Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Masa lalu


__ADS_3

Esoknya, Andika, Sintya, Alan dan juga Nadia, usai mereka sarapan, mereka segera bersiap ke rumah Arya Wijaya. Sesampai mereka di rumah Arya Wijaya, mereka langsung pergi menuju vila dipuncak.


Dengan membawa dua kendaraan, mereka bersama sama pergi kesana. Arya Wijaya bersama sopirnya membawa mobil Estrada merahnya, sedangkan Andika dengan mobil Pajero hitam. Meskipun didalam garasi rumah mereka ada beberapa deretan mobil mobil mewah, namun mereka lebih memilih untuk membawa mobil mobil ini untuk melakukan perjalanan jauh. Alasannya karena selain terasa lebih gagah untuk dikendarai, juga mobil-mobil ini lebih nyaman untuk dipakai di jalanan di daerah seperti puncak ataupun perbukitan.


Sementara Alan yang baru sembuh kedua matanya, masih tidak diijinkan untuk membawa mobil sendiri.Dia ikut bersama mobil yang dibawa Andika dan Sintya, sedangkan Nadia pindah ke mobil yang dibawa oleh Arya Wijaya. Setelah berkendara selama beberapa jam, merekapun akhirnya sampai di villa tersebut.


Sampai di depan pintu pagar villa tersebut, seorang pria paruh baya buru buru membukakan pintu. Dia adalah mang Ujang, pengurus villa itu bersama istri dan anaknya. Villa yang sederhana itu, namun cukup besar, dengan halaman yang lumayan luas, dibangun oleh Arya Wijaya dan mendiang istrinya Susi Wijaya disaat mereka masih muda. Waktu itu Susi Wijaya baru merintis usahanya dan sedang mengandung Sintya putri pertamanya.


Karena usaha yang dirintisnya adalah bidang desain perumahan dan hotel, maka dia meminta kepada Arya Wijaya suaminya untuk membeli tanah dan membangun sebuah villa yang sederhana di daerah tersebut. Susi Wijaya merasa untuk membuat desain desain itu, dia membutuhkan suasana yang tenang dan nyaman.


Saat Susie Wijaya sedang merasa suntuk, maka dia akan datang ke villa ini untuk menenangkan diri dan juga mencari inspirasi untuk bahan-bahan desainnya. Di villa inilah dia banyak mendapatkan ide-ide yang cemerlang.


Hasil karyanya banyak diminati oleh para investor pengembang, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, karena selalu memadukan unsur-unsur modern dan alam. Dan ini selaras dengan anjuran dan program dari organisasi badan dunia yang sedang menggalakkan program go green, untuk mengatasi masalah pemanasan global yang sedang terjadi.


Karena kecintaannya pula kepada suasana villa ini, diapun berpesan kepada Arya Wijaya, agar jika nanti dia meninggal, maka dia ingin diistirahatkan diarea villa tersebut.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, merekapun telah masuk kedalam villa. Usai mempersiapkan beberapa keperluan berziarah, mereka segera pergi ke halaman belakang villa melalui pintu belakang.


Dibelakang villa itu, tampak sebuah taman yang cukup luas, yang dihiasi dengan berbagai macam aneka bunga-bungaan, pohon buah-buahan, dan juga tanaman-tanaman perdu, yang ditata sedemikian rupa, sehingga tampak begitu asri dan indah.


Suara kicau burung liar, dan juga gemericik air yang mengalir dari sebuah sungai kecil, yang airnya tampak begitu jernih, dan melewati sebuah kolam yang dipenuhi oleh berbagai macam jenis ikan warna-warni, semakin menambah ketenangan dan kenyamanan hati, saat berada ditempat itu.


Di tengah-tengah taman tersebut, berdiri sebuah bangunan seperti pendopo yang tak berdinding, dan juga sebuah menara bertingkat layaknya sebuah rumah pohon yang cukup luas. Disinilah Susi Wijaya banyak menghabiskan waktunya, saat mencari inspirasi-inspirasinya, sambil menikmati indahnya suasana pemandangan dan sejuknya udara ditempat itu. Di dalam pendopo itulah, Susi Wijaya dan juga putri keduanya Andini dikuburkan.


Usai menaburkan bunga di atas makam istri dan anaknya, Arya Wijaya meminta Andika untuk memimpin pembacaan doa bersama untuk kedua orang yang dicintainya tersebut. Setelah berziarah, Arya Wijaya bersama Alan dan juga Nadia, berjalan menyusuri taman sambil memetik beberapa buah-buahan yang ada di taman itu. Sementara Andika dan Sintya kembali kedalam villa bersama mang Ujang dan sopir Arya Wijaya.


'' Alan.. Nadia.., tempat ini adalah tempat yang bersejarah bagi Kakek dan nenekmu. Disinilah kami berdua sering menghabiskan waktu bersama. Disini pula, nenekmu sering mendapatkan inspirasi saat dulu kami baru merintis usaha keluarga kita. Tempat ini, merupakan tempat yang banyak menyimpan kenangan kami bersama.''


