolong temani Alan. Jangan sampai Alan ngantuk bawa mobilnya!'' ujar Sintya kepada Zul.
'' Insyaallah tante, pokoknya siap laksanakan.'' ujar Zul penuh semangat.
Meskipun Sintya baru mengenal Zul sehari, namun karena sifat Zul yang mudah diajak bicara dan juga terlihat begitu akrab dengan Alan, Sintya tidak merasa canggung untuk berbicara dengan Zul, layaknya dia sudah lama mengenal Zul.
__ADS_1
'' Ya udah Zul, sambungkan lagi dengan Alan, tante masih mau ngomong sama dia.''
'' Halo ma!, masih ada yang ingin mama omongin lagikah?'' tanya Alan setelah menerima earphone itu dari Zul.
'' Iya, mama cuma mau pesan sama kamu. Nanti kalau udah nyampe, jangan lupa kabarin mama.''
'' Iya ma, mama tenang saja. Eh udah dulu ya ma! Alan gak bisa lama-lama telponnya. Kalau ketahuan petugas, bisa kena tilang nanti kalau nelpon sambil nyetir.'' ucap Alan.
'' Ya udah, hati-hati! Assalamualaikum.'' Sintya lalu menutup panggilannya.
'' Wa'alaikumsalaam..'' jawab Alan kemudian meletakkan earphone itu di laci mobilnya.
'' Duuh..beda ya kalau anak mama! apapun selalu diperhatikan.'' ujar Zul menggoda Alan.
'' Ya.. begitulah kang Zul, jadi anak tunggal emang agak repot. Mau apa dan kemana? selalu di awasi. Gak bebas kayak kang Zul.'' ucapnya sambil menoleh kearah Zul.
Setelah berkata seperti itu, Alan kemudian berkonsentrasi lagi untuk mengemudikan mobilnya. Untuk mengusir rasa jenuh, dia juga menghidupkan music player yang memutarkan lantunan shalawat, dan juga menyalakan rokoknya. Zul juga ikut menyalakan rokok yang tadi diberikan Alan kepadanya, kemudian menawarkan kepada pak Syahroni rokok tersebut.
'' Maaf pak kami merokok biar gak ngantuk, apa bapak merokok juga?'' tanya Zul sambil menyodorkan rokok itu kepada pak Syahroni.
'' Terimakasih, tapi saya sudah tidak lagi merokok. Kalau dulu sih saya termasuk perokok berat.'' jawab pak Syahroni menolak tawaran Zul.
'' Ke Batumarta mas, unit 2.'' jawab pak Syahroni.
'' Unit 2?, berarti sama dengan saya dong pak!. Saya juga pulangnya ke unit 2, bapak dari blok apa?'' Zul terkejut mendengar jawaban pak Syahroni.
'' Saya di blok KL mas. Kalau mas ini, unit 2 nya blok apa?'' pak Syahroni bertanya balik.
'' Blok i pak, wah..gak nyangka banget ya!, ternyata kita masih tetangga dekat.'' ujar Zul agak terkejut. Karena ternyata tempat tinggal mereka masih satu wilayah.
Mendengar penuturan Zul, pak Syahroni tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau ternyata Zul ini bukan cuma satu pesantren dengan Tiara, bahkan dia juga berasal dari tempat yang sama dengannya. Alan dan Tiara hanya menyimak pembicaraan mereka. Meskipun mendengar penuturan mereka hatinya ikut gembira, tapi karena Alan kurang mengerti tempat yang mereka sebutkan itu, jadi Alan hanya diam mendengarkan. Sedangkan Tiara yang sudah ngantuk berat, diapun tidak ingin ikut nimbrung dalam pembicaraan ayahnya dan Zul. Apalagi dia satu-satunya perempuan didalam mobil itu, jadi dia tidak ingin ikut mengobrol dan hanya mendengarkan saja.
'' Oh iya pak, itu! kalau bapak dan mbaknya ngantuk, bapak dan mbaknya bisa tidur dulu, dibelakang ada bantal.'' ujar Zul kepada pak Syahroni.
Pak Syahroni yang melihat Tiara sudah ngantuk, dia kemudian mengambilkan bantal yang ditunjukkan oleh Zul untuk Tiara.
'' Kalau kamu ngantuk, kamu tidur aja. Nanti kalau sudah nyampe, ayah bangunkan.'' ujar pak Syahroni sambil menyerahkan bantal kepada Tiara.
...----------------...
__ADS_1
Tanpa terasa, kini mobil yang dikendarai mereka sudah harus keluar dari jalan tol. Karena jalur yang akan ditempuh mereka, berbeda arah dengan jalan tol tersebut. Jalan tol itu mengarah langsung ke kota Palembang, sedangkan yang akan mereka tuju adalah kota Baturaja. Alan segera mengarahkan mobilnya kearah jalan lintas Sumatera, setelah keluar dari jalan tol tersebut.