'' Kelak jika kakek meninggal, kakek juga ingin dikuburkan disini bersama dengan nenekmu dan juga mamamu Nadia. Kakek harap, kelak kalian juga sering seringlah meluangkan waktu datang kemari untuk menjenguk dan mengirimkan doa untuk kami.''


'' Iya kek..Alan akan selalu ingat pesan kakek.''


'' Nadia.''

__ADS_1


'' Iya kek..


'' Kamu juga,''


Arya Wijaya menoleh kearah Nadia yang sedang sibuk mencicipi buah anggur yang sedang dipetiknya.


'' Soal itu kakek tak perlu khawatir, kan selama ini Nadia yang paling aktif ikut kakek kesini.'' jawab Nadia tak lupa melirik kearah Alan, bermaksud menyindirnya.


'' Nadia,Alan..., meskipun kalian hanya saudara sepupu, tapi kalian harus tetap saling menyayangi dan melindungi, terutama kamu Alan.., jaga Nadia baik baik. Bagaimanapun juga kalian tetaplah saudara.''


Arya Wijaya menghela nafas panjang, setiap kali dia melihat Nadia, ada rasa sedih didalam hatinya. Mengingat bagaimana Nadia sedari kecil telah ditinggal oleh kedua orang tuanya.


Andini putrinya, meninggal saat dia melahirkan Nadia, sedangkan ayah Nadia meninggal saat sedang bertugas melakukan misi penyelamatan kapal yang tenggelam di laut lepas. Dia dan timnya ikut terseret bersama pesawat helikopter yang ditumpanginya akibat tali penyelamatan yang menyangkut di badan kapal yang tenggelam tersebut.


Setelah puas berkeliling-keliling di taman belakang villa itu, Arya Wijaya, Alan dan juga Nadia, merekapun kembali kedalam villa. Setelah menginap satu malam di villa itu, mereka kembali ke Jakarta pada pagi harinya.


...----------------...


Satu bulan sudah waktu berlalu sejak kesembuhan matanya.Alan sesekali pergi ke kantor perusahaan kakeknya. Namun sebagian besar waktunya dia habiskan di rumah. Teman-teman Alan yang mengetahui kalau Alan yang sepulang dari luar negeri kemudian mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kebutaan matanya, dan kini telah sembuh, mereka datang menemui Alan dan mengajak untuk keluar nongkrong sebagaimana kebiasaan mereka dulu.


Alan sebelum pergi ke luar negeri memang sering pergi ke club malam bersama dengan teman-temannya. Setidaknya setiap malam Minggu dia dan teman-temannya selalu ngumpul disana. Alan yang hidupnya serba berkecukupan, sering mentraktir mereka. Sehingga mereka sangat suka mengajak Alan pergi clubing. Selain tajir Alan juga berwajah tampan, sehingga tidak sedikit teman-teman wanitanya yang berupaya mendekati Alan.


Alan memang pernah memiliki seorang pacar saat masih di SMU dulu, namanya Desy yang merupakan primadona di sekolahnya pada masa itu. Dia dan Desy menjalin hubungan layaknya para remaja pada umumnya. Baik Alan maupun Desy, keduanya saling mencintai. Namun takdir memisahkan mereka, Desy yang hanya dari keluarga sederhana, tak pernah bercerita kepada Alan tentang penyakit kanker otak yang dimilikinya.


Saat mereka lulus, Alan ingin meresmikan hubungannya dengan Desy, dengan mengenalkannya kepada keluarganya. Hari itu Alan dan Desy berjanji akan bertemu di taman kota, lalu akan pergi menemui keluarga Alan. Namun.., dari waktu yang sudah ditentukan, ternyata Desy tidak kunjung datang. Berkali-kali Alan menghubungi Desy, namun ponselnya tidak ada yang mengangkat.


Hingga dua jam lamanya, Alan menunggu dan menghubungi ponsel Desy, tetapi Desy belum juga ada kabar sehingga Alan benar-benar merasa kecewa. Dan ketika Alan mencoba menghubungi teman Desy, dia baru mengetahui kalau Desy sedang berada di rumah sakit dengan kondisi yang sangat kritis.


Alan segera menuju ke sana dengan panik, motor sport Ducati nya dia pacu dengan cepat. Sampai di simpang pertigaan dia mengambil arah kiri, namun tidak disangka, seorang pengendara motor dari arah berlawanan, memutar balik dengan tiba-tiba dan memakan jalan yang akan dilalui Alan.


Alan mencoba menghindari motor tersebut dengan turun dari badan jalan. Namun karena permukaan jalan yang tidak rata, motornya menjadi oleng. Alan segera mengerem sekuatnya. Akibatnya dia malah terjungkal dan terjatuh. Lebih naas nya lagi motor itu malah salto di udara dan jatuh menimpa tubuh Alan.