Setelah satu jam berjalan di jalan lintas tersebut, samar-samar terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran dari pengeras suara masjid. Ternyata waktu sudah menjelang subuh. Alan segera mengarahkan mobilnya ke pelataran masjid untuk shalat subuh disana.
'' Pak, kang Zul, kita subuhan dulu disini, biar tenang nanti jalannya.'' ujar Alan sambil turun dari mobil dan mengambil peralatan sholatnya di bagasi mobil.
Zul, pak Syahroni, dan juga Tiara juga turun dari mobil, lalu berjalan menuju tempat wudhu. Sementara Alan masih berada di belakang mobil, sambil mengemasi pakaiannya. Setelah menutup dan mengunci semua pintu mobil, baru Alan pergi ke kamar mandi yang ada disekitar masjid tersebut. Setelah mandi dan mengenakan pakaian bersih, Alan kembali ke mobilnya untuk meletakkan pakaian yang tadi dia ganti. Karena tadi Alan sempat bolak-balik ke mobil, Alan agak terlambat masuk kedalam masjid. Zul dan pak Syahroni berada di shof depan. Sedangkan Alan berada di shof paling akhir, manakala sholat subuh itu dilaksanakan. Ternyata, di masjid ini jamaahnya cukup banyak yang datang untuk sholat subuh berjamaah.
Usai melaksanakan sholat, Alan segera kembali ke mobil. Alan lebih dulu berada di mobilnya, karena dia harus membuka kunci pintu mobil itu. Sementara pak Syahroni dan Zul, masih menunggu Tiara yang sedang mengemasi perlengkapan sholatnya di masjid tersebut. Saat mereka masuk ke mobil, Alan sudah mengganti kain sarungnya dengan celana di dalam mobil tersebut. Alan yang sudah mandi, tampak begitu segar dan cool. Dia benar-benar kelihatan sangat tampan, sehingga Zul sedikit terperanjat saat melihatnya.
'' Wah.. kang Alan ganteng banget pagi ini.'' ujar Zul memujinya.
'' Hehehe..kang Zul baru tahu ya! ini udah dari dulu lho!, sejak ana lahir.'' ucap Alan mencandai Zul.
Pak Syahroni dan Tiara yang mendengar percakapan mereka, lalu menoleh kearah Alan. Hanya saja mereka tidak bisa melihat wajah Alan, karena Alan membelakanginya. Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan, menuju jalan lintas dan meninggalkan pelataran masjid tersebut.
Setengah jam kemudian, Alan kembali menghentikan mobilnya di pelataran sebuah rumah makan. Walaupun badannya sudah terasa segar setelah membersihkan diri di masjid tadi, tapi perutnya ternyata malah terasa lapar, sehingga dia merasa tidak konsentrasi dalam mengemudi. Untuk itulah, Alan mengajak mereka untuk sarapan pagi di rumah makan tersebut.
'' Kang Zul, tolong ajak mereka kedalam dulu!. Saya mau memeriksa mesin dan air radiator mobil ini.'' ujar Alan meminta Zul.
Zul kemudian mengajak pak Syahroni dan Tiara untuk masuk kedalam rumah makan tersebut. Awalnya, pak Syahroni menolak. Namun setelah dibujuk oleh Zul, mereka akhirnya mau masuk untuk sarapan pagi di rumah makan itu. Setelah mendapatkan lokasi meja makan di dalam ruangan itu, mereka lalu duduk dan menunggu pelayan menghidangkan menu makanan.
Tak berapa lama kemudian, Alanpun masuk dan menuju meja makan dimana Zul dan yang lainnya sedang duduk menunggu. Pak Syahroni dan Tiara, tidak melihat kedatangan Alan yang sedang menuju kearah mereka, karena posisi duduk mereka yang membelakangi pintu masuk rumah makan tersebut. Namun, saat Alan sudah berada didepan mereka, dan akan duduk disebelah Zul, pak Syahroni dan Tiara langsung terkejut. Bahkan Alan sendiri ikut terkejut, dan berdiri terpaku dihadapan mereka.
'' A Fadil?'' seru Tiara dan pak Syahroni, hampir bersamaan.
'' Mbak Tiara?''' ucap Alan berbarengan dengan mereka menyebut nama Fadil kepadanya.
Hingga beberapa saat mereka terdiam. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka bertiga. Zul yang menyaksikan itupun, hanya diam tanpa tahu harus berbuat ataupun berkata apa.
'' A Fadil?''
'' Mbak Tiara?''
Alan dan Tiara berucap berbarengan, lalu keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat. Saat keduanya akan berkata lagi, dan merasa akan berbarengan lagi, keduanya pun sama-sama terdiam lagi.
'' Ada apa ini? apakah kalian saling mengenal?'' tanya Zul, setelah melihat suasana kaku tersebut.
Alan kemudian duduk. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Zul, melainkan menunggu apa yang akan diucapkan oleh Tiara maupun pak Syahroni.
__ADS_1
...****************...