Dadanya tertimpa stir motor dengan keras, mengakibatkan organ dalamnya menjadi terluka. Dia terbatuk beberapa kali lalu pandangan matanya tiba-tiba menjadi gelap. Saat dia terbangun, dia sudah ada di rumah sakit yang secara kebetulan Desy pun berada di rumah sakit yang sama. Mengetahui kalau Desy ada di rumah sakit yang sama dengannya, Alan segera mencari keberadaan Desy tanpa menghiraukan kondisi dirinya sendiri.


Dia hanya ingin melihat Desy, namun sayangnya.., saat dia berhasil menemukan Desy, ternyata Desy sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Alan sendiri menjalani perawatan secara intens selama satu tahun. Dan sejak saat itulah Alan dilarang oleh kedua orang tua dan kakeknya untuk mengendarai sepeda motor.

__ADS_1


Sejak kehilangan Desy kekasihnya, Alan tidak pernah mau lagi dekat dengan wanita lain, sejak saat itu juga, Alan suka mabuk-mabukan.Walaupun itu sangat dilarang, mengingat kondisi luka dalam yang di milikinya, namun Alan tidak pernah peduli dengan semua itu.


Sejak saat itu juga, Alan sangat sulit diatur. Jika ayah dan ibunya ataupun kakeknya, melarang Alan untuk sesuatu, dia akan selalu marah-marah tak terkendali. Hal itu membuat Andika, Sintya, serta Arya Wijaya merasa putus asa karenanya, hingga akhirnya Alan dikirim ke luar negeri berharap Alan akan berubah.


Namun, semenjak kecelakaan yang membuat kebutaan matanya itu, sesuatu yang aneh telah terjadi.Organ dalam Alan yang sangat rentan itu justru setelah diperiksa, malah menjadi baik-baik saja bahkan lebih baik dari sebelumnya.


Juga yang tidak kalah mengejutkan lagi adalah, sikap Alan yang perlahan lahan menjadi semakin baik.Sikapnya menjadi semakin lembut dan begitu dewasa. Meskipun Alan selama sebulan terakhir ini dinyatakan sangat sehat, tetapi dia tidak pernah lagi mabuk-mabukan seperti dulu. Mbok Inah yang melihat perubahan pada diri Alan itu, di suatu kesempatan berkata kepada Sintya, ketika mereka sedang berada di dapur.


'' Nyonya..,maaf kalo saya lancang.'' mbok Inah mengawali percakapannya.


'' iya.. ada apa sih mbok..? kok tiba-tiba ngomong gitu?


'' Anu...,nyah, soal den Alan.'' mbok Inah ragu ragu.


'' Ada apa mbok dengan Alan ?'' Sintya penasaran.


'' itu nyah...den Alan, kalau saya perhatikan, sejak sembuh dari kecelakaan kemarin.., den Alan jadi berubah nyah,''


'' Maksud mbok? Sintya memandang mbok Inah.


'' Gini lho nyah, maaf sebelumnya! Kalau simbok perhatikan, sekarang den Alan makin baik, tidak pernah marah, dan kamar den Alan sekarang selalu rapi, tidak pernah lagi ada botol minuman. Gak seperti dulu yang selalu berantakan, tapi maaf lho nyah.., nyonya jangan marah.'' mbok Inah sedikit merasa takut jika Sintya akan tersinggung.


'' Gak papa mbok.., saya juga merasa begitu, sekarang Alan memang sedikit berbeda. Tapi saya juga seneng mbok, sekarang Alan gak kayak dulu.''


'' Iya nyah, simbok juga merasa terharu dengan perubahan dari den Alan.'' mbok Inah memuji Alan.


'' Oh iya nyah.., bener juga kata non Nadia, den Alan juga kelihatan semakin tampan, apalagi kedua matanya itu lho nyah!, ngeliatnya begitu adem dan berwibawa.'' lanjut mbok Inah.


Apa yang dikatakan mbok Inah, Sintya pun juga merasakannya, dia juga merasakan kebahagiaan atas segala perubahan dengan diri dan sikap Alan akhir-akhir ini. Tak terkecuali juga dengan Andika dan Arya Wijaya. Bahkan Arya Wijaya semakin sering datang ke villa mereka, untuk menemui cucu laki-laki kesayangannya itu. Hingga pada suatu kesempatan makan malam bersama, Alan berkata:


'' Ma...pa... kakek, Alan pengen ngomong sesuatu. Tapi tolong jangan marah ya..!''


'' Ada apa sih Lan, kamu mau ngomong apa? kok sampe serius gitu.'' Sintya penasaran.


'' Iya.., emangnya kamu mau ngomongin masalah apa sih Lan?'' Arya Wijaya ikut penasaran.

__ADS_1


'' Ini penting buat Alan, tapi mama, papa, dan juga kakek harus janji sama Alan untuk tidak marah.''


...****************...


__ADS_2